Wabah Covid-19 Dalam Perspektif Teologi Pengharapan Schillebeeckx

Vredigando Engelberto Namsa
Sdr. Berto OFM (foto pribadi)
Quote Amor - Beberapa surat kabar dan media massa telah melaporkan klaim para ilmuwan China bahwa Virus Corona saat ini (COVID-19) mungkin berasal dari kelelawar yang disimpan di laboratorium pemerintah China di Wuhan. Beberapa media masa asal Inggris seperti Daily Mail, Express, The Sun, Daily Star dan Mirror ikut melaporkan tentang klaim tersebut.  Laporan tersebut adalah makalah nyata yang diterbitkan oleh para ilmuwan China, tetapi penting untuk memahami konteksnya sebelum menafsirkannya. Makalah ini belum ditinjau oleh rekan ilmuwan lainnya, dan tidak menawarkan bukti jelas bahwa wabah tersebut memang berasal dari laboratorium. Laporan itu hanya mengusulkan klaim ilmuwan sebagai suatu kemungkinan, seperti dikutip dari Full Fact, Selasa (18/2/2020)

Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap dalam situasi pandemi Covid-19 ini? Kita menyadari bahwa penyebaran Covid-19 itu semakin meluas tetapi situasi itu tidak boleh membuat kita kehilangan harapan untuk tetap menjalankan kehidupan ini. 

Kita harus menanamkan keyakinan bahwa wabah ini pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Ingat, inilah harapan kita. Kita yakin bahwasanya di mana bahaya itu ada, di situ tumbuh juga “kuasa” untuk menyelamatkan. Akan tetapi, tanpa adanya harapan dan kepedulian dari pihak kita, kuasa itu mustahil tumbuh. Bahaya melatih kita untuk peduli, yaitu bertanggung jawab dengan tidak berkumpul, untuk berbela rasa tanpa menyentuh, untuk setia kawan tanpa merangkul (lihat F. Budi Hardiman, Kompas,  Jumat 27 Maret 2020). 

Harapan untuk konteks kita saat ini dapat juga berarti berdisiplin diri, taat terhadap arahan atau anjuran dari pemerintah demi keselamatan semua orang, dan peduli dengan keadaan orang-orang di sekitar kita. Melalui harapan seperti ini, tragedi kemanusiaan ini segera akan berlalu dari hidup kita.

Dalam tulisan ini penulis mencoba melihat wabah covid-19 dari sudut padang misteri penderitaan menurut Edward Schillebeeckx. Bagi penulis wabah covid-19 adalah sebuah penderitaan yang dihadapi oleh manusia saat ini. Namun semua itu menantang manusia untuk berpengharapan kepada Dia yang disebut sebagai Tuhan.

Schillebeeckx tidak hanya merenungkan misteri penderitaan, juga meneliti di pelbagai tempat dalam karyanya sifat revelatoris dari pengalaman kontras yang dipicu oleh penderitaan. Kontras itu tidak hanya membuka situasi terbalik dari kenyataan derita yang dialami sebelumnya, melainkan sering membuka juga situasi dan pandangan baru yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Situasi historis yang sebelumnya ditekan dan disembunyikan muncul kembali. Banyak orang mengerti iman secara baru dan kembali menjadi anggota dalam Gereja berdasarkan pengalaman perjuangan dan pengalaman kontras berhubungan dengan penderitaan masif itu. 

Ketika pada tahun 1990-an muncul berbagai kegiatan kekerasan berbasis pencarian identitas kelompok-kelompok sosial dan etnis, Schillebeeckx mulai memberikan perhatian pada problem relasi antara agama dan kekerasan. Sama seperti banyak orang lain, ia bertanya apa yang dikamusd dengan klaim absolut?

Sebagaimana dikemukakan oleh agama-agama monoteistis barangkali justru memicu kekerasan dan intoleransi. Ia bergumul dengan persoalan ini dengan mencari, di satu pihak suatu horizon pengertian yang universal dan di pihak lain distingsi antara universalitas dan keabsolutan. Hal ini diungkapkannya berhubungan dengan klaim dari pihak agama Kristen bahwa Kristus mempunyai relevansi soteriologis yang universal, yakni menyangkut semua orang pada segala zaman. Oleh karena itu kita masih perlu melihat sedikit gagasan Schillebeeckx mengenai daya penyelamatan Yesus Kristus. (Georg Kirchberger, “Memahami Iman dalam Dunia Sekilar, Maumere: Ledalero, 2014, hlm. 191)

Berhadapan dengan penderitaan dan pengalaman kontras sebagai tempat di mana orang bisa mendapat suatu wahyu tentang Allah dan sikap-Nya, Edward Schillebeeckx mengembangkan suatu soteriologi baru bagi dunia pascamodern. Model santisfactio (Penyilihan) dari Anselmus Canterbury tidak bisa secara kuat menjelaskan bagi manusia dewasa ini, apa yang dilakukan Allah bagi kita dalam diri Yesus. Selain menjadi suatu penjelasan baru, Edward Schillebeeckx juga memberikan peran baru bagi soteriologi dan menganggapnya lebih utama daripada penjelasan mengenai kodrat dan pribadi dalam diri Kristus yang mempengaruhi kristologi klasik itu.

Penekanan semacam ini tentu bukan suatu masalah. Penekanan soteriologi bisa memisahkan peran dan fungsi Yesus bagi kita dari peran dan fungsi Yesus historis dan mereduksi arti soteriologis-Nya seperti proyeksi dari kebutuhan kita. (Georg Kirchberger Red, hlm. 195). Bisa jadi bahwa pengalaman revelatoris akan Allah yang menyelamatkan direduksi menjadi pengalaman manusiawi semata-mata seperti dalam teologi liberal abad ke 19 atau sebagaimana dituduhkan pada teologi pembebasan (meskipun secara tidak tepat).

Schillebeeckx tidak jatuh dalam bahaya itu, karena ia secara saksama meneliti tradisi mengenai Yesus historis dan juga karena teorinya yang serba kritis dan detail mengenai pengalaman. Schillebeeckx tidak hanya menekankan pentingnya Yesus historis, ia juga secara konkret berusaha secara serius untuk mengangkat hidup Yesus historis ke dalam kesadaran dan refleksi Kristologis.

Penekanannya pada Yesus historis sebagai nabi eskatologis dan cara merekonstruksi pengalaman pertumbuhan para murid dalam iman akan kebangkitan, menjamin suatu hubungan yang kuat antara Yesus historis dan Kristus imanen. Pandangan kritis dan saksama mengenai relasi antara pengalaman manusia dan revelasi yang tidak mengidentikkan keduanya; menjamin bahwa ia tidak jatuh dalam kesalahan teologi pembebasan (Edward Schillebeeckx, “Church The Human Story of God, New York: Crossroad, 1990, hlm 320). 

Lalu, bagaimana Schillebeeckx menggarisbawahi primat dari aspek soteriologis dalam teologi? Soteriologi itu tampak penting, karena Schillebeeckx di dalam karyanya, merujuk pada tradisi kenabian dan pneumatik. Perlunya untuk menegaskan dimensi soteriologis dari kristologi menjadi paling kelihatan, ketika Schillebeeckx menemukan bahwa aspek tersebut tidak cukup diperhatikan. Dalam kasus itu, dimensi profetik dan pneumatik dalam tradisi diangkatnya untuk mengatasi penekanan ontologis dan dogmatis. 

Edward Schillebeeckx mengenai eskatologi pada bagian kedua tahun 1960-an memberikan  tekanan yang semakin kuat pada dimensi profetis dari gagasannya pada tahun 1970-an. Ia malahan pernah mengatakan bahwa buku ketiga dalam trilogi mengenai kristologi itu akan berbicara mengenai Roh Kudus, akan merupakan suatu pneumatologi.

Teologinya yang lebih kemudian, dengan jelas diwarnai oleh usaha menyingkapkan dimensi soteriologis dari rahmat di mana Allah menyatakan diri. Pencarian akan momen redemptif di dalam sejarah mengubah pemahaman tentang Gereja dan jabatan di dalamnya. Minat Schillebeeckx terhadap soteriologi yang berdimensi profetik dapat mengubah wajah teologi Kristen dan wajah Gereja, kalau ia diikuti dan dilaksanakan dengan sungguh. Kenyataan bahwa banyak orang merasa perlu adanya perubahan itu untuk menjelaskan mengapa teologi Schillebeeckx dan tulisannya tentang Gereja dan jabatan demikian disukai banyak orang pada akhir abad ke-20 (Georg Kirchberger Red, hlm. 196).

Pada saat Gereja Eropa menjadi Gereja yang mendunia, dan saat pikiran post modern menuntut pemahaman dan praktik baru menyangkut iman kristiani, kita mesti mengambil resiko untuk meneliti kembali dimensi soteriologis iman kita, justru demi kredibilitas pelaksanaan iman kita. Iman kristiani hanya meyakinkan orang, bila ia dialami sebagai relevan, sebagai sarana efektif untuk mengatasi kemalangan dunia ini pada masa kita saat ini.

Kita mesti memperhatikan juga tema penciptaan yang memegang posisi penting dalam tulisan Schillebeeckx dan yang sering disinggung sejak tahun 1990-an berhubungan dengan persoalan ekologi. Seperti sudah dijelaskan di atas, Schillebeeckx menegaskan bahwa penciptaan bersifat dasariah bagi seluruh teologi. Namun ia sadar dan ingin menyadarkan pembacanya bahwa penekanan pada penciptaan tidak boleh menyingkirkan eskatologi dalam pikirannya. 

Tetapi, apakah penekanan pada penciptaan mengubah perhatian Schillebeeckx bagi dimensi soteriologi? Rupanya tidak. Soteriologi dihubungkannya juga pada penciptaan, dan mungkin penekanan pada penciptaan justru harus dilihat dalam rangka rencananya untuk menerangi soal soteriologi dengan lebih konkret. Karena pembaruan yang dikerjakan Allah justru ingin memulihkan rencana awal yang dimiliki Allah ketika ia menciptakan dunia. 

Schillebeeckx dalam seluruh teologinya selalu berusaha untuk mencari jalan baru yang membantu orang untuk mengatakan ya dan menerima inti pewartaan Injil. Schillebeeckx secara fundamental tertarik pada Allah yang secara serius memperhatikan kepentingan manusia, Allah tidak acuh tak acuh (masa bodoh) terhadap pengalaman konkret, penderitaan dan pengharapan manusia.

Bagi penulis, penderitaan manusia dalam kaitan dengan Covid-19 ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan rasional belaka melainkan dengan iman dan pengharapan kepada Tuhan, sebagai bentuk dari misteri penderitaan itu sendiri. Secara singkat segala bentuk penderitaan termasuk Covid-19, mau tidak mau harus memperhitungkan dimensi spiritual dari manusia.

Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM.
Biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel