Ekaristi dan Konsili Vatikan II

Perjamuan malam terakhir
Ekaristi dan Konsili Vatikan II (foto dari pixabay.com)
Quote Amor - Dalam perjamuan malam terakhir, pada malam Ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan korban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian mengabdikan korban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja mempelai-Nya yang terkasih kenangan wafat dan kebangkitan-Nya.

Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II yang berbicara tentang Ekaristi adalah Konstitusi Lumen Gentium, Sacrosanctum Concilium, dan dekrit Presbyterorum Ordinis. Namun dokumen-dokumen ini tidak menguraikan Ekaristi secara sistematis sehingga untuk memberi instruksi mengenai katekese Ekaristi, Kongregasi Ibadat kemudian, menerbitkan Eucharisticum Mysterium pada tanggal 25 Mei 1967. Dokumen ini hadir sebagai jawaban atas persoalan-persoalan tentang Ekaristi. Oleh karena itu, tulisan ini dimaksudkan utnuk menguraikan makna Ekaristi dalam ajaran Konsili Vatikan II.

I. Ekaristi dalam dokumen Konsili Vatikan II 

Dasar Kristologi

Ekaristi bukanlah ciptaan dan rekayasa Gereja. Perayaan Ekaristi ditetapkan dan diperintahkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, yakni pada perjamuan malam terakhir. Karena karya penebusan Yesus terwujud dalam kurban salib-Nya secara sakramental dalam tindakan liturgis Gereja. Dalam kurban salib Kristus yang dihadirkan dalam liturgi Ekaristi itu mengandung beberapa aspek seperti puji syukur, penebusan, pengampunan dosa, serta permohonan. Maka, hanya ada satu orang yang menjadi sakramen  dalam  arti kata yang penuh, yaitu Yesus Kristus, Putra Allah yang hidup (Bdk, E, Martasudjita, Ekaristi, (Kanisius, Yogyakarta 2005, hal, 293).

Ekaristi sebagai kurban

Ajaran Konsili Vatikan II mengenai Ekaristi sebagai kurban terdapat dalam Sacrosanctum Consilium, jelas punya hubungan dengan tradisi teologis dan ajaran Konsili Trente. Namun tampaknya Konsili Vatikan II memperlihatkan suasana diskusi Ekumenis.

Konsili Vatikan II menghubungkan kurban Ekaristi dengan perjamuan malam terakhir dan   kurban salib sekaligus. Kristus mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya pada perjamuan malam terakhir. Jadi, perjamuan malam terakhir sudah disebut dengan kurban Ekaristi. Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa perjamuan malam terakhir adalah perayaan Ekaristi Gereja yang pertama. 

Pada Perjamuan malam terakhir, pada malam itu Ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan korban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian, mengabdikan korban salib untuk selamanya, dengan mempercayakan kepada Gereja mempelainya yang terkasih dengan  kenangan  wafat dan kebangkitan-Nya.

Ekaristi sebagai perayaan kenangan

Jawaban terhadap pertanyaan bagaimana kurban Ekaristi yang sekaligus merupakan surban Salib Kristus ditegaskan dalam SC 47 dengan kata “mengabdikan” dan perayaan kenangan. Di balik istilah ini, ada diskusi yang sangat intensif dalam sidang Konsili Vatikan II. Dengan demikian, dalam perayaan Ekaristi, kurban salib Kristus yang sekali untuk selamanya itu, kini dikenang, artinya dihadirkan dalam Gereja. Dengan kata lain, kurban salib Kristus yang satu dan sama itu dirayakan oleh Kristus melalui dan bersama dengan Gereja-Nya dalam rupa roti dan anggur.

Ekaristi sebagai sakramen

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Kristus mempercayakan kepada Gereja, mempelainya yang terkasih, kenangan wafat dan kebangkitan-Nya: sakramen cinta kasih, lambang kesatuan ikatan cinta kasih. Dengan melihat dan membahas Ekaristi secara menyeluruh dan sebagai satu kesatuan, Konsili Vatikan II membuat pembaharuan pandangannya, baik isi maupun caranya. Itulah sebabnya, Ekaristi disebut sebagai sakramen cinta kasih, lambang kesatuan baik dengan Allah maupun dengan Gereja.

Ekaristi sebagai perjamuan

Konsili Vatikan II juga mengajarkan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah (SC 47). Ungkapan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah ini harus dimengerti sebagai perjamuan secara holistik, yakni dalam rangka keseluruhan perayaan Ekaristi. Artinya perayaan Ekaristi merupakan perayaan kenangan. Dan menurut maknanya, isi perjamuan Paskah ini tetap meliputi seluruh karya keselamatan Kristus yang memuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya. 

II. Dimensi Eklesiologi

Ekaristi sebagai perayaan Gereja

SC 47 memberikan dasar Kristologi dari Ekaristi, yakni sebagai sesuatu yang ditetapkan, yakni dipercayakan oleh Kristus sebagai kepala Gereja. Di samping itu, dengan merayakan Ekaristi, Gereja sebenarnya mengungkapkan dan melaksanakan dirinya sebagai sakramen keselamatan Allah, justru karena Gereja menghadirkan Kristus, sang sakramen induk itu. Artinya bahwa dalam Ekaristi, terbentuklah dan lahirlah Gereja. 

Demikian pula dalam SC 26 ditegaskann sifat eklesial dari setiap perayaan liturgis bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah pimpinan para Uskup. Hal tersebut menandakan suatu kematangan teologi jabatan Uskup.

Ekaristi sebagai pusat liturgi

Misteri Ekaristi dipandang oleh Konsili Vatikan II sebagai pusat seluruh liturgi. Kedudukan khusus Ekaristi dalam liturgi ini memang disebut di beberapa tempat, misalnya dalam SC 2. Maka, sentralisasi Ekaristi dalam liturgi menunjuk pada pemahaman Vatikan II yang di satu pihak, melihat Ekaristi sebagai perwujutan tertinggi liturgi dan di lain pihak memandang aneka perayaan liturgi yang lain dari sudut Ekaristi. 

Maksudnya, di samping mengakui sentralitas Ekaristi dalam liturgi, Vatikan II memberikan penghargaan tinggi dan tempat istimewa pada perayaan sabda, peran sentral kitab suci, perayaan sakramen lain dan ibadat harian. Dalam semua sakramen lainnya, kita menerima hasil perbuatan penyelamatan yang dilakukan Yesus Kristus, tetapi dalam Ekaristi kita menyambut Dia sendiri, sumber Keselamatan kita (Bdk. Dister Nico Syukur, Pengantar Teologi, Kanisius, Yogyakatra 1991, hal. 63).

Ekaristi sebagai sumber dan puncak  kehidupan Gereja

Ekaristi tidak hanya pusat seluruh liturgi Gereja, tetapi juga menjadi sumber dan puncak kehidupan Gereja dan hal ini ditegaskan dengan jelas dalam  LG 11. Begitu pula dalam SC 10 menyatakan bahwa, liturgi menjadi sumber  dan puncak seluruh kegiatan Gereja, meskipun tentu saja liturgi bukan mencakup seluruh kegiatan Gereja. Karena Perayaan Ekaristi adalah puncak dan pusat liturgi, maka Ekaristi dipahami oleh Konsili Vatikan II sebagai sumber dan puncak seluruh kehidupan Gereja.

Aspek teologi rahmat dan perspektif eskatologis

SC 47 menyebut juga soal daya guna Ekaristi: “dalam perjamuan itu, Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikarunia jaminan kemuliaan yang akan datang. Maka, dalam Perjamuan cinta kasih itu, Kristus menganugerahkan diri-Nya sendiri kepada kita umat beriman dalam rupa roti dan anggur. Dengan penerimaan tubuh dan darah Kristus itu, umat beriman diikutsertakan dalam kebersamaan dan kesatuan dengan Allah dan juga dengan semua umat beriman.

Ekaristi merupakan karunia eskatologis. Dalam Ekaristi yang dirayakan Gereja di dunia ini, kita ikut mencicipi liturgi surgawi, yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan peziarah kita. Dalam Ekaristi, Allah tetap memberi diri-Nya melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus secara konkrit dan nyata kepada manusia dan dunia sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhir zaman nanti.

III. Catatan Perbedaan Konsili Vatikan II dan Konsili Trente tentang Ekaristi

Aspek Eklesiologis 

Konsili Vatikan II melihat Ekaristi dalam suatu konteks yang jelas. Hal ini yang membedakannya dengan Konsili Trente. Konsili Vatikan II memiliki suatu paham eklesiologi yang jelas dan komprehensif. Sebaliknya Konsili Trente belum memiliki eklesiologi yang jelas, solid dan menyeluruh.

Aspek teologi sakramental

Hal positif pembaharuan teologis sakramen abad XX ialah penemuan kembali pola dan cara pikir sakramental, sebagaimana sudah lazim dalam teologi Gereja abad-abad pertama. Pola pikir sakramental ialah suatu cara pandangan terhadap realitas iman secara simbolis, demikian rupa sehingga di sana terjadi tegangan antara realitas  hadir, terwujud, dan terlaksana. Itulah sebabnya mengapa Konsili Vatikan II berani menyebut Gereja sebagai sakramen. Namun Gereja disebut sakramen selalu dalam rangka menghadirkan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Misteri, sakramen Allah.

Konteks Ekumenis

Suasana hidup Gereja pada masa konsili Vatikan II dan Trente jelas berbeda. Situasi pada masa Konsili Trente adalah situasi di mana perpecahan Gereja Katolik dan Reformasi sedang marak-marak terjadi. Sementara itu Konsili Vatikan II berbeda dalam situasi zaman yang berbeda. Maka, suasana yang lebih bersahabat ini jelas memberikan sumbangan yang besar pada sidang Konsili Vatikan II. Dalam dialog antara umat beragama, kita mulai bertukar pikiran dan bertukar pengalaman dengan orang-orang bukan katolik, sambil menyakini bahwa pada agama-agama lain juga terdapat kebenaran iman.

Misteri Kristus dan pemahaman Ekaristi sebagai satu kesatuan

Meskipun Vatikan II tidak memberikan dogma baru mengenai Ekaristi, tetapi harus dikatakan bahwa Vatikan II benar-benar menyampaikan ajaran yang benar-benar segar dan baru bila dibandingkan dengan Trente. Menurut isi ajarannya, Vatikan II menegaskan kembali makna dan peranan misteri Kristus sebagai pusat liturgi dan teologi Ekaristi. Tetapi praksis juga bahwa Vatikan II mengajarkan Ekaristi secara baru. Pada hakikatnya Vatikan II menempatkan ajaran tentang Ekaristi dalam konteks trinitas-kristologis, eskatologis, eklesiologis dan antropologis.

Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM
Biarawan Fransiskan Papua, tinggal di biara Assisi Waena

Daftar Pustaka

Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: OBOR, 1993.

Dister, Nico Syukur. Pengantar Teologi. Yogyakarta : Kanisius, 1991. 

Dister, Nico Syukur. Teologi Trinitas, Yogyakarta : Kanisius, 2012.

Martasudjita, E. Ekaristi. Yogyakarta :Kanisius, 2005.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel