Teologi Pembebasan Asia : Bertolak dari Keresahan Masyarakat

Ilustrasi tentang kemiskinan (foto : pixabay.com)
Quote Amor - Teologi Pembebasan adalah salah satu cabang teologi yang berupaya menjawab persoalan sosial, ekonomi dan politik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Atau dengan kata lain, teologi pembebasan adalah upaya berteologi secara kontekstual (Y. W. Wartaya Winangun., Tanah sumber nilai hidup, 2004, 12).

Di Asia ada sejumlah teologi pembebasan yang muncul. Teologi-teologi itu muncul dalam konteks situasi Asia yang di tandai dengan kemiskinan yang masif, akibat penindasan struktural. Dalam tulisan ini, akan ditunjukkan tiga contoh teologi pembebasan Asia, yaitu Teologi Minjung di Korea, Teologi Perjuangan di Filipina dan teologi dalit di India. 

Teologi Minjung berbicara tentang pergulatan rakyat dalam membebaskan diri dari struktur-struktur sosial yang menindas. Selain Injil, teologi ini juga terinspirasi dari kekuatan-kekuatan pembebasan dalam agama-agama rakyat seperti shamanisme dan mesianisme, (M. Amalados, Life in Freedom: Liberation Theologies from Asia, 1997, 10

Teologi Perjuangan juga muncul di Filipina ketika banyak rakyat, terutama mereka (kaum buruh dan petani), yang mengalami kemiskinan dan penindasan oleh aneka strukur sosial termasuk rezim diktator persiden F. Marcos. Dalam teologi ini, berbicara tentang perjuangan rakyat yang mengalami penindasan, sehingga mereka mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara, terutama melalui religiositas umum. Bertolak dari masalah sosial ini, beberapa teolog melakukan analisis sosial berdasarkan teori-teori sosial dan diilhami oleh semangat Kitab Suci.

Sedangkan Teologi Dalit merupakan bentuk lain dari teologi pembebasan yang muncul di India. Nama “dalit” sendiri mengacu pada kelompok orang yang berada di luar empat kasta yang ada dalam struktur sosial masyarakat India. Bila kasta sudra merupakan kasta paling rendah, yang meliputi para pekerja kasar, buruh, dan petani, kaum dalit lebih rendah lagi dari kasta sudra karena mereka berada di luar kasta.

Merekalah yang paling miskin dan tertindas. Secara ekonomis mereka paling miskin karena tidak diterima dalam jenis pekerjaan mana pun termasuk menjadi pekerja kasar. Pekerjaan mereka tidak lebih dari membuang sampah dan bangkai binatang. Diskriminasi seperti ini mendorong mereka untuk berpindah ke agama Kristen atau Islam dan tentu melahirkan pemikiran-pemikiran baru.

Dalam peristiwa seperti itu, perjuangan pembebasan dimulai. Tentu gerakan ini, pertama-tama dimulai dalam kelompok mereka, namun kemudian hari berkembang luas. Teologi dalit berbicara tentang perjuangan kaum dalit yang menuntut kesetaraan dalam hidup bermasyarakat. 

Berhubungan dengan teologi agama-agama bercorak pembebasan di Asia, maka tulisan ini, akan lebih memfokuskan diri pada dua tokoh teolog asia, yang bagi penulis cukup berpengaruh. Dua tokoh  itu ialah Aloysius Pieris dan M.M. Thomas. 

Teologi Pembebasan Asia dalam kacamata Aloysius Pieris

Aloysius Pieris adalah seorang Imam Yesuit dari Sri Lanka. Dia bukan saja ahli dalam Buddhisme tetapi banyak membangun relasi dan terlibat dalam dialog dengan kaum Buddhist. Dia sangat akrab dengan kelompok Buddhist. Selain itu dia juga membangun relasi dengan berbagai kelompok multireligius yang berkecimpung dalam perjuangan pembebasan bagi kaum miskin. 

Menurut Pieris ada tiga hal yang mewarnai teologi agama-agama yang khas Asia dan kurang diperhatikan oleh pendekatan teologi Barat, Pertama, perlunya mendengarkan kaum miskin dan tertindas yang disebutnya magisterium ketiga. Kedua, daya pembebasan dalam agama-agama Asia. Ketiga, pelokasian secara sosial teologi tersebut dalam Komunitas Basis Manusiawi (A. Pieris, Sang Buddha dan Sang Kristus: perantara-perantara, 2003, 67).

Bagi Pieris dua hal yang menandai wajah Asia yaitu kemiskinan dan religiositas. Menurutnya, kaum miskin di Asia juga amat religius. Karena itu dia mengusulkan supaya refleksi teologis di Asia perlu dan harus memperhatikan dua aspek ini yaitu kemiskinan dan religiositas.

Di dalam agama-agama Asia, misalnya Buddhisme, melihat kerakusan akan harta sebagai penyebab adanya kemiskinan yang terjadi. Kerakusan menuntun sebagian manusia untuk melakukan pemerasan yang mengakibatkan kemiskinan sesamanya. Kerakusan seperti ini hanya bisa dilawan dan ditantang dengan pilihan bebas untuk menjadi miskin, yaitu menghentikan baik keinginan untuk memiliki maupun tindakan aktual memiliki.

Baca juga :
Selanjutnya orang-orang yang secara sukarela memilih untuk menjadi miskin dapat bersatu dengan mereka yang dipaksa menjadi miskin oleh ketidak-adilan sruktural, baik di bidang ekonomi maupun politik, supaya bersama-sarna berjuang menuju pembebasan manusia dari kerakusan harta yang membelenggu. Dengan demikian dapat terjadi pembagian secara adil dari harta benda di antara mereka. Singkatnya, pilihan untuk menjadi miskin menuntun kepada pilihan keberpihakan kepada kaum miskin dalam perjuangan menuju pembebasan manusia dari kemiskinan yang dipaksakan. Ketika kemiskinan dan religiositas disatukan dengan cara ini, keduanya membawa pembebasan. Bagi, Pieris melihat hal ini sebagai kekhasan teologi pembebasan di Asia. 

Di sisi lain, Pieris juga melihat model keberpihakan seperti itu dalam hidup Yesus. Di dalam konteks pergulatan terus-menerus di dunia ini antara Allah dan mammon, yaitu mammon yang nyata dalam struktur sosial yang menindas, Yesus telah memilih untuk menjadi miskin sejak lahir. Tetapi penyamaan dirinya dengan kaum miskin dan perjuangannya bersama kaum miskin harus berhadapan dengan kaum kaya dan berkuasa. Yesus menantang kaum kaya dan berkuasa itu untuk bertobat. Dan hal ini justru membawa dia kepada salib.

Untuk itu, menurut Pieris, panggilan utama kaum kristiani adalah mengikuti Yesus yang menjadi miskin dan berjuang bersama kaum miskin. Pilihan menjadi miskin hanya bisa disebut pilihan mengikuti Yesus bila mengantar kepada perjuangan bersama kaum miskin menuiu pembebasan. Kekuatan teologis dari argumen ini datang dari dua kenyataan biblis: pertentangan yang tak dapat disatukan antara Allah dan mamon dan perjanjian antara Allah dan kaum miskin yang tidak terbatalkan.

Panggilan untuk mengikuti Yesus yaitu menjadi miskin dan berpihak kepada kaum miskin, bukan hanya untuk kaum kristiani tetapi juga untuk penganut agama lain atau ideologi lain. Dan telah banyak penganut agama dan ideologi lain yang sedang berjuang bersama kaum miskin demi pembebasan mereka (hal inipun terjadi dalam konteks Asia). Walaupun demikian Pieris melihat kelemahan dari konsep kemiskinan religius dalam agama-agama Asia, juga konsep perjuangan bersama kaum miskin dalam marxisme yang terjadi.

Dalam agama-agama Asia, misalnya Buddhisme, terdapat kemiskinan sukarela sebagai bentuk spiritualitas tetapi tidak sampai pada keberpihakan kepada perjuangan kaum miskin sehingga kemiskinan yang dipraktikkan tidak membawa pembebasan yang berdimensi sosial. Sebaliknya, tradisi marxisme bertolak belakang dengan religiositas Asia tentang pilihan bebas menjadi miskin dan menilai hal ini sebagai bentuk takhayul dan keadaan merasa terasing. Kaum marxis memang berjuang bersama kaum miskin untuk memerangi dan melawan struktur yang menindas, tetapi tidak sampai pada tindakan mernerangi akar penyebab kemiskinan yaitu kerakusan akan harta, kuasa dan status.

Bagi Pieris, hanya bila elemen-elemen positif dari kemiskinan dan religiositas disatukan bersama-sama dapat menjadi kekuatan pembebasan yang sejati. Orang yang berfokus pada pembangunan yang bersifat material belaka akan tiba pada kegagalan karena tidak memperhatikan kekuatan religius dari pilihan untuk hidup miskin dan ekspresi struktural dari nafsu dan kerakusan akan harta, kuasa dan status yang telah menyebabkan kemiskinan banyak orang (A. Pieris, An Asian Theologi of Liberation, Edinburg: T & T Clark, 1998, 77-78).

Menurut Pieris, agama-agama Asia telah secara tepat melihat akar penyebab kemiskinan yaitu kerakusan akan harta dan karena itu salah satu spiritualitas (semangat) agama-agama Asia adalah pilihan bebas menjadi miskin sebagai jalan pembebasan dari kerakusan. Tetapi hanya dalam kekristenan ditemukan usaha lebih lanjut dari pembebasan dari Allah yang berpihak kepada kaum miskin dan berjuang bersama mereka menuju pembebasan. Yesus menunjukkan dalam hidupnya pergulatan teru-menerus antara Allah dan mammon. Kaum miskin dan tertindas adalah agen-agen dari pergulatan itu.

Di dalam Yesus, Allah berada di pihak kaum miskin sehingga pergulatan mereka menuju pembebasannya sejalan dengan tindakan penyelamatan Allah sendiri. Dan banyak orang berkehendak baik dari agama-agama lain dapat bertindak seperti Yesus. Mereka dapat mendayagunakan kekuatan pembebasan yang terdapat dalam agama-agama mereka sendiri. Selanjutnya orang berbeda-beda agama dapat bersama-sama membentuk komunitas basis manusiawi, dalam perjuangan membela kaum miskin dan memajukan keadilan dan kesetaraan bagi semua warga masyarakat (A. Pieris, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003, 70-81).

Pieris menaruh perhatian pada kekuatan pembebasan yang disebutnya sebagai religiositas kosmik. Kehidupan keagamaan kaum miskin yaitu mereka yang hadup melarat, kehilangan hak, tersingkir, terdiskriminasi dan merupakan mayoritas penduduk Asia pada umumnya diwarnai oleh religiositas kosmik. Yang dimaksudkannya dengan religiositas kosmik bukan saja menyangkut agama suku tetapi juga populer dari agama-agama metakosmik seperti Buddhisme, Islam, dan Kristen. (A. Pieris, An Asian Theologi of Liberation, Edinburg: T & T Clark, 1998, 121).

Baca juga : 
Ungkapan-ungkapan dari religiositas kosmik tersebut sudah sering kali digunakan oleh para aktivis Kristen di lapangan ketika berbicara tentang  Kerajaan Allah, walaupun Magisterium Pastoral (para Uskup) dan Magisterium Akademik (para teolog) tidak terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut.

Menurut A. Pieris, Religiositas kosmik kaum miskin ini memiliki tujuh keutamaan pembebasan, yang menurut penulis dapat diringkas sebagai berikut: Pertama, Kaum miskin memiliki spiritualitas tersendiri yaitu spiritualitas di dunia ini. Mereka berseru ke surga untuk pemenuhan kebutuhan dasar harian mereka seperti makanan, perumahan, pekerjaan, dll. Kedua, di dalam ketidakberdayaan, mereka tidak memiliki jaminan lain kecuali bergantung total pada Allah. Allah mereka adalah Dia yang memberi mereka nasi, pakaian, pemondokan, pasangan hidup, keturunan. Singkatnya Allah mereka adalah Allah bagi kehidupan nyata hari ini. 

Ketiga, pada Allah yang sama ini, mereka juga berseru memohon keadilan. Dalam banyak kebudayaan Asia, dikenal manifestasi diri Yang Ilahi, yang memulihkan keadilan di dunia ini. Keempat, pendekatan pada Allah dan agama seperti ini tidak sama dengan sekularisme tetapi suatu religiositas kosmik, karena bukannya mereka tidak mengakui yang kudus melainkan yang kudus itu menyatu dengan kehidupan harian. Kelima, dalam religiositas seperti ini, kaum wanita masih memiliki ruang untuk mengekspresikan paling kurang secara simbolis keadaan tertekan mereka. Keenam, karena spiritualitas mereka memberi penekanan pada pemenuhan kebutuhan harian, juga kepercayaan akan berbagai kekuatan kosmik yang membatasi hidup mereka, maka spiritualitas kosmik ini bercorak ekologis. Ketujuh, gaya komunikasi yang paling kuat dalam tradisi religius  mereka adalah cerita. Pembebasan manusia berujud kisah Allah yang hadir di tengah umat-Nya. Dunia ini bagaikan suatu drama suci. Cerita, narasi, dan drama merupakan media yang amat suci bagi rakyat.

Karena selama ini Kekristenan lebih banyak membangun dialog dengan agama-agama metakosmik, yang sering terjadi adalah menganggap remeh potensi pembebasan yang ada dalam agama kosmik. Sesungguhnya telah banyak terjadi perubahan sosial dalam masyarakat Asia justru karena keterlibatan rakyat yang menghayati agama kosmik itu. Spiritualitas "duniawi" dan iman akan Allah yang menegakkan keadilan di dunia ini merupakan kekuatan gerakan perubahan bila dimanfaatkan dengan baik.

Kekristenan menerima pengaruh dari daya pembebasan religiositas kosmik melalui Komunitas Basis Manusiawi. Komunitas Basis Manusiawi tidak bertujuan pertama-tama untuk dialog antaragama, dan sama sekali tidak sibuk dengan identitas religius seseorang atau keunikan agama masing-masing anggota. Tujuan sebenarnya kegiatan dalam Komunitas Basis Manusiawi adalah pembebasan total dari noipersons (kaum miskin dan tertindas).

Menurut A. Pieris, identitas religius bukanlah sesuatu yang dicari dan ditemukan melalui diskusi ilmiah, tetapi melalui keterlibatan mereka bersama dalam Komunitas Basis Manusiawi. Di dalam proses mengenal dan mengakui baik dosa maupun pembebasan sebagaimana dialami dan diperjuangkan oleh seseorang di dalam Komunitas Basis Manusiawi, masing-masing pihak saling mengenal keunikan dan kekhasan agama orang lain. Orang-orang Kristen mengenal kekhasan identitas mereka melalui pengakuan dan pengenalan sesamanya yang beragama lain. Mereka justru memahami apa yang unik tentang Yesus dan kekuatan warta pembebasan-Nya melalui pengakuan orang-orang non-Kristen. Orang Kristen semakin dikuatkan imannya akan Yesus Kristus sebagai pengantara dan fakta pembelaan Allah bagi nonpersonis.

Madathiparampil MammenThomas : Keselamatan dalam Kristus dan humanisasi

M. M. Thomas, adalah tokoh gerakan ekumenis yang terkemuka dari India. Ia juga pernah menjadi moderator pada Komisi Pusat Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Thomas berasal dari kalangan Gereja Ortodoks Mar Thoma di India. Ia giat dalam mengusahakan keesaan gereja dan aktif dalam studi-studi sosial dan politik. Menurut Thomas, setiap komunitas iman disatukan dalam komunitas bersama yang peduli dan bertanggung jawab untuk membangun masyarakat yang menyadari kualitas hidup manusia.

Thomas melihat hubungan erat antara keselamatan dalam Kristus dan humanisasi. Keselamatan adalah segi batin dari humanisasi yang sejati dan humanisasi merupakan sifat yang melekat pada warta keselamatan dalam Kristus. Keselamatan dapat disebut sebagai “humanisasi dalam makna yang total dan eskatologis (M.M. Thomas, Salvations and humanization, Madras: Cristian Literature Society, 1971, 10). Keselamatan sebagai humanisasi ini tidak lain dari penyatuan akhir manusia dalam kemanusiaan Kristus yang dimuliakan. Dan hal ini melibatkan kegiatan kreatif dan kebebasan manusia dalam sejarah. Oleh karena itu restrukturisasi institusi-institusi sosial merupakan tanggung jawab moral manusia yang diterimanya dari Allah. Dharmia sosial atau keadilan merupakan konsep yang dinamis dan selalu bertumbuh karena kreativitas kebebasan manusia.

Baca juga :
Kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam sejarah umat manusia, menurut Thomas, tidak hanya terdapat di dalam Gereja melainkan juga di dalam setiap gerakan pembebasan manusia. Kehadiran yang menyelamatkan ini dapat berwujud agama-agama bahkan ideologi yang bermacam-macam, tanpa diidentik dengan salah satu dari mereka. Ini berarti bahwa karya dalam sejarah bersifat duniawi, manusiawi dan historis tanpa diidentikkan dengan agama apa pun termasuk kekristenan sendiri. Salib dan kebangkitan Kristus merupakan tantangan terus-menerus bagi setiap gerakan pembebasan. 

Dia adalah peringatan bagi ketakberdayaan manusia atas dosa, dengan konsekuensi bahwa manusia membutuhkan penebusan. Dia juga merupakan peringatan akan kenyataan bahwa pembebasan, pada akhirnya adalah anugerah Allah walaupun menuntut kreativitas manusia dalam sejarah. Untuk itu Thomas mengeritik, baik ajaran etika Gandhi maupun ajaran marxisme. Gandhi dengan menjunjung tinggi kekuatan moral manusia, cenderung kepada pembenaran diri manusia sendiri. Kaum marxis sebaliknya, dengan amat memperhatikan konflik antarkelas sosial, cenderung untuk terlalu mengandalkan kekuatan politik tanpa kontrol moral (M. Amalados, Life in Freedom: Liberation Theologies from Asia. Maryknoll-New Work: Orbit Books, 1997, 103).

Dalam konteks seperti ini, Thomas memahami misi Gereja sebagai dialog dan kenabian. Kaum kristen perlu terlibat dalam dunia dan sejarah, berupaya memajukan kemanusiaan dan mengambil bagian dalam gerakan-gerakan politik dan sosial. Karena hal-hal inilah dasar bersama untuk memulai dialog. Walaupun demikian, kaum kristiani tetap mewartakan Kristus sebagai jawaban final persoalan setiap manusia, melalui gerakan apa pun menuju kemanusiaan yang penuh. Tetapi karena mengakui kehadiran dan karya Kristus dalam agama-agama lain, orang Kristen harus belajar berdialog dengan penganut agama-agama lain, belajar memberi sekaligus menerima.

M Thomas berpendapat, Kristus melampaui kekristenan, agama-agama Kristen dan sekularisme, dan Dia mengadili dan menebus para penganut mereka bila hati mereka terbuka bagi-Nya di dalam latar agama-agama ataupun non-agama mereka. Kesaksian Gereja akan Kristus, ketika masuk dalam kemitraan dengan orang beragama lain atau yang beriman sekuler, di dalam perjuangan bagi koinonin sekuler, sambil belajar dari mereka beberapa hal, juga mengoreksi yang lainnya, dan pada saat yang sama menunjuk Yesus Krisius sebagai sumber, kriteria, dan tujuan dari kemanusiaan baru yang sedang mereka cari (M.M. Thomas, New Creation in Christ, Delhi: ISPCK, 1976,  48).

Bila mengkaji lebih jauh, maka dapat dibuat dua bagian penting dari pemikiran teologi M.M. Thomas. Pertama, pengakuan positif akan hal-hal manusiawi dan sekuler, walaupun tetap terbuka pada kepenuhan di dalam kemanusiaan Kristus yang bangkit. Kedua, pembebasan sebagai suatu proyek lintas agama dan lintas ideologi, walaupun berada dalam horizon Kristus yang mengatasi, sekaligus mengangkat mereka. Dia juga menekankan dampak historis dari Kristus menurut injil-injil di dalam gerakan-gerakan pembebasan religius dan sekuler kini.

Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM
Mahasiswa Pasca Sarjana STFT Fajar Timur - Abepura-Papua

Referensi:

A. Pieris,   An Asian Theologi of Liberation, Edinburg: T & T Clark, 1998.

------------, Sang Buddha dan Sang Kristus: perantara-perantara pembebasan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

M. Amalados, Life in Freedom: Liberation Theologies from Asia, Maryknoll-New Yorks: Orbis Books, 1997.

M.M. Thomas, Salvations and humanization, Madras: Cristian Literature Society, 1971.

-------------, New Creation in Christ, Delhi: ISPCK, 1976.

Y. W. Wartaya Winangun., Tanah sumber nilai hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2004.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel