Cinta-Mu meneguhkanku: Mutiara Indah Tuhan menemaniku dalam setiap tugas perutusan

Sr. M. Oliva Silubun, PBHK
Sr. M. Oliva Silubun, PBHK (foto pribadi)
Quote Amor - Hari terus berlalu dan waktu demi waktu telah kulewati dengan begitu banyak pengalaman dan peristiwa. Di dalamnya kutemukan sisi gelap dan terang hidupku. Pengalaman-pengalaman itu mengajarkanku akan arti bersyukur kepada Dia, Sang pemberi hidup dan semua pengalaman itu mengajarkanku untuk terus bertumbuh dan perkembangan sebagai orang yang dipanggil secara khusus dalam menjalani hidup ini. Tuhan tidak pernah meninggalkanku sendiri.

Di saat situasi virus corona sedang melanda dunia, aku diajak untuk kembali melihat diriku sebagai seorang pribadi religius yang sudah, sedang dan akan terus berada di tengah tantangan dunia ini. Di saat seperti ini, aku berusaha mengambil waktu sejenak untuk menengok diri yang telah lama berlarut dalam berbagai kesibukan. Ya, semuanya demi tugas  perutusan dan pelayanan kepada mereka yang kucintai. Bagiku hidup adalah kerja untuk mereka yang membutuhkan uluran tangan kasih Tuhan melalui diriku. Namun semua itu, tentu didasari pada semangat doa dan kontemplasi yang tentunya bersumber dari Tuhan yang Maha Pengasih.

Hidup merupakan sebuah pencarian jati diri, Siapakah aku? Ini adalah pertanyaan eksistensial yang memampukanku menerima diri dan mengenal inti terdalam pribadiku. Dengan begitu aku-pun diajak untuk menerima dan menghargai setiap pribadi sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang secitra dengan-Nya. Terkadang aku lalai menghayati pergumulan secitra dengan Tuhan karena egoku. 

Baca juga :
Namun sebagai orang yang percaya dan beriman kepada-Nya, aku yakin, Tuhan selalu membantuku. Aku teringat akan petuah Santo Agustinus dari Hippo yang berbunyi “seperti apakah cinta? Cinta mempunyai tangan untuk menolong orang lain. Cinta mempunyai kaki untuk menolong yang miskin dan membutuhkan. Cinta mempunyai mata untuk melihat penderitaan dan keinginan. Cinta mempunyai telinga untuk mendengar rintihan dan kesengsaraan. Seperti itulah cinta”

Dalam keheningan dan meditasiku, aku selalu bertanya ke dalam hati dan diriku. Pertanyaan-pertanyaan itu menembus relung-relung hati terdalam dan menemukan harta dan mutiara indah yang Tuhan berikan kepadaku, dalam suatu permenungan dari injil Matius, 18: 12-35 pada kutipan” Yesus berkata kepada-Nya: Bukan, Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali ( ayat 22).” 

Kata-kata Yesus ini menuntun aku untuk melihat kembali seluruh peristiwa kehidupan yang telah aku lalui. Siapakah aku bagi Tuhan dan sesama? Angka tujuh dalam perikop tersebut sangat punya arti bagi pengalaman hidupku. Aku lahir pada tanggal 17/07/1981, anak ke-7 dari 12 bersaudara (salah satu sudah meninggal saat masih kecil). 

Aku pernah menjalankan tugas perutusan di Jakarta, kurang lebih 7 tahun, sejak 2012-2019, dan pada 14 Oktober 2019, aku pindah ke komunitas Tanah Merah, Kevikepan Mindiptana, Keuskupan Agung Marauke, Papua. Di tempat ini, aku mendapat tugas pertama di wilayah Kali Mapi tepatnya di Ikisi pada tanggal 14 November 2019. Dari angka-angka tersebut ; 14 - 7 = 7, atau 7 + 7 = 14, aku sempat bertanya dalam hati, apa makna angka 7 bagiku? Bagiku angka 7 bukan hanya sekedar hitungan. Angka tujuh dalam Injil Matius memiliki makna yang sangat mendalam, angka kesempurnaan tentang pengampunan yang tulus.

Namun bagaimana aku mewujudkan makna angka kesempurnaan itu dalam hidupku? Aku pun merenungkan perjalanan panggilanku sejak awal sampai saat ini. Aku sungguh sadar bahwa semuanya tidak mudah karena begitu banyak tantangan yang kualami, baik dari dalam maupun dari luar diriku. Aku sadar bahwa terkadang aku tidak diterima, tidak disukai, bahkan dianggap tidak tahu apa-apa, tapi semua itu aku terima dengan lapang dada dan justru itu yang membuat aku semakin bertumbuh dan berkembang. 

Dalam permenungan, aku menemukan seperti apa maksud ungkapan Yesus dalam injil Matius ini. Aku menjadikan perikop ini menjadi pedoman dalam hidupku sebagai seorang yang dipanggil secara khusus untuk melayani-Nya di ladang Tuhan.

Aku belajar dari Yesus tentang berbelas kasih (yang mencintai dan menghargai keberadaan diriku sebagai pribadi dan menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diriku) seperti yang diajarkan oleh Pater Jules Chevalier sebagai pendiri tarekat PBHK, yang menghidupi Spiritualitas Hati, "Hidup menurut Hati”, dari hal-hal yang paling sederhana yaitu lewat kata-kata dan tindakan. Marilah kita mulai lagi, karena sesungguhnya kita sendiri belum berbuat apa-apa! Tuhan mengajarkanku untuk selalu setia kepada perkara-perkara kecil yang kualami atau kutemukan dari hidup ini.

Aku sadar bukanlah suatu hal yang mudah dalam menjalani hidup ini. Untuk itu, aku tetap berpegang teguh pada semangat doa dan kebaktian di dalam lubuk hatiku; semoga Dia yang memanggilku, tetap selalu berjalan bersamaku dan membimbingku di setiap langkah hidupku. Dunia adalah buku, dan mereka yang tidak bepergian hanya membaca satu halaman tidak akan mengerti semuanya ini. Semoga Tuhan yang memulai, Dia juga yang akan mengakhiri semua ini.


Oleh Sr. M. Oliva Silubun, PBHK
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel