Agama dan Integritas Sosial

Agama dan integritas sosial (foto dari pixabay.com)
Quote Amor - Topik tentang integrasi sosial merupakan tema yang sentral di dalam sosiologi. Pertanyaan yang muncul sejak awal berdirinya sosiologi adalah: Apa yang membuat masyarakat itu menjadi mungkin? Hal-hal apa saja yang mengintegrasikan anggota-anggota masyarakat yang terpisah-pisah ke dalam satu keseluruhan yang lebih luas dan diidentifikasi sebagai masyarakat? Apakah yang membuat masyarakat bisa bersatu?

Kalau kita mengamati secara sungguh-sungguh, kita akan menemukan bahwa masyarakat adalah lebih dari sekadar kumpulan orang-orang yang berada pada waktu dan tempat yang sama. Sekalipun masyarakat terbentuk dari individu-individu, namun norma-norma sosial dan tradisi-tradisi telah berada jauh sebelum individu tertentu ada dan telah menjadi satu kekuatan eksternal yang memaksa individu-individu.

Dalam sebuah masyarakat dengan norma-norma menentang perkawinan antara saudara-saudari dekat, misalnya, individu-individu yang melakukan tindakan serupa itu akan dihukum entah orang itu setuju atau tidak setuju terhadap norma tersebut. Bukti lain dari kualitas eksternal masyarakat adalah proses sosialisasi, di dalamnya, seorang anak dikonfrontasikan dengan harapan-harapan, bahasa, dan pengetahuan yang tersedia di dalam masyarakat tersebut. 

Teori-teori integrasi tentang masyarakat menekankan pentingnya equilibrium (keseimbangan) dan harmoni di dalam masyarakat. Mereka menunjukkan cara-cara yang harus ditempuh untuk mempertahankan equilibrium itu di tengah peristiwa-peristiwa yang mungkin. Misalnya, upacara penguburan sebagai salah satu contoh dari upacara keagamaan yang membantu kelompok untuk mempertahankan keseimbangannya setelah kematian salah seorang anggota kelompok (Malinowski, 1948: 18–24).

Baca juga:
Upacara-upacara pemulihan atau rekonsiliasi juga sering kali dibuat untuk menyatukan kembali anggota kelompok yang telah menyimpang ke dalam masyarakat (McGuire, 1988: 50). Perubahan status sosial diintegrasikan ke dalam sistem pengaturan status sosial yang sudah ada melalui simbol-simbol dan upacara-upacara tertentu. Semua itu dilakukan untuk memulihkan krisis yang terjadi karena perubahan status itu dan dalam arti tertentu mempertahankan keseimbangan atau equilibrium. 

Sumbangan agama demi terciptanya equilibrium atau integrasi sosial sangat terasa pada masyarakat yang relatif sederhana di mana semua anggota masyarakat memeluk agama yang sama. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat memeluk agama yang berbeda-beda. Pertanyaannya adalah apa yang mempersatukan warga yang berbeda-beda agama itu? Apa fungsi agama untuk integrasi sosial di dalam sebuah masyarakat yang bersifat heterogen? Bagaimana teori-teori integrasi bisa menjelaskan fenomena di mana agama menjadi sumber konflik di dalam masyarakat yang bersifat heterogen? Sekalipun tidak dapat disangkal bahwa agama mempunyai fungsi integratif, namun kadang-kadang fungsi itu menjadi mustahil dan problematis khususnya pada masyarakat yang memeluk agama yang berbeda-beda. 

Peran Agama Sebagai Pemersatu Masyarakat

Pandangan ini menyatakan bahwa agama mengandung di dalam dirinya kekuatan sosial dan cita-cita sosial. Menurut perspektif ini, di mana ada kohesi sosial, maka hampir pasti bahwa kohesi sosial itu diungkapkan secara keagamaan. Contoh dari pandangan seperti ini berasal dari Emile Durkheim. Dalam seluruh karyanya, integrasi sosial merupakan tema sentral. Bagi Durkheim, hubungan antara individu dengan masyarakat yang lebih luas tidak menjadi persoalan karena baginya masyarakat adalah sumber kekhasan seorang individu. Teori Durkheim tentang agama membahas persoalan tersebut. 

Durkheim mendasari diskusinya tentang agama pada bukti antropologis tentang kepercayaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilakukan oleh suku-suku Aborigin di Australia yang diyakininya sebagai bentuk yang paling dasar dari agama. Menurut Durkheim, agama dalam hakikatnya yang paling dasar-bersifat sosial. 

Upacara-upacara keagamaan merupakan tingkah laku kolektif yang menghubungkan individu dengan kelompok sosial yang lebih luas. Sementara itu, kepercayaan-kepercayaan di dalam agama tidak lain dari pada representasi-representasi kolektif atau makna-makna yang dihayati bersama di dalam kelompok yang mengungkapkan sesuatu yang penting tentang kelompok tersebut. Mungkin di dalam hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Malinowski (1948:65): Durkheim terlalu membesar-besarkan aspek sosial dari agama karena di dalam agama ada juga pengalaman keagamaan yang bersifat sangat individual.

Misalnya pengalaman-pengalaman mistik dari seorang mistikus dalam agama kristen, murni bersifat individual, walaupun makna atau tafsiran atas pengalaman-pengalaman itu bisa bersifat sosial. Namun demikian, Malinowski tetap mengakui bahwa agama menyiapkan dasar yang kuat untuk kesatuan dan moralitas sebuah kelompok sosial. 

Durkheim mengamati bahwa kepercayaan terhadap suatu kekuatan yang luar biasa merupakan sesuatu yang sangat sentral di dalam masyarakat sederhana. Pada suku-suku Aborigin di Australia, kekuatan luar biasa itu disebut “totem”. Menurut Durkheim, kekuatan luar biasa tersebut atau totem itu bukanlah sesuatu yang bersifat ilusi atau hasil fantasi semata-mata. Kendati simbol-simbol untuk mengungkapkan kekuatan luar biasa tersebut (totem) barangkali tidak sempurna, tetapi kekuatan luar biasa itu adalah sesuatu yang real dan sungguh sungguh dialami oleh individu-individu. 

Bagi Durkheim, kekuatan luar biasa yang real itu tidak lain adalah masyarakat itu sendiri. Durkheim mengartikan agama sebagai suatu sistem makna yang dihayati bersama dengannya individu-individu menghadirkan di dalam diri mereka, masyarakat mereka sendiri dan hubungan mereka dengan masyarakat tersebut. Jadi, makna-makna keagamaan adalah representasi-representasi metaforis dari kelompok sosial tersebut dan partisipasi di dalam ritus-ritus keagamaan yang merupakan kekuatan transendental dari masyarakat itu sendiri.

Demikianlah Durkheim menjelaskan hubungan antara individu dengan masyarakat. Dia menghadirkan atau memperkenalkan individu-individu sebagai yang mentransendensikan diri ke dalam kesatuan dengan realitas yang lebih besar, yakni masyarakat itu sendiri. Durkheim menambahkan bahwa kekuatan tersebut tidak seluruhnya berada di luar individu, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari individu karena masyarakat tidak bisa berada kalau tidak ada kesadaran dari individu-individu itu.

Melalui hubungan rangkap ini, agama menjamin komitmen dari anggota-anggota masyarakat dan memaksa mereka untuk berlaku sesuai dengan keinginannya (masyarakat). Upacara-upacara keagamaan, pada dasarnya, membarui makna-makna yang dihayati bersama di dalam kelompok dan pada waktu yang sama, upacara-upacara itu memperkuat komitmen-komitmen individu terhadap harapan dan tujuan masyarakat.

Penekanan Durkheim terhadap pentingnya ritus-ritus dan simbol-simbol dalam meningkatkan kesatuan di dalam kelompok agama menimbulkan persoalan di dalam penghayatan kehidupan agama pada masyarakat modern. Apabila kohesi sosial diperoleh melalui ritus-ritus dan makna-makna yang dihayati bersama di dalam suku (Aborigin), bagaimanakah ritus-ritus itu bisa berfungsi pada masyarakat modern yang keanggotaannya berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda? 

Beberapa pengamat telah memperhatikan adanya hubungan yang dekat sekali antara agama dan etnis pada orang-orang imigran di Amerika Serikat. Kelompok-kelompok agama menyiapkan hal-hal yang membantu para pendatang baru di Amerika Serikat pada abad 19 dan 20. Kelompok kelompok agama itu, misalnya, menyiapkan jaringan informal yang membantu para imigran itu memperoleh pekerjaan dan perumahan. Mereka juga memberikan perlindungan bagi para pendatang baru itu terhadap dominasi penduduk asli dengan meyakinkan mereka untuk tetap mempertahankan cara hidup dari daerah asal dan mendidik anak-anak mereka di tempat-tempat yang aman. Bagi para pendatang baru, kelompok-kelompok agama itu memberikan mereka rasa memiliki. 

Will Herberg dalam bukunya yang berjudul Protestant catholic-Jew: An Essay in American Religious Sociology (1960),  membuat analisis tentang hubungan antara agama dan identitas kelompok suku pada tahun 1950 di Amerika Serikat. Pertanyaan dasarnya adalah mengapa orang-orang di Amerika Serikat cenderung mengidentifikasikan diri mereka dengan tiga kelompok agama: Protestan, Katolik, dan Yahudi? 

Menurut Herberg, ketika para imigran terasimilasi ke dalam kebudayaan Amerika, ikatan suku sangat kuat di daerah asal perlahan-lahan mengendor. Sebagai gantinya mereka terikat dengan ikatan-ikatan baru, agama atau gereja tertentu. Untuk memperoleh legitimasi yang lebih kuat atau pengakuan dari penduduk asli yang mayoritas, mereka menggabungkan diri dengan agama-agama besar di Amerika Serikat yakni Protestan, Katolik, dan Yahudi. Dengan mengikuti ritus-ritus di dalam agama-agama itu, mereka meningkatkan rasa persatuan dan memiliki dengan ketiga kelompok agama tersebut.

Bagi Durkheim, baik di dalam masyarakat sederhana maupun di dalam masyarakat modern dibutuhkan perayaan berulang-ulang terhadap suatu peristiwa untuk meneguhkan makna-makna yang dihayati bersama dan ide-ide sentral di dalam kelompok. Bagi Durkheim, tidak terlalu penting apakah itu perayaan keagamaan atau perayaan sipil, tetapi fungsinya tetap sama yakni meneguhkan makna-makna yang dihayati bersama dan nilai-nilai sentral di dalam kelompok. Karena itu, perayaan Paskah atau Natal memiliki fungsi yang sama dengan perayaan hari kemerdekaan. Oleh sebab itu, bagi Durkheim, representasi-representasi religius dan ritus-ritus religius bisa juga termasuk nilai-nilai dan makna-makna yang berasal dari agama sipil. 

Agama Sipil

Konsep tentang agama sipil menjadi penting karena agama yang demikian secara hakiki tetap bersifat mempersatukan di dalam masyarakat yang tingkat perbedaannya sangat tinggi dan bersifat heterogen. Agama sipil didefinisikan sebagai “segala bentuk kepercayaan dan upacara berhubungan dengan masa lampau, masa kini, dan masa depan dari suatu bangsa yang dianggap memiliki kekuatan transendental” (Hamond, 1976:171). 

Agama sipil merupakan ungkapan kohesi sosial. Dia melampui denominasi, suku, agama, dan ras. Agama sipil memasukkan upacara-upacara yang dirayakan oleh rakyat untuk mengenangkan hari-hari penting sebuah bangsa. Upacara-upacara tersebut dianggap bersifat religius dalam pengertian bahwa mereka sering mewakili sesuatu yang lebih tinggi dan kelihatannya memiliki kekuatan tersendiri pula. Konsep tentang agama sipil ini sangat menonjol di Amerika.

Banyak upacara sipil memiliki kualitas religius, seperti perayaan hari ulang tahun kemerdekaan, perayaan hari pahlawan, pelantikan presiden atau gubernur, dan lain-lain. Dalam upacara-upacara tersebut orang merayakan nilai-nilai nasional dan kesatuan nasional. Di setiap negara hampir selalu ada tempat-tempat ziarah seperti makam pahlawan atau tugu-tugu peringatan. Tempat-tempat ini menjadi istimewa karena kemampuan mereka untuk menjadi simbol dari sesuatu pada bangsa itu yang bersifat transenden. Pusat-pusat ziarah itu dianggap “suci” dalam arti sesungguhnya sebagaimana dimaksudkan oleh Durkheim. 

Di dalam agama-agama sipil terdapat benda-benda sakral seperti bendera atau patung-patung pahlawan. Sementara kitab undang-undang dapat dianggap sebagai Kitab Suci karena di dalamnya terkandung kebenaran dan keadilan yang tertinggi sebagaimana halnya kitab suci pada umumnya. Sejauh mana pusat-pusat ziarah, upacara-upacara, dan obyek-obyek tertentu dianggap sakral dapat dilihat dari kemarahan yang luar biasa sebagai akibat dari perilaku yang melecehkan hal-hal itu. Misalnya. ada orang ditahan atau diperlakukan secara kasar karena tidak menghormati upacara bendera sebagaimana halnya orang dikejar atau dianiaya karena dia mencemarkan Sakramen Mahakudus dalam agama Katolik. 

Selanjutnya, agama sipil juga memiliki mitologi dan orang-orang yang dikuduskan. Di Amerika Serikat, misalnya, Abraham Lincoln merupakan salah satu tokoh yang secara khusus menjadi simbol agama sipil. Pidato-pidato, tindakan-tindakan, dan teladan hidupnya yang sederhana dan melampaui sentimen suku, ras, dan agama mencerminkan nilai-nilai dari agama sipil terebut. “Santo-Santo” lain dari agama sipil itu dalam konteks Amerika adalah beberapa presiden terkenal seperti Washington, Jefferson, Franklin D. Roosevelt, dan John Kennedy. 

Kemudian “Santo-santo” dalam bidang militer adalah pahlawan-pahlwan terkenal seperti McArthur, Eisenhower dan Theodore Roosevelt. Sekalipun pusat-pusat ziarah, santo-santo, upacara-upacara dalam kategori biasa bukanlah sesuatu yang religius sebagaimana halnya tempat-tempat ziarah, santo-santa, dan upacara-upacara dalam gereja Katolik, misalnya, tetapi tempat-tempat ziarah, santo-santa, dan upcara-upacara di dalam agama sipil tidak bisa juga dianggap sebagai sesuatu yang profan. Mereka boleh dianggap sebagai bagian-bagian yang penting dari agama non- formal. 

Apabila agama sipil dapat dianggap sebagai ungkapan kesatuan suatu bangsa, maka patut diharapkan bahwa dia mampu mengatasi konflik-konflik yang terjadi pada bangsa atau negara yang terdiri dri agama yang berbeda-beda. Sebagaimana halnya upacara-upacara di dalam agama asli mampu mengatasi ketegangan atau pergolakan di dalam suku dan memulihkan kembali kesatuan di dalam suku, demikianpun halnya dengan upacara-upara tertentu di dalam agama sipil, seperti pidato pelantikan seorang presiden atau keputusan hakim dalam sebuah pengadilan. Simbolisme agama sipil juga menjadi jelas ketika bangsa berada dalam ancaman musuh. Pada saat-saat perang, komitmen dan pengorbanan dari para anggota menjadi sangat tampak.

Menurut Robert Bellah (1967), agama sipil Amerika mempunyai hubungan dengan agama biblis, namun demikian ia tetap berbeda dari agama biblis dan sangat khas Amerika. Agama biblis, misalnya, memiliki tema-tema terkenal seperti bangsa terpilih, tanah terjanji, Yerusalem baru, dan kehidupan kekal. Sedangkan tema-tema seperti itu tidak ditemukan di dalam agama sipil. 

Kekristenan dan agama sipil tidak bisa menggantikan satu sama lain karena mereka memiliki fungsi-fungsi yang berbeda. Agama sipil berperan di dalam pengaturan resmi dan publik sedangkan Kristen dan agama-agama lain berperan di dalam kehidupan dan kesalehan pribadi setiap orang. Pembagian rana publik dan pribadi di dalam kehidupan orang Amerika sangat penting karena pluralitas agama kadang-kadang bisa menjadi penghalang dalam pengambilan keputusan tertentu.

Dalam konteks Indonesia, kita tidak mengenal apa yang dinamakan dengan agama sipil. Namun, gagasan yang berada di balik agama sipil ini barangkali perlu perlu diperhatikan. Sekalipun kita tidak menamakan hukum-hukum sipil atau perundangan yang berlaku sebagai kitab suci dari agama sipil, tetapi kita mesti bisa membuat distingsi yang baik antara wilayah publik dan privat. 

Agama adalah sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak bisa dimasukkan ke dalam ranah publik. Kita tidak boleh menggunakan hukum-hukum agama untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesulitan sering kali terjadi karena bidang yang satu (agama) mencampuri urusan bidang lain (tata negara). Permasalan ini tidak dapat dipungkiri bahwa, seringkali melahirkan konflik.

Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM
Mahasiswa Pasca Sarjana STFT Fajar Timur Abepura

Reverensi:

Berger, Peter, Agama Sebagai Realitas Sosial, (Jakarta: PT Pustaka LP3S Indonesia, 1991.
Durkheim, Emile, The Elementary Forms of Religios life,  London: Allen and Unwin, 1915
Raho, Bernard, Konflik di Indonesia-Proplem dan Pemecahan-Ditinjau dari perspektif Sosiologi, Maumere: LPBAJ, 2002.
---------------------, Agama dalam Perspektif Sosiologi, Jakarta: Obor, 2013
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel