Virus Corona (Covid-19) mengambil alih peran Malaikat Pencabut Nyawa

Virus Corona mengmabil alih peran Malaikat Pencabut Nyawa
Gambar Gerd Altmann dari Pixabay
Quote Amor - Akhir-akhir ini, kita diramaikan oleh kehadiran virus corona. Dunia menjadi heboh, cemas dan takut karena virus Corona (Covid-19) telah terbukti, dia berperan sebagai “malaikat” pencabut nyawa. Dia menggoncangkan dunia. Media masa setiap hari bahkan setiap saat tidak luput dari berita ganasnya virus Corona.

Di Cina, virus Corona telah mencabut nyawa ribuan orang dalam waktu yang singkat. Tepatnya, di Wuhan, Provinsi Hubei, Virus Corona memulai aksinya.  Dia datang tiba-tiba, tanpa memberikan kesempatan bagi yang meninggal untuk mempersiapkan diri bagi perpisahan dengan keluarga dan kerabatnya.

Di tengah kesibukan hiruk-pikuk dunia, orang langsung menjadi panik, tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kepanikan itu, pemerintah Cina mengambil langkah, memperlakukan isolasi bagi kota Wuhan, kota terbesar keempat di China, yang terserang virus Covid-19, sehingga kota Wuhan berubah menjadi seperti kota hantu, sepi dan menakutkan. 

Orang secara terpaksa berhenti dari pekerjaan dan menyembunyikan diri di dalam rumah mereka masing-masing. Lagi-lagi, orang takut berjumpa dengan “malaikat” pencabut nyawa. Kota menjadi sepi, destinasi wisata ditutup dan dimana-mana kita menemukan peringatan untuk hati-hati dengan virus Corona.

Orang menjadi takut keluar dari rumahnya, takut berjumpa dengan sesamanya karena  katanya, penyebaran virus corona bisa melalui orang-orang itu. Ya, kehadiran virus Corona benar-benar menggantikan perjumpaan langsung menjadi perjumpaan virtual. Semua pekerjaan kantor dan aktivitas belajar dipindahkan dari kantor dan sekolah atau kampus ke rumah masing-masing. Sekali lagi, semua ini karena virus Corona yang datang seperti “malaikat” pencabut nyawa. Kedatangannya sangat menakutkan bagi sebagian besar manusia di seluruh dunia ini. 

Namun di sisi lain, kehadiran virus Corona (Covid-19) menumbuhkan semangat empati dan kepedulian terhadap yang lain. misalnya di Cina. Dalam beberapa hari, orang-orang yang terkunci di kota Wuhan menjadi sadar akan situasi mereka yang sudah tidak bisa kontak dengan orang-orang dari kota lain. Mereka mulai mencari cara untuk membangun kebersamaan dan saling menguatkan satu sama lain. Dari jendela terdengar suara yang memberikan dukungan kepada sesamanya untuk tidak menyerah dan putus asa. Virus corona membuat orang menjadi semakin sadar akan kehadiran yang lain di sekitarnya.

Orang menjadi sangat peduli dengan yang lain. Paramedis dengan penuh pengabdian datang dan melayani para pasien Virus Corona. Mereka tidak peduli pada diri mereka sendiri, mereka ingin mengabdikan diri mereka untuk melayani sesamanya. Melihat keberanian paramedis, banyak orang juga akhirnya tersadar untuk bersama-sama menolong para pasien virus corona, melawan sang “malaikat” pencabut nyawa. 

Li Bo misalnya, dia tergerak hatinya untuk membantu apa yang bisa dibantunya untuk melancarkan pekerjaan paramedis. Li Bo menyediakan makanan bagi paramedis yang melayani para pasien virus Corona. Selain Li Bo, ada juga seorang warga yang berasal dari Changde, dia rela menggunakan semua uang gajinya untuk membeli masker bagi orang-orang yang tinggal di kota Wuhan. Dan masih banyak lagi cerita lain tentang semangat kepedulian bagi sesama yang terserang virus corona. Ya, sekali lagi, virus Corona terbukti membangkitkan kesadaran orang untuk peduli dengan yang lain. 

Berita tragedi Covid-19 di Cina akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Karena berita itu, banyak negara yang menutup penerbangan dari Cina untuk menghindar virus Corona menyerang warga negaranya. Namun Covid-19 bagaikan malaikat pencabut nyawa, yang datangnya tak satu orang pun yang tahu. Hal itu terbukti, virus Corona telah menyebar ke seluruh dunia. 

Seperti dilansir dari cnnindonesia.com, kasus terbanyak, setelah Cina, ada di Italia yakni 7.375 kasus dan korban yang telah meninggal sudah mencapai 366 orang. setelah itu, Korea Selatan dengan 7.317 kasus dan 50 orang meninggal, lalu Iran mempunyai 6.566 kasus dan 194 orang yang meninggal. Dan masih banyak lagi negara lain yang sudah terserang virus corona.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan laporan kompas.com pada Rabu 18/03/2020, Indonesia sudah mencapai 227 kasus dan yang meninggal sudah mencapai 19 orang. Dari jumlah tersebut, DKI berada di urutan pertama dengan jumlah 12 orang yang telah meninggal. Dengan melihat penyebaran virus Corona yang begitu cepat, seluruh sekolah dan kampus di beberapa kota besar di Indonesia akhirnya terpaksa memindahkan aktivitas sekolah ke rumah masing-masing untuk beberapa minggu ke depan. 

Siapakah yang berperan di balik wabah virus Corona ini? apakah ada orang yang secara sengaja menciptakan virus ini? kalau misalnya ada, kita semua tentunya sangat mengecam kekejaman orang tersebut. Namun di balik semua prasangka itu, saya mengajak kita semua untuk menemukan makna dari peristiwa Covid-19 ini. 

Satu hal yang kelihatan dari kehadiran Covid-19 adalah banyak orang yang akhirnya bisa berkumpul dengan keluarga di rumah masing-masing, bisa berbagi cerita dengan anggota keluarga. Kalau sebelumnya, kita sibuk dengan aktivitas di luar rumah, sibuk mengumpulkan rupiah, pergi pagi dan pulang malam. Itupun kita pulang ke rumah hanya membawa lelahnya saja dan tidur sebentar lalu pergi lagi menelusur lorong-lorong kota agar kita tidak tertinggal oleh sang waktu. Bahkan karena kesibukan itu, kita sampai melupakan Tuhan yang telah memberikan kehidupan kepada kita.

Ya, secara tidak langsung Covid-19 menyadarkan kita supaya kita dapat mengimbangi aktivitas di luar dan di dalam diri kita, mengimbangi relasi kita dengan orang lain dan juga pekerjaan kita sehingga kita tidak menjadi seperti mesin yang bergerak tanpa memikirkan apa-apa.

Virus Corona sudah ada dan telah terbukti banyak orang yang terserang olehnya. Itu sudah pasti, tetapi kematian adalah sebuah misteri yang tak satu orang pun yang bisa mengetahuinya. Oleh karena itu, kita boleh waspada terhadap wabah virus corona tetapi jangan sampai kita menjadi takut berlebihan dan tidak mau berjumpa dengan yang lain, tidak mau peduli dengan yang lain. Ingatlah bahwa Tuhan hadir dan menyapa kita melalui orang-orang yang membutuhkan bantuan kita dan juga orang-orang yang ada di sekitar kita.

Memang tampaknya, Covid-19 telah mengambil alih peran “malaikat” pencabut nyawa tetapi sebenarnya hal itu terjadi karena kita menyimpan ketakutan yang berlebihan. Virus Corona sebenarnya membantu kita untuk mawas diri sehingga kita bisa menjaga dan merawat diri kita dengan baik. Oleh karena itu, dengan keadaan tubuh yang sehat, kita bisa membagikan kebaikan Tuhan yang kita terima dari-Nya kepada orang lain, orang yang sangat membutuhkan bantuan kita. Semoga kita mampu menjadi saluran tangan kasih Tuhan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan kita. 

Oleh : Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel