Sajak untuk Ngendeng

Pusi tentang Kampung Ngendeng
Kampung Sejarah - Kampung Ngendeng, Lamba Leda, Manggarai Timur- NTT
Sajak untuk Ngendeng

Entah mengapa, hari itu, kampung kenangan
Tampak sepi dan sunyi,
Seakan tak dihuni siapa-siapa.

Tepat pukul 12.30, waktu hendak makan siang
Terdengar suara lirih tangis, yang dibawa angin selatan,
Datangnya dari bukit di seberang kampung kenangan.

Bukit itu dalam sekejap
Dibaluti awan gelap gulita
dan dicampuri guntur dan gemuruh.

Ya, nampaknya; bukit, awan, guntur dan gemuruh
Bersatu hendak melenyapkan
Para algojo yang menyalibkan Almasih di Golgota.

Dalam hitungan detik, asam
Mengepul dari arah kampung kenangan,
Diikuti tangis ratapan. Sekali lagi
Angin membawa kabar; si jago merah
Telah menghabiskan kampung kenangan,
Tepat di jantungnya.

Dalam sekejap, tiga rumah dilahap si jago merah.
Tak tahu, siapa dan apa yang membangkitkan
amarahnya, yang ada
hanyalah puing kenangan yang menggariskan
kampung itu menjadi kenangan selamanya.

Itulah hari perpisahan aku dan kampung kenanganku
Aku pun pergi meninggalkannya dalam sepi.
Tapi satu yang pasti, namanya akan selalu hidup dalam setiap langkahku.

(Aku mengenang kampung masa kecilku; Ngendeng)


Fransiskus Assisi

Fransiskus Assisi terlahir dalam hati
Membawa asa pada keretakan zaman.

Dia tinggalkan miras bagi sebuah makna,
lalu genggamkan pedang tanpa mata.

Dia membuka jalan di setiap zaman,
untuk menyapa setiap mata yang lupa melihat makna.

Kini, dia masih menjadi air yang selalu baru
dari zaman yang usang, menyiramkan setiap taman
yang lupa pada mengenal makna dari sebuah perjalanan.

Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel