Masa Lalu - Puisi

Semuanya kebetulan
Masa Lalu akan punya arti kalau disimpan dalam hati dan kemudian ditaungkan dalam bait-bait puisi (foto dari pixabay.com)
Terbayang  akan masa itu
Kadang sedih, kadang terharu,
Wajahmu datang dan pergi.

Sebenarnya aku ingin melupakanmu,
Tapi entah kenapa....
Ya kenapa, wajahmu terus hadir dalam setiap ingatanku

Sapaan dan senyummu
kadang terlintas dalam bunga tidurku
Aku pun kadang menyesali perjumpaan kita di senja itu.

Sekarang, aku merasa tak mampu melepaskanmu
Sungguh kumerasa tak rela, engkau hadir lagi dalam ingatanku,
Tapi, ya..... tapi...

Aku berusaha berdiri tegar
entah sampai kapan, tak mampu memikirkannya.

Jantungku pun berdebar,
Aku telah berbohong pada diriku sendiri
Kuberpura-pura bekerja
Seolah-olah tak ada yang kuingat.

Dada terasa sesak, napas terengah-engah
Hati hampa, tubuh terasa lemah tak berdaya.

Ya... kumerasa sedih..
Sedih karena aku terus merasa sesal
Merasa tak mudah melepaskanmu.

Namun ku sadar, bahwa itu harus terjadi
Kenangan bersamamu telah merangkai hidupku
menjadi anyaman yang tahan pada setiap terpaan
ya, kau telah menjadi guru dan sahabat terindah dalam hidupku.

Engkaulah penabur benih pada tanah yang subur
sehingga benih itu bisa bertumbuh dan berbuah
Terima kasih masa laluku
Ku akan selalu mengenangmu dalam setiap doaku.


Setitik Berarti

Surya merayap menuju senja
Rasa hati semakin sendu
Mengundang jiwa tuk menedu.

Dalam balutan yang murung
Ibu pertiwi pun turut murung.

Karena sang penerang telah turun
Mengundang matanya tuk terlelap dalam tidur.

Ya..Ibu pertiwi terlelap
Ditemani angin malam yang sendu
Jiwa dingin mencekamnya.

Walaupun berselimut kegelapan
Bulan pun turut pergi
Bintang hanya melirik.

Ibu pertiwi semakin terlelap
Bermimpikan masa-masa silam.


Semuanya Kebetulan

Serba kebetulan ku dijadikan
Kelak ku seolah tak pernah ada.

Nafasku bagaikan asap
Pikiranku hanyalah bunga api.

Dari denyut jantungku
Setelah padam akan menjadi abu.

Laksana jejak awam hidup berlalu
Bagaikan kabut menghilang
Dienyahkan oleh sinar matahari.

Umur hidup bagaikan bayang berlalu
Dan menyadarkanku
Tuk tidak menjadi orang yang menampi pada setiap angin.

Tidak menapak pada lorong kegelapan
Tidak bercabang lidah
Melainkan mengenakan karangan kuncup.

Kumpulan Puisi
Karolina Patrisia Luka
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel