God’s Spy : Mata-Mata Tuhan Menyelidiki Pembunuh Berantai di Vatikan

Juan Gomez-Juardo
Foto dari pixabay.com
Quote Amor - God’s Spy (Mata-mata Allah), sebuah novel internastional best seller, karya Juan Gomez-Juardo yang berisi tentang konspirasi pembunuhan berantai terhadap beberapa kardinal di Vatikan. Alur ceritanya sangat menarik dan menegangkan sehingga tidak membosankan. Hal itu tampak pada cara Juan Gomez Juardo menggambarkan tokoh-tokohnya.

Ada konflik yang begitu hebat, penuh misteri dan menakutkan. Begitu pula setting waktunya, membuat yang membacanya terus membolak-balik halaman demi halaman untuk mengetahui siapa yang berperan dalam pembunuhan berantai itu. Menurut media New York Times, God’s Spy merupakan sebuah novel Thriller kelas satu. Novel ini seolah mempertemukan dua novelis yang sangat terkenal, Thomas Harris dan Dan Brown.

Dalam novel ini, Juan Gomez Juardo menampilkan sisi lain dari Vatikan yang pada umumnya dikenal banyak orang sebagai kota sumber moralitas hidup umat Kristiani. Gomez menceritakan peristiwa pembunuhan berantai yang terjadi setelah meninggalnya paus Yohanes Paulus II pada tahun 2005. Peristiwa pembunuhan itu penuh dengan intrik dan konspirasi yang melibatkan tokoh-tokoh hierarki Gereja.

Gomez dengan berani mengisahkan kisah pembunuhan itu dengan mengelaborasikannya pada persoalan lain yang sering kali terjadi dalam tubuh gereja, yaitu persoalan skandal pedofilia dan pelecehan seksual dalam gereja. Dua masalah utama itu dikisahkan secara berkaitan dan dilakukan oleh seorang yang  punya masa lalu yang buruk.

Sang Novelis mengisahkan seorang Kardinal yang terbunuh pada malam pemakaman Paus Yohanes Paulus II ketika rekan-rekannya berkumpul di Roma untuk menghadiri Konklaf yang akan memilih Paus Baru, menggantikan paus Yohanes Paulus II. Sebuah pembunuhan yang sangat tragis, matanya dicungkil, dan tanganya dimutilasi.

Inspektur polisi Romawi, profiler yang terlatih FBI, Paola Dicanti diminta untuk menangani kasus yang menggetarkan itu. Dari penyelidikan terhadap peristiwa pembunuhan tersebut, Paola menemukan kejadian yang sama yang terjadi sebelumnya, seorang kardinal juga mati terbunuh secara tragis. Peristiwa itu tidak dipublikasikan kepada kalayak umum, demikian ulasan Gomez. 

Untuk mencari dan menemukan pelaku di balik semua peristiwa itu, Paola terpaksa bekerja sama dengan Fabio Dante, seorang inspektur dengan pasukan Vigilanza yang mengawasi Vatikan. Kerja sama ini tidak membawa hasil yang baik, justru semakin rumit dan tidak menemukan  jejaknya. Namum di balik itu Dicanti dengan cepat mengetahui bahwa Vatikan sebenarnya telah membungkam kematian kejam terhadap Kardinal lain dan tanda-tandanya sangat jelas menunjukkan bahwa pembuhunan itu dilakukan oleh seorang pembunuh berantai.

Juan Gomez Juardo, dengan percaya diri menyebutkan nama pelaku pemunuhan itu. Dia adalah Victor Karosky, seorang imam yang dilatih di AS, yang punya masa lalu yang cukup kelam, yang meninggalkan luka batin yang sulit disembuhkan.  Gambaran Gomez terhadap pelaku pembunuhan ini tampaknya problematis, apakah  diambil dari kisah nyata atau hanya sebuah fiksi yang dimaksudkan untuk memacu adernalin para pembaca?

 Gomez menggambarkan Karosky, seorang imam yang “bermasalah,” shingga dia mengikuti terapi di sebuah lembaga Gereja di Amerika Serikat.

Dengan cekat, Dicanti mengetahui identitas si pembunuh. Dia sebagai tim penyelidik yang cerdik, bertindak secara tertutup dan rahasia dalam proses penyedidikan itu sehingga tidak mengganggu para peziarah.

Perjuangan penyelidikan Paola Dicanti segera mendapat bantuan dari pastor  Anthony Fowler, seorang imam Amerika dan mantan perwira intelijen Angkatan Darat yang tergabung dalam tim penyelidikan persoalan pelecehan seksual dalam Gereja. Dicanti menjadi sangat terkejut ketika Pastor menceritakan sederetan peristiwa pembunuhan yang terjadi di beberapa tempat. Pastor Fowler justru mengetahui jauh lebih banyak tentang pembunuh daripada yang bisa dibayangkan Paola.

Melalui perjumpaan itu, Paola dan Pastor Anthony bekerja sama mengejar dan memburuh  pelaku pembunuhan itu. Namun dalam penyelidikannya, mereka menemukan suatu tanda keterlibatan Vatikan bersekongkol  dengan seorang pembunuh sehingga peristiwa kematian beberapa kardinal itu tidak dipublikasikan kepada media, dan hampir pasti para peziarah tidak mengetahuinya sama sekali.

Dan ketika bukti - bukti mulai terungkap tentang keterlibatan para hierarki Gereja, pengejaran mereka untuk menuntaskan pelaku pembunuhan itu mendapat tantangan karena mereka juga menjadi sasaran  berikut dari pemunuh berantai itu. Nampaknya pembunuh itu juga mengetahui Paola dan Fowler yang sedang berusaha mencari dan menemukannya.

Inilah ketegangan-ketegangan yang diciptakan Gomez dalam alur ceritanya. Gomez menceritakan secara detail setiap adegan pembunuhan yang hanya menyisakan imajinasi. Hal itulah yang membuat saya penasaran bagaimana peran Paola Dicanti dalam menelusuri untuk menankap pelaku pembunuhan itu.

Awalnya, Saya menduga bahwa Paola akan menjadi protagonis yang tangguh, dengan keterampilan yang luar biasa. Dianggap sebagai profiler kriminal berbakat, dia harus memberikan rincian pembunuh yang akan memudahkan penangkapannya. Hal itu terjadi karena memang itulah profesinya yang sudah lama melekat pada dirinya.

Identitas Paola ini sudah terungkap di bagian awal cerita novel God’s Spy. Tetapi kalau kita melihat peran Paola Dicanti dalam penyelidikan itu tidak terlalu progersif, tidak menampilkan kegarangannya sebagai profiler kriminal berbakat. Kisahnya justru dapat ditebak karena pembunuhnya sudah diberitahu tetapi Paola tidak mampu menemukan bukti yang kuat untuk menangkap Karosky.

Gomez lebih banyak menceritakan latar belakang si pembunuh, yang penuh dengan luka batin yang tidak disembuhkan. Dari ulasannya, Gomez menunjukkan bahwa latar belakang si pembunuh ini menjadi penyebab terjadinya skandal pedofilia dan pembunuhan berantai itu.

Secara tidak langsung, sang novelis terkenal ini hendak mengatakan bahwa siapa pun yang mampu melakukan kekejaman seperti itu memiliki masa kecil yang tidak menyenangkan. Pembaca dibekali dengan banyak detail tentang mengapa si pembunuh menjadi monster, tetapi beberapa di antaranya terlalu berlebihan. Pertanyaannya adalah apakah si pembunuh bertindak sendiri, atau apakah ia seorang prajurit dari sesuatu yang jauh lebih jahat? Bagian ini tidak ditunjukkan secara jelas.

Namun tokoh-tokohnya digambar dengan baik, dan ketegangan antara mereka disajikan dengan cermat. Narasinya cepat dan penuh dengan kemarahan. Di samping itu, rasa urgensi dalam penyelidikan sangat nyata. Mungkin ada cukup banyak menampilkan situasi politik di Vatikan. 

Dengan demikian , novel God’s Spy ini sangat menarik untuk memahami situasi politik yang bisa menciptakan konspirasi dan intrik yang mematikan. Di samping itu, novel ini memberikan kritik yang tajam bagi Gereja untuk berani membuka dan menuntaskan persoalan yang seringkali terjadi dalam tubuh gereja.(A/D)

Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel