Rindu Pulang di Malam Berganti Tahun - Catatan Anak Rantauan

Tahun Baru 2020
Catatan anak rantauan di malam pergantian tahun.
Quote Amor - Akankah ada yang baru dan istimewa pada momen tahun baru kali ini? Aku segera teringat akan cerita demikian: Pesta meriah dan gemerlap di kota-kota, riuh rendah musik terdengar sana sini. Dentuman bunyi petasan menggelegar memecah heningnya langit malam.

Lalu aku teringat pula pada cerita di desa-desa dan dusun kecil. Di saat kota beramai-ramai memecah heningnya malam, penghuni desa dan dusun malah masuk dalam kebersamaan yang kusyuk. Mereka memilih cara adat tradisional untuk memaknai malam pergantian tahun. Dan aku yang kini ada di keramaian kota tak mampu menahan rindu untuk berganti tahun di sana. Rindu ini meluap namun tak sampai. Tetapi sudahlah. Aku putuskan untuk bercerita saja agar rindu ini tak larut.

Tak ingat persis kapan terakhir aku merayakan tahun baru bersama keluarga jasmani di tanah lahirku. Tentu saja sudah lama. Namun memori itu masih terekam jelas. Bertahun-tahun lalu, kala tutur dan sikap masih tergolong polos, aku menyaksikan perayaan tahun baru yang cukup sederhana. Tak ada gegap gempita suara dan bunyi-bunyian seriuh ibu kota yang sekarang terpijaki. 

Desa itu sepi dan hening. Sesekali hanya terdengar bunyi meriam bambu dari kejauhan, entah dari desa terdekat, pun juga yang terjauh. Mungkin saja dari kampung Lecem, Cimpar atau pun Rengket yang letaknya di lereng Bukit ke arah barat (kala itu tak pernah terpikir pula akan berkenalan dengan seorang bunga kampung asal Lecem bernama Merlin Velopi).

Tak ada cerita tentang gemerlap lampu malam dan bunyi-bunyian serta nyala petasan dan kembang api. Maklum, listrik saja belum terlintas dalam mimpi para penghuni pelosok negeri kala itu.  Bertahun-tahun kemudian baru ada cerita “listrik masuk desa”. Itu pun setelah aku dan kawan-kawan seumuran telah beranjak dewasa. Lampu pelita cukup menjadi penerang di malam gelap. Mungkin karena itu, penghuni desa tak suka keluar rumah di kala malam datang. Mereka memilih bersimpuh dalam rumah sambil menggelilingi Pelita sumber terang. 

Jauh dari keramaian dan keriuhan, momen tahun baru lebih dimaknai dalam nada syukur dan harapan dalam senyapnya malam. Nada syukur dan harapan ini diungkapkan dalam satu ritus adat, di mana ayam berbulu putih menjadi korban syukur sekaligus simbol harapan. Ayam putih yang suci dan murni adalah simbol ungkapan hati, bersyukur atas kebaikan yang terjadi selama setahun yang lewat, entah itu nafas hidup, kesehatan, hasil panen, dan sebagainya. 

Ungkapan syukur terbaik dari segala yang terjadi terwujud di dalam simbol ayam putih, yang melambangkan hati bersih, murni dan suci. Namun, tak sebatas syukur, harapan menjadi sisi lain yang juga penting dalam ritus itu. Sebagaimana putih itu melambangkan segala kebaikan, maka harapan di tahun yang baru ialah segala yang baik. Tak ada satu insan pun merindukan atau mengharapkan yang buruk. Kita pun tak pernah mencita-citakan kegagalan. Harapan selalu cerita tentang segala sesuatu yang baik di masa datang.

Syukur dan harapan tak lain ditujukan kepada Mori Kraeng, Mori Jari agu Dedek, yakni kepada Tuhan Allah Sang Pencipta lewat perantaraan leluhur. Hidup ini tak pernah lepas dari campur tangan yang Ilahi dan keluarga jasmani yang telah beralih dan masuk ke kehidupan abadi. 

Syukur bahwa segala yang terjadi atas kuasa Tuhan dan penyertaan-Nya tiada batas. Dan sekaligus berharap tuntunan itu tetap ada di tahun yang baru. Karena itu, untuk segala yang terbaik yang telah terjadi dan segenap harapan perlu diungkapkan dalam ritus Teing Hang atau memberi sesajian kepada leluhur. Sesuatu yang terbaik dari korban itu dipersembahkan untuk leluhur, karena merekalah perantara bagi tersalurnya ucapan syukur dan permohonan. 

Penutup dari ritus ini ialah acara makan bersama. Menu makanan seadanya. Satu-satunya yang spesial ialah hidangan ayam korban. Maklum, di kampung ayam tidak sesuka hati disembelih. Itu terjadi hanya pada saat acara adat atau saat menerima tamu istimewa, para Pater atau Romo. Atau juga saat anggota keluarga kembali dari perantauan. Atau anak-anak yang sekolah di kota dan yang pulangnya sekali satu semester. Dan maaf saja bagi yang selalu pulang tiap minggu tidak akan dikategorikan sebagai orang istimewa karenanya tak harus dihidangkan menu spesial. Sedi juga sih, tetapi itulah kenyataannya. Dan bagi mereka yang istimewa, jangan cemas tentang menu istimewa ini, pasti akan ada. 

Sekarang tentu berbeda. Cerita menu spesial tak lagi menjadi sesuatu yang istimewa. Sebab ayam-ayam kota alias ayam pedaging sudah masuk kampung dan itu menyebabkan pamor ayam kampung tersaingi. Makan ayam tak lagi seistimewa dulu. Semua dan hampir setiap saat orang-orang di kampung menikmati ayam-ayam kota ini. Tetapi tentang kualitas, tentu saja ayam kampung tetap nomor satu. Ayam kampung tak tergantikan di setiap ritus adat. Ia menjadi yang utama. Tanpanya malam berganti tahun tak mungkin terlaksana. Inilah istimewanya malam pergantian tahun di tanah lahirku. Sederhana tetapi mendalam dan bermakna. Memori itu selalu memanggil pulang. Dan itulah yang dinamakan RINDU. 

Rindu pulang di malam pergantian tahun adalah ungkapan hati anak rantauan. Aku tuliskan cerita ini sebagai caraku tuk memaknai tahun baru sebagai anak rantauan. Dan untuk segenap keluarga dan kenalan selamat memaknai malam pergantian tahun. Tahun 2019 akan berlalu dan tahun 2020 akan segera tiba. Mari ungkapkan syukur di akhir tahun ini sambil tetap berharap agar di tahun yang baru, kita semakin lebih baik.

Mari melangkah bersama untuk tekun dalam karya, juga dalam hening. Keduanya tak terpisahkan. Semoga kita sekalian menyambut tahun baru dengan WAJAH CERIA DAN BERSINAR, BERSUKACITA menyambut segala kebaruan. 

Pace e Bene.

Selamat Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Condet-Jaktim, 31 Des. 2019

Oleh: Fidelius Haman



Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel