Benarkah Tuhan itu ada?

Mencari keberadaan Tuhan
Proses mencari keberadaan Tuhan
Quote Amor - Benarkah Allah itu ada? Pertanyaan seperti ini seringkali terungkap ketika seseorang berhadapan dengan suatu masalah atau persoalan. Tidak mampu lagi menemukan bagaimana mengatasinya sehingga pertanyaan itu keluar dari mulutnya. 

"Kenapa Allah diam saja dengan penderitaan manusia, bukankah kitab suci dan ajaran iman mengatakan bahwa Allah itu MahaKuasa. Tetapi kenapa Dia Yang MahaKuasa itu membiarkan penderitaan menimpa hidup manusia." 

Kurang lebih begitulah ungkapan-ungkapan yang terlontar dari mulut manusia yang tidak mampu melihat penyertaan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Orang sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi lupa bersyukur kepada Tuhan. Pada hal setiap saat kita mendapat penyertaan Tuhan melalui rahmat kehidupan, nafas kehidupan, kesehatan, tenaga, pikiran dan masih banyak lagi. 

Persoalanya kita terlalu egois, terlalu sibuk mencari untuk memenuhi "hasrat" manusiawi kita, mencari kenikmatan dan popularitas diri tanpa memberikan ruang untuk mensyukuri setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kita memaksa Tuhan agar Tuhan mewujudkan keinginan kita tanpa memikirkan apakah keinginan itu baik atau tidak. 

Hal tersebut akan kelihatan ketika orang mencapai kesuksesan atau keberhasilan dan kegagalan. Orang yang kurang mempunyai relasi dengan Tuhan akan melihat kesuksesannya sebagai hasil dari usahanya sendiri sehingga yang dilakukannya adalah mengundang sahabatnya, berpesta bersama sebagai ungkapan kebahagiaannya terhadap keberhasilan itu dan juga sebagai caranya untuk menunjukkan kepada sahabatnya bahwa dia berhasil dalam usahanya.

Namun ketika mengalami kesulitan, pada saat itu baru memikirkan Tuhan. Dan ketika tidak menemukan solusi pada persoalanya, lantas kemudian mempersalahkan Tuhan. 

Dimanakah Tuhan sebenarnya? kenapa Tuhan membiarkan penderitaan menimpa umat-Nya? Dan berbagai macam deretan pertanyaan dan rasionalisasi untuk membenarkan dirinya. 

Kita marah kepada Tuhan. Tetapi apa gunanya kita melakukan itu? Atau mungkin kita berpikir bahwa dengan begitu Tuhan akan mendengarkan kita lalu mengikuti keinginan kita. 

Dalam Injil Markus, Yesus justru marah dengan Petrus karena Petrus sulit memahami apa yang disampaikan Yesus. Petrus berpikir bahwa Yesus sebagai Anak Allah tidak mungkin akan mengalami banyak penderitaan, "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Mrk 8:33).

Teguran Yesus ini menyadarkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus harus siap menanggung segala penderitaan, karena Kristus sendiri telah menunjukkan itu kepada kita. 

Ia yang MahaKuasa rela meninggalkan kemuliaan-Nya dan mau mengalami kehidupan seperti manusia; menderita, wafat tetapi kemudian Ia mengalahkan kematian dengan kebangkitan.

Penderitaan merupakan bagian dari sisi kehidupan manusia yang harus diterima. justru penderitaan itu yang akan memberikan makna bagi setiap kehidupan manusia. 

Bayangkan saja, Allah sendiri, Yang MahaKuasa, mau mengalami penderitaan seperti kita manusia tetapi kita manusia yang mempunyai banyak kekurangannya tidak mau bersyukur karena Tuhan mengangkat martabat kita sehingga kita mengambil bagian dalam kekudus-Nya.

Dengan demikian keegoisan akan menghambat diri kita menemukan kehadiran Tuhan, yang sebenarnya selalu menyapa kita setiap saat. Bahkan Allah juga menyapa kita melalui penderitaan supaya kita bisa menjadi pribadi yang rendah hati, yang memahami bahwa kehidupan kita berasal dari pada-Nya sehingga kita harus bersyukur dan berpasrah kepada-Nya. Dengan kesadaran itu maka kita akan menemukan bahwa Allah juga hadir diri kita dan orang lain.


Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel