Agama dan Perubahan Sosial di Papua

agama dan perubahan sosial
Demianus Flegon Robubun
Quote Amor - Agama berwajah ganda bukanlah sebuah pernyataan yang berlebihan. Di satu pihak, agama telah memajukan peradaban manusia, yakni menghormati kehidupan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan secara menyeluruh, dan mencintai hak-hak asasi manusia. Tetapi perlu diakui dipihak lain, agama telah menimbulkan perpecahan, konflik, peperangan dan permusuhan dalam kehidupan manusia. Keadaan ini belum terlalu nampak di Papua, namun perlu diakui dan disadari bahwa kemungkinan ini akan terjadi jika tidak memiliki sikap yang dewasa dalam mewujudkan nilai dan visi dari suatu agama tertentu.

Semua agama mengakui agamanya sebagai agama yang paling benar. Kepercayaan itu mendorongnya melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah pewartaannya dan mendulang jumlah umatnya semakin meningkat. Tindakan tersebut bisa menimbulkan konflik di tengah masyarakat yang terdiri dari beberapa agama. Namun kalau kita cermati secara baik, agama adalah sebuah konstruksi sosial kerena memiliki ikatan pada satu keyakinan sama. Hal ini berarti bahwa aspek-aspek sosial kemasyarakatan juga mempengaruhi kehidupan beragama.

Dalam sejarah, agama telah menjadi motivasi dalam menciptakan perubahan sosial karena agama bisa mempersatukan orang-orang melalui satu keyakinan dan keyakinan itu akan terungkap dalam tindakan konkret. Contohnya seperti berbela rasa dalam misi kemanusia, menanggapi persoalan perubahan sosial dalam tindakan nyata dsb.  Revolusi EDSA di Filipina tahun 1986 yang dimotori oleh pemimpin agama Katolik Jaime Kardinal Sin telah berhasil menumbangkan pemerintahan diktator Presiden Ferdinan Marcos (Bernard Raho SVD, dalam buku “Agama dalam perpektif Sosiologi”). Di Papua Alm. Pastor Neles Tebay kurang lebih menunjukkan hal yang sama dalam melihat situasi sosial yang terjadi, meskipun tidak terlalu berdampak pada kehidupan saat ini.

Gagasan-Gagasan Keagamaan

Gagasan-gagasan yang berhubungan dengan kehidupan agama tidak secara langsung menciptakan perubahan. Sebaliknya, gagasan-gagasan itu bisa menciptakan perubahan di dalam masyarakat melalui orang-orang atau individu-individu yang menggunakan gagasan-gagasan itu melakukan aksi-aksi sosial yang membawa perubahan dalam kehidupan nyata dalam suatu masyarakat. Di Amerika muncul suatu gerakan menghapus sistem perbudakan. Awalnya gerakan ini dilakukan oleh suatu gerakan keagamaan untuk memperjuangkan martabat manusia.

Berkat perjuangan kelompok agama itu, Pemerintah akhirnya menghapus sistem tersebut dan memberikan hak yang pantas kepada orang kulit hitam untuk mendapat kebebasan selayaknya sebagai seorang manusia. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana dengan kehidupan masyarakat di Papua? Apakah gagasan-gagasan keagamaan bisa menciptakan perubahan sosial di Papua?

Menurut Max Weber, gagasan-gagasan keagamaan yang bisa membawa perubahan sosial dalam suatu kelompok masyarakat adalah gagasan-gagasan yang menciptakan terobosan baru, gagasan-gagasan yang menciptakan individualisme baru, dan gagasan-gagasan yang mampu menciptakan simbol-simbol yang merangsang terjadinya perubahan. 

Dalam menilai gagasan-gagasan yang diberikan agama, Max Weber tertarik untuk mengetahui kapan dalam suatu sejarah munculnya gagasan-gagasan yang merupakan terobosan baru yang melahirkan dampak perubahan sosial. Periode tersebut merupakan titik awal di mana situasi dapat mendorong orang untuk memilih cara bertindak secara baru atau membuat orang tertentu bertahan dalam gagasan-gagasan lama. Semua ini mengantar orang kepada penemuan baru di dalam suatu masyarakat. 

Max Weber mencatat bahwa agama secara historis merupakan kekuatan yang sungguh luar biasa dalam menciptakan terobosan-terobosan tersebut di dalam masyarakat. Dibutuhkan suatu usaha nyata dalam mewujudkan tindakan tersebut.
Mengacu pada pemahaman Max Weber dan Marx (dua pakar Sosiologi yang terkenal), kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa, motivasi yang mendorong manusia untuk bertindak adalah kepentingan-kepentingan. Menurut Weber, bahwa kepentingan-kepentingan tersebut  tidak harus selalu merupakan kepentingan ekonomi, melainkan juga kepentingan lainnya seperti kepetingan-kepentingan keagamaan. (Max Weber, dalam buku Etika Protestan dan semangat kapitalisme). 

Walaupun sebuah gagasan keagamaan tidak secara langsung menentukan sebuah tindakan sosial, namun dikatakan bahwa gagasan-gagasan itu sangat mempengaruhi cara pandang dan interpretasi seorang manusia mengenai sesuatu. Agama pada dasarnya mengandung gagasan-gagasan dan interpretasi-interpretasi  yang mendorong terjadinya suatu tindakan sosial dalam suatu kelompok masyarakat.

Aspek lain dari agama yang mampu menciptakan perubahan sosial adalah kemampuan tanda-tanda keagamaan untuk membawa suatu pesan perubahan dalam masyarakat. Tanda-tanda keagamaan seringkali mengandung di dalam dirinya gambaran perubahan yang akan terjadi di masa depan. Tanda-tanda itu menciptakan visi dan misi yang ideal akan apa yang harus dilakukan oleh para pemeluk untuk menciptakan suatu tindakan perubahan. Tanda-tanda itu mengarah pada suatu tindakan perubahan sosial yang seringkali diwujudkan dalam gagasan-gagasan seperti akan terciptanya Yerusalem Baru, umat pilihan, atau Kota Allah. Banyak gerakan keagamaan baru, misalnya, telah menciptakan visi akan terciptanya Kerajaan Allah di dunia dan mengajarkan para pemuluk agamanya akan apa yang mereka lakukan untuk mewujudkan Kerajaan Allah itu. (Bernard Raho SVD, dalam buku “Agama dalam perpektif Sosiologi”).

Kepemimpinan Keagamaan

Di dalam kehidupan masyarakat pada umumnya, perubahan sosial seringkali menuntut pemimpin yang mampu memotivasi dan mendorong anggota-anggota untuk melakukan suatu perubahan nyata. Agama dalam kaca mata sejarah telah menjadi sumber dan pokok acuhan penting bagi kita dalam menciptakan pemimpin-pemimpin yang demikian karena agama memiliki otoritas yang kuat sebagai suatu lembaga religius. Model pemimpin agama yang berorientasi pada terciptanya perubahan sosial adalah nabi yang mempunyai peran penting dan sentral di dalam banyak agama. Sikap atau model seperti ini sangatlah dibutuhkan dalam konteks kehidupan di Papua.

Nabi dalam kepercayaan orang beriman dalam tiga agama samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) adalah utusan Allah kepada umat manusia pada umumnya. Mereka menjalankan tugas yang dipercayakan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia. Dalam Kitab Suci dari tiga agama ini, berbicara tetang tugas nabi yang menetang kekuasaan yang tidak adil dan menindas. Di sisi lain secara eksplisit dituntut suatu perubahan sosial. Nabi itu mendasarkan seruannya pada otoritas ilahi sehingga menjadi sangat kuat. 

Pada umumnya orang mengenal dua macam nabi, yakni nabi teladan dan nabi pewarta. Nabi teladan adalah nabi yang berusaha menciptakan perubahan dengan menghidupi secara radikal nilai-nilai yang sangat berbeda dari nilai-nlai yang ada di dalam masyarakat (Wim Van Der Wieden, dalam buku Seni Hidup). Sedangkan nabi pewarta adalah nabi yang berusaha menantang kekuasaan yang ada dengan pesan-pesan keras yang disampaikan kepada masyarakat. Contoh nabi pewarta dapat kita lihat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama Kristen.

Ada juga kepemimpinan lain dalam tiga agama besar ini. Kepemimpinan itu ialah imam. Imam adalah seorang fungsionaris keagamaan yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Basis dari kuasa seorang imam adalah posisinya dalam organisasi keagamaan yang dipercayai sebagai penghubung wujud tertinggi dan umat pemilik kepercayaan itu. Status para imam umumnya cenderung mempertahankan praktik-praktik yang sudah ada dalam suatu agama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tugas seorang nabi lebih luas bila dibandingankan dengan seorang imam di dalam menciptakan perubahan. 

Dalam konteks Papua saai ini. Dibutuhkan sikap seperti seorang nabi, selain itu dibutuhkan kharisma dari seorang pemimpin agama. Karena dengan dua bagian ini seorang pemimpin agama dapat menyuarakan suatu perubahan di tengah masyarakat pada umumya. Dua kulitas bisa dipercayai sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah dan tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. 

Melalui perkataan dan perbuatan, pemimpin agama di Papua haruslah menentang pola-pola normatif yang ada dan menyakinkan para anggotanya akan bahaya dari krisis yang dialami saat ini, serta menawarkan jalan keluar dari krisis itu. Sekali lagi dibutuhkan seorang pemimpin agama yang mampu menyuarakan perubahan sosial di tengah kehidupan masyarakat. Tentunya gerakan itu untuk menciptakan kesejahteraan bersama dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Oleh, Demianus Flegon Robubun

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel