Radikalisme Agama mulai bertumbuh di Tanah Papua

Sdr. Berto OFM
Dokumen foto Saudara Berto OFM
Quote Amor - Papua tergolong dalam kelompok Provinsi yang jumlah penduduknya setiap tahun meningkat. Tahun 2019 penduduk Papua diperkirakan sebanyak 3.379.302 orang. Jumlah ini meningkat dari tahun 2018 yang berjumlah 3.322.526 jiwa. Itu berarti terdapat peningkatan sebesar 56.776 jiwa dalam kurun waktu satu tahun. Penambahan penduduk tersebut disebabkan oleh tingkat kelahiran yang masih cukup tinggi, migrasi masuk ke wilayah Papua, maupun rendahnya tingkat kematian di Provinsi Papua.

Dari 29 kabupaten dan kota di Provinsi Papua, kota Jayapura merupakan wilayah dengan jumlah penduduk paling banyak di Papua yaitu mencapai 300.192 jiwa. Provinsi Papua memiliki wilayah yang terluas di Indonesia (316 ribu Km2) dengan jumlah penduduk hanya sebesar 3,38 juta jiwa. Masih banyak wilayah di Papua yang belum layak huni, sehingga distribusi penduduk masih terkonsentrasi pada beberapa wilayah strategis saja. Dengan bertambahnya jumlah penduduk diharapkan dapat membawa kemajuan bagi Provinsi Papua.

Karena falsafat hidup orang Papua yang cinta akan kedamaian, Papua dikenal sebagai suatu bangsa yang rukun, toleran, harmonis, meski di Papua ada berbagai suku, etnis, budaya (multikultur) dan agama. Dengan kata lain, Papua merupakan sebuah provinsi yang menjujung tinggi pluralitas. Namun pada 2017-2019, ada berbagai konflik yang mengatasnamakan agama (radikalisme) dan etnis. Konflik-konflik tersebut menjadi tantangan baru yang merongrong falsafat hidup orang Papua.

Radikalisme Agama

Radikalisme (sejarah), sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan elektoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme. Bertolak dari arti kata ini, dalam zaman sekarang ini bangkitnya agama-agama yang sering dikemas dalam aneka ungkapan seperti ‘revivalism’. Revivalism mengisyaratkan  sejenis titik balik secara bersama, suatu aksi kembali kepada agama dan menemukan kembali iman yang hilang.

Menurut Jamhari, tren utama dalam religious revivalism adalah penguatan gerakan-gerakan yang sering dicap fundamental (atau radikalis) dalam hampir semua agama di dunia seperti Islam radikal atau Kristen fundamental. Di Indonesia sejarah Muslim garis keras berawal pada saat jelang kemerdekaan, hingga peristiwa bom Bali dan tragedi lainnya. Gerakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia telah memulai di tiga daerah: Jawa Barat, Aceh, dan Makassar sesungguhnya memiliki motivasi perjuangan yang berbeda, meski sering dicap radikal karena memiliki usaha yang sama untuk menerapkan syaria’ah di Indonesia.

Kita juga tidak luput dari tantangan para fundamentalis Kristen. Walaupun di Indonesia pada umumnya dan Papua pada khususnya  gerakan ini belum nampak, namun kita perlu hati-hati dalam menyikapinya. Di Amerika dan Eropa kelompok Kristen Fundamentalis hadir sebagai suatu acaman dalam kehidupan bersama. Tragedi 22 Juni 2011 di Norwegia adalah salah satu bentuk ekstrim dari tindakan kelompok ini. Selain gerakan Islam radikal dan Kristen fundamental, ada juga Fundamentalis Hindu di India. Dibalik  gerakan-gerakan ekstrim itu terungkap sebuah gejala bahwa kita sedang diacam, bukan hanya oleh teroris global yang terorganisasi dan yang berkaitan dengan Islam Fundamentalis (ekstrim kiri), tapi juga gerakan ultra kanan seperti fundamentalis Kristen.

Kenyataannya bahwa ada persoalan kelompok radikal di Papua. Bibit konflik itu semakin tumbuh di Tanah Papua, terkait dengan kelompok radikalisme agama. Pada 2015 nama Ja’far Umar Thalib kembali diperbicangkan kasus Tolikara 17 April 2015. Pada tahun yang sama, pada 9 Desember 2015, di Koya Barat Kota Jayapura, terjadi bentrok antara warga setempat dan kelompok santri Ja’far Umar Thalib. Pada 27 Februari 2019, Ja’far Umar Thahib dan kelompoknya kembali membuat kekacauan di Koya. Kelompok dakwa baru yang agresif  “Kapal Dakwa” yang hadir di Merauke, juga ditentang oleh umat beragama di Merauke. Kelompok ini dianggap mempunyai potensi yang mengakibat tindakan radikalisme. Pada 2019 dua orang ditanggap di Bandara Sentani karena diduga terlibat dalam kelompok radikalisme agama. Mereka berdua itu akan terbang ke Wamena namun digagalkan oleh pihak berwajib.

Globalisasi: Sebuah Gejala yang Kompleks

Globalisasi adalah sebuah topik yang menarik perhatian para ilmuan (sosial, politik, ekonomi, dan religi). Karena konsep itu begitu luas, maka sulit dicapai kata sepakat tentang definisinya. Kecenderungan para ilmuan untuk menekankan aspek-aspek tertentu sesuai minat dan bidang yang ditekuni sambil cenderung mengabaikan aspek-aspek yang lain.

Kita tidak perlu me-demonisasi globalisasi, seolah globalisasi secara keseluruhan telah mendatangkan bencana yang besar. Ada banyak hal baik yang dibawa oleh globalisasi. Dalam kenyataan, globalisasi terlalu kompleks untuk disebut sebagai sebuah proses penyeragaman. Sebab itu, globalisasi lebih tepat didefinisikan dalam kompleksitasnya sebagai proses terlepasnya sesuatu dari konteks tradisionalnya dan kehadirannya secara serentak di berbagai wilayah dunia. Apa yang dulu terkait pada suatu wilaya tertentu, kini menjadi milik banyak orang dan dapat hadir di mana-mana. Globalisasi berarti terlepas dari suatu konteks yang lama dan pembentukan konteks baru bagi sesuatu itu. Yang dahulu dianggap berbeda dan didefinisikan secara jelas dalam waktu dan ruang tetentu, kini dapat hadir secara serentak dalam waktu yang sama dan ruang yang berbeda.

Pelepasan dari ikatan tradisional dapat disebabkan oleh berbagai alasan: alasan ideologis, religius, politis, ekonomis, atau ilmu pengetahuan. Ada pelepasan yang bersifat perampasan dan tanpa persetujuan masyarakat bersangkutan, adapula pelepasan yang merupakan keinginan masyarakat yang secara tradisional menjadi sebuah pendukung satu kebudayaan karena kepentingan tertentu. Dan penanaman kehadiran baru di dalam konteks lain dapat terjadi karena keinginan masyarakat di sana, tetapi dapat pula terjadi tanpa persetujuan mereka malah bertentangan dengan keinginan mereka.

Era globalisasi adalah era peralihan dari segala penentuan nasib kepada pilihan bebas individu. Segala penentuan yang bersifat niscaya semakin menjadi berkurang dan lemah. Di tengah situasi seperti ini yang semakin berperan adalah individu itu sendiri. Setiap orang mesti sendiri memilih dari sekian banyak tawaran dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Manusia yang otonom, yang berpikir dan bertindak berdasarkan pertimbangan yang dibuatnya sendiri, adalah manusia yang menghadapi tantangan globalisasi. Sabab itu,  untuk menghadapi arus globalisasi di Papua. Tokoh-tokoh agama, pemerintah dan tokoh-tokoh adat perlu mendampingi orang Papua untuk menjadi manusia yang otonom. Selain itu dibutuhkan solidaritas. Semangat bela rasa, melihat melampaui kepentingan sendiri, adalah sikap yang perlu ditumbuhkan dalam era globalisasi dan semua orang di Papua dipanggil untuk menumbuhkan semangat itu.

Runtutan perubahan dan aktivitas keagamaan di tengah dunia (pada umumnya) dan Papua (pada khususnya) dilanda oleh radikalisme dan globalisasi, demi terciptanya insan beragama dan beriman yang berwawasan inklusif dan toleran adalah sebuah panggilan yang mulia namun tidak luput dari kesulitan dan tantangan. Perlu dihidupi kembali nilai-nilai spiritual atau etika religius yang kodrati dan kultur dalam konteks, sehingga apa yang kita harapkan akan terwujud sebagai manusia-manusia beriman yang ideal dalam usaha menciptakan harmoni dalam peradaban Orang Papua yang semakin sejahtera dan cinta damai.

Visi, misi dan nilai merupakan kenyataan yang abstrak dalam benak manusia yang menjadi daya dorong terhadap sikap dan tingkah laku sehari-hari. Hanya insan beriman yang memahami dan menghayati spritualitas lintas agama sebagaimana yang diajarkan dan dijunjung tinggi oleh agama dan kebudayaan akan mampu bersikap saleh, sopan, ramah dan jujur terhadap orang lain dan dirinya sendiri. Menghadapi tantangan radikalisme agama di Papua, pada dasarnya dibutuhkan  usaha yang nyata dan  kerjasama semua pihak, sehingga Papua sebagai tanah damai, banar-benar dirasakan. Bukan hanya menjadi slogan kosong yang mengaung-ngaung tanpa ada bukti dan realisasinya. Dewasa ini kita membutuhkan insan beragama yang memiliki misi, visi dan nilai bermanfaat demi pembangunan manusia di Papua yang seimbang dan memanusiakan manusia di Papua dengan wawasan menyeluruh.


Sdr. Vredigando Engelberto Namsa, OFM
Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Teologi
Fajar Timur – Abepura - Papua
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel