Menjadi Suci, Mungkinkah?

hidup suci
Dokumen foto dari Frater Efendy Marut OFM
Quote Amor - Santa Klara dari Assisi menuliskan di dalam Wasiatnya; “Demi Tuhan Yesus Kristus, aku menasihati dan mengajak para saudariku, baik yang sekarang ada maupun yang nanti menyusul, supaya selalu berusaha mengikuti kepolosan suci, kerendahan dan kemiskinan” (Was. Klara, 56). Klara, sebagai ‘tanaman kesayangan Fransiskus” gemar akan “sancta simplicitas”, suatu kepolosan yang suci. Kepolosan yang suci mensyaratkan banyak keutamaan dalam diri pengikut Fransiskus. Kita semua tahu bahwa menjadi fransiskan adalah menjadi orang sederhana dalam laku dan tutur, menjadi orang yang polos, jujur dan miskin. Fransiskus dan Klara dari Assisi sudah menjadi ‘ikon’ kepolosan suci itu.

Mengapa Klara selalu relevan, terutama untuk zaman ini? Terminologi “sancta simplicitas” dalam wasiatnya memberi semacam tanda betapa menjadi fransiskan (di zaman ini) bukan perkara mudah. Perihal menjadi fransiskan adalah suatu ikhtiar menjadi ‘simplex’, sederhana, jujur dan atau menjadi seperti anak kecil (bdk. Mat. 18:3). Sancta simplicitas sebenarnya suatu perwujudan gagasan injil yang akan selalu inspiratif dan ‘berbunyi’ bagi banyak kalangan. 

Sebagai pengikut Fransiskus, tentu saja Klara mau menghayati secara lebih sungguh visi dan misi hidup Fransiskus. Dengan hidup dalam kemiskinan radikal dan pola hidup kontemplatif, Klara mau konsekuen dengan nasihat injil. Tak ada kemunafikan, tak ada ‘topeng’ yang dipakainya, tak ada pula bayang-bayang mengharapkan sorakan dan pujian. Dia hanya ingin agar hidupnya penuh bagi dan di hadapan Allah, suatu cara hidup radikal dan terberkati. Yang dicintai dan juga yang ditekuninya adalah hidup dalam keheningan (silentium). Laku hening baginya adalah ruang paling indah untuk menjumpai Allah. Tak hanya itu. Barangkali bagi Klara, dengan berdiam (hening) dalam hadirat Allah, kita akan dengan mudah mengendalikan diri untuk tidak begitu saja jatuh dalam godaan, terpikat pada beragam rayuan duniawi. Sebab, saat ini di hadapan kita tersedia aneka rupa dan bentuk godaan duniawi, yang menawarkan banyak kenikmatan, dan juga yang memaksa kita untuk menikmatinya.

Sancta simplicitas adalah jalan pengendalian diri. Dengan menyadarinya secara eksistensial, kita akan tahu bagaimana bertindak terhadap Tuhan, diri sendiri dan sesama. Kita terlampau naïf untuk berkata-kata perihal pengendalian diri, jika tidak dimulai dengan suatu kesadaraan dasariah bahwa manusia adalah pendosa. Di hadapan Tuhan, kita tidak lebih dari pendosa. Karena itu, dengan menjadi polos dan sederhana, kita pertama-tama mesti jujur dan mengakui keberdosaan itu. Mengendalikan diri perlu dimulai dari suatu pengakuan sebagai insan berdosa. Bukan untuk melemahkan niat, tetapi terutama sebagai salah satu jalan menuju pertobatan. Sebab, ikhtiar mengendalikan diri adalah bagian dari langkah menuju pertobatan.

Perihal Diri dan Ikhtiar Pengendaliannya

Kita hidup di era invasi informasi. Hiruk-pikuk peredaran informasi dan perkembangan teknologi dengan aneka jenisnya memaksa kita untuk tanggap dan mesti kritis dan selektif. Laju perkembangan zaman ini tampaknya memberi banyak tuntutan bagi manusia. Selain kesiapan mental, juga yang utama adalah ikhtiar pengendalian diri. Sebab bagaimanapun kita tidak hanya ‘terbawa arus’ zaman, melainkan ‘terhanyut’ oleh derasnya laju perkembangan tekhnologi dan informasi ini. 

Kita terlibat penuh dalam riuh beribu aktivitas harian, baik di dunia nyata maupun (terutama) di dunia maya. Entah sadar atau tidak, alih-alih memanfaatkan internet sebagai anugerah Allah (gift of God), seperti ditegaskan Paus Fransikus, kita justru tampil sebagai budak di hadapannya. Kita diperdaya, lantas banyak waktu dihabiskan hanya untuk beraktivitas di jagat maya.

Di tengah situasi demikian, kita kemudian perlu menimbang-nimbang perihal sejauhmana diri kita mengupayakan pengendalian diri dalam hal pemanfaatan waktu, upaya hidup disiplin, ugahari, dan sebagainya. Adakah kita tengah mengupayakan ‘kepolosan suci’ sebagaimana Fransiskus dan Klara menghayati kesederhanaan hidup mereka? Baik Fransiskus maupun Klara adalah model bagi setiap insan. Cara mereka mengamalkan kasih Tuhan tidak lekang oleh waktu, sebab kita tahu begitu banyak orang yang meneladani mereka, dan menjadikan mereka prototype bagi laku hidup harian.  Kerelaan mereka meninggalkan segalanya demi mengabdi kepada Tuhan adalah jalan pengendalian diri yang radikal. Mereka meninggalkan hal-hal berharga di dalam hidupnya dan menanggalkan kenikmatan semu yang dipuja kebanyakan orang. 

Fransiskus dan Klara mengabdikan kehidupannya bagi kemuliaan Tuhan. Khususnya Klara, ia dengan langkahnya yang ringan memberikan sepenuh hidupnya bagi keheningan, suatu cara hidup kontemplatif. Dari St. Klara kita menemukan satu pilihan radikal yang memang bukan pilihan mudah bagi kita di zaman ini. Akan tetapi, setidaknya satu inspirasi untuk kita hayati di zaman ini adalah hidup dalam keheningan. Barangkali benar bila dikatakan bahwa tak punya waktu pribadi untuk silentium, hening dan melakukan semacam rehat reflektif kerap tak punya waktu bukan hanya untuk Tuhan, tetapi juga untuk diri sendiri dan sesama. Laku hening amat mendesak bagi kita di zaman ini. Laku hening adalah cara ampuh mengendalikan diri dari kegelisahan dan kegalauan.

Kita butuh semacam jedah dari riuh rendah aktivitas harian kita. Bukankah momen silentium menjadi saat bermakna untuk refleksi diri, mengevaluasi aneka tutur dan laku kita di hadapan Tuhan, sesama dan diri sendiri? Hal terburuk dalam hidup kita adalah takut untuk sendiri, untuk hening dan untuk bersedia berjumpa dan mendengarkan Sabda yang tak jarang menelanjangi, mengoreksi dan mengevaluasi hidup kita secara radikal. Perjumpaan dengan Tuhan di dalam keheningan sering berarti pertobatan dan ini mensyaratkan disiplin, ketaatan, komitmen, tanggung jawab dan bahkan pengurbanan diri tanpa syarat.

Itulah cara dan pilihan mengupayakan pengendalian diri. Seperti Klara, ikhtiar menuju sancta simplicitas, tak lain dan tak bukan adalah dengan mencintai keheningan. Tak punya saat untuk melakukan rehat reflektif kerap berujung pada kedangkalan dalam cara berpikir dan bertindak. Diri yang mudah dikendalikan adalah diri yang selalu bersedia mencintai keheningan, setia mencari keheningan dan berkomitmen menciptakan keheningan. Dalam keheningan sesungguhnya kita mendengarkan sesuatu yang lain, mencari dan memulung beragam makna dari aneka peristiwa  hidup sehari-hari. Maka, yang paling penting sebenarnya adalah niat dan kehendak yang kuat untuk mendidik diri sendiri agar mampu bersikap positif dan sanggup menemukan nilai penting dari keheneningan itu sendiri. Mengendalikan diri di tengah keriuhan zaman niscaya bisa dicapai jika itu timbul dari keheningan dan dari mendengarkan Tuhan yang menemani

“It is good to wait in silence for the salvation of god.” (Thomas Merton, "Seeds of contemplation. 1972.)

Oleh : Efendy Marut OFM
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel