Kota Tertua dan Terendah di Dunia

Kota Yerikho
Foto dari www.pixabay.com
Quote Amor - Suatu tempat akan selalu dikenang dan diceritakan dalam sejarah kehidupan umat manusia, apabila tempat itu mempunyai keunikan yang memikat hati banyak orang atau memberikan makna tertentu bagi penghayatan hidup sekelompok orang. Kota Yerikho telah menyimpan banyak data sejarah. Dalam banyak kisah dan tulisan-tulisan sejarah menyatakan bahwa kota Yerikho mempunyai kenangan tersendiri bagi umat kristen, orang Arab, orang Yahudi, dan para ahli.

Pernyataan di atas dapat dibuktikan dengan anggapan bahwa orang Kristen cenderung berpikir tentang Zakheus yang berbadan kecil dan pohon ara, serta kisah Yesus yang pernah melewati kota ini. Orang Arab mungkin akan teringat kisah di mana kota ini masih menjadi benteng pertahanan bangsa Arab. Di sisi lain, orang Yahudi mungkin juga akan teringat kisah Yosua bersama bangsa Israel ketika mereka hendak memasuki tanah kanaan, atau para ahli akan tersenyum dengan penemuan-penemuan penting yang dapat diperoleh di tempat ini.  Dari kisah-kisah ini menunjukkan bahwa kota Yerikho telah memikat banyak orang dan memberikan “air kehidupan”. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan menunjukkan data-data penting mengenai kota Yerikho yang menjadi oasis yangh indah di tengah pandang gurun yang gersang.

Kota Paling Rendah di Dunia

Para ziarah dari Galilea yang hendak ke Yerusalem dan tidak mau melewati Samaria. Mereka biasanya berjalan turun sampai ke Yerikho, baru kemudian mendekati Yerusalem dari arah timur. Orang-orang tersebut memilih rute perjalanan seperti itu, tentu karena mempunyai alasan tertentu, yaitu karena keindahan dan kesejukan daerah Yerikho. Kota ini menjadi tempat persinggahan sebelum mendaki menuju Yerusalem. Kita dapat membayangkan para peziarah yang menyusuri lembah Yordania turun sampai kota Yerikho dengan diapiti oleh perbukitan Samaria dan Gilboa di sebelah kanannya (arah barat) dan perbukitan Gilead di sebelah kirinya.

Menurut para ahli, kota Yerikho merupakan kota tertua di dunia dan kota yang paling rendah di muka bumi ini. Letaknya juga berada di bawah permukaan laut dan di tengah gurun pasir yang panas, 300 meter di bawah permukaan laut, sekitar 90 kilometer di sebelah selatan danau Galilea dan hanya 11 kilometer di sebelah utara Laut Mati sehingga kota ini iklimnya cukup panas dan lembab.

Baca juga: 
Orang yang mengunjungi Yerikho pasti tidak lupa untuk mengunjungi Laut Mati. Misalnya peziarah dari Bordeaux, ketika mengunjungi laut mati pada abad ke-4, mengatakan bahwa ”airnya sungguh pahit, tidak satu ikan pun yang kita temukan, dan tidak satu pun kapal yang berlayar di sana. Jika ada seseorang yang mencoba berenang di sana segera airnya akan menjungkirnya.” Bahkan menurut Aristoteles dan Stabo, Laut mati adalah “Danau Aspal”. Karakter khas ini diakibatkan tidak adanya jalan keluar bagi air yang masuk ke tempat ini.

Kota Yerikho banyak ditumbuhi pohon kurma, bugenvil, dan aneka pohon buah-buahan. kesuburan daerah ini menjadi oasis bagi kehidupan di tengah pandang gurun yang gersang. Nama Yerikho juga mempunyai arti sendiri, yaitu tempat yang harum atau kota bulan. Ketika Musa memandang kota ini dari Gunung Nebo, Ia menamakanya sebagai ”kota pohon korma” (Ulangan 34 :3).

Meskipun panas yang mencekik dan lembab di puncak musim panas, tetapi pada musim dingin, tempat ini menjadi tempat yang menyenangkan dan menyegarkan bagi mereka yang diterpa angin dingin di Yerusalem. Kota ini juga mempunyai persediaan air yang melimpah dan tanah yang subur. Selain itu juga, ada beberapa bukit yang memberi perlindungan kota ini dari serangan musuh. Bukit-bukit itu mengingatkan kita pada perkataan Rahab ketika dia menyuruh mata-matanya untuk sembunyi dari para pengejar. “pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya sampai pengejar-pengejar itu pulang ; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu” (Yosua 2 :16).

Yerikho: Lama dan Baru

Yerikho merupakan kota tertua di dunia yang selalu ditempati secara terus-menerus sejak tahun 8000 sM. Di samping itu, Para ahli percaya bahwa kota Yerikho sudah ada sejak 500 tahun sM. Hal ini berarti kota Yerikho sudah dihuni orang sekitar 3500 tahun sebelum Yosua datang ke kota ini. Menurut beberapa ahli, kota Yerikho dikelilingi oleh dua tembok. Sebuah tembok luar yang tebalnya satu setengah meter dan tembok sebelah dalam tebalnya empat meter, sedangkan rumah-rumah dibangun  di atas tembok sebelah dalam. kesimpulan ini sesuai dengan ungkapan Yosua yang mengatakan “kemudian perempuan itu menurunkan mereka dengan tali melalui jendela, sebab rumahnya itu letaknya pada tembok kota, jadi pada tembok itulah ia diam” (Yosua 2: 15).

Kota Yerikho merupakan sebuah kota yang ditempatkan bangsa Isreal sebelum memasuki Tanah Terjanji. Di bawah pimpinan Yosua, setelah menyeberangi Sungai Yordan, bangsa Israel merebut dan menguasai kota Yerikho. Kemenangan yang mereka peroleh merupakan tanda bahwa Allah berkarya untuk umat-Nya dan “jaminan” Allah untuk sesuatu yang mereka capai selama bertahun-tahun, yaitu menduduki tanah Kanaan. 

Ketika bangsa Israel menduduki kota Yerikho, Yosua bernubuat bahwa “terkutuklah di hadapan Tuhan, orang yang bangkit untuk membangunkan kota Yerikho ini; dengan membayarkan nyawa anaknya yang sulung, ia akan meletakkan dasar kota dan dengan membayarkan nyawa anaknya yang bungsu, ia akan memasang pintu gerbangnya!” (Yosua 6:26). Nubuat ini terbukti, tak seorang pun yang mencoba untuk membangun kembali  reruntuhan kota itu sampai pada zaman Ahab. Namun, Hiel coba melawan nubuat itu sehingga anak sulungnya, Abiram dan anak bungsunya, Segub menjadi korban (bdk 1 Raja-Raja 16: 34).

Yerikho pada zaman Perjanjian Baru tidak begitu menarik seperti pada zaman Perjanjian lama. Yesus bersama kedua belas murid-Nya memasuk kota Yerikho. Secara simbolik, mereka ini merupakan miniatur dari 12 suku Israel. Seperti bangsa Isreal yang menggerutu  di padang gurun, para murid Yesus juga memperdebatkan siapa yang paling besar di antara mereka. Para murid berpikir bahwa perjalanan Yesus adalah untuk mendirikan kerajaan Allah, dan mereka ingin mendapatkan kursi utama di dalam kerajaan tersebut. Namun, Yesus justru tidak mendirikan kerajaan seperti yang dipikirkan para murid-Nya. Dia mewartakan kerajaan Allah dengan melaksanakan kehendak Bapa-Nya untuk menyelamatkan mereka yang berseru kepada-Nya. Di kota ini, Yesus membuat beberapa mujizat, seperti kisah menyembuhkan orang buta yang oleh Markus disebut Bartimeus. Selain itu, kisah Zakheus yang sangat terkenal, dia memanjat pohon arab untuk bisa melihat Yesus.

Hal yang menarik dari kisah ini adalah Yesus mengunjungi rumah Zakheus, seorang pemungut cukai yang kaya, yang dibenci oleh sebangsanya karena berpihak pada orang Romawi. Bagi Lukas, tindakan Yesus ini merupakan suatu tindakan untuk menyelamatkan mereka yang jauh dari Tuhan (bdk Luk 19: 10). Cara Yesus  memperhatikan Zakheus, mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi pada beberapa abad sebelumnya yang dikisahkan dalam kitab Yosua tentang Rahab, seorang pelacur kafir yang diselamatkan oleh Yosua. Oleh karena itu, kisah Yosua memasuki kota Yerikho mempunyai pararel dengan kisah Yesus menyelamatkan kota ini dan seluruh dunia.

Kesimpulan

Kota Yerikho yang letaknya sangat strategis menjadi oasis di tengah padang gurun yang gersang. Para pelancong yang datang dari Galilea menuju Yerusalem dapat melewati kota ini dengan menikmati keindahannya. Yerikho merupakan jalan persimpangan yang penting bagi mereka yang bepergian, baik ke arah utara maupun ke selatan, dan baik ke timur maupun ke barat. Di samping itu, kota Yerikho mempunyai persediaan air yang melimpah dan tanah yang subur sehingga di daerah ini banyak ditumbuhi pohon-pohon.

Yerikho merupakan kota sejarah yang memberi makna iman bagi umat kristiani. Dalam Perjanjian Lama dikisahkan bahwa sebelum memasuki tanah terjadi, bangsa Isreal merebut dan menguasai kota Yerikho. Dalam Perjanjian Baru, Yesus membuat mujizat di kota ini, yaitu menyembuhkan orang buta yang bernama Bartimeus, dan kisah Zakheus seorang pemungut cukai. Kisah-kisah itu dibingkai dalam sebuah misi yaitu membawa kerajaan Allah dengan menyelamatkan banyak orang.

Oleh Albertus Dino

Daftar Pustaka

Sanjaya, V. Indra, penj. In The Steps of Jesus. Jogjakarta: Kanisius, 2010.

Ludwing, Charles. Kota-kota pada zaman Perjanjian Baru. Bandung : kalam hidup, 1976.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel