Ketika Yesus Menempatkan Diri-Nya sebagai Borjuis

Antonio Viali Tawa
Frater Antonio Viali Tawa OSA, Mahasiswa Pasca Sarjana STFT "Fajar Timur
Quote Amor - Injil sinoptik, Markus 12:1-12, Matius 21:33-46, dan Lukas 20:9-19 menarasikan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Kisah tersebut syarat konflik, yang mana para penggarap menolak menyerahkan bagian dari hasil kebun anggur yang dikelola. Tidak hanya menolak memberi bayaran, mereka juga membunuh hamba-hamba dan anak dari pemilik kebun anggur itu. 

Pertama-tama, secara alegoris (kiasan/ibarat), perumpamaan itu sebenarnya memuat ramalan Yesus mengenai diri-Nya yang kelak akan dibunuh. Alegoris  ini diartikan sebagai berikut: Kebun anggur adalah bangsa Israel (bdk. Yes. 5:1-7), para penggarap adalah pemuka-pemuka rakyat (bdk. Luk. 20:19), hamba-hamba adalah para nabi, dan anak si tuan tanah yang dibunuh adalah Yesus sendiri (bdk. Luk. 23:44-46).

Yang menarik dari kisah perumpamaan tersebut adalah bagaimana Yesus mengangkat situasi ketidakadilan yang terjadi pada masa itu dan mengadaptasikannya ke dalam perumpamaan-Nya. Yesus sebenarnya sedang mengeritik tuan-tuan tanah yang tamak. Realita sosial politik ekonomi pada zaman-Nya memang amat memprihatinkan. Para tuan tanah (pemilik modal) menciptakan sistem kekuasaan yang buruk. Mereka meminjamkan uang kepada rakyat jelata lalu memberi bunga yang tinggi. Ketika rakyat miskin (proletar) tidak mampu membayar utangnya, maka para pemilik modal merampas lahan orang yang berutang. 

Kemudian, mereka yang kehilangan lahan dijadikan buruh penggarap di tanah yang pernah menjadi milik mereka. Tentu ketidakadilan ini tidak berhenti sampai di situ saja,  mereka kemudian ditindas dengan harus memberikan sebagian besar hasil kebun kepada tuan tanah tersebut.

Berkaitan dengan itu, para pakar Kitab Suci (ekseget) menyatakan bahwa secara historis kisah perumpamaan penggarap kebun anggur adalah kisah yang bertolak dari pengalaman sehari-hari pada masa Yesus. Di Galilea kekuatan ekonomi dan lahan pertanian dipegang para tuan tanah. Sementara sebagian kecil lahan dikelola oleh rakyat kecil. Para pemilik lahan ini biasanya tinggal di perkotaan dan menyewakan lahan-lahan mereka kepada para buruh (B.J. Boland dan P.S. Naipospos: 2011, 470).

Latar belakang historis di atas tentu amat membantu kita dalam memahami situasi ketidakadilan sosial di satu pihak, dan kebencian orang Israel (para penguasa) terhadap Yesus di lain pihak. Dalam hal ini Yesus memposisikan diri-Nya sebagai kaum borjuis, yakni anak tuan tanah. Para buruh (penggarap) yang tertindas tentu menyimpan dendam dan amarah yang mendalam atas situasi buruk yang dialami.

Baca juga : 
Di sinilah keberhasilan Yesus dalam membangun perumpamaan. Ia berhasil menggambarkan emosi dan kemurkaan orang-orang Israel yang menolak Dia dengan membandingkan emosi sakit hati para penggarap yang dieksploitasi hak-haknya. Sama seperti para penggarap yang melampiaskan rasa sakit itu kepada hamba-hamba dan anak si tuan tanah, Yesuspun akan dibunuh—seperti para nabi—oleh karena Ia telah memproklamasikan ke-Mesias-an-Nya. Poin penting dari alegoris ini adalah, Yesus memaklumkan kematian-Nya. Sama seperti tuan tanah yang datang membinasakan penggarap-penaggrap, kematian Yesus di salib tidak menggagalkan maksud kehendak Allah untuk menyelamatkan kebun anggur-Nya, yakni bangsa Israel itu sendiri.

Sebuah Refleksi 

Persoalan ekonomi sosial politik pada zaman Yesus sebenarnya tidak pernah berakhir. Dunia dewasa ini masih hidup dalam sistem buruk itu. Kekuatan ekonomi masih dikuasai oleh segelintir orang saja, yakni kaum borjuis. Kaum buruh yang bekerja keras dengan ototnya hanya menerima sedikit dari miliaran rupiah yang diraup oleh para pemilik modal. Kendali ekonomi yang tidak seimbang ini menyebabkan kemiskinan yang kian menjamur. 

Seperti Yesus yang mengeritik para penguasa melalui perumpamaan-Nya itu, Gereja melalui ensiklik Laborem Ecerens (Paus Yohanes Paulus II) menyerukan agar tenaga kerja manusia (buruh) tidak boleh dilecehkan. Bahwa tidak boleh ada pemerasan dalam pengupahan; kondisi kerja yang miskin; dan kurangnya jaminan sosial. Upah yang adil dan jaminan sosial adalah hak para pekerja; “Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya” (Rm. 4:4). 

Selain itu, masalah stratifikasi ekonomi antara kaum buruh (proletar) dan pemilik modal/tuan tanah (borjuis) hanya dapat diatasi jika semua orang berhenti memandang buruh sebagai budak, dan mengakui semua orang sebagai citra Allah. Ini berarti cinta kasih harus menjadi landasan dalam membangun mekanisme dunia kerja. 
Jadi, dengan dasar cinta kasih, kaum buruh tidak akan lagi menyimpan kebencian dan dendam terhadap kaum borjuis seperti dalam perumpamaan para penggarap kebun anggur. Kebencian masyarakat tertindas itu akan segera berakhir, hanya jika kaum borjuis bertobat dari perbuatan-perbuatan buruk yang menindas.

Oleh Fr. Antonio Viali Tawa, OSA

(Mahasiswa Pasca sarjana STFT “Fajar Timur”)


Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel