Kenapa Krisis Panggilan dalam hidup membiara itu terjadi?

Krisis panggilan dalam hidup membiara
Tantangan sering kali digambarkan seperti kerikil.
Quote Amor - Menjadi biarawan/i atau hidup religius merupakan salah satu pilihan hidup yang tidak banyak diminati oleh anak-anak di era digital ini. Di samping itu, ditambah lagi banyak biarawan/i yang menanggalkan jubahnya. Hal tersebut menyebabkan jumlah anggota dari beberapa ordo dan kongregasi semakin menurun, bahkan beberapa biara ditutup karena calonnya semakin berkurang atau tidak ada sama sekali. Perkembangan ini sangat memprihatinkan maka membutuhkan pembenahan untuk melihat, kira-kira kenapa hal tersebut bisa terjadi seperti itu. 

Ada orang yang mengatakan bahwa mereka tidak mau menjadi biarawan/i karena mereka tidak mau hidup selibat atau karena menjadi biarawan/i itu tidak menikah. Jawaban ini nampaknya tidak menjawab persoalan krisis panggilan yang sedang terjadi, karena hidup membiara sudah ada sejak lama, dan dulu banyak orang yang ingin menjadi biarawan/i. 

Lalu apa yang menyebabkan krisis panggilan yang sedang terjadi? Atau pertanyaannya kenapa banyak biarawan/i meninggalkan biaranya dan menanggalkan jubah. Dari penelusuran sophia sastra menemukan beberapa tantangan yang mempengaruhi kehidupan para biarawan/i.

1. Hilangnya semangat identitas Religius.

Banyak biarawan/i yang tidak mampu mengendalikan dirinya dengan pengaruh yang datang dari luar sehingga dia terjerumus ke dalam arus perkembangan itu dan menjadi lupa pada identitasnya. Hal tersebut nampak pada gaya hidup yang mendatar, borjuis dan individualis, aktivitas melampaui kemampuan diri atau super sibuk, lupa memberi waktu untuk diri sendiri dan diam sejenak untuk berdoa, serta hilangnya “Roh” kenabian sehingga misi dan kerasulan dipahami dan dihayati sebagai rutinitas semata.

Model hidup seperti ini menuntun orang menjadi lupa pada idenitas hidupnya sebagai biarawan/i, lupa untuk menghayati ketiga kaul yang melekat pada dirinya sehingga dirinya merasa tidak aman dan memilih untuk menanggalkan jubahnya.

2. Kemajuaan Teknologi

Perubahan-perubahan dalam kehadiran teknologi menjadi salah satu tantangan dalam menghayati semangat hidup religius. Ada biarawan yang masih merasa takut dengan kemajuan teknologi. Hal tersebut membuatnya menjadi tidak aman dan memilih tidak mengikuti perkembangan itu, berpaling dari teknologi.

Namun banyak orang yang menjadi sasaran pelayanannya sudah mengikuti perkembangan itu, sehingga ketika dia menjalankan tugasnya dan berjumpa dengan orang-orang yang menggunakan teknologi, dia merasa tertinggal dan tidak bisa menjangkau orang-orang tersebut sehingga dia memilih tetap tinggal di biara dan tidak mau melayani orang yang di luar biara. 

Lalu untuk apa dia menjadi seorang perlayan Tuhan? apakah hanya cukup di biara saja? Kayaknya cara tersebut tidak relevan lagi. Dan hal ini bisa menyebabkan orang menjadi tidak tertarik lagi untuk hidup membiara.

Namun di samping orang yang apatis dengan kemajuan teknologi, ada juga orang yang terjerumus ke dalam kemajuan teknologi itu dan sulit mengontrol diri dalam menggunakan semuanya itu sehingga lupa pada kewajibannya sebagai seorang biarawan/i.

Hal tersebut menyebabkan hilangnya nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan karena dunia telah memasuki biara-biara, menelusup ke kamar-kamar para religius, seperti internet dan sarana komunikasi; facebook, skype, twitter, dan sebagainya. Dari sini mutu hidup religius menjadi merosot, anemia rohani dan merebaknya toleransi pada peraturan dan kaul-kaul.

Itulah dua krisis yang ditemukan oleh Sophia Sastra dan dua krisis tersebut bisa menjadi bahan pembenahan diri agar pembaharuan hidup religius itu bisa terjadi, dari krisis identitas menuju gaya hidup profetis. Namun hal yang perlu kita pelajari dari krisis tersebut adalah krisis tersebut kiranya membantu bagi para religius dan semua umat beriman untuk mengenal dan memperdalam penghayatan iman kepada Tuhan. 

Dengan demikian krisis itu dapat dilihat sebagai ujian dari pihak Tuhan demi terjadinya pemurnian. Kita bisa belajar dari teladan hidup St. Fransiskus Assisi. Pada awalnya dia sangat membenci dan muak melihat orang kusta, tetapi pengalaman perjumpaan langsung dengan orang kusta mengubah pandangannya tentang orang kusta. 

Dari pengalaman itu, dia merasakan kedamaian dan sukacita sehingga dia memeluk orang kusta itu, dan mulai sejak saat itu dia memberikan dirinya untuk melayani orang kusta.

Pengalaman itu membentuk dirinya sehingga Fransiskus memandang semua ciptaan sebagai saudara, bahkan kematian. Pengalaman Krisis itulah yang membawanya pada perjumpaan dengan Tuhan dan menemukan kebahagiaan dari tugas profetisnya sebagai Pelayan Tuhan.

Fransiskus kemudian memberikan dirinya kepada Tuhan dan melayani semua orang dengan semangat persaudaraan, kemiskinan dan kerendahan hati. Dia menanamkan semangat itu kepada para pengikutnya.

Dengan demikian semangat itu harus menjiwai para pengikutnya dan semangat itu harus mampu diterjemahkan dalam konteks kehidupan setiap zaman. Kemampuan tersebut akan membawa spirit Fransiskus menjadi tetap hidup dan mampu dihayati oleh banyak orang di setiap zaman.(A/D)

Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel