Haruskah Penderitaan Mengabaikan Hati Nurani?

Berto OFM
Dokumen Pribadi Sdr. Berto OFM
Quote Amor - Dalam bahasa Latin dan bahasa-bahasa yang diturunkannya dipakai kata consencintia untuk mendefenisikan hati nurani. Kata ini berasal dari kata kerja sciere (mengetahui) dan awalan con-(bersama dengan, turut). Dengan demikian consciencia sebenarnya berarti “turut mengetahui”. Perkataan ini masih tampak dalam bahasa inggris : consciousness yang berarti kesadaran dan conscience yang berarti hati nurani. Dalam bahasa Prancis, dipakai kata yang sama, conscience yang berarti baik kesadaran maupun hati nurani (K. Bertens, Etika).

Hati nurani berarti penghayatan akan sesuatu yang baik dan benar dan bahkan kesadaran akan yang baik dan benar. Antara kesadaran dan hati nurani memiliki kaitan yang erat. Kesadaraan akan yang baik dan buruk, benar dan tidak benar, adil dan tidak adil, kejujuran dan kebohongan, dll. Hati nurani dapat dikenali melalui suara hati. Suara hati akan menyuarakan putusan yang baik dan benar atau memberi pertimbangan yang buruk pula. Suara hati berkaitan dengan pilihan konkret yang akan dilaksanakan.

Hati nurani, hemat saya mesti dibahas bila ingin memahami tindakan manusia karena tindakan manusia tidak pernah lepas dari pertimbangan hati nurani. Dengan demikian, bertindak seturut hati nurani berarti selalu bertindak baik dan benar. Lalu mengapa manusia dapat bertindak buruk?

Pada dasarnya, orang menolak untuk memfitnah yang lain bukan karena ia takut ketahuan, melainkan karena memfitnah itu jahat. Kesadaraan akan memfitnah itu jahat adalah hati nurani yang disuarakan oleh suara hati. Tindakan kebaikan ini selalu berasal dari hati nurani. Karena hati nurani selalu murni kesadaraan akan memilih yang baik dan benar.

Hati Nurani membutuhkan Penalaran

Hati nurani selalu berkaitan erat dengan rasio sebagai pengetahuan. Untuk memastikan apa yang baik maka kita memerlukan nalar, tetapi bahwa apa yang baik itu harus dipilih secara intuitif, dan dalam pengetahuan itu termuat juga bahwa keharusan itu bersifat mutlak, tak bersyarat sama sekali. Kesadaran akan yang baik dan benar adalah sikap intuitif karena yang baik dan benar akan selalu dipilih. Meminjam istilah K. Bertens bahwa sikap intuitif itu berlangsung bagaikan tembakan: langsung, satu kali tembak, dan berarti bukan tidak mungkin langsung memilih yang benar.

Namun untuk mengetahui yang benar dan baik selalu ada penalaran. Penalaran itu merupakan sikap intuitif untuk selalu memilih yang benar. Pada keadaan seperti itu K. Bertens menilai hati nurani sebagai norma moral yang subyektif. Demikian tulisnya : “ Tapi terdapat suatu yang kuat dalam filsafat untuk mengakui bahwa hati nurani secara khusus harus dikaitkan dengan rasio. Kami juga berpendapat demikian. Alasannya, karena hati nurani, memberi satu pilihan, artinya, suatu putusan (judgement). Ia menegaskan: ini baik dan harus dilakukan atau itu buruk dan tidak boleh dilakukan” Maka tepat bahwa hati nurani itu selalu disertai dengan penalaran. Penalaran itu memikirkan ini yang baik dan benar atau ini yang buruk. Selanjutnya  hati nurani memberikan keputusan bahwa ini yang baik dan kamu harus memilih ini.

Baca juga :
Selanjutnya Bertens membedakan antara dua jenis rasio yaitu rasio teoritis dan rasio praktis. Rasio praktis memberi jawaban atas pertanyaan apa yang harus dilakukan? Rasio teoritis bersifat konkret. Putusan hati nurani mengkonkterkan pengetahuan etis kita yang umum. Pengetahuan etis kita (prinsip-prinsip moral yang kita pegang dan nilai-nilai yang kita akui). Hati nurani seolah-olah merupakan jembatan yang menghubungkan pengetahuan etis kita (berdasarkan prinsip-prinsip yang kita pegang; ditambahkan oleh penulis) dengan perilaku konkret.

Rasio praktis berhubungan dengan tindakan konkret tentang apa yang akan dan harus dilakukan. Rasio praktis mengkaitkan suatu keadaan atau kejadian yang oleh karena kejadian itu manusia mesti bertindak. Namun untuk memilih apa yang harus dilakukan, hati nurani membantu untuk menyatakan pengetahuan etis kita (tergantung sudut pandang kita) tentang yang baik dan benar. Hati nurani menjembatani pengetahuan etis kita tentang yang baik dan buruk dan tindakan konkret kita. Rasio teoritis itu akan memilih apa yang ada di hati nurani. Mencuri dalam pengetahuan etis seseorang adalah tindakan buruk.

Misalnya seseorang tengah berada di dalam sebuah kelas bersama teman-teman kelasnya. Ia melihat sebuah dompet di dalam tas seorang temannya. Seperti yang dikatakan tadi bahwa dalam pengetahuan etisnya bahwa mencuri itu buruk, maka ia akan berusaha untuk tidak mencuri. Pengetahuan etisnya merupakan sebuah penalaran teoritis yang menjembataninya dengan tindakan konkret yakni tidak mencuri. Itulah rasio praktis yang menjembatani hati nurani dengan pengetahuan etis kita.

Rasio teoritis memberi jawaban atas pertanyaan: apa yang dapat saya ketahui? Atau bagaimana pengetahuan saya dapat diperluas? Dengan demikian rasio dalam arti ini merupakan sumber pengetahuan, juga ilmu pengetahuan. Menjadi jelas bahwa rasio yang dimaksudkan yang berhubungan dengan hati nurani adalah rasio praktis yang menghubungkan pengetahuan etis kita dengan tindakan konkret kita.

Hati Nurani sebagai Norma Moral

Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa Bertens menyebut hati nurani sebagai norma moral yang subyektif, bahwa pengetahuan etis kita tentang baik dan buruk menjadi sebuah norma moral. Pengetahuan etis itu adalah kaidah-kaidah yang mengatur kita untuk bertindak. Bahwa hati nurani menjadi kaidah bagi kita untuk bertindak. Norma itu (pengetahuan etis kita) bersifat sangat subyektif karena norma moral itu bersifat dari sudut pandang ‘aku’ sendiri. Norma moral itu bersifat ke-aku-an sesuai sudut pandang kita tentang yang baik dan buruk, atau yang benar atau salah. Hati nurani dibentuk atau disusun seturut pengetahuan etis dan itu menjadi kaidah yang mengatur kita untuk bertindak dan berperilaku bahkan membatasi tindakan kita.

Namun kadangkala hati nurani kita dapat diabaikan. Hati nurani telah pupus tarikan kebaikannya. Hati nurani sebagai kaidah yang mengatur hidup bisa saja meruntuh, misalnya karena rasa sakit atau ketika mengalami penderitaan. Dalam kondisi tersebut, hati nurani sering kali mengalami dilematis antara mengikuti kaidah yang mengatur hidup atau menghindari penderitaan. Viktor Frankl mengatakan manusia pada hakikatnya adalah homo patient, mahkluk yang dapat menderita di mana manusia adalah suatu yang pasif.

Manusia sebagai homo patient ini tidak dipahami sebagai sebuah model deskriptif tentang keadaan manusia, melainkan lebih dimengerti sebagai kerangka khusus keutamaan, yakni manusia harus dapat menderita secara tepat. Manusia yang dapat menderita itu dalam konteks pengertian di atas dikerjakan oleh sesuatu yang menyusahkan (KBBI) dan dikerjakan oleh painfull dan unhappiness (Oxford Dictonary). Namun, pada dasarnya penderitaan adalah sebuah keadaan yang sulit didefenisikan, seperti ketika mendefinisikan kebahagiaan. Kesulitan tersebut disebabkan karena penderitaan memang merupakan perasaan yang bersifat subyektif.
Dalam kaitannya dengan penderitaan, kita dapat mengatakan bahwa malum adalah sesuatu yang menyebabkan orang merasa menderita atau yang menyebabkan penderitaan. Malum itu adalah keburukan dan lawan dari kebaikan bonus. Manusia menderita karena adanya malus atau keburukan yang menimpa manusia. Paul Budi Kleden dalam bukunya “Membongkar Derita,” mengatakan bahwa Agustinus dalam sejarah filsafat membedakan malum dalam tiga bentuk. Pertama, Malum Physicum sebagai keburukan alamiah yang terletak pada kenyataan negatif yang ditimpakan alam kepada manusia, misalnya bencana alam, penyakit, kecacatan dan lain-lainnya. Kedua, Malum Morale sebagai keburukan moral yang ditimpakan manusia atas manusia seperti perang, ketidakadilan, kekerasan, penindasan, dan lain-lain. Dan ketiga, Malum Metaphysicum sebagai keburukan metafisik, yang melampaui penjelasan fisis dan moral; keburukan yang melampui akar ontologis, yakni terletak pada kenyataan struktur dasar keterbatasan manusia dan dunia serta pada ketakkekalan manusia; bahwa manusia itu fana, bisa mati. Sebab ketiga malum ini mempunyai kaitan yang erat.

Kehadiran penderitaan bisa saja melahirkan tindakan-tindakan atau perasaan-perasaan baru, misalnya kecemasan, rasa rendah diri, pikiran untuk bunuh diri, obsesi, dan rasa panik. Semua afeksi destruktif ini (penderitaan yang mengerjakan rasio: ditambahkan oleh penulis) dapat meremukan manusia bila tidak ada sarana perlindungan di dalam jiwanya. Menjadi jelas bahwa perasaan destruktif atau penderitaan atas rasio diatas dapat menghancurkan manusia. Lalu apa yang dapat dihancurkan?

Yang dihancurkan dapat saja kehidupan manusia seutuhnya karena tidak ada sarana perlindungan diri.  Misalnya seorang perempuan ingin bunuh diri karena telah dicabuli oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Peristiwa tersebut membuat perempuan itu mengalami trauma, perasaan takut, depresi dan sebagainya. Dalam situasi seperti itu,  dia bisa saja memilih untuk bunuh diri. Lalu dalam situasi seperti itu, dimanakah hati nurani?

Barangkali hati nurani telah diabaikan oleh lebih besarnya rasa sakit akibat penderitaan itu. Sikap intuitif kita tentang yang baik dan benar telah kehilangan kekuatannya karena beban psikis. Rasa sakit akan penderitaan lebih kuat dibandingkan tarikan kebaikan hati nurani. Bahkan pengetahuan etis kita justru dikalahkan oleh besarnya rasa sakit. Pada dasarnya bunuh diri itu tidak baik dan tidak benar secara moral. Namun besarnya rasa sakit itu bisa mengabaikan hati nurani. Tarikan kebaikan hati nurani yang intuitif itu telah kalah oleh kuatnya rasa sakit. Sehingga apapun caranya, penderitaan itu harus dihentikan atau dikalahkan. Tidak ada lagi pertimbangan tentang yang baik dan yang buruk, yang ada hanyalah keinginan mengakhiri penderitaan entah apapun caranya. Namun ini tidak menjadi alasan bahwa tindakan fatalistis seperti ini dapat dibenarkan. Penguraian ini bermaksud untuk menelaah realitas sikap manusia ketika menanggapi penderitaan.


Oleh : Vredigando E. Namsa OFM
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel