Bumi Memeluk Ragamu

Bumi Memeluk Ragamu
Banyak orang bersamamu di jalan penuh terjal
Kau mengeras suara tanpa perhatikan siap-siap.
Akhirnya kau terjelma dalam rupa serigala,
Dia tak mengenal rupanya seperti apa.
Serigala berotot adikuasa, giginya meranggas siap menerkam.

Dengan angkuh, kasut kau tanggalkan di selokan jalan. 
Tanpa cermin kau riaskan wajah bumi dengan tangan ganas
Tak peduli apa-apa.
Kau cenkramkan wajahnya dengan kukuh ganas
tapi pertiwi setia memelukmu,
Dalam untung dan malang.

Kau menengada ke langit,
dengan cekat kau angkat jangkar,
Siap berlayar menerjang ombak lautan lepas.
Matamu nyala membakar langkah laku.

Darah bercucuran mengalir di balik bajunya,
Seketika juga pedang terasah dihempaskannya
Tepat di dadamu yang penuh gelap
Kau pun terlempar di tebing,
tak tahan pada topan dan gelombang.

Di tengah kabut dingin dan gersang,
Sepih tersenyum sinis melihatmu tampak lelah.
Lalu menamparmu hingga jatuh tersungkur.
Tak ada lagi api hangatkan harapan.

Baru kau tahu saat semilir angin memeluk ragamu,
terhanyut sampai ketepihan.
Saat itulah bumi tersenyum sipu
Melihatmu merintih dari cekatan mata sang surya.

Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel