Transitus Fransiskus dan misi perdamaian Fransiskan

Transitus Fransiskus Assisi
Quote Amor - Siapa yang tidak kenal dengan santo Fransiskus dari Assisi. Dia adalah tokoh inspiratif bagi para pejuang dan pencinta perdamaian. Perjumpaannya dengan Sultan Malik al Kamil telah melukiskan sejarah perjuangannya untuk menciptakan perdamaian antara Kristen dan Islam yang pada waktu itu (1219), sedang berperang merebut kekuasaan di wilayah Damietta, Timur Tengah. Fransiskus hadir sebagai pribadi yang sangat berbeda dengan pasukan tentara Kristen. Kalau pasukan tentara Kristen datang dengan perlengkapan perangnya untuk merebut wilayah Damietta yang sedang dikuasa oleh Sultan Malik al Kamil tetapi Fransiskus dengan memakai montol kesederhanaannya, tanpa membawa apa-apa, Dia datang dengan segala kerendahan hatinya, menyapa sultan sebagai saudara. 

Cara berada Fransiskus, yang menyapa Sultan sebagai saudara memberikan kesan tersendiri bagi sultan. Hal tersebut terbukti dari sikap sultan Malik yang mau menerima dan mendengarkan Fransiskus dengan sangat hormat. Thomas dari Celano yang dikutip oleh Paul Moses (2009) dalam bukunya The Life of St. Francis, menulis, "Fransiskus berkhotbah kepada sang sultan, yang sangat tersentuh oleh kata-katanya dan mendengarkan dia dengan sepenuh hati."

Baca juga:
Pengalaman perjumpaan tersebut memberikan pemahaman baru kepada Fransiskus tentang Islam dan juga sebaliknya Sultan mendapatkan gambaran baru tentang orang Kristen, sehingga perjumpaan itu menciptakan hubungan baru sebagai saudara antara Fransiskus dan Sultan. Fransiskus membawa pulang tanduk gading sebagai kenangan dari Sultan. Tanduk gading itu biasanya digunakan oleh muazin untuk menandakan azan. Dan kemudian Fransiskus menggunakan tanduk gading itu untuk memanggil umatnya berdoa. Perjumpaan ini membuka cara berpikir Fransiskus memandang kaum Muslim, yang kemudian tertuang dalam pedoman hidupnya (Anggaran Dasar). Dia menulis secara khusus tentang bagaiman hidup bersama dan berdampingan dengan kaum Muslim. Sedangkan Sultan, sejak saat itu mulai memperlakukan tahanan perang Kristen dengan baik dan murah hati.

800 tahun kemudian Paus Fransiskus melakukan hal yang sama dengan berkunjung ke Uni Emirat Arab pada 3-5 Februari 2019. Paus Fransiskus membawa misi yang sama, misi perdamaian. Hal ini menunjukkan bahwa semangat hidup Fransiskus ini masih relevan dengan kehidupan saat ini. Memang Fransiskus telah pergi, meninggalkan dunia beberapa abad yang lalu tetapi semangatnya akan selalu hidup dan mampu menjawab persoalan-persoalan di setiap zaman

Hal itu terbukti dengan kehadiran para Fransiskan, yang menyebar ke seluruh dunia, hingga sampai di Indonesia. Para Fransiskan mencintai cara Fransiskus mengikuti Yesus yang tersalib. Fransiskus menginggalkan kemapanan hidupnya dan memilih menjadi miskin dan sederhana untuk mewartakan misi keselamatan yang telah ditunjukkan Yesus Kristus dalam seluruh peristiwa hidup-Nya. 

Fransiskus Assisi akhirnya pergi, dengan meninggalkan sejuta kenangan, kenangan akan cinta dan perdamaian. Fransiskus meninggalkan raganya dan kembali kepada Bapa, yang telah mengutusnya, pada sore hari, 3 Oktober 1226 di Assisi, Italia. Perpisahan ini bukanlah sebuah perpisahan yang menyedihkan tetapi sebuah perpisahan yang penuh sukacita, karena bagi Fransiskus kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematiaan adalah satu tahap yang harus dilalui oleh setiap manusia, sehingga Fransiskus menyebut kematian sebagai saudari maut.

Perpisahan itu kemudian dipahami sebagai peristiwa transitus, peristiwa peralihan jiwa bapa serafik dari dunia yang sementara ini ke surga abadi yang penuh dengan sukacita. Transitus sebagai batas akhir dari seluruh proses perjuangannya sebagai pencinta kemiskinan, yang telah mewujudkan Injil secara sempurna di dunia ini. Sekarang dia masuk dalam dunia baru, dunia yang tak kenal ruang dan waktu, dunia yang penuh dengan kebahagiaan.

Fransiskus meninggalkan pesan perdamaian bagi kita

Fransiskus telah sampai di ujung perjalanan hidupnya di dunia. Dengan raganya yang sudah sangat lemah dan tak mampu lagi untuk berdiri, dia mengundang saudara-saudaranya untuk mengelilingi dia dan meminta mereka untuk dinyanyikan Kidung Matahari. Selain itu, Fransiskus juga meminta kepada para saudaranya supaya mereka tetap saling mengasihi satu sama lain. Setelah semuanya itu, Fransiskus pergi menghadap Bapanya di Surga.

Fransiskus pergi dengan penuh sukacita karena dia telah menjalankan tugas perutusannya dengan baik. Dia mengikuti Kristus secara lebih dekat sehingga mendapat anugerah stigmata, lima luka Yesus yang tersalib. Cita-citanya telah terwujud menjadi ksatria, yang pada awalnya ingin menjadi ksatria bangsawan, tetapi oleh Yesus, cita-citanya itu diarahkan menjadi ksatria Allah. 

Fransiskus berani meninggalkan "dirinya" dan mau mengikuti kehendak Tuhan. Sikap keterbukaannya membawa dia menjadi  pembawa misi perdamaian Tuhan kepada orang lain. Namun sebelum membawa misi perdamaian itu kepada orang lain, Fransiskus pada awalnya membawa misi itu untuk dirinya sendiri. Dia bergulat dengan dirinya sendiri, melawan keegoisan dirinya. Hal itu terjadi ketika Fransiskus muda yang masih berambisi menjadi ksatria bangsawan. Hidupnya suka bersenang-senang bersama teman-temannya, berpesta pora dan sangat tidak suka dengan orang kusta. 

Tindakan Fransiskus ini menunjukkan bahwa dia belum mengalami perdamaian dengan dirinya sendiri. Dalam situasi seperti itu, Tuhan hadir membawa perdamaian kepada Fransiskus. Pertama, Tuhan hadir melalui penglihatan dalam mimpi Fransiskus di lemba Spoleto. Tuhan bertanya kepada Fransiskus, apakah Fransiskus memilih melayani hamba atau tuan, dan Fransiskus memilih tuan. Kedua, pengalaman perjumpaan dengan orang kusta. dan ketiga, Fransiskus dipanggil Tuhan untuk memperbaiki Gereja yang hampir roboh di Gereja San Damiano. 

Ketiga pengalama perjumpaan itu menggugah hati dan pikiran Fransiskus sehingga dia mau membuka diri dan menerima Tuhan. Sikap keterbukaan Fransiskus membawanya kepada sebuah pengalaman "transitus," pengalaman transformasi, pengalaman perdamaian dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. 

Melalui pengalaman batin itu mendorong Fransiskus mengorbankan segala sesuatu, meninggalkan keluarganya, kemapanan hidupnya dan memilih menjadi miskin untuk membawa perdamaian yang telah diterimanya dari Tuhan kepada orang lain. Dia tidak peduli dengan apa yang katakan orang tentang dirinya. Fransiskus hanya mendengarkan Tuhan dan melaksanakan perintah-Nya untuk menciptakan perdamaian bagi semua makhluk. Kesetiaannya pada panggilan Tuhan membuat Fransiskus mampu membawa misi perdamaian itu kepada semua makhluk. Kesetiaan Fransiskus akhirnya berpuncak pada peristiwa Stigmata, lima luka Yesus yang tersalib. Karena kesetiaan itu, akhirnya Fransiskus mampu dengan penuh sukacita menyambut saudari maut dan masuk dalam keabadian.  

Misi perdamaian ini kemudian diwariskan kepada para pengikutnya, supaya mereka juga mampu seperti Fransiskus yang membawa perdamaian Tuhan kepada orang lain, dengan melewati beberapa proses, yaitu yang paling utama adalah harus mampu berdamai dengan diri sendiri. Inilah hal yang paling pokok, karena kalau sudah bisa berdamai dengan diri sendiri maka pengalaman perdamaian itu akan mengantarnya pada penyerahan diri kepada Tuhan untuk membawa perdamaian itu kepada orang lain. Dengan demikian, sama seperti Fransiskus akan menyambut kematian dengan penuh sukacita.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel