Seberkas Rindu bagi Sang Ayah

Seberkas Rindu bagi Sang Ayah

Quote Amor - Malam itu, langit tampak kelabu, mentari yang sebelumnya bertengger di atas awan kini menyembunyikan senyumnya di balik bumi. Dalam hinggar bingar kota Jayapura, tampak sosok pria separuh baya dengan tubuh yang berhiaskan debu sedang memikul beberapa sak semen dari mobil truk. Malam ini ia mesti kembali lembur.

Upah harian yang diterimanya pada jam kerja siang nampaknya tidak cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya. Dalam lelahnya ia kembali teringat akan cita-cita putri kecilnya.

Ingin jadi apa kamu kelak?Katanya kepada sang putri kesayangannya.

Jadi suster ayah!jawab anaknya.

 Kenapa mesti suster? Katanya lagi kepada putrinya.

Karena Rita ingin seperti Sr. Yolanda yang selalu memakai baju putih. Bajunya indah dan cantik. Jawab Rita.

“Kalau Indri ingin menjadi Bidan,” sambung putri bungsunya ketika itu. dialog tersebut selalu memberinya seberkas senyum di setiap rasa lelah yang menyelimutinya.

Hari ini, ibu Lisa terlihat rapi, ia mengenakan baju batik terbaik yang dimilikinya, baju itu sudah terlihat lesu. Warnanya sudah memudar, baju batik itu seolah-olah menjadi gambaran peredaran waktu yang begitu cepat.

Ia melihat, raga suaminya yang tegap kini terlihat membungkuk dengan rambut yang sudah memutih, kulit yang hitam legam tak mampu menyembunyikan bahwa di balik senyum bahagia hari ini, pak Ayub telah berjuang begitu gigih untuk menyekolahkan putri-putrinya dalam mengapai mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka ucapkan dari bibir kecilnya.

Suster, ada tamu yang ingin bertemu! Ungkap seorang anak asrama yang memanggil pembinanya. Suster tersebut berjalan cukup cepat menuju ruang tamu. mama! pekik Sr. Rita yang tampak kaget karena ibunya tak memberi kabar bahwa ia akan datang berkunjung.

Suster! Sahut ibu Lisa. Jangan panggil aku Suster, panggil aku Rita, ma! Sambung Sr. Rita yang lebih menyukai jika sang ibu memanggilnya dengan nama kecilnya.

Setelah melepaskan pelukan  rindunya, ibu Lisa segera mengutarakan maksud dari kedatangannya; Mama datang untuk memintamu menghadiri upacara wisuda adikmu Indri. Lantas ayah? Balas Sr. Rita dengan nada penuh cemas.

Ayahmu sedang sakit di rumah. Ia ingin beristirahat dan memintamu untuk menemani ibu”, jelas ibunya dengan terpatah-patah.

 Malam itu rembulan engan  menari memamerkan sinarnya yang gemulai dan para bintang tertidur lelap di kediaman malam. Ibu mengapa, malam ini langit terlihat muram?

Indri melontarkan sebuah pertanyaan yang tidak ditanggapi ibunya. Ibu Lisa terlihat lelah mengikuti acara wisuda yang begitu lama. Setibanya di halaman rumah, Lisa berlari kecil hendak meluapkan perasaan bahagianya dan menceritakan bagaimana ia disanjung karena prestasi akademiknya yang luar biasa.

Tetapi Lisa hanya berjumpa dengan tubuh yang terbujur kaku dengan segurat senyum kedamaian. Ya, pak Ayub telah tiada.

Oleh Agustinus Van Tawa

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel