Menjadikan Pengalaman Orang Lain sebagai Proses Mengenal Diri Sendiri

Mengenal Diri Sendiri
Quote Amor - Setiap hari kita selalu berjumpa dengan berbagai macam peristiwa dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Kita sering kali secara tidak sadar menanggapi atau menilai peristiwa-peristiwa secara subyektif, atau hanya dengan perspektif kita tanpa mengenal apa yang terjadi pada peristiwa tersebut. Misalnya ketika kita menonton pertandingan sepak bola. 

Kita berkomentar banyak dan mempersalahkan seorang pemain yang tidak bisa memanfaatkan peluang di depan gawang lawan untuk mencetak gol. Lalu kita melontarkan berbagai macam istilah yang mengungkapkan kekecewaan kita terhadap pemain tersebut. Atau persoalan lain, ketika kita mengikuti kuliah di kampus, kita seringkali mengungkapkan kekecewaan kita kepada dosen yang mengajar tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan tetapi di sisi lain kita sering kali tidur di kelas ketika kuliah. 

Kita lupa memikirkan bagaimana seorang pemain atau seorang dosen yang sudah kita persalahkan tadi, berjuang dengan sepenuh hati untuk memberikan yang terbaik bagi kita atau orang lain. Dalam hal ini, kita tidak memikirkan bagaimana kita menempatkan diri kita pada posisi orang yang kita persalahkan. Kita hanya tahu mempersalahkan orang lain dan menuntut orang lain supaya dia bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Inilah kecenderungan dari keegoisan kita, yang hanya tahu menuntut dan mempersalahkan orang lain tetapi lupa untuk mengenal diri sendiri.

Persoalan inilah yang dibahas dalam injil Lukas 6: 36-38. Yesus mengingatkan kita supaya kita mampu mengenal diri kita sendiri sehingga kita tidak melemparkan diri kita terlampau jauh, hanya untuk menghakim orang lain tetapi lupa pada diri sendiri. Hal ini juga tidak berarti bahwa kita tidak perlu menilai atau menasihati orang lain. 

Yesus mengajak kita untuk bersiap bijaksana dalam melihat segala peristiwa tersebut supaya peristiwa-peristiwa tersebut memberikan transformasi ke dalam diri kita sehingga kita bisa berkembang menjadi orang yang mampu memancarkan kebaikan kepada orang lain.  Seperti yang dikatakan Yesus tadi dalam injil, apa yang kita berikan kepada orang lain akan terpantul kembali kepada kita. Hal yang sama juga dikatakan dalam bacaan pertama, Daniel 9:4b-10. Setelah mempelajari kitab nabi Yeremia, Daniel menemukan alasan mengapa Allah membuang umat-Nya ke Babel.

Kesadaran itu memukul perasaaannya. Lalu dengan segala kerendahan hati, Daniel berdoa memohon pengampunan Allah terhadap dosa umat-Nya. Di sini Daniel menampilkan suatu sikap kepedulian akan kebutuhan pengampunan saudara sebangsanya dan akan kehendak Allah. Daniel berdoa memohon pengampunan kepada Allah karena dia mencintai bangsanya. Dengan demikian, melalui bacaan-bacaan tadi, kita dipanggil untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi orang lain  dengan sikap dan tutur kata kita yang memancarkan kebaikan Tuhan. 

Kita tidak hanya menghakimi orang lain tetapi seharusnya kesalahan orang lain dipakai sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki diri sendiri sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama.  Semoga kita mampu memaknai setiap peristiwa kehidupan yang kita jumpai setiap untuk membuat diri kita semakin baik.(A/D)
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel