Fenomena Buli: Aksi Manusia yang tidak ingin Memahami tetapi hanya mau dipahami

Frater Berto OFM
Quote Amor - Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia adalah makhluk sosial (homo Socius). Menyadari diri sebagai makhluk sosial dan hidup dalam lingkup sosial, manusia tentu membutuhkan sesamanya. Bahasa menjadi sarana atau alat perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi dan berhubungan dengan sesamanya.  Bahasa terdiri dari bahasa tulisan, lisan dan gerak (isyarat). Oleh karena itu, bahasa menjadi persyarat mutlak agar manusia bisa hidup layak dalam menjalani seluruh dimensi kehidupannya. Melalui bahasa ia mampu mencukupi kebutuhannya dan menjalani kehidupannya.

Umumnya setiap manusia memiliki bahasa tersendiri dalam melakukan interaksi dengan sesamanya. Bahasa dapat melahirkan kesamaan ide, gagasan dan pikiran. Maka tanpa bahasa manusia akan sulit untuk membangun interaksi sosial. Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat interaksi sosial diperlukan agar terjalin suatu komunikasi sosial. Komunikasi sosial merupakan hubungan timbal balik antara dua pihak atau lebih dalam bentuk penyampaian pesan dari satu pihak dan disertai dengan tanggapan atau reaksi dari pihak lain.

Komunikasi sosial ini tentu dibangun karena atas dasar adanya kesamaan bahasa. Bahasa menjadi alat pemersatu dalam membangun interaksi. Bahasa mengandaikan suatu bentuk kenyataan bahwa seorang dianggap ada. Manusia diakui eksistensinya kalau ia mampu mambangun interaksi dengan sesamanya. Bahasa akan berarti dan berguna ketika manusia menggunakannya dengan baik, sehingga baik dan buruknya suatu pergaulan bergantung pada Bahasa.

Namun tak dapat disangkal, bahwa saat ini begitu banyak pergaulan kurang memperhatikan etika berbahasa. Bahasa seakan menjadi momok tersendiri bagi segelintir orang. Bahasa disulap dalam pergaulan menjadi makanan ringan untuk membuli sesama. Ini mengindikasikan bahwa pergaulan tidak sepenuhnya menjamin individu mendapatkan kebahagian dan kebersamaan. Stigma ini muncul tak kala realita yang terjadi menunjukan bahwa bahasa menjadi senjata ampuh bagi sebagian  remaja  untuk dapat membuat sesamanya minder, menyindiri dan menutup diri dalam komunikasi dengan sesamanya.

Ungkapan Thomas Hobbes yang mengatakan manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homili lupus) mungkin menjadi adagium yang dapat disejajarkan dengan aksi membuli. Manusia tidak melihat sesama sebagai manusia  melainkan memandang sesama sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Perilaku buli dalam pergaulan seakan membuat seseorang menyangkal identitasnya sebagai subjek “aku yang lain”. Eksistensinya sebagai sosialita dicabut oleh lingkungan pergaulan.

Melalui sikap mengurung diri, menutup komunikasi sosial dan tidak membangun interaksi adalah bentuk penyangkal identitasinya sebagai sosialita. Tak hanya itu, hemat penulis aksi buli telah berkembang menjadi virus-virus baru yang lahir dari produk-produk bahasa dan merayap dalam pergaulan remaja. Ia seakan membentuk suatu institusi untuk menghakimi dan menjelma menjadi monster yang memilki kuasa untuk mencabut eksistensi seorang individu bahkan dikendali oleh remaja itu sendiri. Lebih dari itu, virus-virus ini seakan mendapat legitimasi dari pergaulan tanpa adanya tameng untuk memfilterisasi akan bahaya yang terjadi.

Tak dapat dipungkiri sebuah pendapat yang mengatakan bahwa probelmatika hidup kaum remaja yang memilki tingkat pergaulan yang sangat luas diakibatkan oleh kebebasan yang merupakan anugrah terindah sang pencipta. Kebebasan sebenarnya harus ditempatkan dalam bingkai tanggung jawab dan bukannya merancang kebebasan itu sebagai bentuk dominasi terhadap sesama.

Telah Kritis Bahasa melahirkan buli dalam pergaulan

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan sebagai pribadi yang sempurna. Kesempurnaannya menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang istimewa. Dikatakan istimewa karena Tuhan telah melekatkan empat unsur dalam diri manusia yakni benda, hidup, naluri, atau yang disebut insting dan akal budi. Unsur terakhir (akal budi) menjadi ciri khas kita sebagai manusia yang kemudian disebut makhluk sempurna. Tuhan menciptakan manusia dengan penuh kesadaran bahwa manusia dapat hidup sesuai gambaran Allah yang selalu mengasih. Gambaran Tuhan yang melekat dalam diri setiap manusia setidaknya mampu diwartakan kepada sesamanya. Paradigma manusia harus berlandaskan akal budi dan hati nurani agar manusia mampu menghargai sesamanya sebagai sesama ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Namun saat ini, realitas menunjukkan bahwa manusia kurang menghargai martabat dan hak-hak yang dimiliki sesamanya, seperti mencuatnya fenomena buli dalam kehidupan manusia. Perilaku buli memang dirasakan sebagai sesuatu yang menyimpang dari tatanan sosial, bahkan menjadi momok tersendiri dalam pergaulan. Kata-kata lebih tajam dari pada pedang! (Peter Tan, Bahasa dan Babilonik. Dalam paradoks Politik”Pertautannya dengan Agama dan Kuasa di Negara Demokrasi.). Ungkapan ini mau mengatakan bahwa kata-kata memiliki kemampuan dan menyimpan kekuatan dahsyat yang cukup intensif. Kata-kata tidak hanya menjembatani perbedaan-perbedaan, menyatuhkan dan merajut kebersamaan.

Lebih dari itu, kata-kata cukup sering membela, menindas dan bahkan melukai. Sebenarnya kata-kata tidak berdosa dalam realitas penggunaanya. Namun manusia yang berkata-kata itulah yang mencemari ketidakberdosaan kata-kata. Melalui pengucapan kata-kata yang bersumber dari manusia sehingga disebut Bahasa. Keberlangsungan relasi dalam pergaulan bergantung pada kata-kata yang diucapkan. Berkaca pada realitas yang terjadi sekarang ini kata-kata disulap menjadi pedang yang dapat menembus dan menerjang segala sesuatu. Ia melahirkan tindakan membuli dalam pergaulan. Manusia merekontruksi Bahasa melalui kata-kata agar terjalin suatu komunikasi. Namun realitas, menunjukkan bahwa bahasa telah bergeser dari sarana komunikasi untuk mencapai pemahaman yang benar kepada sarana penindasan.

Persoalan tentang bagaimana membendung agresivitas perilaku membuli dari penggunaan bahasa dalam pergaulan sebenarnya tak dapat disangkal lagi. Tidak heran bahwa ada begitu banyak kaum muda kita yang membentuk pergaulan cenderung mengundurkan diri atau melepaskan diri karena merasa tertekan ketika membangun suatu relasi dalam situasi kompleks. Orang seperti ini merasa bahwa pergaulan tidak membentukknya menjadi pribadi yang ideal. Suatu realitas yang patut disesali bahwa aksi membuli menelanjangi identitas manusia sebagai makhluk yang terlahir sempurna.

Atribut fisik manusia menjadi bahan ejekan dan cibiran, bahkan menjadi bahan pembicaraan dalam pergaulan. Ia seakan tumbuh dan berkembang dalam kerangka pikiran manusia. Hal yang sangat disayangkan adalah hak-hak hidup yang melekat dalam diri manusia yang ada sejak ia berada dalam kandungan dilucuti dalam pergaulan, bahkan tak sedikitpun melecehkan hak hidup itu  Realitas yang dipaparkan diatas sangatlah menyedihkan baik yang mengalaminya secara langsung atau pun mereka yang melakukannya.

Berbicara tentang aksi membuli ialah suatu realitas nyata yang tak dapat disangkal. Ia semacam suatu konsensus yang direkontruksi dan diamini oleh lingkungan sosial. Kehadirannya bersumber dari manusia yang tidak ingin memahami sesamanya tetapi selalu ingin dipahami oleh sesamanya. Hal ini menimbulkan konflik hak pribadi yang mengakibatkan adanya dominasi terhadap sesama. Oleh karena itu, ia menjadi suatu kebiasaan yang meruskan tatanan hidup bersama.

Namun sangat disayangkan, kebiasaan ini timbul dari generasi muda. Ia selalu membentuk pergaulan dalam realitas kebebasan yang dimiliki. Keadaan ini menunjukkan ada serangkaian kebiasaan yang mendorong orang melalukan hal-hal tertentu atas kehendak bebasnya yang mengakibatkan tumbuhnya suatu realitas baru. Ada satu dimensi lagi yang kadang-kadang tidak terlalu dianggap tetapi sebetulnya cukup penting ialah orang selalu menganggap dirinya sempurna. Realitas ini mengungkapkan suatu relasi relasi yang berkaitan erat antara bahasa dengan kehadiran aksi membuli dalam pergaulan. Secara gamblang dapat dikatakan bahwa nila-nilai luhur yang dibangun dalam kehidupan manusia berangsur pudar akibat serangan virus-virus itu yang terlahir dari generasi muda.

Masa remaja menurut sebagian orang merupakan masa-masa indah untuk bergaul dengan sesama. Masa-masa indah itu pun perlu dilewati dengan sejuta kenangan indah agar kelak tidak muncul sebuah kata penyesalan. Rupanya kaum muda yang hidup di era modern ini telah salah menafsirkan kalimat itu. Kaum remaja mengaktualisasikan dengan kesadaran dalam bentuk kebebasan. Oleh karena itu, ia melakukannya sesuai predikat yang dimilikinya, sehingga bahasa yang sebenarnya perwujudtan komunikasi sosial diintimidasi menjadi suatu komoditi yang telak dijadikan sebagai perwujudan untuk mendominasi yang lain. 

Untuk itu, kita dituntut untuk berbahasa dengan pemahaman. Artinya agar diskursus seputar aksi membuli tidak terus terjadi, rasionalitas pengguna bahasa harus diarahkan kepada tiga kebenaran bahasa, kebenaran pernyataan, ketepatan rumusan tindakan dan ketulusan komunikasi yang dihayati secara subjektif (Peter Tan). Jika prinsip-prinsip itu diwujudkan, maka bahasa bukan saja hanya sebagai sarana pemahaman, tetapi dapat dijadikan sebagai sarana dalam menjembatani perbedaan dan jalan keluar atas berbagai aksi membuli yang telah mengakar.

Oleh

Frater Vredigando Engelberto Namsa OFM
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel