Analisis Wacana: Logis Berwacana dan Santun Bertutur

Foto : Ananlisi Wacana : Logis Berwacana dan Santun Bertutur
Quote Amor - Di tengah maraknya praktik berbahasa yang kerap kurang memperhatikan pedoman-pedoman yang ada, buku Analisis Wacana: Logis Berwacana dan Santun Bertutur, karya Antonius Nesi S. Pd dan Ventianus Sarwoyo S. Pd., M. M, ini berusaha untuk mendokumentasikan praktik berbahasa di dalam surat kabar dengan memusatkan perhatian pada kelogisan dan kesantunan berbahasa.Dua hal itu seringkali kurang mendapat perhatian masyarakat pengguna bahasa, mulai dari para penjual bakso sampai elit politik.

Kelogisan suatu bahasa akan tampak dalam penggunaan penanda-penanda kohesi maupun koherensi dalam sebuah tuturan.Bertolak dari penanda-penanda itu, pengarang buku ini bertujuan untuk memberikan informasi deskriptif tentang tingkat kelogisan dan kesantunan tuturan dalam wacana surat kabar. Pengarang menggunakan empat jenis teori untuk menguraikan kelogisan dan kesantunan wacana dalam surat kabar, yaitu kohesi, koherensi, tindak tutur ilokusi, dan kesantunan berbahasa.

Dalam buku ini secara khususmemaparkan kajian bahasa Indonesia dari sudut pandang pragmatik dengan mengutamakan dua konteks tuturan yang digunakan penutur dan mitra tuturan. Oleh karena itu, ketika seseorang berkomunikasi, hal yang perlu diperhatikan oleh mitra tutur untuk menangkap maksud penutur adalah memperhatikan “apa yang dituturkan” dan “bagaimana cara menuturkannya”. Kedua hal ini menjadikan Komunikasi tidak cukup hanya memperhatikan aspek bahasa secara tekstual tetapi juga harus memperhatikan konteksnya, karena tuturan dapat dipahami secara benar apabila konteks tuturan tidak dipisahkan dengan kata-kata yang diucapkan sebagai wacana yang utuh. Di samping itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesantunan berbahasa untuk menjaga harkat dan martabat diri penutur sebagai manusia berbudaya sehingga mengakibatkan mitra tutur tidak tersinggung perasaannya.

Pengarang buku ini menunjukkaan bahwa masih banyak kegiatan komunikasi yang tidak memperhatikan kelogisan dan kesantunan berbahasa. Keprihatinan itu mendorong pengarang untuk meneliti dan kemudian menulis betapa pentingnya kelogisan dan kesantunan berbahasa supaya tidak menimbulkan multi-tafsir dari mitra tutur.Pengarang membagi tulisannya atas tujuh bab, dengan menggunakan sistem penulisan yang terstruktur. Pada bagian awal, pengarang menguraikan empat jenis teori yang menjadi dasar pemahaman dalam menanalisis kelogisan dan kesantunan berbahasa.

2. Analisis Wacana: Logis Berwacana dan Santun Bertutur

2.1 Logika dan Wacana

Logika merupakan ilmu pengetahunan dan kecakapan untuk berpikir lurus. Dengan pengertian itu, logika senantiasa berhubungan dengan bahasa, karena bahasa merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat.Kajian internal dan eksternal bahasa merupakan alas-pijak bagi pengembangan studi logika karena hukum-hukum logika formal menganut aturan-aturan berpikir lurus yang tersistem menurut hukum-hukum kebahasaan.

Pada umumnya wacana dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok. Pertama, berkenaan dengan sarananya, wacana dapat dibedakan  menjadi dua bagian, yaitu wacana lisan dan wacana tulisan. Kedua, dilihat dari penggunaan, pemaparan, dan tujuannya, wacana mempunyai dua bagian, yaitu wacana prosa dan wacana puisi.Wacana prosa selanjutnya diklasifikasi lagi menjadi lima bagian, yaitu wacana narasi, wacana deskripsi, wacana eksposisi, wacana persuasi, dan wacana argumentas.

Tugas analisis wacana adalah mengkajikan segi internal maupun eksternal wacana. Secara internal, wacana dikaji dari segi jenis, struktur, dan bagian-bagiannya. Secara eksternal, wacana dikaji dari keterkaitannya dengan pembaca, hal yang dibacakan, penulis, hal yang ditulis, dan penulis dengan pembaca.

Dengan demikian, tujuan pengkajiana wacana adalah untuk mengungkapkan kaidah bahasa yang mengkonstruksikan wacana, menghasilkan wacana,pemahaman wacana, dan pelambangan suatu hal dalam wacana, dengan memperhatikan segi internal dan eksternal wacana itu. Struktur analisis wacana dalam Linguistik dapat disusun berdasarkan urutan unsur yang paling besar sampai yang terkecil, yaitu wacana, kalimat, klausa, frasa, kata,  morfem,fonem, dan fona. wacana dalam surat kabar juga pada hakikatnya merupakan hasil tulisan berupa pemerian suatu hal yang membawa amanat secara lengkap.

1.1              Kelogisan dan Kesantunan Berbahasa

Bahasa memiliki bentuk dan makna. Dari segi bentuknya (dalam konteks tata bahasa), fona adalah unsur bahasa yang paling kecil, sedangkan wacana merupakan unsur bahasa yang paling besar. Dari segi makna, fona dan fonem tidak memiliki makna, dan dari morfem sampai wacana adalah unsur-unsur bahasa yang dikatakan telah memiliki makna.

Sejalan dengan bentuk dan makna bahasa, hubungan antarbagianwacana dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kohesi (hubungan bentuk) dan koherensi (hubungan makna). Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa pada umumnya wacana terdiri dari sejumlah kalimat. Setiap kalimat mempunyai korelasi sehingga dalam hubungan itu terjadi kepaduan makna (koherensi).

Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau sarana untuk menyampaikan pesan dan informasi. Salah satu aspek yang sangat penting dalam kegiatan berkomunikasi adalah menjaga kesopansantunan atau keharmonisan antara pembicara dan lawan bicara. Sikap tersebut muncul dari kesadaran untuk menghargai mitra tutur.Cara penuturan juga pada setiap orang itu berbeda-beda, tetapi secara umum dapat ditentukan menjadi dua yaitu penuturan secara tidak lansung dan penuturan secara langsung. Sikap sopan santun dalam berbahasa mempunyai hubungan yang sangat erat dengan fungsi bahasa sebagai alat pemersatu.

2.2 Kohesi: Peranti Antarunsur yang Terimplisit

Kohesi merupakan pertalian antarunsur dalam srtukutr sintaksis yang dinyatakan secara eksplisit berupa unsur lingual tertentu. Dengan demikian, dalam analisis wacana bahasa Indonesia, kohesi terdiri dari kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal adalah kohesi yang disebabkan oleh  adanya unsur-unsur bahasa yang secara gramatikal memiliki pertalian makna.

Kohesi gramatikal terdiri dari referensi yaitu satuan kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang menunjukkan satuan lingual lain, yang mendahului atau mengikutinya. Referensi dapat dibagi menjadi dua, yaitu eksofora (situasional) dan endoforal (tekstual). Kedua, substitusi merupakan gramatikal yang perupa penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain. Substitusi dapat berfungsi untuk menghindari kemonotonan sebuah wacana. Ketiga, penghilanganmerupakan gramatikal pelesapan unsur tertentu yang telah disebutkan. Penghilangan secara gramatikal dekat dengan substitusi kosong. Ketiga, konjungsi  adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain.

Kohesi leksikal adalah hubungan yang disebabkan oleh adanya kata-kata yang secara leksikal memiliki pertalian. Ada lima jenis kohesi leksikal untuk mewujudkan keutuhan suatu wacana. Pertama, pengulangan merupakan penyebutan kembali suatu unsur leksikal yang sama seperti yang telah disebut sebelumnya. Kedua, sinonimi berkaitan dengan penggunaan bentuk bahasa yang maknanya sama atau mirip dengan bentuk lain. Ketiga, antonimi merupakan kohesi leksikal yang terdapat pada dua unsur lingual atau lebih yang memiliki makna berlawanan. Keempat, hiponimi merupakan peranti kohesi leksikal yang makna kata-katanya bagian dari makna kata yang lain. Kelima, ekuvalensi ialah jenis kohesi leksikal yang berupa jumlah kata sebagai hasil proses afiksasi dengan morfem asal yang sama.

2.3 Koherensi: Peranti Antarunsur yang Terimplisit

Berdasarkan keterkaitan sematis antara bagian-bagian wacana, koherensi terdiri atas dua bagian, yaitu pertama, koherensi berpenanda ialah eterkaitan sematis antara baian-bagian wacana yang pengungkapannya ditandai dengan konjungsi. Koherensi berpenanda dibagi lagi menjadi tujuh. Pertama, koherensi temporal yaitu koherensi yang menyatakan hubungan makna waktu antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. kedua, koherensi intensitas yaitu koherensi yang meyatakan hubungan sesungguhnya yang terdapat dalam sjumlah penanda dalam fungsinya sebagai penghubung antara kalimat satu dengan kalimat yang lain. ketiga, koherensi kausalitas yaitu koherensi yang menyatakan hubungan sebab akibat antara kalimat satu dengan kalimat yang lain. keempat, koherensi kontras yaitu koherensi yang menyatakan pertentangan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. kelima, koherensi aditif yaitu koherensi yang menyatakan makna penambahan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, yang ditandai konjungsi tertentu. Keenem, koherensi kronologis koherensi yang menyatakan hubungan rankaian waktu.

Koherensi yang kedua adalah koherensi yang tidak berpenanda. Koherensi ini hanya terdiri dari dua bagian, yaitu pertama koheensi perincian dan koherensi perian. Koherensi princian adalah koherensi yang mengatakan makna rincian penjelasan sesuatu hal secara sistematis. Koherensi perian adalah koherensi yang berkaitan dengan hubungan makna yang menyatakan pendeskripsian suatu hal secara jelas. Kedua, koherensi wacana dialog adalah koherensi yang didominasi oleh adanya stimulus respon.

2.4 Tindak Tutur Ilokusi

Tindakan ilokusi adalah tindakan melakukan sesuatu seperti berbicara mengenai fungsi, fungsi atau daya suatu ujaran dan bertanya. Funsi-fungsi ilokusi dapat diklasifikasi menjadi empat jenis berdasarkan hubungannya dengan tujuan-tujuan social perupa pemeliharaan perilaku yang sopan dan terhormat. Keempat tindakan ilokusi tersebut adalah kompotitif, menyenangkan, berkerjasama, dan bertentangan. Alat penunjuk tekanan ilokus ialah jenis ungkapan yang di dalamnya terdapat suatu celah untuk sebuah kata kerja yang secara eksplisit menyebutkan tindakan ilokusi yang sedang ditunjukkan.

Berdasarkan hasil analisis terhadap data-data yang ada, ditemukan empat jenis tindakan ilokusi yang muncul di dalam surat kabar. Keempat tindakan lokusi itu adalah pertama, direktif yaitu tindakan ujar yang dilakukan penutur dengan maksud supaya penutur melakukan tindakan yang disebut dalam ujaran itu. kedua, representatif merupakan tindakan penutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas apa yang dikatakan. Ketiga. Komisif yaitu tindakan ujaran yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebut di dalam ujarannya. Keempat, ekspresif yakni tindakan ujaran yang dilakuakn dengan maksud supaya ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam ujaran itu.

2.5 Kesantunan Berbahasa

Secara garis besar teori sopan santun berbahasa mencakup tiga hal, yaitu pertama,  jenis tindak tutur yang mengandung sopan santun. Hal ini berdasarkan pembagian tutur menurut fungsi. Kedua, skala kesopanan tutur. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan hal ini yaitu skala untung-rugi, skala pilihan, skala ketaklansungan, skala keotoritasan, dan skala jarak sosial. Ketiga, prinsip kesopanan.

Berdasarkan hasil penelitian, kesantunan berbahasa mempunyai tingkatan, yaitu analogi, diksi atau pilihan kata, penggunaan gaya bahasa (perumpamaan, metafora, hiperbola, eufemisme), penggunaan keterangan (kata) modalitas, menyebut subjek yang menjadi tujuan tuuran, dan bentuk tuturan.Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan manusia selalu mengandung maksud tertentu.Oleh karena itu, tuturan-tuturan harus memperhatikan pemakaian atau pemilihan kata-kata yang maknanya lebih halus, sopan, dan netral.

3. Penutup

Buku ini merupakan hasil kajian mengenai penggunaan bahasa dalam beberapa surat kabar.Pengarang buku ini memperhatikan secara khusus kesantunan bertutur. Hal tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap pengguna bahasa yang kurang memperhatikan kelogisan dan kesantuan dalam penggunaan bahasa. Meskipun, kajian kesantuan yang dibahas dalam buku ini belum mencapai kesempuranan tetapi setidaknya buku ini telah menunjukkan kemajuan dengan memberi kesadaran baru kepada semua pengguna bahasa Indonesia. Dalam kajian pragmatik model lama, krtiteria kesantunannya hanya dilihat dari aspek “tidak tersinggungnya mitra tutur”. Kajian pragmatik model baru sudah maju selangkah yaitu krtiteria kesantunan harus melibatkan aspek penutur. Artinya bahwa berkomunikasi secara santun bukan sekedar supaya mitra tutur tidak tersinggung perasaannya, tetapi karena penutur ingin menjaga harkat dan martabatnya.

Di samping itu, kelogisan dan kesantunan acap kali diabaikan dalam berbagai ajang penulisan, entah penulisan jurnalistik maupun ilmiah. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok digunakan oleh para pencinta kebahasaan untuk menghadirkan inspirasi praktik kebahasaan. Namun tidak menutup kemungkinan, buku ini juga dapat digunakan oleh masyarakat umum supaya senantiasa berwacana secara logis dan santun.

Di akhir ini, penulis hendak menyampaikan juga bahwa buku akan digunakan sebagai referensi utama dalam tulisan akhir semester.  Penulis akan mengambil dua pokok pembahasan dalam buku ini untuk menjadi referensi utama dalam menyelsaikan tugas akhir semester. Dua pokok pembahasan itu adalah “kelogisan dan kesantunan berbahasa” dan “kesantunan berbahasa”.

Oleh Albertus Dino

Daftar Pustaka

Nesi, Antonius, S. Pd dan  Ventianus Sarwoyo, S. Pd., M. M. Analisis Wacana: Logis Berwacana dan Santun Bertutur. Ende: Nusa Indah, 2012

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel