Mempertanyakan Iman sebagai Dasar untuk Percaya

Ilustrasi penghayatan iman
Quote Amor - Apakah Anda salah satu orang yang suka berbicara tentang iman? Atau pernahkan Anda mempertanyakan iman Anda? Kalau Anda belum pernah mempertanyakan iman berarti Anda belum memiliki kesadaran iman yang benar. Orang yang beriman pada dasarnya adalah orang yang sudah melewati proses kesadaran melalui pertanyaan-pertanyaan yang dibuatnya sendiri untuk mempertanyakan kenapa dirinya beriman kepada Tuhan. 

Dalam banyak peristiwa, ditemukan bahwa ada orang bersikap arogan ketika ditanya tentang imannya. Kenapa kamu beriman kepada Tuhan? Jawaban yang sering kali diucapkan adalah persoalan iman adalah persoalan pribadi sehingga tidak perlu ditanyakan. Atau ada orang yang terpaksa beriman (baca beragama) karena takut dengan mayoitas atau karena diwariskan orang tua. Orang seperti inilah yang disebut sebagai orang yang beragama KTP, artinya agama hanya digunakan untuk kepentingan administratif. Tidak punya dasar untuk beriman, atau beragama karena melihat orang.

Baca juga:
Melalui realita seperti itu, saya ingin membagikan pemahaman saya tentang apa yang seharusnya kita miliki dan kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang beriman yang memiliki pemahaman dan kesadaran beriman yang benar. Tentu disini tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi orang supaya orang tersebut mengikuti keyakinan kita. Tetapi dengan memiliki pemahaman yang benar, kita mampu menjawab pertanyaan orang. Karena menurut saya orang beriman adalah orang yang mempunyai alasan untuk beriman dan mengungkapkannya dalam sikap dan tindakan kepada orang lain, sehingga kehadirannya bisa menuntun orang kepada pengalaman iman. Dengan kesadaran itu, saya ingin membagikan sedikit pengetahuan saya tentang iman yang saya hayati

Memahami Iman secara benar

Iman katolik, pada dasarnya, bersumber pada Tradisi, Kitab Suci dan Magisterium (kuasa mengajar Gereja). Ketiga sumber ini menjadi pegangan dalam iman Katolik. Namun Apa sebenarnya iman itu? Iman merupakan tanggapan manusia terhadap pernyataan diri Allah, atau jawaban manusia terhadap pernyataan diri Allah.

Dalam iman Katolik, Allah telah menyatakan dirinya kepada manusia melalui sejarah, sejak penciptaan dan berpuncak pada peristiwa Yesus Kristus (mulai dari kedatangan-Nya ke dunia sampai pada kebangitan-Nya). Namun apakah iman itu hanya sebagai tanggapan manusia saja, jawabanya tentu tidak karena iman katolik dipahami sebagai hasil dari kerjasama antara Allah yang mengatakan diri-Nya dan juga tanggapan manusia, yang menerima pewahyuan itu. Tidak ada iman tanpa peristiwa pernyataan diri Allah (pewahyuan) dan juga sebaliknya. 

Lalu bagaimana kita memahami iman katolik itu? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu siapa pelaku (subyek) iman itu? Di sini Allah dan manusia sekaligus sebagai subjek dalam tindakan iman. Memang benar, iman hanya mungkin terjadi berkat inisiatif Allah yang menganugerahkan Wahyu, tetapi tujuan wahyu benar-benar tercapai apabila manusia sampai pada ketaatan iman (Rom 16:26).

Di sini manusia sebagai subjek beriman dengan cara menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah, dan dengan sukarela menerima wahyu sebagai kebenaran yang dianugerahkan kepadanya (DV 5).

Ketaatan iman manusia atas wahyu Allah mesti menyertakan di dalamnya penghayatan, pengertian, sekaligus pemahaman. Penghayatan dicapai ketika manusia berbalik dari hidupnya yang berdosa menuju penyerahan diri kepada Allah. Namun pemahaman akan kebenaran iman dimungkinkan apabila manusia berusaha mengerti dengan akal budi.

Mengingat Allah juga subjek dari iman, maka tanggapan iman bukan semata-mata upaya manusiawi, melainkan iman itu terealisasi berkat bantuan Allah. Hal tersebut terjadi melalui rahmat Allah yang mendahului tanggapan manusia.

Selain itu, Roh Kudus membantu di dalam batin manusia dengan cara menggerakan hati, membalikan manusia dari dosa menuju Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan rasa manis pada semua orang dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran. Agar pengertian manusia akan wahyu semakin mendalam, Roh Kudus menyempurnakan iman melalui karunia-karunianya.

Dengan demikian hal tersebut ditunjukkan, usaha manusia untuk menghayati, mengerti (memikirkan, dan akhirnya memahami kebenaran iman dapat terealisasi berkat bantuan ilahi (DV 5).

Tujuan Beriman

Kita mungkin bertanya, apa sebenarnya tujuan iman itu? kenapa kita harus beriman? Kenapa kita harus mengetahui tujuan iman itu? Pertanyaan-pertanyaan ini harus ada dalam pikirian kita. Karena dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita mempunyai alasan untuk beriman, tidak sekedar beriman. Dengan alasan tersebut, kita bisa memaknai setiap pengalaman hidup sebagai bagian dari perjalanan iman kita.

Tujuan iman itu sesungguhnya adalah hubungan antara pribadi Allah dengan manusia. Namun tujuan itu berlangsung dalam proses yang dinamis. Artinya tidak sekali jadi dan terus-menerus di sepanjang hidup manusia.

Baca juga:
Manusia mesti mengevaluasi secara kritis hidupnya, melakukan pertobatan, teruji setia dalam setiap cobaan, dan berbuah dalam perbuatan sebagai ungkapan imannya akan Allah. Namun perlu dipahami Allah juga senantiasa membantu manusia dalam setiap proses upayanya untuk beriman. Iman selalu menyertakan di dalamnya inisiatif dan tindakan Allah sekaligus upaya manusia.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel