Cipi yang sulit terlupa, serentak selalu dikenang

Ilustrasi keadaan kampung Cipi
Quote Amor - Ada ketakutan saat kabar bernarasi miris. Ada kegelisahan saat rasa tak selalu mendapat tempat. Lalu, ada kerinduan saat waktu terlalu lama untuk kembali bahkan untuk bertemu. Tentang ada ini, itu adalah kepingan cerita dari seseorang yang selalu ingat akan rumah yang telah merawatnya. 

Cipi, rumah yang selalu menawarkan ada adalah sebuah kampung yang tak peduli untuk dikenal, ia tak mau mengenal apalagi mau terkenal. Dengan ada saja, itu telah menunjukkan kampung ini patut diingat lalu dijaga. Ia tetap ada.

Tak Dikenal?

Tentang kampung ini, tak banyak orang yang mengenalnya. Beberapa kali, saat saya berjumpa dengan orang-orang baru, lalu berusaha memperkenalkan kampung ini, orang-orang pun selalu berkata, “kami tak mengenal kampung itu’’ bahkan ada pula yang mengatakan kami baru mendengar nama dan tentang kampung ini. 

Mendengar jawaban seperti itu, timbul rasa malu tentang kampung ini. Bahkan keadaan itu berujung pada rasa tak percaya diri ketika berjumpa dengan orang baru dan memperkenalkan nama kampung ini. Tak dikenal? Yah, barangkali karena orang-orang yang berada di dalamnya tak pernah memperkenalkan kampung ini. Barangkali juga ada orang-orang yang berusaha memperkenalkan kampung terdekat yang lebih dikenal dengan tujuan supaya pribadinya cepat terkenal. 

Dengan kata lain, untuk memudahkan orang dikenal cepat, orang lalu menghindari nama kampung asalnya, serentak terus menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Semua ini adalah dugaan saya. Karena itu, kebenarannya belum pasti. Mudah-mudahan Anda tak pernah melakukannya. 

Namun terlepas dari orang mengenal dan tak mengenal kampung ini, saya tetap meyakini Cipi adalah rumah yang selalu menawarkan ada untuk saya, mungkin juga untuk saudara dan saudari saya yang saat ini berada jauh dari tempat ini. Sekali lagi, Cipi selalu menawarkan ada untuk orang-orang yang telah memulai dan berjuang di tempat ini. 

Daerah di lereng bukit

Secara administratif, kampung ini terletak di Desa Bere, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. Kampung ini begitu menarik untuk orang-orang yang ingin mengenalnya lebih mendalam.  Menarik karena kampung ini berada di lereng bukit.  Pemandangannya begitu indah. Saat berada di kampung ini, kita seolah berada di atas sebuah puncak gunung. Kita bisa menyaksikan daerah-daerah sekitar kampung ini. 

Meskipun di lereng bukit, di Cipi juga terdapat lapangan yang cukup luas, tempat orang-orang bermain, berkumpul untuk melaksanakan upacara adat ataupun juga menjemur hasil-hasil panen, seperti Kopi, Kemiri atau hasil panen lainnya. Lapangan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri, karena pada moment tertentu biasanya diadakan pertandingan anak-anak, remaja, ataupun orang dewasa dari berbagai kampung sekitarnya.

Dari segi pembangunan, kampung ini juga cukup terbilang maju karena saat ini akses jalannya lumayan bagus. Seluruh warga pun tak merasa kesulitan untuk sampai ke tempat ini bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, tetap saja membutuhkan nyali yang lebih bagi seorang pemula bila hendak ke tempat ini. Anda membayangkan saja saat Anda mendaki sebuah gunung yang tinggi. 

Walaupun harus membutuhkan nyali yang lebih untuk sampai ke kampung ini, kampung ini tetap memberikan kenyamaan bahkan daya tariknya yang “aduhai”. Semacam oase, kita bisa menimba banyak hal baru di tempat ini. Di Cipi, saya pun menjamin, kita pasti merasa bebas, lega, dan serentak memanjakan mata, karena kita bisa melihat daerah-daerah lain termasuk kota Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. 

Selain itu, Cipi juga amat sejuk. Daerahnya amat tenang. Kita tak akan pernah mendengar bunyi kendaraan, atau merasa terganggu karena polusi. Kita hanya mendengar suara manusia, suara hewan ataupun suara binatang. Langit seolah begitu dekat. Bintang-bintang seakan bisa dipegang. Kita juga bisa meyaksikan bagaimana ranting-ranting pohon yang besar, bunga dan tanaman-tanaman bergoyang saat semburan angin menaungi daerah ini. Sungguh indah. Udara begitu segar. Air sangat jernih. Bahkan tanpa dimasak hingga mendidih sampai 100%, airnya bisa kita nikmati secara langsung.

Untuknya, pasti selalu dikenang

Bagi orang-orang yang pernah dibesarkan di kampung  ini, saya yakin kita semua sulit melupakan cerita manis di kampung ini. Gotong royong, berbagi kasih, sukacita, kegetiran, kesusahan baik yang dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa adalah cerita-cerita yang sulit dilupakan. Ada canda tawa yang selalu menghibur. Ada pula cacian yang berujung permusuhan. Bahkan ada pula perkelahian. Namun  itu semua tetap sampai pada ujungnya.

Damai adalah ujung dari segala kejadian yang pernah dialami di tempat ini. Banyak orang menginginkan sebuah kehidupan yang ideal dan penuh damai. Tetapi, tak sedikit pula yang setiap saat beradu mulut. Itu nyata dalam kehidupan anak-anak maupun remaja yang sedang mencari jati diri. Dalam bahasa saya, kala itu orang-orang sedang mencari siapa yang paling “jago”. 

Olahraga sepak bola “plastik” adalah momen yang indah bagi anak-anak untuk menanamkan benih dan menunjukkan kebolehan, siapa yang paling "jago" di antara sahabat-sahabatnya. Karena itu, adu mulut, adu tangan yang berujung pada permusuhan selalu mewarnai olahraga anak-anak. Akan tetapi, semua ini hanyalah peristiwa sesaat. Orang-orang selalu kembali pada hakikat kebersamaannya yakni berdamai. 

Peristiwa- peristiwa ini setidaknya dikenang bagi orang-orang yang pernah dibesarkan di tempat ini agar selalu sadar dan ingat bahwa semuanya pernah dimulai dari sini. Tak peduli orang mengenal atau tidak. Tetapi, Cipi tetap ada. Selalu melahirkan orang-orang yang mau berjuang meraih mimpi. Apabila harus mendaki setiap hari untuk mencapai kampung ini, biarlah hal itu menjadi daya juang yang terus terukir setiap saat. 

Oleh : Simon Lebo
Mahasiswa STF Driyarkara 
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel