Mia, Wajahnya Diam

Mia, Wajahnya Diam
Kamar itu tanpa suara,
Hanya kasih sejoli tanpa rupanya sebelah
Masuklah Mia, wajahnya diam, 
nyerinya garamkan hati.

Dia berjalan menuju buku-buku di rak
diambilnya kisah Romeu dan Juliet
yang telah kusam rayap, tangan hampa.

Ruang sepi itu tanpa sang kekasih.
Dinding-dinding tembok terbalutkan 
Pilunya dari sejuta mata di luar sana.
Wajahnya goreskan luka pada mata
Yang kian meredup ditelan waktu.

Ia duduk pada kursi kuda di dekat jendela.
Di luar sana, dunia mengecam jahanamnya waktu.
Langit berkabung bersama kabut mengutuk sang takdir.
“Kenapa musim semi diciptakan,
kalau hanya ditemani sepi?”

Bulan sabit berkelabu menanti waktu,
Sejenak mengintipnya di cela-cela tirai cendela.
Dia menangis semalaman menanti
Angan-angan yang tertinggal waktu.

Kelabu telah merampas cinta ke dalam gelapnya malam.
Bersama waktu yang mengisap darahnya,
Sisakan ampas dalam kenangan.

Akankah waktu membawanya pada rindu sang rembulan?
Senja menutup pintu,
Menjemputnya dalam kamar yang  tergores luka.

(Di Bilik Kamar 04, 9/8/2019)

Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel