Kontroversi keberadaan Yesus di Himalaya

Ilustrasi keberadaan Yesus di Himalaya
Quote Amor - Sejak awal berkembangnya agama Kristiani, telah muncul banyak pertentangan dan ajaran-ajaran yang keliru mengenai Yesus Kristus seperti Arianisme, Nestorian hingga Monofisitme. Pada masa ketika Gereja memiliki legitimasi kekuasaan dari kekaisaran Romawi, ajaran-ajaran bidaah tersebut dapat dipatahkan melalui konsili-konsili yang diselenggarakan oleh kaisar Romawi seperti Konstantinus Agung, Teodosius, dan Yustinianus. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kemunculan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Gereja berkaitan dengan Yesus Kristus tetap tidak dapat dihindari.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, muncul buku dan film yang berusaha mengungkap sisi lain dari kehidupan dan pelayanan Yesus bahkan tidak jarang menggugat-Nya. Mulai dari buku fenomenal The Da Vinci Code karya Dan Brown yang mengisahkan pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena hingga film “The Lost Tomb of Jesus” karya James Cameron yang mengungkap makam keluarga Yesus. Sebelum munculnya film “The Lost Tomb of Jesus” dan novel The Da Vinci Code, Discovery Channel telah memproduksi film dokumenter yang berjudul “Jesus in the Himalayas”. Tulisan ini hendak mengulas tentang masalah pokok dalam film “Jesus in the Himalayas”, pro dan kontra yang muncul, dan signikansi riset dalam pembelajaran sejarah agama Kristiani.

Perjalanan Dr. Jeff Salz Mencari Jejak Yesus di India

Film dokumenter “Jesus in the Himalayas” secara garis besar hendak mengungkap bukti-bukti mengenai keberadaan Yesus di Himalaya yang seringkali disebut sebagai rumah para dewa, dimana mitos dan kenyataan bertemu. Film ini memberikan suatu hipotesa tentang keberadaan makam Yesus di Kashmir, dan kemungkinan Yesus datang ke India sebelum dan sesudah disalibkan. Dr. Jeff Salz, seorang antropolog, yang memandu film “Jesus in the Himalayas” memberikan sebuah hipotesa,”Mengapa Yesus setelah disalibkan pergi ke India? Mungkinkah Dia pergi ke India karena sebelumnya pernah pergi ke sana?” tuturnya.

Dalam film ini, Dr. Jeff Salz hendak membuktikan kebenaran dari hipotesa tersebut dengan mengunjungi tempat-tempat dimana legenda dan naskah kuno tentang keberadaan Yesus ditemukan. Jeff mengunjungi Kashmir, ibukota Srinagar yang diyakini terdapat makam Yesus Kristus. Hipotesa ini didasarkan pada naskah kuno yang ditemukan di St. James pada tahun 1857 yang memberi keterangan bahwa Yesus selamat dari salib dan pergi ke India lalu wafat di Kashmir.

Baca juga Polemik Trinitas dan Ketuhanan Yesus dalam Islam

Jeff mencari keterangan dari Prof. Haji Fida Mohammad Khan Hassnain, Kepala Badan Arsip Kashmir yang pernah meneliti makam tersebut pada tahun 1975. Prof. Fida Hassnain mengatakan bahwa pintu masuk ke makam tersebut terdapat dua jalan yakni lantai 1 yang menghadap ke utara dan selatan, dan tingkat bawah yang menghadap ke Barat dan Timur. Prof. Fida Hassnain juga bercerita bahwa ia menemukan banyak rosario dan salib di sekitar makam. Namun yang paling mencengangkan adalah penemuan pahatan batu berupa cetakan kaki yang ada bekas lukanya. Kemungkinan besar pahatan batu yang berasal dari abad 1 tersebut adalah hasil karya seniman yang melihat Yesus.

Hipotesa mengenai keberadaan Yesus di India juga didasarkan dari para Lama yang mengatakan bahwa di dalam Budhisme diceritakan mengenai tokoh Issa yang kemungkinan besar adalah Yesus. Selain dari Budhisme, ada pula bukti mengenai tokoh Issa di dalam naskah Hindu Bavashya Maha Purana dari abad I. Sumber ini menyebutkan adanya dialektika antara Raja Shelawahin dan seorang kudus yang disebut Issa.

“Dalam suatu buku berbahasa Sanskrit Bhavishya Maha Purana yang ditulis oleh Suta pada tahun 3191 Laukia atau 115 Masehi, diceritakan pertemuan Raja Shelawahin (tahun 78 Masehi) dengan Nabi Isa di Wien (kira-kira 15 km dari Srinagar), dan dikatakan: Di negeri itu ia (Shelawahin) menampak di Wien seorang yang kelihatannya sebagai seorang Raja Saka, yang berkulit putih dan berbaju putih. Dia (Shelawahin) bertanya siapa ia. Jawabnya ialah bahwa ia Yusashaphat (Yus Asaf) dan dilahirkan oleh seorang dara dan (karena Shelawahin tercengang) ia berkata bahwa ia mengatakan yang sebenarnya dan ia berkewajiban membersihkan agama. Raja itu bertanya apa agamanya… Ia menjawab: Agamaku untuk (menimbulkan) cinta, kebenaran dan kesucian dalam hati dan karena itu saya disebutkan ISA MASIH. Raja itu pergi setelah memberikan penghormatan kepadanya…(hlm. 282, parwa [bagian] II, shalok [ayat] 9-31, dari terjemahan Inggris oleh Dr. Widyavaridi Shiv Nath Shastri)” (Herlianto M.Th, Ir 2008, 199).

Adanya hipotesa mengenai pertemuan Yesus dengan Budhisme didasarkan pada kemiripan ajaran Yesus dan Buddha tentang kasih, kelemahlembutan, hingga pengampunan. Hal ini coba dibuktikan oleh Jeff Salz dengan mengunjungi Gompa Karsha, tempat puja (doa) para Biksu yang diyakini berusia 2.000 tahun. Ketika melihat puja para biksu, ternyata terdapat kemiripan antara puja dengan misa Katolik seperti lonceng, musik, kidung hingga pemimpin ibadah yang hidup selibat. Hal menarik lainnya yang ditemui oleh Jeff adalah Mala (Buddha) dan Rosario (Katolik) yang jika dilihat ternyata mempunyai jumlah butiran yang sama yakni 108 butir.

Dalam perjalanannya, Jeff Salz melintasi Ladakh, suatu lokasi dimana diyakini pernah dilalui oleh Yesus. Jeff  lalu bertanya pada peramal Sabu, pengikut Lama, yang dikenal dapat memberikan jawaban bahkan kesembuhan. Ketika ditanya apakah Yesus pernah melintasi Ladakh, Sabu mengatakan bahwa Yesus memang pernah melewati Ladakh. Usai mendengar jawaban dari Sabu, Jeff menyimpulkan bahwa perkataan Sabu ini sulit untuk dipercaya, tetapi juga sulit untuk tidak dipercaya sebab sudah banyak orang yang datang kepadanya dan memperoleh kepastian jawaban dan kesembuhan. Jeff juga mendengar tentang legenda di Leh yang mengatakan bahwa Issa pernah melewati Leh dan berkhotbah di bawah pohon yang diperkirakan berusia 2.000 tahun kepada orang-orang di sana mengenai hidup dan cinta.

Jeff Salz mendapat informasi bahwa keterangan mengenai keberadaan Yesus di India terdapat dalam gulungan kuno St. Issa yang ditemukan di Biara Himis, dekat Leh, ibukota Ladakh, perbatasan India–Tibet. Gulungan tersebut ditulis ulang oleh seorang wartawan perang dari Rusia bernama Nicolas Notovitch melalui bantuan penterjemah. Gulungan yang kini dikenal sebagai gulungan Notovitch tersebut menggambarkan kisah hidup St. Issa (Yesus) yang meninggalkan negerinya pada usia 13 tahun lalu mengikuti para pedagang menuju negeri India dan Himalaya lalu belajar Budhisme.

Ketika mengunjungi biara Himis, Jeff sempat bertanya kepada para biksu mengenai St. Issa dan gulungan naskah kuno yang disalin oleh Notovitch. Namun ternyata gulungan tersebut berada di dalam suatu ruangan rahasia yang kuncinya dibawa oleh Lama yang datang ke biara Himis 5-6 tahun sekali. Jeff pun tidak memperoleh kebenaran bukti mengenai kisah St. Issa yang ditulis oleh Notovitch. Namun, Jeff menegaskan bahwa gulungan St. Issa yang kemudian dikenal sebagai gulungan Notovitch tersebut dapat mengubah cara pandang dunia terhadap sejarah Agama Kristiani. Berikut adalah kutipan kisah St. Issa dalam gulungan Notovitch:

“Seorang bayi ilahi dilahirkan jauh di Israel, dan diberikan nama Issa. Pada suatu waktu dalam empat belas tahun kehidupannya, anak laki-laki itu tiba di wilayah Sindh (Indus) ditemani oleh para pedagang. ‘Dan ia menetap di antara kaum Aria, di tanah yang dicintai Tuhan, dengan maksud untuk menyempurnakan dirinya sendiri dan mempelajari hukum-hukum Buddha yang agung’. Issa muda meneruskan perjalanan melalui negeri lima sungai (Punjab), menetap sementara para ‘Jain yang delusif’, dan kemudian melanjutkan ke Jagannath, ‘para pendeta Brahma berjubah putih melakukan penyambutan dengan penuh sukacita’. Disana Issa (Yesus) belajar untuk membaca dan mengartikan Veda, dan akhirnya Ia memerintah kasta yang lebih rendah, Sudra” (Herlianto M.Th, Ir 2008, 200).

Pendukung Keberadaan Yesus di India

Sebuah hipotesa pastilah melahirkan pro dan kontra sampai kebenarannya terungkap dan menghasilkan sebuah konklusi. Pencarian Dr. Jeff Salz mengenai keberadaan Yesus di India setidaknya didukung oleh beberapa tokoh yang bersikap pro terhadap kemungkinan Yesus pergi ke India dan dimakamkan di sana.

Prof. Fida Hassnain, yang menjadi salah satu narasumber dalam film “Jesus in the Himalayas”, telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari teks-teks dan tradisi mengenai keberadaan Yesus dan makam-Nya di Kashmir. Salah satu buku yang ditulis Prof. Fida Hassnain adalah A Search for the Historical Jesus yang menceritakan tentang Yuzu Asaph atau Yesus yang datang ke Kashmir 2.000 tahun yang lalu. Di dalam dokumen-dokumen penting lainnya dan didasarkan pada pekerjaannya dalam bidang sejarah Kashmir, Prof. Fida Hassnain menyebutkan tiga kesimpulan. Pertama, Yuzu Asaph adalah Issa dalam Muslim dan Yesus dalam Kristen. Kedua,Yuzu Asaph datang dari Palestina ke Kashmir selama masa pemerintahan Raja Gopadatta (49-109). Ketiga, Yuzu adalah nabi dari Israel.

Kesimpulan dari Prof. Fida Hassnain mengenai keberadaan Yesus di Kashmir didukung oleh Anand Krisna, seorang guru spiritual, yang pernah mempelajari buku-buku Prof. Fida Hassnain. Anand Krisna dalam bukunya Christ of Kashmiris mengatakan:

“The people of Kashmir believe as I would later read in ‘A search for the Historical Jesus’, a fine book written by Professor Fida Hassnain, once the Director of Archeology in the State of Jammu and Kashmir –that ‘a prophet, Yuzu Asaph, came to the valley of Kashmir, two thousand years ago, from Egypt. He preached the same parables of Jesus…” (Krisna, Anand 2008,31).

Selain dari buku-buku Prof. Fida Hassnain, Anand Krisna juga menemukan beberapa naskah yang menceritakan tentang Yuzu Asaph atau Yesus antara lain Kamal-ud-Din atau Kashful Hairat karya Al Shaikh Said-us-Sadiq, Rajatarangini karya sejarawan Kalahana sekitar tahun 1148, dan Tarikh-i-Kashmir karya Mulla Nadri pada tahun 1420. Anand Krisna juga mengutip Bhavishya Maha Purana yang disinggung dalam film, lalu naskah kuno China yang diterjemahkan dalam bahasa Tibet, The Grub-Tha-Thamas-Chad, dan naskah tulisan Mir Saadullah Shabhabadi Kashmiri  berjudul Bagh-i-Sulaiman.

Masih ada lagi naskah yang dikutip Anand Krisna seperti Tarikh-i-Azami yang ditulis oleh sejarawan Kashmir, Khwaja Muhammad Azam, lalu naskah Wajees-ut-Tawarikh tulisan Abdul Nabi Khanyari, dan naskah Qisa Shahzada yang berasal dari perpustakaan Khuda Baksh di Patna, India. Salah satu kutipan dari dekrit kuno pada tahun 1184 atau mungkin tahun 1194 dalam kalender Islam (sekitar tahun 1766) oleh Mufti Agung Kashmir juga mengungkapkan keberadaan Yesus di Kashmir.

“It has been established that during the reign of Raja Gopadatta, who had built and repaired many tamples, including the Throne of Solomon on the Solomon Hill, Yuzu Asaph came to the valley of Kasmir. Prince by descent, he was pious and saintly and had given up earthly pursuits. He spent all his time in prayer and meditation” ( Krisna, Anand 2008, 32)

Selain Prof. Fida Hassnain dan Anand Krisna, ada pula Holger Kersten yang mendukung keberadaan Yesus di India. Holger Keesten dalam bukunya, ‘Jesus Lived in India’, menyebutkan bahwa Yesus mati dan dimakamkan di India (Kashmir). Kersten memperoleh bukti dari buku ‘The Book of Balaubar and Budasaf’ yang menyebut kematian Yus Asaf, yang disebut Issa. Berikut adalah salah satu kutipan Kersten yang terdapat dalam buku Menggugat Yesus karya Herlianto.

“Dan ia mencapai Kashmir, yang merupakan daerah terjauh yang ia layani, dan disana hidupnya berakhir… Kuburan Nabi Yus Asaf ada di tengah daerah yang sekarang merupakan kota tua Srinagar, di Anzimar di daerah Khanjar.” (Herlianto M.Th, Ir 2008, 263)

Kritik terhadap Gulungan Notovitch dan Makam di Kashmir

Dimana ada pihak yang pro, di situlah muncul pihak yang kontra. Meskipun keberadaan Yesus di India yang tertuang dalam gulungan Notovitch didukung oleh beberapa pihak, namun ada juga pihak yang mengkritik bahkan menentang gulungan Notovitch. Ada pula kejanggalan dalam kebenaran makam Yesus di Kashmir karena munculnya versi yang lain terkait makam Yesus. 

Bukti mengenai keberadaan Yesus di India terutama dalam gulungan Notovitch ternyata mendapat kritikan dan sanggahan dari sejumlah orang. Kritik itu disampaikan oleh Max Muller, seorang ahli literatur India dari Universitas Oxford, Inggris yang mengemukakan dalam tulisannya pada sebuah majalah di Inggris bahwa gulungan Notovitch mengandung banyak kesalahan dan ketidakkonsistenan di dalamnya. Muller menuding bahwa gulungan Notovitch tidak benar dan ditafsirkan secara berbeda oleh Notovitch sehingga kebenarannya disangsikan.

Kritikan tersebut dibuktikan oleh seorang perempuan Inggris yang pergi mengunjungi biara Himis di Ladakh, Kashmir pada 29 Juni 1894. Ternyata para rahib di biara Himis tidak mengetahui tentang seorang Rusia bernama Notovitch dan juga tidak pernah mengenal Issa baik dari gulungan naskah maupun tradisi lisan (Herlianto M.Th, Ir 2008, 201)                                                                

Sanggahan tentang kebenaran gulungan Notovitch juga dikemukakan oleh Prof. Archibald Douglas dari kolese pemerintah di Kota Agra. Douglas mengunjungi biara Himis di Ladakh dan membacakan gulungan Notovitch kepada seorang Lama yang disebutkan pernah membacakan naskah kuno kepada Notovitch. Di luar dugaan, ternyata kepala biara tersebut tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang terdapat dalam gulungan Notovitch. Hasil dialog ini lalu ditandatangani oleh keduanya dan disegel dengan saksi Shahmwell Joldan, penerjemah Douglas. Pada bulan April 1896, buku Douglas yang berisikan dialognya dengan Lama di Himis, The Chief Lama of Himis on the Alleged the Unknown Life of Christ, diterbitkan.

Douglas juga mengungkapkan bahwa seandainya ada tulisan Tibet seperti yang diakui pernah dilihat oleh Notovitch di biara Himis, seharusnya tulisan tersebut tercatat pula dalam daftar literatur Tibet. Sementara realitasnya tidak ada tulisan mengenai Issa di dalam daftar literatur Tibet (Herlianto M.Th, Ir 2008, 202). Kritik yang dilontarkan terhadap Notovitch ini menjadikan gulungan Notovitch seolah fiktif dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. 

Selain gulungan Notovitch, kebenaran makam Yesus di Kashmir juga masih menjadi misteri. Hal ini disebabkan munculnya versi lain yang menyebutkan bahwa Yesus pada masa tua-Nya pergi ke India, Burma, Cina, dan kemudian ke Jepang. Tradisi ini menyebutkan bahwa Yesus wafat dan dikuburkan di desa Shingo (Herai), di distrik Aomori, Jepang. Dokumen yang berusia 1.900 tahun ini ditemukan oleh Kiyomaro Takeuchi pada tahun 1932 di Ibaraki, Jepang. Rahasia mengenai tradisi Yesus di Jepang itu juga diungkapkan oleh Michel Desmarquet dalam bukunya yang berjudul Thiaoouba Prophecy yang kemudian diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang. Di dalam buku tersebut, ditemukan naskah yang berbunyi:

”Yesus (Joshua) dilahirkan oleh seorang dara bernama Maria di Betlehem, setelah malaikat dari Thiaoouba (tyehova) menanamkan embrio, melarikan diri ke Mesir menghindari pembunuhan 2.606 bayi. Setelah mengagumkan para ahli torat pada umur dua belas tahun, ia meninggalkan orang tuanya pada umur empat belas tahun untuk berkelana bersama adiknya yang berumur dua belas tahun, Ourki, ke Burma, India, dan Cina. Kemudia ia mendarat di Jepang pada umur lima puluh tahun. Ia menikah disana, dan memiliki tiga anak perempuan. Akhirnya ia meninggal di Herai setelah tinggal selama 45 tahun dimana ia dihormati dan dicintai semua orang” (Herlianto M.Th, Ir 2008, 266)

Penemuan akan makam Yesus juga terdapat di Talpiot Timur, di sebelah selatan Kota Lama Yerusalem. Berdasarkan A Catalogue of Jewish Ossuaries in the Collectiions of the State of Israel yang dibuat oleh L.Y. Rahmani, terbitan tahun 1994, Ray Bruce dan Chris Mann dari stasiun BBC/CTVC memperoleh informasi bahwa dari sekian ribu osuarium (kotak batu tempat tulang-belulang yang telah bersih dari sisa daging disimpan. Berbeda dengan Sarkofagus, kotak batu tempat jenazah utuh diletakkan) dari abad pertama yang tersimpan, ada enam osuarium yang mencantumkan nama Yesus (dalam bahasa Ibrani: Yesyu, Yesyua, atau Yehosyua). Dari enam osuarium tersebut, ada dua yang memuat inskripsi “Yesus anak Yusuf” (Tabor, James D. 2007, 29).  Bagaimana mungkin Yesus dimakamkan di tiga tempat yang berbeda, Talpiot, Kashmir, dan Hagai? 

Signifikansi Riset dan Kesimpulan

Sejarah bukanlah sekadar penyusunan kembali fakta-fakta hasil konstruksi sejarawan. Sejarah juga melibatkan upaya untuk menggali ulang dan membayangkan sepenggal masa lalu yang tidak dapat lagi disentuh dan disaksikan. Namun sejatinya sejarah menyentuh hati dan otak manusia. Dalam hal inilah bukti materiil menjadi sangat penting bagi kebenaran suatu peristiwa sejarah di masa lampau (Tabor, James D. 2007, 381). 

Suatu riset mengenai sejarah Yesus seperti yang ditampilkan dalam film “Jesus in the Himalayas” sejatinya dapat membantu dalam memahami kebenaran dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi di masa lampau. Dari film ini juga orang dapat mengetahui tradisi di India sehingga mampu memperluas wawasan dan membuka cakrawala berpikir. Meskipun tampak bertentangan dengan tradisi Kristen dalam Alkitab, namun adanya tradisi ini dapat memberikan warna atau kekayaan tersendiri akan sejarah Yesus yang tidak tertulis di dalam Alkitab (kisah Yesus dalam usia 13 tahun sampai 30 tahun). 

Namun, di lain pihak, film ini tidak mampu memberikan bukti-bukti otentik mengenai keberadaan Yesus dan makam-Nya di India sehingga kebenarannya masih dipertanyakan.  Selain bukti-bukti otentik yang kurang akurat, adanya tradisi-tradisi di tempat lain (seperti di Jepang dan Talpiot) yang juga terdapat penemuan makam Yesus membuat tradisi-tradisi tersebut diragukan kebenarannya. Meski begitu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui riset (film dokumenter) cukup signifikan bagi studi Sejarah Agama Kristiani karena dapat mendorong orang untuk belajar secara lebih mendalam.

Adanya riset dalam pembelajaran sejarah dapat mendorong kita untuk mencari sumber-sumber lain, sehingga tidak hanya menerima satu sumber secara ‘mentah’. Melalui riset pula kita dapat belajar untuk mengkritisi suatu sumber sejarah dan memandangnya dari sudut pandang yang lain. Dari segi iman pun, kita tidak hanya sekedar percaya, melainkan mempunyai dasar pengetahuan yang kuat untuk membantu penghayatan akan iman Kristiani. 

Oleh Albertus Dino

Daftar Pustaka

Jesus in the Himalayas. DVD, Discovery Channel, 2001.

Krisna, Anand. Christ of Kashmir, Anand Ashram Foundation dengan AK co-Operation, 2008.

Herlianto M.Th, Ir. Menggugat Yesus, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2008.

Sutama, Adji. Yesus Tidak Bangkit?,Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007.

Tabor, James D. Dinasti Yesus, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel