Cukuplah Engkau Menderita Ibuku

Cukuplah Engkau menderita Ibuku
Quote Amor -Realita kehidupan sekarang menunjukan kepada kita tentang keberpihakan manusia terhadap alam. Manusia menguasai dirinya dengan keegoisan. Sifat ini melekat pada dirinya sehingga kesejahteraan dengan sesama dan alam ciptaan menjadi rusak. Keserakahan manusia meninggalkan jejak-jejak kepedihan bagi kelangsungan hidup bersama. Manusia menggunakan kekuasaannya untuk mengeksploitasi alam sesuai dengan keinginannya tanpa memperhatikan keseimbangan hidup. Manusia menggeruk perut “Ibu pertiwi” dengan ketamakan dan kerakusan.

Manusia tidak lagi mempedulikan “kesehatan alam”. Mereka seakan melihat alam sebagai musuh yang perlu dimusnahkan. Hal tersebut merupakan perkembangan sikap manusia yang perlu dibenahi dengan sikap yang tegas. Sikap destruktif ini menghilangkan citra hubungan manusia dengan alam dan manusia dengan Allah. Padahal alam merupakan tempat manusia dan ciptaan lainnya berpijak dan hidup.

Realita destruktif tersebut tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi yang semakin melekat pada kehidupan manusia. Kemajuan teknologi menuntut berbagai aspek kebutuhan manusia yang akan membantu dalam proses kepenuhan zaman. Kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Kita bisa melihat dan merasakan dalam kehidupan kita sekarang. Banyak investor pertambangan datang dan melakukan observasi terhadap kekayaan alam. Di samping itu mereka melakukan negoisasi dengan penguasa (pemerintah) yang merupakan pintu gerbang bagi mereka untuk “menjajah” tanah, kekayaan alam dan juga menindas masyarakat biasa.

Kehadiran investor pertambangan membawa “angin panas” yang menciptakan kabar buruk tentang ancaman keberadaan daerah yang kaya akan keindahannya. Penguasa tergoda dan tergila dengan berbagai pilihan yang ditawarkan investor. Penguasa menggunakan jabatannya untuk kesejahteraan pribadi dan kelompoknya. Kebijakan itu menyampingkan tugas utamanya sebagai pelayan untuk semua orang.

Keutuhan alam yang diwariskan nenek moyang kini dirusak oleh ketamakan sekelompok orang, dan sang penguasa mewariskan penderitaan bagi generasi berikutnya.

Nah, pertanyaan reflektifnya bagi kita; bagaimana tanggung jawab generasi kita mewariskan keutuhan alam kepada generasi berikutnya? Apa yang perlu kita lakukan terhadap kebijakan sang penguasa seperti di atas?

Rintihan seorang anak

Pertanyaan di atas mengantar kita pada realita alam yang terjadi di daerah Menggarai saat ini. Salah satu yang sudah memperlihatkan kepada kita kerusakan alam itu adalah pertambangan mangan di Serise dan Lingko Lolok, Lamba Leda, Manggari Timur. Di sana terpampang jelas goresan tangan manusia yang rakus. Pohon-pohon yang sebelumnya menghijaukan bukit Serise dan Lingko Lolok, kini telah menjadi hamparan yang gersang.

Debu-debu bertebaran kesana-kemari memberikan warna baru bagi kehidupan di bukit Serise dan Lingko Lolok. Debu-debu itu yang selalu menyapa para pengunjung yang ke sana, dan sebagai bentuk kesedihan dan tangisan bukit Serise dan Lingko Lolok tentang penderitaan yang dilakukan kaum kapitalis. Hamparan udara panas menjadi teman yang menyakitkan untuk kehidupan masyarakat Serise dan Lingko Lolok.

Ini merupakan gambaran umum realita kehidupan kita yang tidak lagi memperhatikan orang-orang kecil. Karena kerakusan penguasa, masyarakat kecil yang menjadi korban. Merekalah yang merasakan langsung akibat aktivitas pertambangan itu. Mulai timbul berbagai macam penyakit, sumber mata air mulai hilang dan sumber kehidupan bagi anak cucu masyarakat di sekitar itu sudah ditelan oleh kaum berduit.

Sampai kapankah mereka melakukan hal tersebut? Dari gubuk kecil, “anakmu”(masyarakat kecil) menjerit dan mengharapkan sudi kiranya engkau (sang penguasa) berhenti menyakiti “ibuku”.

Wariskan "mata air" bukan "air mata"

Tindakan eksploitasi itu melahirkan berbagai macam gejala alam, suhu udara semakin panas, hujan tak kunjung datang, debu bertebaran kemana-mana. Gejala-gejala ini merupakan reaksi kemarahan alam terhadap perbuatan manusia yang tidak bersahabat lagi. Alam berseru melalui peristiwa-peristiwa tersebut untuk menyadarkan manusia dan membangun kembali hubungan yang telah rusak. Melihat kenyataan itu manusia yang mempunyai hati berusaha untuk melawan segala kebijakan penguasa yang tidak adil. Mereka berusaha menghalang kebebasan penguasa dalam mengambil kebijakan destruktif.

Ketamakan penguasa mengakibatkan kehidupan masyarakat biasa menderita dan melarat. Mereka menjerit kesakitan, mengharapkan sang penguasa menoleh dan merangkul mereka agar membangun kembali relasi dengan alam. Realita di Serise dan Lingko Lolok menjadi potret untuk mengubah kebijakan yang merugikan banyak pihak. Dalam permenungan ini penulis ingin mengungkapkan perasaan sebagai anak yang mencintai saudara alam yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni.  

Di akhir permenungan ini saya menggarisbawahi soal penghargaan terhadap semua ciptaan. Jika kita menghargai orang lain maka sudah pasti orang juga akan menghargai kita dengan sikap dan perbuatan baik. Hal yang sama juga dalam relasi dengan alam. Karena alam merupakan karya tangan Allah sendiri. Oleh karena itu, “cukuplah engaku warisi air mata bagi kami, tetapi warisilah mata air kehidupan”. (A/D)

Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel