Tindakan Yesus setelah memberi makan 5000 orang

Yesus memberi makan 5000 orang
Ilustrasi tindakan Yesus setelah memberi makan 5000 orang
Quote Amor - Inijl Yoh 6 :16-21 merupakan lanjutan dari kisah tentang Yesus memberikan makan lima ribu orang. Hal yang menarik dari kisah tersebut adalah ketika Yesus sudah memberi makan lima ribu orang, dia tidak mengatakan sesuatu kepada para murid-Nya.

Injil Yohanes hanya mengatakan Yesus menyingkir ke gunung seorang diri mengajar dan memberi makan lima ribu orang. Kalau kita membandingkan dengan injil sinoptik. Di sana dikatakan bahwa setelah Yesus memberi makan lima ribu orang, Dia memerintah para murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu ia menyuruh banyak orang pulang. Lalu setelah itu Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Di sini sepintas kita dapat melihat perbedaan antara kisah dalam injil sinoptik dan injil Yohanes.

Dengan demikian kita pun bisa bertanya, kenapa Yesus dalam injil Yohanes tidak mengatakan sesuatu kepada para murid-Nya ketika dia hendak pergi ke bukit untuk berdoa seorang diri. Sebelum kita merenungan pertanyaan tersebut, marilah kita merekontruksi, bagaimana injil Yohanes mengisahkan peristiwa tersebut. Ketika Yesus meninggalkan para murid dan orang banyak itu tanpa mengatakan sesuatu, injil Yohanes mengatakan bahwa akhirnya, setelah hari sudah mulai malam murid-murid Yesus pergi ke danau lalu naik perahu. Dan ketika hari sudah gelap, Yesus belum juga datang mendapatkan mereka.

Nampaknya para murid menanti kedatang Yesus untuk melanjutkan perjalanan mereka. Meskipun di sini, injil Yohanes tidak memberikan informasi yang jelas tentang hal tersebut, tetapi kita bisa melihat mungkin saja  pada saat itu, para murid takut dengan Yesus yang tidak memberitahukan apa yang harus mereka lakukan sehingga mereka menunggu kehadiran Yesus.

Kecemasan para murid kemudian ditambah lagi dengan situasi laut yang bergelora karena angin kencang. Dalam situasi ketakutan seperti itu, para murid memberanikan diri menyeberang ke kapernaum dengan perahu. Situasi pun semakin genting dan ketakutan mereka semakin bertambah ketika mereka sudah berlabu sejauh kira-kira tiga mil, badai menghantam perahu mereka dan pada saat itu, mereka melihat Yesus berjalan di atas air.

Kita bisa merasakan bagaimana ketakutan para murid yang begitu besar, di tengah badai, mereka melihat seseorang berjalan di atas air dan mereka tidak mengenal sama sekali bahwa orang tersebut adalah Yesus. Kita bisa melihat, bagaimana proses ketakutan para murid. 

Dari awal mereka bingung karena tindakan Yesus yang pergi begitu saja tanpa berkata-kata, kemudian menjadi cemas karena mereka menunggu Yesus di pantai dan Yesus tidak juga datang dan pada akhirnya, Yesus datang dalam situasi di mana para murid sudah berada di titik batas kemampuan mereka. Namun yang menjadi anehnya dan juga sangat menyedihkan adalah tanggapan para murid ketika Yesus mengatakan “Aku ini, jangan takut!”   Para murid tidak memberikan reaksi apa-apa. 

Dikatakan bahwa mereka menerima Yesus begitu saja, pada hal Yesus sudah memberikan kesaksian yang menakjubkan, mulai dari yesus memberi makan lima ribu orang, berjalan di atas air, dan menyelamatkan mereka dari badai angin.

Sampai di sini, kita bisa kembali lagi pada pertanyaan saya tadi, kira-kira apa alasan injil Yohanes menampilkan Yesus yang tidak mengatakan sesuatu kepada para murid-Nya ketika Dia hendak pergi ke bukit untuk berdoa seorang diri? Nampaknya kalau kita melihat kisah tersebut secara keseluruhan, Injil Yohanes menunjukkan bahwa para murid-Nya dan semua orang yang meyaksikan Mukjizat yang dilakukan Yesus belum mengenal Yesus sebagai anak Allah dan oleh karena itu, Yesus merasa kecewa.

Hal itu sangat jelas ketika Yesus memberikan jawaban kepada orang yang bertanya kepadanya tentang bagaimana Yesus bisa sampai di Kapernaum. Yesus mengatakan bahwa sesungguhnya mereka mencari Yesus bukan karena melihat tanda-tanda, melainkan karena mereka makan roti dan menjadi kenyang. Tetapi yang menarik adalah walaupun Yesus merasa kecewa dengan para murid, dia tidak sampai meninggalkan mereka sendirian dalam menghadapi tantangan.

Kebutaan para murid menanggapi mukjizat Yesus

Dengan demikian, saya mengajak kita untuk merenungkan dua hal yang disampaikan oleh injil Yohanes melalui kisah tersebut. Yang pertama, tindakan para murid dalam menanggapi kesaksian atau mukjizat yang dilakukan Yesus. 
Injil yohanes telah menunjukkan kepada kita tentang sikap para murid yang tidak membuka hatinya untuk melihat dan memahami maksud Yesus memberikan kesaksian kepada mereka. Bahkan ketika Yesus berjalan di atas air dan menyelamatkan mereka dari badai angin kencang di tengah laut. Para murid menanggapi semua itu dengan biasa-biasa saja. Mereka malah merasa takut dengan kehadiran Yesus. Sikap para murid seperti itu menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka masih belum percaya kepada kemahakuasaan Yesus.

Hal yang sama juga, kita mungkin seringkali bersikap seperti para murid. Kita tidak mampu melihat karya Tuhan dalam hidup kita sehari-hari sehingga kita selalu merasa cemas dan takut untuk melakukan sesuatu, atau juga kita merasa biasa-biasa saja menjalankan rutinitas kita setiap hari. 

Hal tersebut dapat kita lihat pada pengalaman hidup kita masing-masing, mungkin kita seringkali merasa pesimis dengan kemampuan kita untuk mendapatkan hasil yang baik dalam belajar. Lalu kemudian kita bergulat dengan perasaan itu tetapi tidak mau berusaha dengan belajar untuk mendapatkan hasil yang baik. 

Atau pengalaman lain, misalnya kita terlalu sibuk dengan rutinitas kita sehari-hari. kita menjalankan aktivitas yang sama setiap hari, bangun pagi, berdoa, makan, mengikuti aktivitas sepanjang hari, lalu kembali lagi ke komunitas dan setiap hari kita mengikuti ritme seperti itu terus sehingga pada akhirnya kita merasa biasa-biasa saja dan hal tersebut membuat kita merasa bosan. Kedua pengalaman tersebut, ketakutan dan biasa-biasa saja, cenderung membuat kita lupa untuk bersyukur atas kehidupan yang kita terima setiap saat dari Tuhan.

Sapaan yang memberikan keselamatan

Hal yang kedua yang perlu kita renungkan adalah tindakan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus sesungguhnya kecewa dengan para murid-Nya yang tidak memahami kesaksian-Nya kepada mereka. Namun Yesus tidak pernah meninggalkan mereka sendirian dalam menghadapi tantangan dan persoalan yang mereka alami. Dengan kehadiran Yesus ketika para murid mengalami kesulitan dan tindakan Yesus, berjalan di atas air, menunjukkan kemahakuasaan Allah yang menjadi penopang hidup kita. 

Tindakan Yesus mengungkapkan suatu teladan hidup, bagaimana menjadi seorang guru yang bagi. Dia hadir di saat para murid-Nya mengalami kesulitan. Hal yang sama juga yang terjadi dalamKis 6: 1-7; para Rasul hadir sebagai guru yang mampu mengatasi persoalan yang dialami jemaat perdana. Mereka mempersoalkan pembagian santunan yang tidak seimbang di antara para janda orang yahudi yang berbahasa Yunani dengan para janda orang ibrani. Namun kehadiran para Rasul mampu mengatasi persoalan itu. 

Para rasul meminta mereka untuk memilih tujuh orang dari antara mereka dan ketujuh orang itu harus memiliki kebijaksanaan sehingga bisa mengatasi persoalan tersebut. Kepedulian para rasul pada persoalan jemaat perdana menunjukkan bahwa mereka megikuti teladan yesus Kristus, seperti ketika Yesus membantu mereka dari guncangan badai di tengah laut Tiberias. 

Kata-kata Yesus, “Aku ini, jangan Takut!” meneguhkan mereka dalam tugas pelayanan mereka di tengah Jemaat. Hal yang sama juga ditegaskan kepada kita bahwa kehadiran kita seharusnya memberikan peneguhan dan penghiburan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Mungkin kita bisa mulai dari hal-hal yang sederhana, bagaimana kita menempatkan diri kita di hadapan orang lain, cara kita menyapa orang, tindakan kita, ketulusan kita melayani yang lain dan sebagainya. 

Semoga kita mampu menyapa orang seperti Kristus menyapa para muridnya, “Aku ini, jangan takut!” dan sapaan itu memberikan keselamatan kepada para murid-Nya. Dengan demikian semoga renungan ini meneguhkan iman kita supaya kita tidak lupa bersyukur kepada anugerah yang diberikan Tuhan dalam seluruh pengalaman hidup kita dan rasa syukur itu dapat kita wujudkan dalam sikap dan tindakan kita kepada orang lain sehingga sukacita yang kita terima dari Tuhan dapat dirasakan oleh orang lain.


Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel