Minister Provinsi Indonesia: Sekolah Fransiskan harus menanamkan nilai-nilai Fransiskan

Pelayan Provinsi OFM Indonesia
Foto: Albertus Dino
Quote Amor - Pelayan Provinsi OFM Indonesia, Mikhael Peruhe OFM mengadakan kunjungan kanonik untuk saudara-saudara Fransiskan yang bekerja di paroki Fransiskus Asissi dan Yayasan persekolahan Fransiskus Ndoso di Tentang pada Selasa, 4/9/2018.

Dalam kunjungan tersebut, Pelayan Provinsi menyempatkan waktu untuk bertemu dan berdiskusi dengan guru-guru dan pegawai yang bekerja di yayasan Fransiskus Ndoso. Dalam pertemuan tersebut, Pater Mikhael menegaskan beberapa hal penting yang berkaitan dengan peran dan kekhasan sekolah Fransiskan. Minister Provinsi mengawali perjumpaan itu dengan mengajak para guru yang hadir untuk melihat tantangan sekaligus peluang bagi keberadaa sekolah Katolik di tengah kebijakan pemerintah yang lebih berpusat pada sekolah-sekolah negeri.

“Bagaimana masa depan sekolah-sekolah katolik karena saya melihat bahwa ada kebijakan pemerintah yang perhatiannya berpusat pada sekolah-sekolah negeri. Ini menjadi tantangan besar bagi masa depan sekolah Katolik. Jumlah murid semakin turun. Bagaimana tarekat religius menghadapi persoalan ini,” tegasnya kepada para guru.

Lebih lanjut mantan Dewan Penginjilan dan Misi ini menegaskan pesan yang disampaikan Duta Vatikan Indonesia. “satu pesan dari Nuncius yang mendorong saya adalah meskipun sulit, kita tetap mendorong sekolah-sekolah Katolik untuk tetap eksis di negeri ini, karena hanya dengan sekolah-sekolah Katolik, kita bisa bermisi dan menjalankan evangelisasi.

Karena itu, mungkin saudara-saudara melihat sekolah-sekolah ini sebagai tempat kita menyampaikan begitu banyak ilmu pengetahuan tetapi yang terpenting dalam identitas sekolah-sekolah katolik adalah penginjilan, menyampaikan kabar sukacita kepada generasi muda untuk memandang masa depan dengan penuh harapan dan bukan dengan ketakutan. Dan sejauh mungkin pendidikan ini membawa mereka lebih dekat dengan Kristus yang kita wartakan, sebagai sebuah proses penginjilan di dalam pendidikan itu.,” ungkapnya lagi.

Dengan mengutip pesan dari Nunciucs, Pelayan Provinsi OFM Indonesia ini mengajak para guru untuk menunjukkan identitas sekolah Fransiskan yang berdasarkan nilai-nilai-Fransiskan.

“Oleh karena itu, identitas sekolah kita di bawah payung Fransiskan (spirit Fransiskan) adalah pax et bonum. Ini adalah salah satu nilai pendidikan tetapi juga nilai penting dari penginjilan di sekolah. Karena itu saya sendiri berharap meneruskan pesan paus Fransiskus melalui Duta vatikan, supaya bapa-ibu guru, yang meskipun mengajarkan ilmu-ilmu profan, tetapi tidak lupa membimbing anak-anak sampai menjumpa Yesus, guru ilahi yang tak ada bandingannya,” tegasnya kepada para guru.

Dengan demikian Minister Provinsi mengutip Paus Fransiskus dalam pesannya kepada pemain bola Italia bahwa olahraga harus bisa membawa orang sampai kepada Kristus. “Melalui olahraga, kita sampai kepada Kristus. Supaya tidak hanya menendang bola tetapi harus bisa bermain dengan iman. Seperti yang dikatakan oleh pater Flori dalam suatu kesempatan, pertandingan ini bermain atau beriman,” ungkapnya lagi.

Selain itu juga, mantan Vikaris Provinsi mengajak para guru untuk lebih serius memperhatikan generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Ketika saya dipercaya sebagai Pelayan Provinsi, saya merasa pastoral persekolahan ini menjadi tetap relevan bagi para Fransiskan untuk memperhatikan generasi muda, menanamkan nilai-nilai yang membantu mereka menghadapi perkembangan zaman yang semakin cepat. Sekitar tanggal 6-12, Fransiskan Asia Selatan dan Oceania bertemu di Australia dan berdiskusi mengenai persoalan perubahan yang semakin cepat dalam kehidupan masyarakat kita.

Dan sering kali kita tidak mampu mengejar kemajuan itu dan hal tersebut membawa dampak begitu banyak dalam kehidupan kita. Dalam pertemu itu, kami menemukan tantangan yang besar sekali, misalnya  ketika kami menerima calon dari anak-anak yang didikan kalian. Ini calon religius milenial yang tidak begitu mudah masuk dalam nilai religius yang ada. Misalnya mereka bertanya, kalau kami masuk dalam biara, apakah kami masih bisa menggunakan HP atau bisa mengakses internet, dan bahkan pertanyaan ini juga mereka sampaikan kepada para suster di biara kontempatif,” katanya kepada para guru.

Dengan melihat tantangan tersebut, Minsiter Provinsi menawarkan satu solusi untuk menghadapi situasi zaman yang semakin kompleks itu dengan semangat Fransiskus dari Asissi.

“Ada satu jalan yang tawarkan oleh seorang yang mungkin dianggap reme pada zamannya namun membuat revolusi besar sekali pada abad pertengahan yaitu, bapa Fransiskus Asissi. Dia melakukan revolusi besar dengan mengubah seluruh tatanan Gereja yang tidak begitu jelas dan masyarakat untuk memilih jalan yang luar biasa, yang juga sekarang masih relevan untuk ditanamkan dalam pendidikan sekolah-sekolah Fransiskan,” katanya lagi.

“Karena itu satu hal yang penting menjadi tugas saya adalah memastikan bahwa sekolah-sekolah Fransiskan itu sungguh menjadi sekolah yang bervisi pendidikan Fransiskan. Memang kita mendidik anak untuk memiliki ilmu pengetahuan tetapi juga kita mendidik untuk menghidup nilai-nilai hidup kefransiskan. karena itu saya berpikir mulai dari murid yang baru  masuk sampai guru-guru yang hendak pensiun mesti menghidupi pola pendidikan Fransiskan. Karena untuk itu sekolah fransiskan hadir di sini.,” tegasnya.

Dengan demikian Pater Mikhael menegaskan kekhasan sekolah frnasiskan sebagai sekolah yang membangun semangat persaudaraan. “Bagi saya, kalau kita memperjelas pendidikan bercorak Fransiskan maka sekolah kita tidak hanya sebagai ruangan kelas di mana kita beraktivitas untuk pendidikan tetapi mesti menjadi sebuah komunitas iman dimana kita semua berinteraksi, mulai dari murid, para pendidik.

Misalnya kita semua bergerak untuk menghayati nilai-nilai Injil yang masih relevan dengan semangat Fransiskan. Contohnya sekolah Padua College yang sangat terkenal di Australia. Sekolah itu didirikan oleh Fransiskan. Kekhasan dari sekolah ini adalah karena komunitas. Sekolah ini menjadi seperti komunitas Fransiskan. Semua iklm dalam sekolah itu benar-benar menjadi persaudaraan sehingga di antara mereka memanggil satu sama lain sebagai saudara,” ungkapnya lagi di akhir pertemuan itu.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel