Levinas dan Sartre: Keunikan Membangkitkan Kesadaran akan Keterbatasan

membangkitkan kesadaran akan terbatasan diri
Keunikan menyadarkan keterbatasan
Quote Amor - Seberapa penting kehadiran orang lain dalam hidup anda? Ataukah anda tidak membutuhkan orang lain dalam menjalankan hidup sehari-hari. Saya yakin jawabnya adalah tidak karena kehadiran orang lain merupakan bagian dari hidup kita sebagai makhluk sosial.

Kehadiran yang lain membangunkan kesadaran kita bahwa hakikat hidup kita adalah bersama dengan yang lain. Orang lain itu unik dan berbeda dengan kita. Keunikan itu menyadarkan kita bahwa kita ini terbatas maka membutuhkan yang lain untuk saling melengkapi satu sama lain. Tetapi bagaimana seharusnya kita berelasi dengan yang lain? 

Baca juga: 
Menurut Martin Buber, relasi kita dengan yang lain harus bersifat dialogis atau setara, menempatkan yang lain sebagai pribadi yang harus kita hargai sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Sedangkan menurut Levinas, relasi dengan yang lain harus bersifat asimetris, menempatkan yang lain sebagai yang utama, atau sebagai tuan yang harus mendapat tanggung jawab kita.

Namun Jean Paul Sartre punya pandangan yang sangat berbeda dengan kedua filsuf di atas. Mungkin anda akan merasa sangat aneh dengan pandangan orang ini atau mungkin juga anda sepaham dengannya. 

Sartre: kehadiranmu merampas kebebasanku

Sartre mengatakan bahwa relasi manusia dengan yang lain bersifat konfliktual, kehadiran yang lain menjadi ancaman bagiku sehingga tidak akan pernah terjadi karena setiap pribadi selalu mengobjekkan satu sama lain. Pandangannya ini berangkat dari kritiknya terhadap Heidegger tentang ada-bersama-yang-lain. Sartre melihat bahwa Heidegger tidak merefleksikan secara mendalam tentang yang lain dan relasinya dengan “aku.” 

Menurut Sartre, ada dua macam kenyataan yaitu, pertama, kenyataan, ada pada dirinya sendiri yang merupakan kesadaran diri. Kesadaran ini menjadi ada dengan cara menegasikan berada pada dirinya. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh manusia karena manusia memiliki kesadaran. Hakikatnya tidak pasti atau dengan kata lain manusia selalu dalam proses menjadi. 

Kedua,  dalam kesadarannya, manusia tidak memperlakukan dirinya sebagai objek tetapi di hadapan manusia yang lain, ia merasa dirinya menjadi objek atau dijadikan objek oleh yang lain. Yang lain adalah yang kulihat (yang aku objekan) atau yang melihat aku (yang mengobjekkan aku).  Aku akan dijadikan sebagai benda (tidak bebas) oleh pandangan orang lain atau sebaliknya. 

Dengan kata lain, bagi Sartre, hubungan antar-manusia adalah mustahil, tidak mungkin akan terjadi karena saling mengobjekkan satu sama lain. Sartre mengatakan setiap saat, kesadaranku sebagai pribadi selalu diperhatikan orang lain sebagi objek. Kesadaranku diperhatikan terus oleh yang lain sehingga aku menjadi tidak bebas. Pandangannya ini diperjelas dengan contoh yang diberikannya tentang seorang pengintip yang melihat secara sembunyi orang yang ada di dalam ruangan. 

Orang ini mengintip aku dari lubang kecil. Hal itu membuatnya mengetahui segala yang terjadi dalam ruangan itu. Pada saat itu, orang tersebut merasa dirinya bebas karena bisa mengamati aku yang berada di dalam ruangan itu. Namun pada waktu yang sama, orang tersebut tidak mengetahui bahwa ada orang lain lagi yang sedang memperhatikan dia dari belakang sehingga dia juga menjadi objek dari orang lain, menjadi tidak bebas karena diperhatikan oleh orang yang ada di belakangnya. Hal itu membuat setiap orang merasa diobjekkan oleh pandangan yang lain.  Dengan memandangku, orang lain mengobjekkan saya, merampas kebebasanku sehingga aku menjadi terbelenggu oleh pandangannya. 

Dengan demikian menurut Sartre, relasi antar manusia mustahil akan terjadi karena saling menyimpan curiga satu sama lain. Aku hanya akan menjadi bebas apabila aku mengobjekkan yang lain  (menundukkan kebebasan yang lain di bawah kebebasanku). Namun bersamaan dengan itu, orang lain juga ingin melepaskan dirinya dari pandanganku dengan berbalik mengobjekkan aku. Oleh karena itu, dengan melihat, hubungan manusia dengan sesamanya menjadi hubungan yang saling mengobjekkan, maka orang lain dapat dilihat sebagai penghalang bagi kebebasanku. Atau seperti yang dikatakan Sartre sendiri bahwa yang lain adalah neraka.

Bagaimana menurut anda, apakah anda sependapat juga dengan Sartre yang sangat pesimis dan penuh curiga dengan kehadiran yang lain?  Coba kita renungkan kembali cara kita relasi dengan orang lain. Meskipun di sisi lain, Sartre bisa benar kalau kita selalu menyimpan kecurigaan kepada yang lain, punya pandangan negatif tentang orang lain sehingga kita merasa selalu diawasi oleh pikiran kita sendiri dan hal itulah yang membuat kita menjadi tidak bebas, menderita karena pikiran kita sendiri. 

Selain itu, pandangan Sartre tidak bisa diterima begitu saja, karena pandangan seperti itu akan membawa orang pada tindakan intoleransi dan tindakan negatif yang lainnya. Namun pesan yang dapat kita ambil dari pandangan Sartre adalah kita perlu berhati-hati dalam membangun relasi dengan orang baru supaya kita tidak terjebak dalam tindakan pengobjekan oleh orang lain.


Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel