Drama anak yang hilang

Perumpamaan anak yang hilang
Foto dari www.pixabay.com
Quote Amor - Drama ini diambil, dari kisah anak yang hilang, dari Injil Lukas 15: 11 -32.  Kisah tersebut sangat inspiratif karena menampilkan dua karakter anak yang berbeda, yang pertama patuh dan taat kepada orang tuanya sedangkan yang kedua seorang anak yang angku dan tidak menghargai orang tuanya. Kedua karater anak tersebut tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada orang yang menghargai orang tuannya, mengikuti semua perintah bapanya tetapi kemudian merasa tidak mendapat perhatian dan cinta dari bapanya.

Namun di sisi lain ada juga anak yang sombong dan suka melawan orang tua, menguras kekayaan orang tua, pergi bersenang-senang dengan teman-temannya tetapi setelah mengalami penderitaan hidup, baru kemudian menyesal dan kembali kepada  orang tuanya. Kisah ini kemudian berpuncak pada karakter yang ditampilkan peran bapa yang sangat memahami kehidupan anaknya dan tidak menghitung kesalahan anaknya tetapi dia merangkul dan mencintai anaknya dengan sepenuh hati. 

Dia menjelaskan kepada anak sulungnya yang selalu bersamanya bahwa segala harta kekayaannya adalah miliknya. Dia menunjukkan cintakasih yang sempurna untuk memaafkan dan menerima adiknya yang telah kembali dan mau mengubah hidupnya. Sedangkan kepada anak bungsunya, sang bapa  mengajarkan tentang melupakan kesalahan yang dilakukan anaknya dan mau mengenakan pakaian yang bersih dari segala kotoran.

Namun saya ingin bertanyaan kepada kalian. Menurut kalian siapa yang salah dari kedua anak itu? dan yang hilang sebenarnya siapa? Apakah anak sulung ataukah anak bungsu?
Sebelum anda memberikan jawaban, saya ingin menyajikan kisah tersebut dalam drama singkat di bawah ini.

Tema    : Kamu seharusnya menjadi anak-anak Terang
Judul    : Anak yang hilang

Para pemeran :
Narator           : Elvi
Anak Bungsu  : Rian
Bapa                           : Vitalis
Teman-teman : Nadus, Boy, Kevin
Anak Sulung   : Andre

Perternak Babi           : Bapa Agus
Pelayan                       : Kristin, Isna, Elvi

Narator: Di sebuah  desa  hiduplah  sekeluarga  yang sangat  kaya raya . Keluarga itu mempunyai dua  anak  laki-laki. Anak  pertama  bernama :  Andre  dan  anak kedua  bernama :Rian. Pada  suatu  hari  Anak  bungsu  meminta warisan yang menjadi bagiannya dari ayahnya.

Settingnya di sebuah ruangan; bapa sedang membaca  koran dan anak bungsu datang  meminta warisan yang menjadi haknya.

Rian: Bapa,  berikanlah  harta  kekayaan  yang menjadi milikku

Vitalis : Ada apa nak. Kamu mau membunuh aku.  Belum saatnya saya membagi warisan kepada kalian. Aku masih hidup.

Rian : Bapa, aku sudah bosan tinggal bersama bapa. Aku mau pergi dari rumah ini. sekarang aku minta bagikan warisan yang menjadi milik aku, (sambil menunjuk bapanya dengan sombong)

Vitalis : Baiklah nak, kalau itu yang kamu mau. Aku akan memberikan bagian yang menjadi hakmu (sambil mengambi uang dan memberikan uang itu kepada anaknya)

Narator: Ayah pun memberikan harta miliknya kepada Rian. Hingga pada keesokan harinya , Rian pergi keluar negeri untuk menghabiskan harta kekayaannya dengan hidup berfoya-foya.

Settingnya  Rian sudah berada di kota yang ramai dan  Rian memakain baju  anak milenial

Rian: Wah, uangku banyak sekali . aku harus bersenang-senang sekarang, karena hidup ini cuma satu kali saja.. tapi aku harus mengajak teman-teman dulu (sambil mengipas uang dan berjalan menuju teman-temannya)

Narator : Sesuai dengan rencananya, Rian pun berjalan menuju rumah teman-temannya.

Teman-temannya sedang berkumpul di sebuah gang dan Rian menghampiri mereka

Rian : Bro, kalian lagi ngapain. Ayo....ikut aku. Malam hari ini kita bersenang –senang.

Nadus (teman I) : Memangnya kita mau pergi kemana , bro.

Rian: ya elah.... jangan banyak tanya, ikuti aku saja. Cepat... (sambil menarik tangan temannya)

Narator : Lalu, mereka pun mengikuti Rian ke tempat hiburan di sebuah kafe yang sangat terkenal di kota itu untuk berpesta.

Boy (teman 2) :Rian, tidak salah ni, kita datang kesini.??? (sambil menunjukkan wajah yang bingung)

Rian : Jangan terlalu banyak tanya.Kalian tenang saja, biar semuanya saya yang tanggung. Kalian ikut saja perintah saya. Ayo Nadus, itu banyak cewek cantik. Kamu tinggal pilih. Kita siangkan malam ini...hahahahhaha (sambil mendorong Nadus ke cewe-cewek itu)

Boy : yang benar aja lho, memang kamu banyak uang (serentak, sambil mata melotot ke arah Rian)

Rian: ohhhhh….... kalian meragukan saya. atau kalian pikir saya hanya bercanda. Baik....(sambil mengambil uang yang dimilikinya), dari pada kamu tidak percaya, nih saya buktikan (sambil mengankat dompet dan mengeluarkan uang).

Teman-teman:  what......, (kaget dan sambil saling melihat)

Kelvin (teman III) : mantap........ini baru namanya teman aku. Ayo, kalau begitu jangan tunggu lama-lama lagi. Sekarang kita bersenang-senang (sambil mengambil minuman)

Narator : Tanpa di sadari waktu terus  berjalan hingga pestanya berakhir. Malam itu mereka sangat mabuk dan pulang berpisah-pisah dan tidur di sembarang tempat. Keesokan harinya Rian menyadari  bahwa uangnya sudah habis.

Rian : Aku berada dimana sekarang, Aduh ( sambil meraba sakunya). Uangku sudah habis. Lapar lagi, bagaimana aku bisa makan??? Aku harus mencari pekerjaan sekarang.

Narator: Rianpun mengelilingi kota itu untuk mencari pekerjaan, hingga sampai di suatu rumah, dia bertemu dengan seorang Bapak yang memiliki banyak perternakan babi .

Rian: Selamat  siang pa,

Pa Agus : Siang Nak, ada yang bisa saya bantu?

Rian : Iya pa, apakah Bapak  membutuhkan pekerja? Aku siap pa, apa pun pekerjaannya.

Pa Agus : oh ia. Kebetulan aku punya banyak babi dan aku mengalami kesulitan untuk mengurusnya. Tapi aku tidak punya uang untuk mengupah kamu. Kalau kamu mau, silahkan tapi ingat kamu hanya bisa makan dari sisa makanan babi saya.

Rian : baik pa,tidak apa-apa,  yang penting aku punya pekerjaan . terima kasih pak. (sambil mengocok tangan)

Narator : Hari  itu juga, Rian  mulai  bekerja mengurus babi yang dimiliki bapa itu. Namun Rian tidak mendapat upah dari bapa itu. Rian hanya mengisi perutnya dengan remah-remah sisa makanan babi dan ternak bapa itu sehingga Rian mengalami kelaparan. Hal tersebut membuatnya menjadi kurus dan menderita. Melihat keadaan seperti itu, Rian akhirnya menjadi sadar dan dalam hatinya berkata:

Narator:  Di rumah bapaku, betapa banyaknya orang yang bekerja dan mereka tidak pernah mengalami kelapanan seperti aku. Sedangkan aku di sini mati kelaparan. Aku harus kembali kepada bapaku. Ya....aku memang tidak layak lagi disebut sebagai anaknya tapi aku siap menjadi siapa saja yang penting bapa bisa menerima aku (sambil menangisdan mulai berjalan  menuju rumah bapanya).

Diam sejenak lalu narator melanjutkan.....

Narator: Maka bangkitlah  dia dan pergi ke Bapanya. Ketika ia masih jauh, Bapanya telah melihat Dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belaskasihan, bapanya itu berlari dan mendapatkan Dia lalu merangkul dan menciumnya, kata Rian kepada Ayahnya.

Rian : Bapa, aku  telah berdosa terhadap surga  dan terhadap bapa .Aku tidak layak lagi disebut anak bapa.

Vitalis: Anakku, kamu tidak pantas bilang begitu. Kamu adalah anakku. Selama ini aku sangat memikirkan kamu. Sekarang kamu kembali dan aku sangat bahagia..

lalu bapanya memeluk anaknya dan kemudian dia memanggil pembantunya...

Vitalis : Isna.....

Isna (pelayan I)          : Ia tuan..... (sambil lari menuju tuannya)

Vitalis : sekarang kamu ambilkan pakaian yang paling bagus, cincin dan sepatu emas untuk dipakai pada anaku dan marilah kita berpesta, sebab anaku ini  telah mati dan menjadi hidup kembali. Ia telah hilang dan didapat kembali (sambil berkata kepada pembantunya).

Ayahnya memakaikan pakaian, cincin dan sepatu pada anaknya lalu mereka berpesta dan bersukacita.

Narator: :maka  mulailah mereka berpesta tetapi anaknya yang sulung  berada di ladang  dan ketika pulang, ia mendengar bunyi seruling, nyanyian, dan tari-tarian. Lalu anak sulungnya memanggil seorang pelayan dan bertanya kepadanya

Andre  : Kristin......ayo sini

Kristin (pelayan II) : Ia tua.... (sambil lari ke arah Andre)

Andre : Acara apaan ini, (sambil marah-marah)

Kristin (Pelayan 1) : ia tuan, Adikmu telah kembali lagi dan bapamu merayakan kepulangan adikmu dengan berpesta.

Mendengar itu andre semakin marah dan mengerutu.

Narator: maka maralah anak Sulung  itu dan ia tidak  mau masuk kedalam rumah. Lalu,bapanyakeluar dan berbicara dengan  dia  tetapi   ia menjawab bapanya:

Andre :  Aku telah  melayani Bapa  selama bertahun- tahun  dan  belum  pernah  aku  melanggar  perintah bapa , tetapi bapa belum pernah mengadakan pesta untuk  aku. Namun hari ini baru saja  datang  anak bapa  yang telah menghabiskan harta kekayaan  dengan  hidup berfoya-foya bersama teman-temannya. Lalu Bapa menyambutnya dengan berpesta untuknya. Aku merasa bapa sama sekali tidak menghargai aku. Aku sangat kecewa dengan semua ini (sambil menendang barang yang ada di depannya).

Narator : lalu bapanya memenankan anak sulungnya, memeluknya dan berkata

Ayah : Anaku,  Engkau telah dan selalu bersama-sama dengan  aku selama ini. dan segala kepunyaanku adalah kepunyaamu.  Kita  patut bersukacita dan bergembira karena adikmu  telah mati  dan   menjadi hidup kembali, ia telah hilang  dan didapat  kembali.

Narator : mereka kemudian saling berpelukan dan anaknya menangis dalam pelukan bapanya.. Pesannya bagi kita adalah kita harus bisa saling memaafkan,menyayangi, dan berikanlah kesempatan  kepada orang  yang telah melakukan banyak  kesalahan  agar   dia bisa  merubah diri.Sekian dan terima kasih

SEKIAN....
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel