Aku Tersadar di Ambang Batas (Puisi)

Aku tersadar di ambang batas
Di kala aku berdua bersamamu di bawa gubuk itu
Kau mengajarkanku tentang memberi dan menerima
Katamu, “dengan memberi, aku akan menerima”
Kata ini menjadi awal dan akhir di setiap bangun dan tidurku
Hingga aku menjadi bosan,
bahkan sampai aku menutup telinga, tak rela mendengarnya.

Itulah kamu yang sulit kupahami,
Tingkahmu, di mataku kala itu, aneh dan tak dapat kuterima
Semuanya menjadi duri yang menusuk-nusuk hati dan pikiranku
Hingga di suatu petang, aku ingin lari jauh daripadamu
meninggalkan duri yang terus menusuk ego hatiku, tapi
Aku tak mampu melakukannya karena petuahmu  
Melumpuhkan kakiku untuk melangkah.

Aku pun tersadar di ambang batas ketika aku tiba di usia remaja
Di saat aku kenal cinta yang membawaku pada lelah dan
Aku pun teringat petuahmu, cinta memang membutuhkan pengorbanan.
Pengorbanan untuk rela memberi dan melepaskan
Sebab katamu, itulah warisan cinta yang telah kau terima dari sejarah kehidupan.

Aku pun menghitung kembali waktu yang telah berlalu
Masa ketika aku suka mengerutu mendengar petuahmu yang membosankan
Sebab sikapmu yang menuntutku untuk iklas dan rela berkorban,
Membakar egoku yang melenyapkan petuahmu.

Ya, kini aku menyesal, meneteskan pelu dalam pilu
yang tak mampu membawaku ke masa itu lagi.
Tapi petuahmu telah meninggalkan harapan bagiku
Petuah itu menghidupkan ragamu ke masa sekarang dan terus
Hadir menyapaku setiap keputusan yang kuambil

Kini, aku terus teringat sosokmu yang setia mendampingiku,
Kadang aku tak sanggup membayangkan tingkahku padamu.
Di saat kuluapkan marah, kata berbisa membasai
wajahmu yang tenang dan penuh sabar.

Itulah kamu sang guru yang membawaku ke masa sekarang
Sungguh sabar dirimu, dan akan kubawa petuahmu
Katamu, “orang yang bertahan dan tekun merawat kebaikan,
Pasti akan menuai kebaikan dengan sepuas hati. Sebab hasil
tak pernah mengkhianati usaha.”

Petuah itu terus mendengung seakan mengerakkan seluruh tenagaku
Oh..... guruku, dengan apa ku lukiskan terima kasihku
Sedang dari waktu ke waktu, tak pernah henti
Aku gunakan ilmu daripadamu.

Ya, kini aku harus pergi menapaki lagi jejak-jejak mimpiku
Meskipun kau tertinggal di sini, ingatanku tentangmu selalu ada di hatiku.****

Albertus Dino
    Previous article
    Next article

    Leave Comments

    Post a Comment

    Ads Atas Artikel

    Ads Tengah Artikel 1

    Ads Tengah Artikel 2

    Ads Bawah Artikel