Memangnya Tuhan itu ada? (Cerpen)


Menemukan Tuhan dalam diri sendiri dan orang lain
Quote Amor - Di kamar yang sederhana ini, aku kembali duduk sejenak mengambil nafas untuk menimba inspirasi dari hari-hari yang telah lewat demi menatap hari esok yang lebih baik. Di malam-malam inilah, aku duduk dalam keheningan, berusaha menemukan makna dari setiap kata yang muncul dalam hati dan pikiran. Kadang aku sulit memahami apa yang terjadi karena keterbatasan yang ada.

Lalu aku duduk di kursi belajarku, membuka setumpuk lembaran kertas yang berisi penuh gagasan dari para filsuf dan teolog dari beberapa abad yang lalu. Aku ingin mengenal gagasan mereka, yang katanya, gagasan penuh spekulatif, mempertanyakan segala sesuatu yang tampak. Katanya gagasan mereka akan mampu menaklukan hidup yang penuh dengan tantangan.

Gagasan yang mempertanyakan makna hidup, mengapa kita hidup? Apakah hidup ini punya makna? Mereka terus bertanya “mengapa? Mengapa? dan mengapa?” Pertanyaan ini menjadi dasar bagi mereka untuk berfilsafat dan sekarang pertanyaan itu muncul juga dalam pikiranku. Aku mulai mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang terlintas. Benarkah segala sesuatu perlu diragukan, seperti kata para filsuf.

Katanya juga, pertanyaan-pertanyaan mereka akan melahirkan gagasan demi gagasan. Tesis melahirkan antitesis lalu muncul sintesis dan muncul kembali tesis yang baru dan seterusnya. Pergerakkannya selalu begitu dan tak ada ujungnya. Aku pernah membaca sebuah ulasan tentang pertualangan seorang filsuf yang meragukan segala sesuatu lalu kemudian dia beralih dari percaya kepada Tuhan dan kemudian meninggalkan agamanya, karena dia tidak percaya pada Tuhan. Katanya, Tuhan yang diajarkan oleh agama itu hanyalah imajinasi yang diciptakan manusia itu sendiri. Tuhan sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya dan pikiran itu kemudian dilihatnya sebagai pribadi yang terpisah dari dirinya. 

Manusia kemudian menyembah pada imajinasi itu. Aku pun bertanya kepada diriku sendiri, benarkah pernyataan mereka. Aku memang belum pernah berjumpa dengan Tuhan secara kasat mata, tetapi aku sendiri masih meragukan kesimpulan mereka. apakah benar, Tuhan itu tidak ada. Lagi-lagi pertanyaan ini muncul dalam pikiranku. Kalau memang Tuhan itu tidak ada, kenapa agama itu masih ada hingga saat ini. Orang masih percaya bahwa hidup manusia sangat tergantung pada Tuhan. Hal itu terbukti dalam pengalaman.

Aku tidak berhenti sampai di situ, aku kemudian beralih dari pertanyaan itu dan menggali gagasan-gagasan para teolog yang berusaha menjawab pertanyaan “mengapa” atas keraguan akan Tuhan. Dari para teolog ini aku menemukan alasan, kenapa orang beriman.

Setiap malam, aku berdialog bersama gagasan-gagasan para filsuf dan teolog yang aku baca dari diktat-diktat kuliah. Kadang aku tersenyum sendiri menikmati keindahan gagasan mereka. Pernah juga, aku harus berpikir keras untuk memahami apa maksud mereka, tetapi yang seringkali aku alami adalah keningku berkerut dan mataku  melotot karena besarnya keraguan seorang  filsuf  bahkan lebih dari itu, karena keradikalannya menolak Tuhan.

Kadang aku berpikir, kenapa sampai seradikal itu mereka menolak Tuhan? Bukankan Tuhan sebagai jaminan keberadaan mereka di dunia ini? Namun dalam kebingungan itu, aku tidak sampai seperti mereka, menolak Tuhan. Aku bersyukur berjumpa dengan para teolog yang memiliki gagasan yang sangat cemerlang sekaligus indah untuk ditelususri. Aku menjadi bahagia dan bersyukur karena para teolog membuka cara berpikirku untuk melihat secara horizon khazanah berpikir para filsuf sebagai sumbangan untuk membantu memperdalam iman dan kepercayaanku.

Di malam ini, malam yang cukup berbeda dari malam-malam yang lain. Aku duduk di tempat yang sama, yang selama ini kugunakan sebagai tempat berdiskusi dengan para filsuf dan teolog, yang terjelma dalam huruf-huruf. Entahlah kenapa, malam ini, aku merasa ada sesuatu yang lain. Aku tak bisa bertahan lama duduk di tempat itu.

Rasa kantukku tak tertahan. Aku coba melawan rasa itu dengan segelas kopi Manggarai yang punya rasa khas mengikat. Selama ini, aku gunakan itu sebagai penggoda untuk mengalahkan kantuk itu. Tetapi sekali lagi malam ini tak bisa bertahan dengan semua itu. Aku akhirnya mengajak para filsuf dan teolog untuk memindah diskusi itu ke atas kasur empuhku sambil berbaring.

Aku tidak lagi berkata-kata, hanya mendengarkan celotehan filsuf Jean P. Sartre atas keraguannya pada Tuhan. “Tuhan itu tidak ada. Dia penghalang bagi kebebasan kita,” Kata Sartre. “Kalau Dia ada, kebebasan kita dicabut dari eksistensi kita.”

Aku tidak mau menanggapi celotehannya itu, aku hanya diam dan mendengar sebab kesadaranku semakin hilang. Sartre kemudian melanjutkan pernyataannya, yang semakin lama semakin aku tak mendengarnya lagi.

Tetapi satu ucapnya yang sempat masih aku dengar. “Kalau tidak ada Allah, semuanya boleh,” katanya mengutip Ivan, tokoh dalam novel the brothers karammazov karya Dostoyewski. Aku tidak tahu lagi apa yang dikatakannya selanjutnya.
***
Tiba-tiba aku berada di dalam sebuah kapal yang membawa aku menjauhi kampung halamanku. Di dalam kapal itu ada banyak sekali orang. Mereka sibuk dengan obrolan bersama teman-temannya. Ruangan kapal itu dipadati oleh suara yang sumbernya tak jelas, bergema ke mana-mana. Ada yang berbicara dan yang lainya menanggapi dengan canda-tawa. Tetapi anehnya mereka berkumpul dalam kelompok mereka masing-masing.

Mereka ribut tapi tidak saling membenci. Mata mereka dipenuhi air mata sukacita. Hal ini membuat aku bertanya-tanya, apa yang mereka bicarakan sehingga mereka sampai tertawa sehisteris itu. Aku melihat mereka satu per satu tetapi tak satu pun yang aku kenal.

Akhirnya aku duduk seorang diri di bagian depan kapal sambil menikmati sapaan saudara angin yang menyentuh wajahku. Dialah yang menemaniku dalam perjalanan itu. Aku merasakan sentuhannya sehingga aku dengan manja menikmati keindahan laut yang menyapaku dengan suara pecahan ombak.

Aku melihat sekitarnya, tak ada satu pun gunung, yang ada hanyalah laut yang membentang luas. Di sini baru aku tahu, inilah yang namanya lautan luas, seluas mata memandang, sampai di ujung sana, sampai menyentuh kaki langit.

Ketika aku menoleh dan ingin kembali ke tempat orang-orang berkumpul tadi, aku merasakan ada sesuatu yang berubah, aku melihat suasananya menjadi lain, ruangannya menjadi sebuah rumah yang besar. Orang-orang yang tadi aku lihat sudah tidak ada lagi. Sekarang, semua yang berkumpul di situ adalah orang-orang baru.

Ada anak-anak yang sedang bermain, tapi mereka sibuk dengan mainannya masing masing, tidak saling peduli dengan yang lain. Ibu-ibu juga sibuk dengan diri mereka sendiri, ada yang menata rias wajahnya, ada yang tiba-tiba tersenyum sendiri, bahkan tertawa seorang diri karena sebuah benda yang aneh di tangannya. Entahlah, apa yang dilakukannya pada benda itu sehingga dia tertawa seorang diri. Pemandangan itu membuatku aneh dan bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka?

Sedangkan di ujung sana, bapa-bapa duduk berderetan pada kursi yang tersusun tetapi semua kepala mereka tertunduk melihat ke bawah. Entah apa yang sedang mereka lakukan, apakah itu salah satu cara mereka mendengar atau menyimak laki-laki yang sedang berbicara di depan mereka, atau sebenarnya mereka bosan dengan kata-kata orang tersebut? Aku tak tahu.

Aku pun akhirnya pergi dan bergabung bersama mereka dan duduk di paling belakang. Aku ingin mendengarkan apa yang sedang dibicarakan orang itu. Tapi anehnya lagi aku tak mendengarkan suara dari orang itu. Rasa keanehanku semakin memenuhi diriku sekaligus menampung sejuta pertanyaan yang menjejal pikiraku.

Orang yang berdiri di sana itu, dengan penuh semangat berbicara sambil menggerakkan tangannya tetapi tak satu pun suara yang aku dengar keluar dari mulutnya, seolah-olah dia sedang memberikan semangat kepada semua orang  yang ada di depanku tapi tak punya suara.

Setelah lama berbicara lalu dia duduk sebentar pada kursi yang terletak di belakangnya dan menulis sesuatu pada secarik kertas. Dia kemudian memasukkan kertas itu pada sebuah amplop. Lalu dia berdiri lagi dan melihat ke arahku serta memanggil aku dengan tangannya. Semua orang yang dari tadi tak memperhatikannya, dengan serentak pula menoleh dan melihat aku.

Aku pun semakin merasa aneh karena mereka semua tiba-tiba melihat ke arahku, sementara kepala mereka dari tadi tunduk melihat ke bawah, tak memperhatikan orang yang berdiri di depan mereka. Aku maju ke depan mengikuti ajakkannya.

Dia memberiku senyum lalu menyodorkan amplop tadi kepadaku tanpa kata-kata. Aku menerima amplop itu dan aku ingin membukanya tapi dia menahan tanganku supaya tidak membukanya di tempat itu. Aku pun meninggalkan ruangan itu dengan segudang pertanyaan sekaligus rasa penasaran atas isi amplop itu. Aku menyimpan amplop itu di dalam saku celanaku.

Aku berjalan melewati gedung-gedung yang berderetan di depan bangunan itu hingga sampai pada sebuah jalan setapak. Aku mengikuti jalan setapak itu, semakin lama semakin aku kenal. Ketika aku sampai di sebuah bukit, aku berhenti sejenak tuk menarik nafas dan aku melihat sebuah kampung kecil yang berada di kaki bukit itu. Aku pun merasa, sepertinya aku juga mengenal kampung itu.

Aku kemudian melanjutkan perjalananku sampai di sebuah rumah yang berada di jalan masuk kampung itu. Di situ sudah banyak orang berkumpul menunggu kedatangan seseorang. Ketika mereka melihat aku, mereka semua berdiri di depan rumah itu dan memberi senyum kepadaku. Semuanya diam tanpa kata.

Datang seorang bapa mempersilakanku dengan tangannya untuk masuk ke dalam rumah itu. Aku pun terkejut dengan sambutan mereka tapi ada perasaan adeh dalam diriku yang sulit aku pahami. Aku mengikuti ajakkan orang itu, masuk ke dalam rumah itu. Sampai di dalam, mereka semua sudah duduk melingkar, semua mata tertuju padaku dengan senyuman mereka yang tulus dan penuh makna.

Aku kemudian melihat mereka satu per satu. Sungguh, aku menjadi terharu dan penuh bahagia walaupun masih tersisa satu rasa yang tetap terselip pada perasaanku, yang sulit aku pahami. Tetapi setidaknya aku sedikit bahagia karena aku menjadi tahu semua orang yang berada di situ.

Di antara mereka yang duduk melingkar itu, berdirilah seorang ibu yang beberapa tahun lalu meneteskan air matanya karena dengan sedih melepaskanku pergi demi harapanku akan suatu masa depan yang cerah. Wajahnya bersinar memancarkan kebahagiaan, mungkin karena dia bisa melihat kembali orang yang pernah ditangisinya beberapa tahun yang lalu.

“ayo…. Berjabat tanganlah dengan mereka,” katanya kepadaku.

Aku pun tanpa kata mengikuti perintahnya dan mulai berjabat tangan. “Selamat berjumpa lagi,” kataku kepada orang-orang itu.

“Terima kasih,” kata itu terucap begitu saja ketika aku sampai di depan seorang bapa yang pernah aku lihat beberapa tahun yang lalu. Ketika itu dia sedang sakit tetapi sekarang dia menyambut aku dengan senyumnya yang manis. Hal yang sama aku ucapkan kepada ibu yang tadi menyuruh aku untuk berjabat tangan.

Aku memeluk mereka. Namun hal yang membuat aku tak mampu menahan tangis, ketika aku sampai di depan seorang bapa yang banyak menginspirasi hidupku Dia memelukku dan memcium aku. Tiba-tiba tangannya menyentuh leherku dan menekan biji di leherku. Biji jakun pada leherku pun tergelincir keluar sampai di mulutku. Tapi biji itu masih terhubung dengan sebuah tali dari leher sehingga tak bisa dikeluarkan. Lalu dia menekan kembali biji jakun itu ke dalam leherku. Dia memeluk aku lagi dengan erat.

“lepaskan dia,” katanya sambil menunjuk seorang bapa tua yang duduk di depanya. “sembuhkan dia, kau telah menyiksanya bertahun-tahun.”

Aku kemudian melepaskan pelukannya dan melihat orang yang ditunjuknya itu.
“biarkanlah Tuhan yang akan mengutus orang menjamah aku dan kau supaya kita mendapat kesembuhan yang sama,” kataku dengan terbantah-bantah karena biji yang tersangkut pada leherku. Semua orang jadi hening, memusatkan perhatian pada orang itu.

Tanpa berkata-kata orang itu pun mengambil sebuah palu lalu dipukul pada sebuah batu lempeng. Dengan bunyi pukulan palu itu, biji di leherku mencair menjadi air. Aku pun langsung berkata-kata dengan penuh sukacita, serasa beban di pundakku terlepas dan jatuh. Aku merasa terbebas dari perasaan yang tak pernah kupahami selama ini. Dengan begitu aku terbangun dari tidurku karena hal itu.


#########
Aku bangun dan duduk di atas tempat tidurku. Aku tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Aku melihat ke seluruh ruangan kamarku, mungkin masih ada orang yang baru saja aku lihat. Aku menjadi terkejut dan bertanya-tanya, apakah arti dari semua itu. Selama ini, aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Aku mengingat-ingat wajah mereka semua yang tadi berjumpa denganku. Sebagian dari mereka adalah orang yang pernah berjumpa dengan aku. Aku merenung akan makna dari mimpi itu. Aku juga berusaha mengingat semua peristiwa yang baru aku alami.

“Ohhh, ya…amplop tadi.” Aku merogoh pada saku celanaku. Aku tak menemukan apa-apa di sana. Aku melihat di sekitar tempat tidurku, ternyata ada teks Jean P. Sartre yang aku baca tadi malam, sudah menjadi terkerut karena tertindih badanku. Mungkin orang ini yang memberikan amplop itu kepadaku dalam mimpi itu. Aku mengambil teks itu dan kubaca, “perealisasian diri tidak bisa dilakukan orang perorangan saja, melainkan harus berlangsung di dalam konteks bersama dengan orang lain.” kalimat ini tertulis dalam teks ini sebagai ungkapan Sartre sendiri.

Aku kemudian melihat teks-teks lain sudah terjatuh ke lantai. Aku mengambil dan merapikan semuanya lalu aku simpan di atas meja belajarku. Aku melihat jam wekerku, jarum pendeknya masih berada di angka dua. Itu artinya aku harus tidur lagi karena esok pagi, aku harus ke kampus lagi.****

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel