Menemukan Alasan Kenapa harus Beragama dan Beriman

Apakah Tuhan itu ada?
Foto diambil dari pixabay.com
Quote Amor - Pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri, kenapa kita harus memilih beragama daripada tidak? Apakah Tuhan yang kita iman itu ada? apakah benar surga yang dijanjikan dalam agama itu ada? Dan apakah benar ada kehidupan setelah kematian? 

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin mengganggu pikiran kita atau merasa bahwa kita tidak perlu bertanya demikian, percaya saja pada ajaran yang terdapat dalam agama. Kalau kita memiliki pandangan seperti ini, tanpa menemukan jawabannya, maka kita akan menjadi orang yang fanatik destruktif dan menjadi membeo dalam beragama. Pandangan seperti ini menjadi salah satu fenomena beragama yang membawa orang pada tindakan-tindakan intoleran dan kepercayaan fanatik yang tidak mau mengkritisi agamanya.

Orang hanya percaya begitu saja pada agamanya dan memahami kitab suci tanpa melihat konteks penulisan nya sehingga orang menjadi terbius dengan ajaran agamanya, yang menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan kekal tanpa peduli pada realitas kehidupan yang terjadi. Misalnya, tindakan bom bunuh diri dengan berdahlil pada ajaran mati sahit bahwa orang yang melakukan bom bunuh diri itu akan dijemput oleh para bidadari dari surga dan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Selain itu juga, ada orang yang tidak mau berjuang dalam hidupnya, menerima begitu saja pada keadaan hidupnya; kemiskinan, penderitaan, sakit yang sedang di deritanya. Pasrah begitu saja kepada Tuhan tanpa ada perjuangan untuk keluar dari situasi tersebut. Biarkan Tuhan yang bertindak tetapi tidak melakukan apa-apa.

Baca juga : 
Inilah fenomena kepercayaan yang membawa orang pada tindakan tidak beragama. Menganggap diri punya agama tetapi tidak memahami secara benar ajaran agamanya sehingga yang dilakukannya juga dapat merusak kehidupannya sendiri dan orang lain.

Saya mengkritisi fenomena-fenomena tersebut dengan menggunakan kritik Fuerbach dan Karl Marx  tentang agama. Memang kedua tokoh ini adalah ateis, tidak percaya pada adanya Tuhan yang diajarkan dalam agama dan mereka berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada sehingga agama dilihatnya sebagai proyeksi dan opium masyarakat. Dalam konteks menanggapi fenomena beragama seperti di atas, saya menggunakan kritik kedua tokoh ateis tersebut untuk memahami bagaimana orang bisa beragama dengan baik dan benar.

Dialog dengan Fuerbach dan Karl Marx

Fuerbach dan Karl Marx adalah filsuf yang hidup pada abad ke-19. Mereka berdua menolak adanya Tuhan seperti yang diajarkan dalam agama. Fuerbach mengatakan bahwa agama hanyalah proyeksi manusia. Pandangannya ini muncul dari kritiknya terhadap Hegel yang mengatakan bahwa realitas sejati adalah Roh Absolut (Allah, Idea) sedangkan pikiran dan aktivitas manusia hanyalah wujud dari realisasi Roh Absolut itu. Fuerbach mencungkirbalikkan pandangan Hegel ini dengan mengatakan bahwa realitas sejati itu bukanlah Roh Absolut melainkan manusia yang bisa diamati secara indrawi.

Dari sini Fuerbach kemudian berbicara tentang agama sebagai proyeksi manusia. Menurut Fuerbach, manusia adalah sumber dari agama itu, artinya bahwa kepercayaan kepada Tuhan sebagaimana terdapat dalam agama sebenarnya merupakan ciptaan manusia saja, dimana manusia melemparkan hakikat dan sifat-sifatnya sendiri ke luar dari dirinya. Sifat-sifat itu kemudian dilihat sebagai pribadi yang terpisah darinya, memiliki kelebihan yang melampaui dirinya dan menyembahnya.

Namun persoalannya manusia tidak menyadari hal tersebut sehingga dalam agama (yang diciptakannya), terjadilah penyembahan manusia terhadap hasil ciptaannya sendiri. Daripada manusia berusaha untuk mencapai gambaran dirinya yang ideal, ia malah menempelkan gambaran ideal itu pada allah ciptaannya dan memohon-mohon kepada ciptaannya sendiri. Dengan demikian agama justru mengasingkan manusia dari dirinya sendiri. Oleh karena itu manusia harus mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri dengan meniadakan agama.

Pandangan Fuerbach ini kemudian didukung oleh Karl Marx dengan mengatakan bahwa agama sebenarnya opium masyarakat. Marx sependapat dengan Fuerbach tentang agama sebagai proyeksi diri manusia yang berusaha mengenai dirinya tetapi malah terasing dari dirinya sendiri. Manusia lari dari dunia nyata dan beralih ke dunia khayalan dalam agama, hasil ciptaannya sendiri. Tetapi menurut Marx, Fuerbach tidak sampai pada pertanyaan mendasar kenapa orang mengasingkan hakikatnya ke dunia khayalan? Lalu, bagaimana mengatasi keterasingan ini?

Menurut Marx, orang lari pada dunia khayalan dalam agama karena dalam kehidupan nyata seperti struktur kekuasaan dalam masyarakat tidak mengizinkan manusia untuk mewujudkan kekayaan hakikatnya. Berhadapan dengan realitas tersebut, agama menyajikan suatu ajaran yang menjanjikan kebahagiaan dan kedamaian sehingga manusia lari pada agama karena tidak sanggup menghadapi realita kehidupan yang penuh dengan penindasan. 

Oleh karena itu, Marx mengatakan agama hanyalah ekspresi penderitaan dan protes terhadap penderitaan itu sehingga keterasingan manusia tidak cukup hanya mengeritik agama tetapi harus sampai pada kritik terhadap keadaan-keadaan dalam masyarakat yang membuat manusia membutuhkan khayalan.

Khayalan dan keterasingan itu hanya dapat diatasi dengan tindakan praksis untuk mengubah struktur dalam masyarakat yang menindas menjadi masyarakat yang adil sejahtera. Dengan demikian apabila tujuan praksis emansipatoris ini tercapai maka agama dengan sendirinya akan lenyap.

Kenapa harus beragama dan beriman?

Kedua pandangan filsuf di atas memang tidak dapat membuktikan ada-tidaknya Allah. Kritik mereka hanya sampai pada kritik tentang fungsi agama dan tidak membuktikan keberadaan Allah. Fuerbach berbicara tentang gambaran Allah dalam agama sebagai proyeksi tetapi dia tidak dapat membedakan agama dan Allah yang pada dirinya sendiri tidaklah identik. 

Justru dengan mengatakan bahwa manusia menempelkan sifat-sifat baiknya kepada Allah, sebenarnya dari pernyataan itu, diakui juga bahwa Allah itu ada dan karena Ia ada, maka menjadi mungkin bagi manusia untuk menempelkan gambaran dirinya pada Allah yang sempurna.

Senada dengan itu, saya memberi penekanan pada kritik kedua Filsuf tersebut untuk melihat bagaimana sebenarnya orang beragama. Saya sependapat dengan kritik dua filsuf tersebut kalau kritik tersebut ditujukan kepada fungsi agama atau kepada tokoh agama dan juga semua orang yang menganut agama tersebut, yang percaya begitu saja pada ajaran agama; dogma, institusi, tanpa bertindak kritis, tidak hanya percaya tetapi kepercayaan itu harus diimbangi dengan pengetahuan yang cukup sehingga kepercayaan itu tidak membeo saja tetapi punya alasan untuk menjadi dasar dalam menghidupi keyakinan itu.

Memang agama pada hakikatnya adalah kepercayaan kepada Allah dan kepercayaan beda dengan dogma dan institusi. Kepercayaan akan Tuhan jelas muncul dari dalam diri manusia, dari kemampuan kodratnya untuk mentransendensikan diri. Maka Allah bukan buatan manusia tetapi arah dan tujuan dari keterbukaan diri manusia kepada kehadiran Allah melalui pengalaman pribadi manusia. 

Namun kepercayaan itu tidak terbatas pada keyakinan saja melainkan kepercayaan itu harus diwujudnyatakan dalam tindakan praktis. Karena kepercayaan itu adalah iman dan iman adalah tanggapan manusia pada pernyataan diri Allah. Itu berarti kepercayaan tanpa tindakan adalah mati. 

Dan persis itulah fenomena kepercayaan orang yang menerima begitu saja ajaran agama tanpa memahami hakikat dari agama yang sesungguhnya, karena agama, pada dirinya sendiri, mengajarkan kebaikan dan kedamaian.

Dengan demikian sangatlah penting bahwa orang beragama harus diimbangi dengan pengetahuan dan pengalaman iman, baik melalui kehidupan doa, pengalaman hidup sehari-hari dan juga melalui literasi-literasi.  Dengan pengetahuan dan pengalaman iman, orang akan menjadi pribadi yang tahu bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk mengalami kehidupan.

Rasa syukur itu diungkapkan melalui usaha untuk membagikan kebaikan kepada orang lain, karena kebaikan Tuhan itu hanya bisa dialami melalui peristiwa kehidupan dan kehadiran orang lain yang peduli dan memperhatikannya.


Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel