Tafsir kitab Putra Sirakh 6: 6-17

Menjadi sahabat sejati
Quote Amor - Saya mencoba menafsirkan Kitab Bin Sirakh 6:6-8 dengan metode analisis retorika. Metode ini merupakan salah satu cara penafsiran kitab suci yang sangat bagus untuk menggali dan mendalam isi kitab suci. dengan metode penafsiran ini, kita diundang pertama-tama untuk melihat dan membaca kitab sucinya dan "mengotak-ngatik kitab sucinya untuk mendapatkan komposisinya dan dengan komposisi itu, kita akan terbantu untuk merefleksinya lebih dalam.

 5Tenggorokan        yang manis                   mendapat                      banyak sahabat,
                                                                                               dan keramahan diperbanyak      
oleh lidah               yang manis lembut.
......................................................................................
6Mudah-mudahan      orang yang damai                      denganmu         banyak adanya,
 Tetapi hanya              satu dari seribu                          hendaknya          menjadi penasehatmu.


7Jika engkau mau              mendapat                 sahabat,           kajilah dia dahulu,
                                     dan jangan segera percaya                                          padanya.
8Sebab ada orang                                         yang bersahabat    hanya menurut ketikanya sendiri,
 tetapi pada hari kesukaranmu               tidak bertahan.
................................................................................
9Ada juga                                                     sahabat yang berubah            menjadi musuh,
lalu                           menceritakan             persengketaan                         untuk menistakan dikau.
10 Ada lagi                                                     sahabat yang ikut serta        dalam perjamuan makan,
tapi tidak bertahan                                   pada hari kesukaranmu.
11 Pada waktu engkau      sejahtera      ia              adalah                       seperti engkau sendiri
                                                                                    dan lancang berbicara dengan seisi rumahmu.
12Tetapi bila engkau          mundur   maka  ia       berbalik                     melawan dikau
                                                                         serta menyembunyikan      diri terhadapmu.
..............................................................................
13Jauhkanlah diri                                                         dari para musuhmu,
tetapi berhati-hatilah                                            terhadap para sahabatmu.

14Sahabat setiawan                                  merupakan   perlindungan yang kokoh,
barangsiapa menemukan orang serupa itu     sungguh   mendapat harta.
15Sahabat setiawan                                                    tiada ternilai,
                                                                                    dan harganya tidak ada tertimbang.
16Sahabat setiawan                                 adalah obat kehidupan,
....................................................................................
orang yang takut akan Tuhan                  memperolehnya.
17Orang yang takut akan Tuhan              memelihara                  persahabatan dengan lurus hati,
sebab seperti ia sendiri                                             demikianpun                    temannya.



Sikap untuk mendapat banyak sahabat (5-6)


Peringatan untuk berhati-hati bersahabat (7-10

Tipe-tipe Sahabat Palsu     (11-13)

Tipe Sahabat Sejati  (14-17)


Tafsiran

Dalam komposisi di atas, kami membagi menjadi 4 bagian yang disusun secara konsentrik. Bagian pertama, ayat 5-6 dan bagian terakhir, ayat 14-17 menjadi pararel yang mengapiti bagian kedua dan ketiga, ayat 7-10 dan ayat 11-13 yang merupakan bagian konsentriknya. Bagian konsentrik ini juga di susun secara pararel, ayat 7-10 dipararelkan dengan ayat 11-13.

Di bagian pertama berbicara tentang  bagaimana orang berusaha untuk mendapatkan banyak sahabat (ayat 5). Dikatakan bahwa orang yang baik dan ramah akan mendapatkan banyak sahabat. Keramahan mengandaikan tutur kata yang sopan, dan tidak menyakiti hati orang lain. 

Namun dari sekian banyak teman yang dimiliki, yang akan menjadi penasihat adalah hanya satu (ayat 6). Kata “satu dari seribu” dapat kita temukan juga dalam Ayub 9:3, pengkotbah 7:28. Sedangkan bagian kedua dan ketiga disusun secara pararel berbicara tentang beberapa macam sifat dari sahabat palsu (ayat 7-13). Bagian ayat 7-10 dimulai dengang suatu peringatan bahwa orang harus berhati-hati dalam bersahabat (7-10). 

Ini merupakan ungkapan kejujuran penulis tentang pengalaman hidupnya, bahwa ada orang bersahabat dengan kita karena mempunyai motif tertentu, misalnya pada seorang sahabat yang “tidak bertahan pada hari kesukaranmu” (bdk ayat 10).

Lalu pada ayat 11-13 berbicara tentang bebrpa tipe sahabat palsu, misalnya pada saat engkau sejahatera, dia akan baik dengan kamu tetapi pada saat engkau mundur maka dia akan berbalik melawan dikau. Sedangkan bagian terakhir berbicara tentang sahabat sejati (ayat 14-17). Penulis menunjukkan karakter sahabat sejati itu. Sahabat sejati itu adalah orang yang takut akan Allah. dikatakan bahwa orang yang takut akan Allah akan diberkati dengan mendapat sahabat . Abraham dalam tradisi Israel disebut sebagai sahabat Allah (Yes 41:8, 2 Kor 20:7) dicobai Allah untuk mengorbankan putra tunggalnya Ishak (Kej 22:1). 

Dalam banyak cobaan Abraham tetap setia pada imannya kepada Allah. kalau kita melihat secara keseluruhan perjalanan panggilan Abraham, sebutan sahabat Allah bagi Abraham terutama karena Abraham membuktikan kesetiaan imannya kepada Allah. Dengan demikian Abraham diberkati Tuhan.

Selain itu, dari komposisi tersebut, kita dapat menemukan benang merah yang menghubungkan secara keseluruhan dari perikop tersebut, yaitu kata persahabatan. Kata ini menjadi pengikat yang menghubungan seluruh kisah tersebut. Dengan demikian kita dapat melihat satu gagasan yang paling menarik diulas dalam perikop ini adalah mengenai persahabatan. 

Pengarang kitab ini menyampaikan suatu pesan supaya orang harus berhati-hati dalam membangun persahabatan. Penulis menunjukkan dua karakter persahabatan, yaitu persahabatan sejati dan persahabatan palsu. Pengarang kitab ini juga menunjukkan pengalamannya bahwa sahabat sejati itu hanya sedikti dan sulit sekali untuk mendapatkannya. Sahabat sejati itu dilukiskan dan dipuji (ayat 15-17) seperti istri yang tegar dalam Ams 31: 10-31.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel