EKARISTI MEMPERSATUKAN UMAT ALLAH

foto dari Albertus Dino
Quote Amor - Perayaan Ekaristi merupakan sebuah perayaan komunal yang mempersatukan umat beriman dalam nama Yesus Kristus sebagai kepala Gereja. Ekaristi tidak dapat dilepaspisahkan dari sebuah persekutuan umat yang berkumpul untuk merayakan secara bersama-sama. Perayaan ekaristi selalu menyatu dalam satu komunitas. Ekaristi tanpa komunitas berarti bukan ekaristi. Perayaan tersebut mengandung makna sebagai kenangan akan sejarah keselamatan Allah yang bekerja melalui putra-Nya Yesus Kristus. Sejarah keselamatan itu hadir secara nyata dalam perjamuan ekaristi.

Umat Kristiani berkumpul dan bersatu dalam Gereja, merayakan misteri keselamatan yang hadir dalam rupa roti dan anggur. Perayaan tersebut menjadi perayaan bersama sebagai sumber kekuatan iman seluruh kehidupan umat kristiani. Karena kristus sendiri pada perjamuan malam terakhir, menetapkan ekaristi sebagai tanda kenangan yang dipecayakan kristus kepada Gereja sebagai mempelai-Nya (KGH 13224). Kenangan tersebut diwariskan dan dirayakan terus-menerus oleh Gereja sebagai sumber kekuatan untuk mewartakan kristus dan juga mempersatukan umat Allah.

Namun muncul gejala baru dalam kehidupan iman umat kristiani adalah umat tidak mau mengikuti ekaristi karena tidak suka dengan imamnya, entah karena kotbahnya tidak menarik, atau karena cara hidup imam tersebut yang tidak baik. Selain itu juga ada umat yang berpandangan bahwa perayaan ekaristi itu bisa diikuti melalui siaran langsung di televisi dan tidak perlu berkumpul bersama di gereja.

Persoalan seperti ini sebanarnya sudah terjadi ketika zaman Rasul Paulus. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, dia mengeritik kehidupan jemaat yang penuh dengan perselisihan dan perpecahan. Paulus menegaskan bahwa dasar dari ekaristi adalah komunitas yang bersumber pada injil. Ekaristi harus memancarkan cinta kasih Tuhan yang dapat menyatukan semua orang. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan dibahas mengenai ekaristi sebagai dasar kehidupan iman kristiani. Bagaimana ekaristi itu dapat menyatukan umat beriman? Dan bagaimana ekaristi itu menjiwa iman umat dalam kehidupan sehari-hari di tengah dunia.

Perayaan komunal dengan Kristus dan sesama

Perayaan ekaristi merupakan sebuah perayaan bersama Yesus yang menjadi tuan rumah sekaligus sebagai hidangan. Karena Kristus menjadi tujuan arah sejarah umat manusia, titik pusat perjalanan sejarah dan peradaban. Dalam diri-Nya, kehidupan manusia menemukan penebusan dan pemenuhannya. Perayaan ekaristi tidak dapat dilepaspisahkan dengan perjamuan gereja perdana. Karena perayaan ekaristi gereja perdana berakar dalam perjamuan-perjamuan yang dilakukan Yesus dengan orang berdosa, perjamuan malam terakhir, dan perjamuan-perjamuan dengan Kristus yang bangkit saat penampakan-Nya.

Perjamuan tersebut melegitimasi perayaan ekaristi sebagai perayaan keselamatan sehingga ekaristi dipahami sebagai perjamuan dengan Yesus yang memberikan dirinya menjadi pelayan dan tuan Rumah tetapi juga sebagai hidangan dalam perjamuan itu. Perjamuan tersebut tidak hanya menyatuhkan umat beriman yang hadir dan terlibat di dalamnya, tetapi juga mempersatukan umat dengan sesamanya. Ini merupakan titik panggal ekaristi yang dirayakan gereja secara terus menerus.

Perayaan ekaristi menjadi suatu perayaan kehidupan, sebab kristus adalah pusat dan muara kehidupan, arah sejarah dan tatapan perkembangan peradaban. Perayaan ekaristi tidak hanya sekedar berkumpul dan melaksanakan ritual melainkan merayakan karya keselamatan Allah. Ekaristi dirayakan bukan pertama-tama atas inisiatif atau kemauan gereja sendiri melainkan karena diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri.[1] Sebab pada perjamuan malam terakhir Yesus berkata, “perbuatlah ini menjadi kenangan akan daku (Luk 22:19; 1 Kor 11:24).

Karena itu ekaristi diharapkan tidak berhenti pada ritual dan ibadat, hanya berkutat pada kebaktian dan tata upacara belaka. Ekaristi tidak dimaksudkan hanya mau membangun kesalehan privat, tanpa ada kepedulian akan dunia nyata. Walaupun ekaristi juga memiliki dimensi privat atau devosi pribadi tetapi tetap saja tidak dapat dilepaskan dari aspek komunal karena ekaristi merupaka tindakan sekaligus perayaan komunitas gereja. Dalam perayaan ekaristi Tuhan Yesus memuat dimensi dialogis. Dia memberikan dirinya sebagai santapan bagi kita dan dengan menerimanya, kita dituntunnya masuk ke dalam persaudaraan serta komitmen komunal.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada ekaristi tanpa komunitas, dan kalau dimensi komuniter hilang maka makna dan maksud dari perjamuan Tuhan tidak akan terwujud dan ekaristi tidak akan menghasilkan buah. Tentunya kita memiliki iman akan Yesus dan karena itu setiap orang yang beriman kepada-Nya harus mengikuti dan melaksanakan apa yang dilakukan Yesus. Iman yang dirayakan dalam ekaristi hendaknya adalah iman yang berbuah dalam semangat serta sikap untuk mau saling berbagi, sebab hanya dengan cara demikian, umat beriman baik secara personal maupun bersama, melayani Tuhan. Dalam ekaristi tidak ada tempat bagi individualisme dan semangat yang hanya mau mencari kesalehan pribadi atau personal belaka.

Umat yang berkumpul bersama untuk merayakan Ekaristi meyatakan secara jelas bukan saja kesatuan dengan sesamanya, melainkan kesatuan dengan kristus sebagai kepala tubuh. Kesatuan komuniter tersebut didasarkan pada kasih, baik kasih kepada Allah maupun kasih kepada sesama yang merupakan hukum utama umat beriman. Ekaristi tidak hanya berhenti dan memusatkan perhatian pada altar dan ritual persembahan melainkan ekaristi harus bisa sampai kepada tindakan hidup Yesus. Karena ekaristi itu berkaitan dengan kehidupan yesus yang mempersembahkan diri-Nya kepada umat manusia. Ekaristi itu adalah tindakan Allah dan bukan buatan manusia.

Di dalam perayaan ekaristi seluruh misteri kehidupan bersama dengan Allah dan manusia yang mengalami kepenuhannya dalam kristus dirayakan dan dihadirkan bagi umat beriman. Inilah yang kemudian ditegaskan oleh Konsili Vaikan II bahwa ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup umat kristen karena di dalamnya tercakup seluruh hidup iman dalam keterarahan kepada kristus (LG 11). Menurut konsili Trente, Ekaristi merupakan sumber Rahmat dan sumber dari segala spiritualitas kebaikan adalah sakramen ekaristi.[4] Inilah misteri ekaristi yang merupakan misteri Tuhan yang menjadi makanan bagi umat manusia agar manusia hidup dan bersekutu dengan dia dan sesama. Dengan ekaristi memunkinkan kita memahami serta mengalami makna terdalam dari peristiwa inkarnasi. Di dalamnya realitas Allah menjadi manusia menjadi sungguh nyata. “Inilah tubuh-Ku, inilah darah-Ku.” Dia memberikan diri-Nya dalam ekaristi, “Roti yang kuberikan itu adalah daging-Ku yang akan kuberikan untuk hidup dunia (Yoh 6:51).

Dalam perkembangan sejarah kristiani, gambaran sejarah kehidupan Yesus dalam kitab suci di kembangkan dalam tiga ciri khas; kemenangan penebusan Yesus membawa kebebasan dari dosa dan kejahatan, serta keluaran (exodus) baru dari kematian menuju kepada kehidupan; pengorbanannya sebagai imam dan korban, merupakan pelunasan hutang kita sehingga relasi kita dipulihkan dengan Allah; kasihnya mencurahkan kepada kita bagi tumbuhnya perjanjian yang baru dan benar dengan Allah. Ketiga makna tersebut termaktub dalam hukum cinta kasih yang menjadi dasar kehidupan komunitas injil. Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae memberi gambaran nyata tentang keterkaitan erat antara ekaristi dan kasih, “dari ekaristi mengalirlah tindakan kasih, dan dari tindakan kasih tertujulah orang kepada ekaristi.

Selain itu juga, Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menekankan makna komunal dari ekaristi. Paulus menanggapi situasi jemaat korintus yang mengalami perpecahan dan pertikaian (1 Kor 1:12-13; 11:18). Dia juga mengecam perilaku seksual dan berhala dalam jemaat Korintus. Paulus mengatakan bahwa ekaristi merupakan perayaan komunal dengan Yesus Kristus sebagai kepala dan juga sebagai hidangan perayaan tersebut. Ekristi menjadi pemersatu oleh tubuh dan darah kristus. Dimensi ekaristis tersebut menekankan perekutuan umat dengan Kristus sebagai sebuah persekutuan yang real, karena dibangun berdasarkan realis presentia dalam ekaristi.

Aspek komunal ekristi memperlihatkan nilai kesatuan jemaat yang berpusat pada hidup kristus sendiri, mereka menjadi bagian yang berpartisipasi (koinonia, persekutuan) dalam hidup Yesus. “Karena roti adalah satu maka kita sekali pun banyak adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu” (1Kor 10:17). Kebersamaan ekaristi merupakan kebersamaan dengan kristus, yakni kebersamaan yang diadakan dan disediakan oleh kristus sendiri sebagai tuan rumah dan sekaligus hidangannya.”[8] Ekaristi sejatinya tidak hanya melibatkan beberapa orang saja dan sebagiannya hanya sebagai pengamat yang melakukan devosi pribadi melainkan perayaan bersama yang melibatkan semua orang secara aktif sebagai perayaan komunal. Hal tersebut ditegaskan oleh Paulus bahwa tidak mungkin ada ekaristi di dalam komunitas yang anggota-anggotanya tidak saling mengasihi. Komunitas menjadi landasan utama bagi perayaan ekaristi.

Persekutuan yang melayani

Kesatuan gereja ditegaskan pada kenyataan semua umat mengambil bagian dalam roti yang satu dan sama, “karena roti adalah satu, maka kita sekalipun banyak adalah satu tubuh karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1 Kor 10: 17). Ini merupakn dasar seruan Paulus kepada jemaat di Korintus yang mengalami perpecahan. Paulus berusaha memberikan gambaran yang jelas mengenai kehidupan umat kristiani harus bersumber pada Kristus. Hidup yang menghargai perbedaan dan perbedaan itu telah disatukan oleh Yesus Kristus. Keberagamaan dan perbedaan bukan menjadi alasan akan perpecahan, malah mendapatkan panggilan akan kesatuan persaudaraan. Yesus telah mengorbankan dirinya untuk mempersatukan kita dalam keselamatan yang diwartakannya maka kita sebagai pengikutnya mempunyai tugas yang sama yaitu mau berkorban bagi orang lain. Aspek pengorbanan itu harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan hidup kita kepada orang lain.

Dengan demikian ekaristi senantiasa memuat dimensi berbagi yang merupakan tanda nyata dari koinoniasebagai persekutuan persaudaraan. Ekaristi sebagai perayaan bersama tidak hanya sekedar berkumpul melainkan semua jemaat saling bahu-membahu, saling menasihati, dan saling meneguhkan satu sama lain. setiap umat harus terjalin komunikasi yang aktif. Semangat persaudaraan itu berasal dari Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk penebus dosa kita. Dia memberikan dirinnya kepada Allah dan hadir secara penuh sebagai manusia. Rasul Paulus memaknai ekaristi sebagai kehadiran, perjamuan persaudaraan dan korban (1 Kor 10: 16-22). Paulus meminta kepada jemaat di Korintus untuk membangun perjamuan ekaristi menjadi ikatan persatuan dalam komunitas.

Persekutuan persaudaraan itu dimaknai sebagai kesediaan untuk berbagi dengan yang lain. Sikap pengorbanan kristus menjadi tanda bagi kita untuk meninggalkan keegosisan diri dan masuk dalam kesatuan dengan kristus untuk memberi diri melayani orang lain. Dengan ekaristi kita dimampukan untuk membangun persaudaraan kasih dalam kebersamaan dengan umat Allah di tengah kehidupan nyata sehari-hari. Kita telah menerima Tuhan sebagai sumber hidup kita. Itu berarti kita juga harus siap melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Tuhan tidak diskriminasi dalam pelayanannya maka kita juga harus bisa melakukan hal yang sama, yaitu mecintai semua orang tanpa membeda-bedakan. Kita punya tanggung jawab untuk peduli kepada orang lain, supaya tidak ada yang merasa terpinggirkan dari kehidupan komunitas.

Tindakan kasih pengorbanan Tuhan adalah suatu undangan agar semua orang bisa ikut serta dalam perjamuan Tuhan, duduk dalam satu meja perjamuan dengan-Nya. Oleh karena itu, ekaristi memiliki syarat dasar yaitu menerima dan mengakui kristus, tidak saja pribadi-Nya, tetapi juga sabda dan karya-Nya, demikian pula semua umat manusia ciptaan-Nya. Dengan menyambut tubuh dan darah Kristus maka kita disatukan dalam persekutuan dengan Tuhan. Itu berarti kita sebagai gereja juga harus bisa memberi diri seperti Kristus menjadi pelayan bagi tuhan dan sesama. 

Di sini gereja ditempatkan sebagai sakramen kesatuan, dan ekaristi adalah tanda dan sakramen paling nyata dan mendalam dari panggilan kesatuan tersebut. Dengan menjadi bagian dalam gereja, seseorang telah mengenakan Kristus sehingga tidak berlaku lagi pemisahan karena perbedaan suku dan etnis, bahkan status sosial (bdk Gal 3:27-29; Flm 1:9-19) sebab Allah tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain, karena semuannya sama dalam menerima rahmat kristus, sehingga semua dipanggil dalam kesatuan tubuh ( Rom 2:11; Ef 2:1-14; 1 Kor 1:10-17), bahkan dipanggil menjadi umat pilihan Tuhan (1 Ptr 2: 9).

Dengan menempatkan ekaristi sebagai tanda kesatuan gereja. Agustinus mengunkapkannya dalam tiga kata; virtus, unitas, caritas. Ketiganya mempunyai makna bahwa tindakan kurban bagi kebaikan dan keselamatan akan membangun kesatuan, dan darinya tumbuhlah tindakan kasih. Ekristi memang tidak hanya mengandaikan komunitas umat beriman berkumpul tetapi juga umat beriman itu harus besatu dan karakter kesatuan ini akan terwujud secara efektif bila ada semangat saling mengasihi. Dengan demikian komunitas umat beriman menimbah semangat ekaristi dari Kristus harus mengalir sampai kepada kehidupan nyata.

Pengurbanan bersama Kristus

Ekaristi merupkan peristiwa kurban di mana Yesus mempersembahkan dirinya bagi keselamatan manusia. Kurban kistus merupakan sebuah pilihan, sebab karena kasih-Nya Allah rela memberikan putra-Nya sendiri, demi keselamatan umat-Nya (lih Yoh 3: 16).  Tindakan kurban itu sebagai suatu undangan untuk ikut serta dalam tindakan kurban kristus. Sebab sebagaimana Dia telah memberikan diri-Nya sendiri bagi kita maka kita pun diundangan untuk memberikan diri kita kepada-Nya sehingga menjadi bagian dari tubuh-Nya, agar kita memiliki hidup di dalam Dia. Makna perayaan tersebut tidak hanya memuat aspek kurban, tetapi peristiwa yang dikenangkan dan dihadirkan di dalamnya juga sebagai peristiwa kurban. Artinya bahwa kurban ekaristi itu tidak hanya sebagai peristiwa ritual belaka atau suatu ingatan historis akan peristiwa masa lalu melainkan sebuah perayaan kurban yang hadir secara nyata, bahkan menyatakan kemenangan atas maut.

Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Korintus memberi gambaran akan realitas ini, “setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor 11:26). Peristiwa kurban tersebut bukanlah peristiwa kekalahan melainkan sebuah jalan yang ditempuh bagi kemuliaan Bapa (lih Fil 2:8; Yoh 17:4; Ibr 10: 5-10). Kurban saib yang dirayakan dalam ekaristi menemukan dasar utamanya dalam tindakan inisiatif Allah Bapa yang mengorbankan putra-Nya yang tunggal bagi keselamatan dunia. 

Dengan demikian kurban sejati adalah tindakan Allah bagi manusia. Tindakan tersebut memuat undangan bagi umat manusia agar kembali kepada bapa dan melakukan sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Berkaitan dengan hal tersebut, Yohanes Paulus II dalam dominicae Cenae menegaskan bahwa ekaristi adalah kurban dan jika gereja merayakan ekaristi berarti ikut dalam tindakan kurban Kristus. Tindakan pengorbanan itu mengandung unsur pertama dari iman ekaristis sebagai misteri Allah sendiri, yakni kasih yang trinitaris, kasih yang memberikan diri sebagai roti hidup yang menyelamatkan.

Hanya dengan kesediaan untuk menjalin relasi dengan sesama, dan menampakan kasih kepada orang lain maka kita akan semakin peduli kepada Allah. Kalau kita menyimak kisah penetapan perjamuan malam terakhir sebagai gambaran kenyataan penggenapan wujud dan tanda kerajaan Allah dalam diri yesus Kristus, kita dapat menemukan ciri dasar yang digambarkannya. Dia menegaskan unsur pelayanan ekaristis karena Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Kenyataan tersebut mendapat gambaran yang paling nyata dan jelas dari peristiwa pembasuhan kaki, yang kemudian aspek pelayanan tersebut menemukan wujud yang paling radikal yaitu penyerahan diri-Nya sebagai kurban salib dan kesediaan menjadi yang terkecil dan yang terakhir.

Tindakan kurban Yesus di salib bukan hanya sebagai suatu tindakan silih tetapi lebih daripada itu yaitu sebagai tindakan keselamatan Allah. Tindakan Allah itu disebut sebagai tindakan penebusan dan pembenaran. Tindakan Yesus memuat makna sebagai persembahan diri, persembahan yang hidup atau persembahan rohani, yang berkenan kepada Allah. maka tindakan kurban Kristus dan pujian syukur gereja dalam ekaristi merupakan satu kesatuan yang utuh dan berkesinambungan. Ekaristi dengan berangkat dari peristiwa Yesus merupakan kurban Gereja, sebab gereja ikut serta dalam kurban Yesus Kristus. Kurban tersebut merupakan kurban sekali untuk selama-lamanya. Walaupun demikian tidak berarti bahwa ekaristi merupakan tindakan mengurbankan kembali Kristus. Peristiwa kurban keselamatan salib itu sudah terjadi dan tidak diulangi lagi. Akan tetapi peristiwa keselamatan melalui kurban salib itulah yang dirayakan dan dihadirkan sebab tindakan Allah yang menyelamatkan masih senantiasa berlangsung.

Tindakan kurban itu juga menegaskan sikap dasar Kristus yang penuh dengan ketaatan dan kasih setia. Ini merupakan suatu teladan kerendahan hati yang luar biasa karena dia memberikan diri-Nya sendiri kepada umat manusia, yang diangkatnya menjadi sahabat-sahabat-Nya, sebagai kasih yang tiada berkesudahan. Dengan demikian ekaristi kudus merupakan pemenuhan dan puncak dari segala karunia Allah kepada umat manusia sejak dari masa penciptaan. Peristiwa kurban tubuh dan darah Kristus menjadi tanda bagi keselamatan dan perjalanan ziarah umat beriman. Hal tersebut menegaskan bahwa persembahan diri Kristus tidak sama dengan persembahan hewan dari ritual kegamaan Yahudi. Persembahan diri Kristus merupakan persembahan yang tak bernoda, yang menyucikan hati manusia sehingga mereka dapat memuji kepada Allah yang hidup. Melalui ekaristi, Kristus menjadi ibadat dan kurban abadi yang selalu hadir dalam perayaan ekaristi hingga saat ini.

Oleh karena itu, Yesus kristus tidak hanya sebagai kurban tetapi juga sebagai pihak yang mengurbankan diri-Nya sendiri, atau seperti yang dikatakan Yohanes Paulus II dalam Dominicae Cenae menyebutnya sebagai kesatuan dan kesamaan antara consecrator dengan consecrated. Ini merupakan dasar kesucian atau kesakralan ekaristi. Artinya bahwa kekudusan ekaristi bukanlah suatu “sakralisasi”, dibuat seakan-akan sesuatu yang sakral. Ekaristi bukan hanya sebagai peringatan atau kenangan akan peristiwa masa lampau melainkan lebih mendalam yaitu sebagai suatu tindakan akan penghadiran kurban keselamatan. 

Perayaan ekaristi merangkum kenangan dan penghadiran akan tindakan kurban tersebut yaitu tindakan penyelamatan kasih. Di dalam tindakan kurban itu dsatukan persaudaraan kasih umat manusia dengan Allah dan satu sama lain karena kuasa dosa telah dikalahkan oleh Kristus. Dengan menyantap Tubuh kristus, seseorang ikut serta dalam persekutuan dengan tubuh kristus. Dengan demikian Tuhan Yesus tidak hanya menegaskan pemberian diri-Nya secara bebas tetapi juga mengungkapkan makna pengorbanan-Nya serta menghadirkannya secara sakramental, sehingga kurban tersebut senantiasa dihadirkan secara baru.

Kesimpulan

Ekaristi merupakan suatu perayaan keselamatan yang menyatukan umat beriman dalam Kristus. Perayaan tersebut menjadi suatu perayaan kehidupan, sebab kristus adalah pusat dan muara kehidupan, arah sejarah dan tatapan perkembangan peradaban. Perayaan ekaristi tidak hanya sekedar berkumpul dan melaksanakan ritual melainkan merayakan karya keselamatan Allah. Walaupun ekaristi juga memiliki dimensi privat atau devosi pribadi tetapi tetap saja tidak dapat dilepaskan dari aspek komunal karena ekaristi merupaka tindakan sekaligus perayaan komunitas gereja.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada ekaristi tanpa komunitas, dan kalau dimensi komuniter hilang maka makna dan maksud dari perjamuan Tuhan tidak akan terwujud dan ekaristi tidak akan menghasilkan buah. Dalam Konsili Vatikan II ditegaskan bahwa ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup umat kristen karena di dalamnya tercakup seluruh hidup iman dalam keterarahan kepada kristus. 

Itu berarti umat yang berkumpul bersama untuk merayakan Ekaristi meyatakan secara jelas bukan saja kesatuan dengan sesamanya, melainkan kesatuan dengan kristus sebagai kepala tubuh. Kesatuan komuniter tersebut didasarkan pada kasih, baik kasih kepada Allah maupun kasih kepada sesama yang merupakan hukum utama umat beriman. Persekutuan persaudaraan itu dimaknai sebagai kesediaan untuk berbagi dengan yang lain. Sikap pengorbanan kristus menjadi tanda bagi kita untuk meninggalkan keegosisan diri dan masuk dalam kesatuan dengan kristus untuk memberi diri melayani orang lain. Dengan ekaristi kita dimampukan untuk membangun persaudaraan kasih dalam kebersamaan dengan umat Allah di tengah kehidupan nyata sehari-hari.

Selain itu juga ekaristi merupkan peristiwa kurban di mana Yesus mempersembahkan dirinya bagi keselamatan manusia. Tindakan kurban itu sebagai suatu undangan untuk ikut serta dalam tindakan kurban kristus. Sebab sebagaimana Dia telah memberikan diri-Nya sendiri bagi kita maka kita pun diundangan untuk memberikan diri kita kepada-Nya sehingga menjadi bagian dari tubuh-Nya, agar kita memiliki hidup di dalam Dia.  Makna perayaan tersebut tidak hanya memuat aspek kurban, tetapi peristiwa yang dikenangkan dan dihadirkan di dalamnya juga sebagai peristiwa kurban. Artinya bahwa kurban ekaristi itu tidak hanya sebagai peristiwa ritual belaka atau suatu ingatan historis akan peristiwa masa lalu melainkan sebuah perayaan kurban yang hadir secara nyata, bahkan menyatakan kemenangan atas maut.

Oleh Albertus Dino

Daftar Pustaka

Martasidjita, E. SAKRAMEN-SAKRAMEN GEREJA: Tinjauan Teologis, liturgis, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Cahyadi, T. Krispurwarna. Roti Hidup, Ekaristi dan Dunia kehidupan. Yogyakarta: Kanisius, 2012.
Piolant, Antonio. The Holy Eucharisti. New York: Tournai Paris, 1961.

Osborne, Kenan B. Komunitas, Ekaristi dan Spirituaitas. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Martasudjita, E. EKARISTI: Tinjauan Teologis, Liturgi, dan Pastoral. Yogyakarta: Kanisius, 2005.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel