Puncak Kejahatan Manusia: Melawan kerahiman Allah (Yoh 19:17-42)

injil yohanes, kerahiman Allah
Puncak Kejahatan Manusia
Quote Amor - Peristiwa kematian Yesus merupakan suatu peristiwa yang menunjukkan dua hal, yaitu puncak kejahatan manusia yang paling besar melawan Allah dan kerahiman Allah yang melampaui kemampuan manusia. Dalam peristiwa itu, Tuhan Yesus diseret ke Bukit Kalvari. Tubuh-Nya dipaku secara keji pada kayu salib dan dipertontonkan sambil dihina. Ini merupakan suatu gambaran nyata tentang sikap dan tindakan kita yang cenderung egoistik, tanpa memikirkan orang lain. Kita menjadi apatis atau tidak peduli lagi dengan orang lain, dan yang terpenting hanyalah keinginan kita tercapai. Akibat keegoisan manusia, Yesus  menderita dan wafat di kayu salib karena kita tidak punya perasaan malu.

Namun, melalui peristiwa tersebut, Allah menunjukkan kerahiman-Nya kepada kita. Allah mencurahkan kasih-Nya secara total dengan merelakan putra-Nya menderita dan wafat di kayu salib untuk mnyelamatkan kita. Dengan cara itu, Allah terus mencari uasaha agar kita dapat diselamatkan. Ini merupakan cinta yang melampaui kemanusiawian kita, Yesus dengan tenang, sabar dan rela menerima semuannya itu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan merenungkan bagaimana Yesus menunjukkan kesetiaan-Nya menanggung penderitaan itu dengan berpasrah sepenuhnya kepada kehendak Allah. Marilah kita merenungkan tiga sabda Yesus di atas kayu salib sebagai bentuk penyerahan diri-Nya kepada Allah Bapa di Surga .

“Ibu, inilah anakmu” dan “Inilah ibumu!” (Yoh 19:26-27)

Ini merupakan ungkapan Yesus yang menggambarkan penyerahan diri Yesus bagi orang yang mau menerima-Nya. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya yang dengan setia menemani Dia sampai di puncak Golgota. Dia meneguhkan mereka supaya saling memperhatikan dan saling menguatkan. Bunda Maria yang telah mengandung dan melahirkan Yesus,  akhirnya juga menemani Yesus yang tergantung di kayu salib. Tanggapan Bunda Maria atas sapaan malaikat Tuhan, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (Luk 1:38)  menjadi nyata dalam partisipasi pada penyerahan Diri Yesus dengan wafat di kayu salib. Dia menerima kematian Yesus dengan sepenuh hati, meskipun hatinya tertikam derita yang paling tajam dan mematikan. Kepasrahan Bunda Maria adalah teladan umat beriman. Bunda Maria menghayati hidup yang setia kepada Allah melalui “via dolorosa.” Dia taat kepada Allah dengan menemani putra-Nya sampai di puncak golgota. Melalui teladan Bunda Maria, kita dipanggi untuk setia kepada panggilan kita masing-masing, sejak kita berjanji setia untuk menelusuri jalan hidup yang telah kita pilih sampai saat ini, misalnya janji perkawinan suami-isteri untuk setia sampai mati.

Dalam rangka menelusuri jalan hidup atau menghayati panggilan kiranya kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan, masalah, godaan dalam membangun batra kehidupan keluarga kita masing-masing. Pilihan kita untuk hidup berkeluarga merupakan konsekuensi dari ketaatan dan kesetiaan kita terhadap panggilan. Mungkin saat ini juga kita sedang menghadapi masalah, tantangan, hambatan atau godaan berat. Jika memang demikian marilah kita memandang Dia yang tergantung di kayu salib, yang tidak mengeluh, menggerutu atau balas dendam terhadap mereka yang membuat-Nya menderita. Ingatlah dan hayati bahwa penderitaan yang kita alami karena masalah, tantangan, hambatan dan godaan tersebut rasanya tidak sebanding dengan penderitaan Yesus. Saya yakin dan percaya jika kita sungguh-sungguh memandang Yang Tersalib dengan sepenuh jiwa dan raga kita, kita pasti akan dikuatkan dalam menghadapi penderitaan dan kemudian mampu menghadapi aneka tantangan, hambatan, masalah atau godaan tersebut dengan penuh sukacita.

“Aku haus!” (Yoh 19:28)

Orang yang mengeluh ‘haus’ berarti minta diberi minuman; dengan memberi minuman berarti mengurangi penderitaan yang bersangkutan. Kita dipanggil untuk ‘memberi minum kepada Yesus yang kehausan di kayu salib’, artinya meringankan beban penderitaan-Nya dengan berpartisipasi dalam penderitaanNya. Berpartisipasi dalam penderitaan-Nya dapat kita wujudkan dengan mempersembahkan diri kita seutuhnya kepada saudara-saudari kita, lebih-lebih yang setiap hari bersama dengan kita, serta tugas pekerjaan kita masing-masing.

Pertama-tama saya mengingatkan kita semua, yang kiranya telah memiliki pengalaman untuk saling mempersembahkan atau memberikan diri seutuhnya, misalnya suami-istri, yang dengan penuh cinta saling melayani sehingga menghasilkan seorang anak, sebagai buah kasih yang menggembirakan. Melalui pengalaman-pengalaman mencintai dan dicintai hendaknya menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita dalam kehidupan sehari-hari, entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun dalam masyarakat, yaitu dengan mempersembahkan diri pada anak-anak, tugas pekerjaan, dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat, dengan gembira dan bergairah. Keteladanan kita akan mempengaruhi lingkungan hidup kita di mana pun kita berada. Kita semua dipanggil untuk saling menghibur dalam hidup kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, maka baiklah secara khusus kita perhatikan mereka yang sungguh membutuhkan penghiburan, entah yang sedang sakit, menderita, atau yang mengalami kesepihan.

"Sudah selesai.” (Yoh 19:30)

Ungkapan ini merupakan sabda Yesus yang terakhir, dan setelah bersabda demikian Ia menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa di Surga. Kematian menyelesaikan segala-galanya. Itulah yang terjadi. Kita semua juga akan mati, entah kapan, kita tidak tahu, karena kematian merupakan anugerah Tuhan, tergantung dari Tuhan. Maka baiklah kita bertanya pada diri sendiri: “Apakah kita sudah siap menyongsong hari kematian kita?” sebab kematian merupakan sesuatu yang niscaya, yang akan dialami oleh semua makhluk.  Namun kita tidak tahu kapan kita akan mati, semuanya itu ditentukan oleh Tuhan sendiri. 

Maka kita diharapkan akan selalu siap menyambut hari yang berharga itu dengan menjalankan hidup dengan baik; melayani istri dengan baik dan penuh cinta, melayani suami dengan baik dan penuh cinta, serta mendidik anak dengan nilai-nilai kristiani. Orang-orang yang sudah siap menghadapi hari kematian-Nya pasti tidak takut ketika Tuhan memanggil-Nya, bahkan dia akan mensyukuri itu sebagai bentuk kasih Tuhan yang telah mendamping perjuangan hidupnya dan kini Tuhan memanggilanya. Orang-orang seperti ini tidak akan memberontak atau melawan ketika akan dipanggil Tuhan. Sebaliknya mereka yang jarang atau tidak pernah bergaul dan bersama dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka ketika akan dipanggil Tuhan pasti memberontak, sangat gelisah.

Orang yang baik dalam hidupnya akan dikenangkan oleh banyak orang, sebagaimana penulis surat Ibrani mengenangkan Yesus, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,” (Ibr 5:7-9).

Kita juga telah berpartisipasi dalam rangka mengenangkan orang baik dan orang suci, yaitu dengan mengenakan nama baptis pada nama kita masing-masing, maka baiklah kita meneladan santo-santa yang menjadi pelindung kita agar kita senantiasa siap-sedia dipanggil Tuhan sewaktu-waktu dan ketika dipanggil Tuhan tidak takut melainkan bergairah serta tersenyum gembira. Biarlah kelak kemudian hari setelah kita meninggal dunia dapat menjadi pokok harapan, keselamatan bagi mereka yang mengenal kita atau pernah hidup bersama dengan kita.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel