Pergolakan Politik dalam Merebut Kekuasaan

Pergolakan Politik dalam Merebut Kekuasaan
Quote AmorMasa pergantian pemimpin merupakan suatu kesempatan yang berharga bagi orang yang punya keinginan untuk menjadi pemimpin. Mereka mencalonkan diri dan berjuang untuk merebut kekuasaan sebagai seorang pemimpin. Dalam masa transisi tersebut muncul berbagai macam orang, dengan retorikanya dan cara beramalnya, menarik perhatian banyak orang. Ada orang yang tiba-tiba muncul di depan publik dan berjumpa dengan masyarakat biasa., bersedekah atau memberi bantuan kepada masyarakat.

Tindakan seperti ini merupakan suatu kecenderungan yang selalu diikuti oleh motif atau tujuan tertentu. Ketika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ada banyak janji yang disampaikan kepada masyarakat. Semuanya bernada progresif untuk mensejahterakan masyarakat. Namun semuanya menjadi terbalik, hanya menjadi angin yang membawa bencana terbesar bagi masyarakat biasa. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme malah mewarnai seluruh dinamikai politik. Pemegang kekuasaan berkolaborasi dengan orang yang sepaham dengannya untuk menguras kekayaan negara dan memiskinkan secara masif masyarakat  biasa.

Hal ini tampak sekali dalam percaturan politik perebutan kekuasaan di  DKI Jakarta. Setiap kelompok bekerja dengan caranya masing-masing untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Ada yang menggunakan sistem yang sesuai dengan peraturan dalam permainan politik yang baik dan benar tetapi di sisi lain kelompok yang merasa tidak mampu bersaing mulai menggunakan cara primodial ekslusif, artinya menggunakan cara provokatif untuk menciptakan kebencian masyarakat bagi oposisi politiknya, misalnya kampanye diskriminatif yang destruktif terhadap agama, golongan, budaya dan sebagainya. Ini merupakan “medan abu-abu” yang menampilkan wajah ganda, bisa menciptakan kebencian dan permusuhan tetapi juga bisa menjadi saudara yang baik dan membangun sistem politik yang progresif.

Pergolakan politik dalam merebut kekuasaan terdapat juga dalam kitab suci. Misalnya kisah yang cukup menarik mengenai perebutan kekuasaan itu adalah kerajaan Daud (1 Raj 1:1-53). Ketika Daud sudah menjadi lemah dan sudah tidak punya daya lagi untuk mengerakkan rakyatnya muncullah pergolakan politik yang sangat hebat di istana di mana ada dua kelompok yang saling bertentangan. Kedua kelompok ini sama-sama ingin mendapatkan tahta untuk menggantikan Daud. 

Kelompok pertama menginginkan Adonia menjadi Raja untuk menggantikan Daud. Adonia didukung oleh Yoab dan Abyatar. Kelompok ini memiliki masa yang cukup banyak dan mempunyai niat buruk untuk melakukan kudeta secara sepihak. Karena itu, sebelum kelompok ini melantik Adonia menjadi Raja, mereka mengadakan pesta. Dalam pesta itu, mereka mengundang banyak orang yang ada di istana kecuali Natan, Benaya, Zedok, Simei, Salamo, Rei dan para pahlawan Daud. Mereka ini tidak diundang karena tidak sepihak dengan Adonia atau kelompok oposisi yang berlawanan dengan Adonia.

Melihat situasi ini, kelomok yang tidak pro dengan Adonia merasa terancam karena kalau Adonia menjadi raja maka mereka pasti akan diusir dari istana atau dibunuh.  Maka Natan meminta Betsyba untuk membujuk Daud agar Daud bisa mengambil kebijakan yang baik untuk menggantikanya sebagai Raja dan kebijakkan itu bisa menyelamatkan mereka. Dengan demikian Betsyeba menghadap Daud dan meminta Daud mengangkat anaknya Salomo menjadi Raja, menggantiknya. Dalam permintaannya, Betsyeba mengunkapkan kembali janji yang pernah disampaikan Daud kepada Betsyeba. Daud berjanji bahwa Salomo akan menggantikan dia sebagai Raja setelah dia. Janji ini menjadi pegangan mereka untuk mengalahkan kelompok Adonia yang sudah siap untuk menggantikan Daud.

Dengan cekat dan penuh hati-hati, Natan juga menghadap Raja Daud dan memberitahukan bahwa Adonia telah diangkat menjadi raja menggantikannya. Natan memprovokasi Daud bahwa mereka mengadakan pesta bersama pendukungnya tanpa mengundang raja Daud. Mendengar itu, Daud menjadi marah dan kemudian memerintah Imam Zadok dan nabi Natan menaikkan Salomo ke atas Bagal betina kendaraan miliknya dan bawa dia ke Gibeon (1 Raj 1:33). Di sana imam Zadok dan Nabi Natan harus mengurapinya menjadi raja. Dengan pergerakan cepat, mereka menghantar Salomo ke sana dan mengurapinya menjadi Raja menggantikan Daud. Akhirnya persaingan itu dimenangkan oleh kelompok kedua (Natan dkk), dengan mengurapi Salomo menjadi Raja menggantikan Daud.

Kedua peristiwa tersebut menggambarkan situasi politik yang cenderung banyak menampilkan wajah suram dan bertindak secara destruktif. Dengan adanya persaingan dalam merebut kekuasaan bisa menciptakan kesenjangan komunikasi untuk membangun kerjasama yang baik bagi kepentingan bersama. Walaupun harapan dari persaingan itu adalah kemajuan dalam kehidupan bersama tetapi kecenderungannya adalah lebih mengutamakan golongan tertentu dan mengabaikan yang lain.

Dari tindakan diskriminasi ini lahirlah korupsi yang masif dan menggurita sehingga harapan untuk kesejahteraan bersama hanya akan menjadi harapan belaka dan yang menjadi pemenang dalam persaingan kekuasaan itu akan terus berjaya menindas oposisi politik dan masyarakat biasa.  Ini harus menjadi cermin bagi setiap orang yang membenah diri dan memanajemen diri untuk menjadi tonggak harapan bagi kesejahteraan bersama. Karena tanpa kesadaran tersebut maka persaingan dalam merebut kekuasaan hanya akan meninggalkan kebencian  yang melahirkan diskriminasi yang destruktif.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel