Merawat dan Menjaga Kepercayaan sebagai Harta Karun

Relasi yang baik dengan orang lain
Quote Amor - Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan teman seminari saya. Dia sudah menyelsaikan kuliahnya di bidang manajemen dan sekarang berkerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Dalam perjumpaan itu, Kami membagi cerita dan pengalaman kami masing-masing. Dia menceritakan pengalamannya ketika masih kuliah dan pengalamannya selama bekerja. Dia menceritakan bahwa ketika dia masih kuliah, dia harus berjuang dan bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkan IP yang tinggi sehingga bisa mendapatkan beasiswa. Sedangkan di dunia kerja, hal yang paling berat dalam dunia kerja adalah bagaimana kita bisa mendapatkan kepercayaan dari pimpinannya dan bagaimana menjaga kepercayaan itu.

Menurut pengalamannya, untuk mendapatkan kepercayaan bukanlah hal yang mudah, butuh perjuangan keras, melalui tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang diberikan. Apabila kita tidak dapat bekerja dengan baik atau bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada kita maka kita akan disingkirkan dari posisi kita dan diganti oleh orang lain. Sehingga dia mengatakan bahwa supaya mendapat kepercayaan dari orang lain maka kita harus proaktif dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada kita.

Dari pengalaman perjumpaan ini, saya mendapat suatu nilai yang sangat berharga karena melalui pengalamannya, saya diingatkan kembali mengenai bagaimana menjaga kepercayaan yang diberikan orang kepada kita dan bagaimana kita menbangun komunikasi yang baik dengan orang lain supaya orang itu merasa nyaman ketika berada bersama kita. Karena kepercayaan itu selalu berawal dari apa yang kita tunjukkan kepada orang lain. Selain itu juga, orang akan menjadi terbuka dengan kita kalau dia sudah memberikan kepercayaan kepada kita. Kepercayaan itu bisa bermacam-macam, misalnya, kepercayaan untuk menyelsaikan suatu tugas, kepercayaan untuk menjaga segala rahasia hidupnya sehingga dia bisa terbuka menceritakan segala persoalan hidupnya kepada kita, kepercayaan untuk menjadi teman, dan kepercayaan untuk memilih suatu cara hidup misalnya, kita mau menjadi Fransiskan karena kita percaya bahwa cara hidup Fransiskan dapat memberikan hidup kita menjadi bermakna dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

Dalam bacaan injil Matius 25:14-30, kita disuguhkan oleh Tuhan Yesus dengan sebuah perumpamaan tentang talenta untuk menggambarkan bagaiman orang bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Bagi saya perumpamaan ini sangat menarik dan selalu aktual dengan kehidupan kita. Dalam perumpaan itu, kita mendengar tadi bahwa Yesus sangat menekankan mengenai kepercayaan. Bagaimana kita bisa menjaga dan bertanggung jawab dengan kepercayaan yang diberikan orang kepada kita. Hal tersebut digambarkan oleh Yesus melalui kisah tentang seorang yang mau bepergian keluar negeri dan dia mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Orang ini memanggil ketiga hambanya dan diberikan talenta kepada mereka sesuai dengan kesanggupan mereka masing-masing. Hal yang perlu kita ketahui dari sikap orang ini adalah dia memberikan talenta kepada hamba-hambanya karena dia percaya kepada hamba-hambanya. Namun apa yang terjadi setelah orang itu pergi?

Nah, dari ketiga hamba ini, hamba yang mendapatkan lima talenta dan dua talenta bisa mengembangkan dan memperbanyak talenta tersebut sedangkan hamba yang mendapat satu talenta, menguburkan talenta itu karena takut kepada tuanya sehingga talentanya tidak bertambah. Yang menarik bagi saya dari sikap ketiga hamba ini adalah mereka menerima begitu saja talenta-talenta itu tanpa ada komentar atau pertimbangan apapun. Seandainya saja hamba yang mendapat satu talenta itu pada awalnya menyampaikan keberatannya kepada tuannya, maka tuannya pasti akan memberikan alternatif yang lain. Namun semua keberatannya itu dia sampaikan ketika tuannya kembali dari bepergian. Dalam permenungan saya, mungkin saja hamba yang mendapat satu talenta itu pada awalnya senang mendapatkan talenta itu dari tuanya tetapi dia tidak mampu mengembangkan telenta tersebut sehingga ketika tuannya pulang, dia mencari-cari alasan untuk membenarkan dirinya.

Kepercayaan sebagai Harta Karun

Dalam refleksi saya atas perumpamaan tentang talenta ini, saya menemukan dual hal yang perlu kita renungan bersama. Yang pertama,mengenai kepercayaan. Dari kisah perumpamaan itu, kita mendengar bahwa semua hamba itu mendapat kepercayaan dari tuannya sehingga mereka diberi talenta sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Tetapi kepercayaan itu menjadi hilang kepada hamba yang mendapat satu talenta karena dia tidak bertanggungjawab untuk mengembangkan talenta tersebut, sehingga dia disinggirkan dari hadapannya dan tidak diberi kepercayaan lagi.

Sedangkan kedua hamba yang lain, mereka mendapat pujian dan diberikan tanggung jawab yang lebih besar lagi oleh tuannya karena telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Hal yang sama juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya di komunitas, setiap kita mendapat tanggung jawab masing-masing. Entah bertugas masak pada pagi hari, tugas liturgi dan sebagainya. Apabila kita bisa bertanggungjawab melaksanakan tugas-tugas itu maka segala sesuatu dapat berjalan dengan baik tetapi apabila ada saudara yang lupa masak pada pagi hari atau terlambat bangun sehingga mempersiapkan perlengkapan litugi menjadi terburuh-buruh, maka semuanya akan menjadi masalah. Kita pasti akan mendapat teguran atau bahkan kepercayaan para saudara yang lain kepada kita akan menjadi berkurang.

Selain itu juga dalam hal studi, para saudara muda diutus oleh persaudaraan untuk belajar di STF Driyarakara. Tentu yang diharapkan oleh persaudaraan adalah kita bisa belajar dengan baik dan bisa berkembang dalam studi kita. Nah di sinilah kepercayaan yang diberikan kepada kita akan diuji. Apakah kita sungguh-sungguh bertanggungjawab atau tidak. Apabila setiap semester kita tidak mengalami perkembangan, atau IP kita tidak mengalami kenaikan atau bahkan mengalami penurunan maka kita pasti akan diminta untuk mempertimbangkan lagi pilihan kita menjadi fransiskan. 

Di samping itu, Orang pasti akan bertanya-tanya apakah selama satu semester itu, kita sudah memanfaatkan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas, atau malah kita sibuk dengan hal-hal yang tidak penting. Namun apabila kita bisa melaksanakan tugas perutusan itu secara baik dengan mengembangkan kemampuan kita maka kita pasti akan diberi tanggunjawab yang lebih besar lagi, Oleh karena itu, Semua tugas atau tanggung jawab yang diberikan kepada kita selalu dikaitkan dengan integritas diri kita. Apakah kita mampu melaksanakan itu atau tidak.

Membangun Relasi dengan Orang lain

Hal yang kedua yang perlu kita renungkan dari bacaan hari ini adalah mengenai relasi atau komunikasi dengan orang lain. Ketiga hamba dalam perumpamaan tentang talenta tersebut, sesungguhnya secara eksplisit berbicara juga tentang relasi dengan orang lain. Artinya dalam relasi itu selalu terkandung cinta dan pelayanan. Bagaimana mungkin kedua hamba yang mendapat lima talenta dan dua talenta bisa mengembangkan talentanya dengan baik. Tentu mereka dapat melakukan itu dengan baik karena mereka bisa bekerja sama dengan orang lain dan dalam kerja sama itu mereka mampu mewujudkan cinta melalui pelayanan.

Sedangkan hamba yang mendapatkan satu talenta, tidak mau memberikannya kepada orang lain untuk mendapat labanya tetapi malah pergi menguburkannya. Atau mungkin juga hamba yang mendapat satu talenta itu sudah mendatangi banyak orang dengan menawarkan talenta tersebut kepada orang lain tetapi dia tidak bisa berkompromi atau tidak bisa diajak untuk bekerja sama sehingga tidak ada orang yang mau menerimanya dan akhirnya dia menguburkan talenta itu. Dengan demikian melalui sikap dan tindakan dari ketiga hamba itu menunjukkan kepada kita tentang bagaimana kita bisa membangun kerjasama dan hidup bersaudara dengan orang lain.

Dalam bacaan pertama tadi hal ini juga ditekankan oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika. Rasul Paulus menasihati mereka supaya mereka bisa hidup bersaudara dengan orang lain. Hal tersebut menjadi sangat penting juga bagi kehidupan kita. Karena tanpa ada relasi dan kerjasama yang baik dengan orang lain maka kita akan mengalami sulit untuk mengembangkan diri kita menjadi orang yang baik, orang yang rendah hati dan bisa dipercaya oleh orang lain. 

Oleh karena itu, kita hendaknya mampu memaknai hidup kita dengan melaksanakan dua pesan refleksi dari bacaan hari ini yaitu menjaga dan mengembangkan kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita dan membangun kerjasama yang baik dengan orang lain. Semua itu dapat kita lakukan mulai dari komitmen kita sendiri untuk terus memperbaharui diri serta mau bersikap rendah hati kepada orang lain. Semoga kita mampu melaksanakan kedua pesan tersebut dalam dlam kehidupan kita sehari-hari. Tuhan memberkati kita.

Oleh Albertus Dino
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel