Analisis Gejala Sosial dalam Film Pk (Peekay)

Quote Amor - Fenomena yang terjadi dalam masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perilaku yang ada dalam masyarakat. Hal ini menunjukkan gejala sosial yang merupakan fenomena yang terjadi berdasarkan sikap dan perilaku anggota masyarakat yang ada. Gejala-gejala yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya terjadi secara spontan dan pada umumnya dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat baik yang mengarah pada perubahan yang positif maupun perubahan yang negatif.
Dalam artian bahwa sebuah transformasi yang terjadi dalam strukur masyarakat merupakan proses perkembangan unsur sosio-budaya dari waktu ke waktu yang dapat membawa perbedaan yang berarti dalam stuktur dan fungsi masyarakat. Salah satu gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah masalah atau fenomena mengenai agama seperti yang dikisahkan dalam “Film PK”.
Agama memang bisa dipahami baik secara teologis maupun secara sosiologis. Secara teologis agama sebagai sebuah institusi harus dipahami dalam kaitan dengan Wahyu Allah yang mendasari keberadaannya. Sementara itu, secara sosiologis agama dipahami sebagai sebuah eksteriorisasi manusia. Untuk memahami agama secara komprehensif, kedua pendekatan seharusnya saling melengkapi. Meskipun keduanya bisa dibedakan, keduanya tidak terpisahkan. Adanya dua dimensi dalam agama itu yang sebenarnya bisa memberi peran khas pada agama dalam pola hubungannya dengan kebudayaan.
Dalam menulis paper ini, kelompok merujuk pada sumber utama yaitu “Film PK”. Kelompok  melihat bahwa pokok atau topik ini sangat menarik untuk dikaji karena mampu memberikan pemahaman serta refleksi yang baru tentang bagaimana menghayati kehidupan beragama dan relasi dengan agama lain. Oleh karena itu, kelompok akan menganalisis Film PK untuk melihat gejala sosial yang terjadi di dalamnya. Tulisan ini juga bertujuan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester mata kuliah “Sosisologi Agama” sekaligus menambahpengetahuan baru atau cakrawala berpikir bagi kelompok untuk memahami dan menghormati agama yang ada di sekitar.
II. Sinopsis film PK
Peekay merupakan film India yang dirilis pada akhir tahun 2014, bercerita tentang seorang alien yang diperankan oleh artis Aamir Khan. Dia berkunjung ke bumi dalam misi mempelajari kebudayaan manusia dan mendadak terdampar di wilayah Rajahstan, India tepatnya kota Mandawa. Ketika pertama kali menginjakkan kakinya di bumi, alien tersebut (PK) langsung kebingungan melihat keadaan serta aktivitas manusia. Tetapi malangnya, kalung yang menjadi senjata remote control untuk bisa kembali ke planetnya berhasil dicuri oleh manusia yang pertama dia lihat di bumi. PK menjadi panik dan berusaha mencari kalungnya tersebut.
Ketika pada suatu hari, dia bertemu dengan saudagar kaya yang bernama Bhairon Singh yang kemudian menjadi saudaranya. Bhairon Singh menemukan hal yang aneh pada PK karena dia memegang tangan orang tanpa komunikasi. Melihat perilaku PK yang sangat aneh ini, Bhairon berpikir PK menginginkan gadis-gadis. Karena itu Bhairon membawa ke tempat prostitusi. Ketika sampai di tempat Prostitusi, ia hanya memegang tangan PSK selama 6 jam untuk menyerap ilmu pengetahuan dan bahasa yang ada pada diri PSK. Dengan tindakan tersebut PK bisa berbicara dan kembali bertemu dengan Bhairon Singh. Ia menjelaskan tujuannya dan apa yang dicari di bumi kepada Bhairon Singh. Ia menjelaskan bahwa kalungnya telah dicuri orang dan dia sangat membutuhkan kalung tersebut untuk bisa kembali lagi ke planetnya. mendengar itu, Bhairon Singh menyarankan dia untuk mencarinya di Dehli.
Sedangkan ditempat lain (Brussels, Belgia) seorang jurnalis bernama Jaggu yang sedang melakukan liputan di Eropa, dia bersiap-siap untuk menyaksikan pertunjukkan artis favoritnya. Ketika Jaggu berada di depan gedung pertunjukan itu, dia bertemu Sarfaraz (Sushant Singh) seorang mahasiswa arsitektur yang juga sedang bekerja di Brussels. Singkat cerita, mereka berdua lalu saling mencintai satu sama lain. Tetapi identitas mereka menjadi penghalang karena masalah perbedaan agama dan negara. Jaggu berasal dari keluarga India penganut Hindu fanatik sedangkan Sarfaraz, seorang Muslim taat yang berasal dari Pakistan. Keduanya pun lalu berpisah untuk waktu yang cukup lama.
Sementara itu PK memutuskan untuk mencari kalungnya di Delhi, dalam pencarian kalung tersebut, banyak orang yang mengira ia sedang mabuk sehingga ia dijuluki  Peekay (Pemabuk). Di Delhi dia bertemu dengan Jaggu seorang wanita jurnalis di sebuah stasiun televisi. Jaggu tertarik dengan Peekay karena tingkahnya begitu aneh. Peekay mencari Tuhan melalui selebaran brosur. Tingkah anehnya ini membuat orang-orang menyebutnya Peekay yang berarti mabuk dalam bahasa India. Ternyata dalam perncarian kalungnya Peekay selalu bertanya kepada manusia yang ada di sekitarnya, di mana kalungnya berada.
Namun manusia tidak ada yang tahu, dan kebanyakan dari mereka menyarankan supaya PK langsung bertanya kepada Tuhan, “kenapa kamu tidak tanyakan saja kepada Tuhan?” Banyak sekali ia mendengar kata Tuhan setiap kali ia bertanya kepada manusia. Ia pun memutuskan untuk mencari Tuhan dan bertanya kepada Tuhan di mana kalung remote control-nya. Dalam pencarian Tuhan, Peekay sudah begitu banyak melakukan ritual-ritual keagamaan. Dia pergi ke Kuil, Gereja dan Masjid tetapi dia benar-benar bingung karena masing-masing agama itu memiliki cara yang berbeda untuk ibadah dan aturan yang berbeda. Dalam proses pencarian Tuhan, PK tidak menemukan apa-apa. Karena itu dia mulai membagi-bagikan pamflet untuk mencari Tuhan. Dalam proses pencariannya itu, Pk bertemu dengan Jaggu, seorang reporter TV dan Jaggu melihat sesuatu yang aneh pada PK maka Jaggu mengikutinya ke ruangan terkunci untuk meminta informasi tentang dirinya.
Selanjutnya, Juggu terkejut mendengar bahwa Remote control PK sekarang ada ditangan Sadhu Tapasvi ji (Saurabh Shukla). Jaggu bertekad untuk mendapatkan kembali remote control  tersebut kepada PK. Oleh karena itu Jaggu menggunakan konsep PK tentang “nomor yang salah.” Jaggu berusaha meyakinkan atasanya, Boman Irani untuk memproduksi sebuah acara mengadu domba PK terhadap Tapasvi. Sementara PK telah jatuh cinta dengan Jaggu tetapi tidak bisa mengatakan itu ketika ia mengetahui Jaggu patah hati, memikirkan pacarnya, Sarfaraz (Sushant Singh Rajput), yang bertemu dengannya ketika masih menjadi mahasiswa di Belgia.
Sementara itu, Bhairon menangkap pencuri yang mencuri Remote control PK dan membawa dia ke Delhi, tetapi keduanya binasa dalam ledakan bom teroris yang meninggalkan PK terguncang. Dalam acara TV nanti, Tapasvi Ji menantang PK untuk mengatakan kebenaran cerita Sarfaraz dan mengambil kembali remote control-nya. PK mengungkapkan bagaimana sebuah surat yang salah (dan perbedaan beragama) memisahkan Sarfaraz dan Jaggu. Selanjutnya Jaggu dan Sarfaraz didamaikan setelah PK menang mendapatkan remotenya kembali.
Di akhir ceritanya, PK didampingi oleh Jaggu ke padang pasir di mana ia menyebutnya sebagai ruang angkasanya. Ketika  PK kembali ke planetnya, Jaggu mengetahui bahwa ternyata PK mencintainya melalui kaset translator yang berisi hanya suara dari Jaggu. Akhirnya PK belajar juga dari manusia untuk berbohong. Bahwa kenyataanya, walaupun dia juga mencintai perempuan tersebut. PK juga harus berkorban demi hidup Jaggu dan pacarnya Sarfaraz.
III.  Perjumpaan PK dengan Praktek dan Ritual Keagamaan di Masyarakat India
Kehadiran PK dalam tatanan kehidupan masyarakat India menciptakan suatu dinamika gejala sosial. PK sebagai orang asing yang datang dari planet lain bertemu dengan manusia dengan segala macam aspek kehidupannya, membuat PK bertanya-tanya dan merasa asing dengan semua itu. PK yang hanya dibekali dengan sebuah remote control yang berbentuk kalung sebagai penghubung untuk memanggil pesawat luar angkasa untuk bisa kembali ke planetnya. Ketika PK baru mendarat di bumi, tiba-tiba kalung remote control-nya dicuri oleh seorang manusia dan dibawa lari entah ke mana. PK pun menjadi panik karena tanpa benda itu, dia tidak bisa pulang kembali ke planetnya. Maka dia pun melakukan perjalanan untuk mendapatkan kembali remote control tersebut.
Dalam perjalanan mencari remote control tersebut, PK bertemu dengan banyak hal tentang kehidupan manusia di bumi. Mulai dari cara pakaian, cara bertransaksi dengan uang, bahasa manusia, agama dan ritualnya yang berbeda-beda, dan sebagainya. Keadaan yang beragam itu membuat PK menjadi bingung dan frustasi. Dia mengalami suatu situasi yang sangat berbeda dari kehidupannya. Dengan kesadaran itu, PK mulai belajar mengikuti cara orang berpakaian, mengenali cara manusia hidup dan berinteraksi (dalam hal ini orang India), sampai akhirnya dia bisa memahami bahasa orang India dan bisa berkomunikasi dalam bahasa itu. Ketika dia bertemu dengan seorang saudagar, di sebuah desa, dan berkat bantuan orang tersebut, PK mendapat informasi bahwa remote control yang sedang dicarinya kemungkinan bisa ditemukan di Delhi. Dengan informasi itu, dia berangkat ke Dehli. Ketika sampai di sana, PK menjadi bingung untuk mencari remote control itu karena kota Dehli terlalu besar.
Dia pun mulai bertanya kepada orang-orang yang ada di sana tentang bagaimana cara mendapatkan remote control tersebut. Jawaban yang diberikan orang-orang itu hampir sama bahwa hanya Tuhan yang tahu keberadaan remote control itu, dan hanya Tuhan yang bisa membantu untuk menemukan benda tersebut. Dengan jawaban orang-orang tersebut, PK mulai mencari di mana Tuhan, siapakah Tuhan itu? dan bagaimana caranya supaya bisa bertemu dengan Tuhan agar remote control tersebut bisa ditemukan kembali.
PK mulai masuk ke tempat ibadah agama-agama di India dan mengikuti berbagai macam ritual keagamaan dari masing-masing agama itu. Dia sering kali menyaksikan “mobil bergoyang,” dan berbagai macam ritual keagamaan yang berbeda-beda dengan memiliki tuhannya masing-masing. Dalam kebingungannya mencari Tuhan, PK sering kali melakukan tindakan yang aneh di mata manusia. Tindakan PK yang aneh itu misalnya ketika PK mengambil kembali uang yang telah dimasukkannya ke dalam kotak donasi di sebuah tempat ibadah dan kemudian PK diteriaki sebagai pencuri. Di tempat lain ia membawa dua botol anggur ke Masjid setelah mengetahui dari penganut agama Katolik kalau anggur merupakan persembahan kepada Tuhan. Tentu saja orang Islam yang melihat perilaku PK membawa anggur ke masjid menjadi marah dan mengejarnya.
Kehadiran PK membongkar pemikiran manusia tentang Tuhan melalui pertanyaan-pertanyaan yang sederhana dan logis. Kerinduan PK, untuk bertemu dengan Tuhan dan mendapat kembali remote control itu, mendorong dia untuk mengikuti berbagai macam ritual keagamaan. Tetapi kerinduannya untuk bertemu Tuhan tidak terpenuhi. Pencariannya berakhir pada perdebatan dengan seorang pemuka agama Hindu, Tapasvi Maharaj. Berkat Bantuan Jaggu, PK bisa mempertanyakan kepercayaan agama dan mengkritik Tapasvi, tokoh agama yang sangat disegani oleh masyarakat karena dianggap memiliki kebijaksanaan dan pemahaman agama yang sangat tinggi. Bahkan Tapasvi dihormati seperti manusia setengah dewa.
PK menentang pemikiran Tapasvi dan menganggap bahwa pemahaman tentang Tuhan yang dipercayai manusia selama ini sering kali salah. Misalnya pandangan mengenai agama yang dipercaya seseorang hanya dilihat dari penampilan pakaiannya saja. Hal ini sangat nampak ketika PK membawa empat pemuka agama yang tidak memakai pakaian identitas agama mereka kepada Tapasvi. Dengan mudah Tapasvi menyebut keyakinan dari orang-orang tersebut hanya berdasarkan pakaian. Tentu saja jawaban dari Tapaszi salah, karena keempat orang itu menggunakan pakaian yang sama sekali tidak menunjukkan agama yang mereka percaya. Di sinilah terjadi perdebatan yang menjadi puncak pencarian Tuhan yang dilakukan PK. Dari perdebatan ini, PK menyimpulkan bahwa Tuhan itu ada dua. Pertama, Tuhan yang menciptakan manusia dan kedua, Tuhan yang diciptakan oleh manusia. Sosok Tuhan yang menciptakan manusia ini tidak pernah diketahui oleh siapapun. Sementara Tuhan yang diciptakan oleh manusia adalah sosoknya sama seperti manusia. Kadang menipu, suka berbohong dan menakut-nakuti sesamanya untuk kepentingan tertentu.
IV.    Gejala Sosial dalam Film PK (Peekay)
Manusia adalah makluk yang bertanya. Apa pun yang berhadapan dengannya dipertanyakannya. Karena ia membutuhkan pengetahuan dan hanya dengan mengetahui manusia dapat bertindak.  Keinginan untuk mengetahui tersebut membawa manusia pada pengetahuan yang benar. Film PK menceritakan seorang alien (PK) yang selalu bertanya siapakah dan dimanakah Tuhan? Sekaligus mempertanyakan kebenaran dari setiap perilaku, gaya hidup dan praktik keagamaan dalam setiap agama. Tindakan-tindakan dari agama-agama itu mendorong PK menemukan Tuhan yang berbagai macam. dari setiap agama itu, masing-masing mengklaim bahwa agama mereka yang benar. Berikut akan ditunjukkan beberapa gejala sosial khusunya dalam hubungan dengan petualangan PK mencari remote control-nya. 
4.1  Praktik Keagamaan
Dari kebingungan PK kita dapat menangkap sebuah gejala yang sekaligus menjadi kritikan PK terhadap agama-agama. Setiap agama mengklaim diri sebagai yang benar dan yang lain adalah sesat. Kelompok beragama sering menjadi penghalang bagi orang lain untuk berjumpa dengantuhan. Gejala sosial ini misalnya tampak ketika PK masuk ke sebuah Gereja, Ia diusir oleh orang Gereja ketika melihat dia membawa air kelapa untuk dipersembahan kepada Tuhan. Selanjutnya fakta perbedaaan itu nampak pada setiap agama yang belum siap untuk hidup berdampingan dan menerima satu sama lain. Orang beragama tampil sebagai penghalang dan penutup jalan bagi setiap orang bertobat dan kembali kepada Tuhan. Kebingungan PK menjelaskan sangat gamblang gejala sosial yang dimiliki orang beragama yaitu sikap eksklusif, fanatik sehingga nama, pakaian, ritual menjadi sebuah masalah dan menjadi sebuah identitas yang tidak boleh ditiru oleh penganut agama lain.
Kehidupan sosial dalam film tersebut menampilkan suasana dan prilaku manusia beragama yang selalu mengadakan ritual untuk memenuhi tanggung jawab keagamaannya. Mereka setiap hari selalu berbondong-bondong ke rumah ibadat untuk mengadakan ritual keagamaan, memberikan persembahan dan sajian di rumah ibadat. Dalam melakukan upacara ritual tersebut, mereka bekerjasama sehingga muncul rasa kebersamaan yang saling mengikat satu sama lain di dalam kelompok agama tersebut. Dengan kesamaan identitas sebagai satu kelompok agama, mereka semakin menyadari ikatan di antara satu dengan yang lain dan melihat terdapat saling kesalingtergantungan di antara yang satu dengan yang lain.
4.2  Klaim kebenaran
Merenungkan pesan moral dari film ini, kami (kelompok IX) membenarkan pemikiran Feuerbach bahwa agama adalah proyeksi manusia. Suatu  kecendrungan yang dimiliki orang beragama adalah mereka memproyeksikan sifat manusiawi mereka pada Tuhan. Agama menjadi cerminan dari sikap dan perilaku dari para pemuka agama, pemarah, pencemburuh, pembohong, suka di puji dan yang menginginkan banyak hal kemudian seakan itu semua adalah sifat yang dimiliki Tuhan.
Masyarakat yang dijumpai PK dalam Film menampilkan kehidupan yang selalu terarah pada kebenaran tertentu. Kebenaran tersebut direpresentasikan lewat agama yang ada. Ada begitu banyak agama yang ada. Mereka yakin bahwa dengan mengikuti agama tersebut, makna hidup akan dapat dicapai. Dengan kata lain, situasi sosial yang tercermin di dalam kehidupan masyarakat yang dijumpai PK adalah sebuah kondisi pencarian kebenaran terkait dengan hidup dari masyarakat itu sendiri.
4.3  Pluralitas agama
Suatu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa setiap agama mempunyai ritual dan penghayatan yang berbeda-beda. Keragaman tersebut tentu adalah sebuah kewajaran. Namun menjadi tidak wajar pada saat ungkapan penghayatan tersebut dilakukan secara tidak masuk akal. Gejala tersebut tampak misalnya penyiksaan diri dan puasa. Penghayat ini memiliki tujuan yang bervariasi. Ada yang puasa bermaksud empati dan solider dengan orang yang menderita mencari makanan. Namun apakah dengan demikian orang lain yang menjadi objek dari penghayatan tersebut dengan sendirinya kenyang dan bahagia karena mereka puasa dan menyiksa diri.
Masyarakat terorganisir dalam kelompok keagamaan tertentu. Masing-masing agama memiliki keyakinan tersendiri terhadap suatu kebenaran tertinggi yang dipercaya sebagai sumber kehidupan mereka. Sebagai manifestasi dari keyakinan mereka, lahirnya kebudayaan yang bervariasi, mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, warna pakaian yang mencerminkan identitas diri dan kelompok sosial. Masing-masing di antara agama tersebut memiliki karakter tersendiri terkait dengan Tuhan yang mereka percaya. Bentuk Tuhan yang dipercayai itupun digambarkan dalam gambaran visual yang dibuat oleh manusia sesuai dengan bayangan mereka terhadap Tuhan yang mereka yakini. Dalam hal ini, Tuhan sebagai Yang Tertinggi itu seringkali direduksi dalam gambaran ciptaan manusia. Masing-masing dari antara mereka yakin bahwa gambaran Tuhan yang mereka ciptakan itu adalah benar adanya. Dengan kata lain kebenaran tentang Tuhan sangat bervariasi tergantung dari kepercayaan dan keyakinan dari setiap agama.
4.4 Praktek Daya Tipu Penguasa Agama
Film tersebut juga menampilkan praktek kekuasaan. Praktek kekuasaan ini dilakukan oleh para pemuka agama. Banyak pemuka agama menganggap diri dihormati orang dan mereka dipercaya dapat mengantarkan umatnya kepada Yang Tertinggi sebagai sumber kehidupan. Mereka justru memanfaatkan kesempatan dan kepercayaan tersebut untuk menguasai para pengikutnya. Dengan tawaran keselamatan yang mereka wartakan kepada para pengikutnya, mereka mengumpulkan segala harta dari para pengikutnya untuk memperkaya diri sendiri. Banyak para pengikut yang ditipu dengan hal-hal palsu dari para pemuka agama. Mereka melakukan banyak korban persembahahan mulai dari harta kekayaan, sampai pada pengorbanan fisik hanya untuk mengikuti perintah-perintah agamanya sebagai jalan untuk sampai pada Tuhan.
V.  Beberapa Perspektif Sosiologi
5.1 Karl Marx
Gejala sosial dalam film PK juga dapat ditinjau dari perspektif Marx terhadap agama bahwa agama adalah candu bagi manusia. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan manusia beragama di dalam film PK. Mereka dikelabui oleh tawaran-tawaran ilusi dari agama. Kesadaran mereka dirusak oleh iming-iming dari agama. Oleh karena alasan agama, mereka tidak menghargai hidup di sini, di dunia ini. Hal ini terlihat jelas dalam praktek ritual keagamaan yang menyiksa diri seperti berpuasa, dan memukul atau melukai tubuh. Mereka rela menderita berguling-guling di tanah hanya demi kebenaran yang bagi Marx hanya bersifat ilusi. Mereka rela mengorbankan kehidupan duniawi dan rela menderita hanya demi kebahagian di luar kehidupan duniawi. Hal ini kemudian melegahkan hati para penguasa agama. Dengan membaca situasi dan pemahaman agama dari para pengikutnya, para penguasa agama memanfaatkan para pengikutnya untuk tujuan kejayaan mereka. Dengan tawaran yang menarik perhatian para pengikutnya, mereka melakukan berbagai tipu daya untuk menguras kehidupan masyarakat.
5.2         Emile Durkheim
Gejala sosial terkait dengan rasa kesamaan identitas sebagai satu kelompok agama dalam kehidupan keagamaan pada film tersebut juga diafirmasi oleh Durkheim. Rasa kesamaan identitas yang melahirkan kesadaran kolektif untuk mencapai tujuan yang sama melalui jalan yang sama. Dalam agama yang dianut oleh penganut agama di atas telah melahirkan suatu rasa kesalingtergantungan di antara sesama yang oleh Durkheim disebut sebagai kesadaran kolektif (collective conciousness). Dengan cita-cita dan keyakinan yang sama, masyarakat semakin membentuk suatu kesatuan yang solid dan solider.
5.3  Greetz
Pandangan Geertz juga dapat membantu memahami gejala sosial keagamaan dalam film tersebut. Pengertian Geertz terkait dengan agama sebagai wadah untuk menetapkan makna hidup bagi umat manusia. Nampak terjadi juga pada masyarakat dalam film PK. Dengan masuk dalam suatu komunitas agama tertentu, mereka memilki jalan kehidupan serta mampu menghayati kehidupan dengan keyakinan dari agama yang dianut untuk sampai pada tujuan akhir hidupnya. Agama memberikan suatu horizon kepada para pengikutnya untuk memahami arti kehidupan mereka.
5.4  P. Berger
Teropong Berger juga dapat dipakai untuk mengamati dan mengangkat persoalan gejala sosial yang ada dalam film PK. Berger berpendapat bahwa agama merupakan sebuah bentuk hasil kebudayaan yang dapat membantu mengarahkan kehidupan masyarakat pada kebaikan dan keharmonisan. Agama bagi Berger adalah sumber prinsip, hukum (nomos) yang mampu mengarahkan dan mengorganisir umat manusia untuk dapat sampai pada cita-cita hidupnya. Hal ini juga dialami oleh umat manusia dalam film. Dalam kelompok agamanya, mereka semakin diarahkan kepada tujuan akhir hidupnya dengan mengikuti berbagai aturan dan prinsip yang berlaku dari agama yang dianutnya.
VI. Relevansi perspektif sosiologi dengan gejala sosial dalam film PK
Beberapa perspektif teoritis sosiologis sebagaimana telah disebutkan di atas tentu memilik relevansi dengan gejala sosial keagamaan dalam film PK.  Fenomena keagamaan dalam film menunjukkan berbagai praktek keagamaan yang memiliki intensinya masing-masing serta mengungkapkan pandangan hidup serta cara hidup dari manusia itu sendiri. Namun hal tersebut sangatlah sulit apabila dibaca dan diamati tanpa dengan memakai kaca mata tertentu yang dalam hal ini adalah teropong teoritis. Teropong teoritis pada intinya membantu untuk membuka dan mencermati suatu gejala sosial tertentu dalam dunia kehidupan manusia. Hal tersebut juga berlaku untuk beberapa teori yang dipakai dalam menelisik gejala sosial keagamaan dalam konteks film PK. Dengan menggunakan dan memanfaatkan kaca mata teoritis, berbagai gejala sosial keagamaan dalam kehidupan sosial menjadi semakin transparan dan dengan demikian dapat membantu setiap orang dengan mudah memahami dan mengerti dengan baik terkait berbagai gejala sosial keagamaan yang ada.
Filim PK hadir dan coba memberi kritikan terhadap praktek kegamaan dalam masyarakat. Film ini sarat dengan kritikan tajam terhadap ritual keagamaan yang dipraktekkan dalam suatu kelompok tertentu. Kritikan-kritikan tersebut mempunyai kebenaran berkaitan dengan praktek keagamaan. Salah satu kebenaran yang coba diungkapkan dalam film ini mengenai agama yang disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan. Agama dijadikan lahan bisnis untuk mengumpulkan uang yang sebanyk-banyaknya. Dalam analisis ini, ada bebrapa gejala sosial dalam film yang memiliki relevansi dengan teori-teori sosiologi agama.
Dalam gagasannya, Karl Max melihat agama sebagai sebuah alienasi, agama dilihat sebagai sebuah ciptaan manusia sendiri atau hasil proyeksi dari manusia. Manusia menciptakan Allah dan bukan Allah yang menciptakan manusia. “Bukan Allah yang menciptakan manusia menurut gambarNya tetapi manusialah yang menciptakan Allah menurut gambaran atau bayangannya.”  Dalam salah satu adengan film, PK mengatakan bahwa agama sebenarnya buatan pemimpin agama sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan dari para pengikutnya. Keyakinan itu misalnya gambar atau patung yang dihormati oleh anggota keagamaan. Ia sangat heran bahwa Tuhan orang beragama bisa dibuat dalam bentuk patung. Ia semakin heran bahwa Permohonan dapat dibayar dengan uang dalam berbagai macam ritual.
Dalam film tersebut, PK menemukan ada dua Tuhan di dunia yakni, Tuahan yang menciptakan alam semesta dan Tuhan yang dibuat oleh orang tertentu (hasil proyeksi). Tuhan pencipta alam semesta adalah Tuhan yang penuh misteri sedangkan Tuhan tiruan adalah Tuhan yang dapat dilindungi dengan maksud tertentu. Dalam perdebatan dengan salah satu pemimpin agama, PK dengan jelas mengatakan bahwa seringkali orang membuat “Tuhan tiruan”, maksudnya adalah orang sering melupakan bahwa Tuhan itu hnya satu. Ia yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Tuhan pencipta adalah Tuhan yang memberi harapan kepada umatnya. Ini adalah sebuah makna yang terdalam dari sebuah agama yakni harapan.
Sebuah agama selalu dikaitkan dengan ritual-ritual keagamaan dalam masyarakat. Praktek ritual merupakan salah satu aspek penting yang selalu melekat dalam agama manapun di dunia ini. Uniknya praktek ritual yang dilaksanakan setiap agama mempunyai perbedaan dan ciri khas masing-masing. Dalam ritual keagamaan, peran dari anggotanya sangat diharapkan untuk ambil bagian dalam ritual tersebut. Praktek ritual keagamaan dipelihara dengan baik oleh anggota kelompok dan dilaksanakan terus-menerus sebagai pengikat persaudaraan dalam kelompok. hal tersebut dikatakan Durkheim yang melihat ritual sebagai sebuah praktek untuk mempertahankan solidaritas; “upacara atau ritus berfungsi mempertahankan solidaritas dan kohesi sosial.”[9]  Dalam film tersebut, PK akhirnya melihat bahwa ritual atau praktek keagamaan itu merupakan sebuah tindakan yang salah sasaran. Ia tidak menemukan kebenaran dalam ritual keagamaan yang beraneka ragam itu. Ia mempersoalkan tentang banyaknya ritual padahal hanya ditujukkan kepada satu Tuhan saja. Ia menyoroti kaum beragama yang sangat menghormati simbol-simbol. Atau dapat dikatakan bahwa orang lebih menghormati benda-benda religius dan melupakan Tuhan pencipta.
VII. Tanggapan Kritis 
Film PK merupakan film yang penuh dengan persoalan sosiologis karena  memperlihatkan beberapa gejala sosial umat manusia yang begitu luas, khususnya pada diri setiap manusia beragama. Selain itu, secara sosiologis, film ini mengungkapkan rasa taksim, kagum dan heran melihat kenyataan kehidupan manusia di bumi yang begitu beragam, salah satunya tampak dalam bentuk penghayatan keagamaan. Jika dilihat dari teori sosiologi agama, film ini berupaya mencari kebenaran akan Tuhan dalam setiap agama. Mempelajari setiap perilaku dan gaya hidup manusia beragama.
Tetapi dalam usaha tersebut PK sebenarnya telah menemukan Tuhan, sebagaimana dikatakan Hegel, Tuhan menampakan diri-Nya dalam kesadaran manusia. Namun dalam rasa heran dan uapaya menemukan Tuhan tersebut, PK kaget dan bingung sebab setiap agama mempunyai Tuhannya masing-masing dan setiap agama selalu mengklaim dirinya sebagai yang benar, akibatnya bahan persembahan pun menjadi persoalan. Inilah salah satu gejala sosial yang menciptakan kebingungan pada diri PK.
Dalam arti tertentu, PK adalah tokoh yang ditampilkan sebagai orang yang mencari, yang ingin memiliki pengetahuan mengenai eksistensi Tuhan. Dia tampil sebagai orang yang mewakili kaum empirisme, yang tidak dengan muda menerima apa yang diyakini, dipraktikkan dan dipercayakan oleh semua manusia mengenai Tuhan. Ia hadir sebagai seorang pendobrak dogmatisisme dan menuntut sebuah pertanggungjawaban dari setiap kelompok agama mengenai Tuhan. Namun tindakan PK melahirkan sebuah persoalan pada saat kaum beragama tersebut tidak memberi peluang bagi rasio untuk mempertanyakan imannya.
Dari film ini, kita dapat melihat sebuah relevansi dengan hidup keagamaan khusus dalam konteks Indonesia. Relevansi tersebut nampak kalau kita mencoba membandingkan gejala sosial yang terdapat dalam tindakan PK khusus dalam hubungannya dengan agama, tidak memiliki perbedaan yang begitu kelihatan dengan kelompok keagamaan di Indonesia. Dari agama Kristenmisalnya ada orangtertentu yang menilai Ahmadya sesat. Masalah ini persis ketika PK pergi ke sebuah Masjid membawa angur untuk Tuhan. Ketika umat muslim melihatnya maka mereka semua mengejarnya.
Tindakan tersebut secara ekspilisit menunjukkan suatu bentuk sikap intoleransi dan sikap merasa diri benar. Orang seperti ini akan yang lain sebagaisesat. Hal semacam itu tentu merupakan sebuah kesombongan yang kemudian menciptakan intoleransi dan diskriminasi yang pada akhirnya menjadi penghalang untuk berdialog dengan yang lain. Film PK membawa sebuah pesan moral bahwa setiap kelompok agama hendaknya saling berdialog, menghargai dan menghormati yang lain apa pun jenis dan bentuknya.
PK tampil sebagai pengkritik tatanan kehidupan manusia dengan berbagai aspek kehidupannya. Beberapa adegan cukup menarik dan mengelitik hati para pemeluk agama, misalnya PK mengikuti ritual mencabuk diri sampai darah. Selain itu, Peekay menuangkan sejumlah susu pada lingga sebagai bentuk penyembahan pada Dewa Siwa. Dan akhirnya ketika Peekay mengkritisi konsep ketuhanan Tapasvi Maharaj dengan mengatakan  bahwa ajarannya keliru, tuhannya adalah tuhan palsu dan hasil ciptaannya sendiri. Tapasvi kemudian menjadi marah dan mengancam Peekay. Dia mengatakan bahwa pengikutnya tidak akan diam atas apa yang dia anggap sebagai penghinaan itu. Menanggapi hal itu Peekay kemudian menjelaskan betapa kecilnya manusia dibanding alam semesta. Jika alam semesta adalah benar ciptaan tuhan, maka manusia tidak ada apa-apanya dibanding tuhan. Tetapi mengapa manusia yang tidak ada apa-apanya  merasa tuhan perlu pembelaan dari manusia. Jawaban PK melahirkan suatu kesadaran penuh dalam masyarakat sehingga menciptakan gerakan sosial yang menggocang seluruh tatanan kehidupan masyarakat.
VIII. Kesimpulan
Film PK memberikan sebuah gambaran baru guna membuka sebuah cakrawala berpikir akan keberagaman praktek atau ritual dan penghayatan  hidup beragama dalam masyarakat. Praktek atau ritual tersebut memberikan prinsip-prinsip yang senantiasa mengatur dan menyatukan anggota komunitas dalam masyarakat.Namun kehadiran Film PK mendobrak tatanan kehiduap beragama. Melalui sikap dan tindakannya, PK menyadarkan umat beragama untuk merefkleksikan kembali cara mereka menghayati hidup keagamaan.
Oleh karena itu hal utama yang ingin disampaikan film PK adalah sikap dan tindakan pemuka agama yang menggunakan agama dan Tuhan sebagai alat bisnis. Mereka mengutip kitab suci atau bahkan mengaku mendengar suara Tuhan untuk menakut-nakuti umat dan memperkaya diri dengan harta kekayaan. Pertanyaan paling esensial dari film ini adalah tentang keberadaan Tuhan itu sendiri. Melihat banyaknya agama yang ada di dunia maka interpretasi manusia tentu akan berbeda-beda tentang Tuhan. Belum lagi manusia yang memaksakan Tuhan mereka kepada manusia lainnya hingga timbul perpecahan, pergesekan dan bahkan pembantaian atas nama Tuhan.
PK mempertanyakan rupa dan sifat Tuhan, benarkah Tuhan sekejam itu? Membuat manusia saling membunuh atas nama-Nya? Memaksa manusia melakukan ritual agama yang menyusahkan dan menyakiti diri hanya untuk bertemu dengan-Nya? Kenapa Tuhan malah menyusahkan manusia yang ingin berkeluh kesah kepada-Nya? Jawaban-jawaban dari pertanyaan itu ditemukan PK melaluiperjalanan panjang dengan bekal keanehanya sebagai mahluk yang datang dari planet lain.
Di akhir cerita, PK bertemu dengan Tapaswi. Lalu setelah perdebatan singkat tetapi mendalam, PK mengungkapkan keresahan hatinya atas konsep Tuhan yang dibuat manusia. Dia mengatakan bahwa “Kita hidup di dunia yang sangat kecil, hanya debu di alam semesta. Lalu kamu bilang mau melindungi Tuhan? Tuhan tidak perludilindungi.” Ungkapan ini mengandung pesan yang sangat mendalam, khususnya kepada mereka yang selalu membawa-bawa nama Tuhan untuk kepentingan tertentu dan untuk kelompok yang mengklaim agama mereka sebagai agama yang benar. Oleh karena itu, PK membawa pesan bagi setiap kelompok agama untuk membuka diri, berdialog dengan agama lain dan menghargai setiap keunikan yang dimiliki oleh masing-masing agama.

Oleh Albertus Dino

DAFTAR PUSTAKA

Andang, Al.Agama yang Berpijak dan Berpihak. Yogyakarta: Kanisius,1998.
Sudiarja, A. Agama (di zaman) Yang Berubah. Yogyakarta: Kanisius. 2006.
Raho, Bernard. Agama Dalam Perspektif Sosiologi. Jakarta: Obor. 2013.
Raho, Bernard. Sosiologi Sebagai Sebuah Pengantar. Maumere: Ledalero,2004.
Suseno, Franz Magnis. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius. 2006.
Soekanto, Soerjono.Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi.Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel