Filsafat Teknologi Heidegger


Ilustrasi filsafat teknologi Heidegger
Quote Amor - Heidegger merupakan seorang filsuf metafisis-fenomenogi-eksistensialis yang berasal Jerman dan hidup di awal abad ke-20. Ia mencoba memahami realitas secara lebih dalam dengan kritis cara berpikir yang berada di balik ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang sangat pesat pada zamannya. Teknologi menjadi persoalan klasik yang seringkali dibicarakan oleh banyak orang. 

Hal tersebut karena perkembangan teknologi cenderung membuat manusia bertindak secara destruktif kepada alam dan sesamanya, bahkan kepada teknologi itu sendiri. Lebih parah lagi dari itu adalah manusia menjadi sangat bergantung pada teknologi sampai teknologi mengendalikan seluruh hidup manusia.

Baca juga :
Beberapa filsuf berusaha memahami fenomena tersebut dengan berusaha menggali makna teknologi dalam konteks relasi dengan manusia. Karena teknologi tidak bisa dilepaspisahkan dari kehidupan manusia. Salah satu dari para filsuf itu adalah Heidegger. Dia menolak gagasan umum yang melihat teknologi hanya dalam pengertian antropologi dan instrumental. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis akan mendeskripsikan kembali pemikiran Heidegger mengenai makna teknologi bagi keberadaan manusia di dunia.

Esensi teknologi menurut Heidegger

Teknologi merupakan ciptaan manusia. Di zaman modern, teknologi cenderung dilihat sebagai instrumental untuk menguasai segala sesuatu dengan cara mengobjekkannya. Bahaya dari pandangan seperti ini adalah bahwa manusia, melalui ilmu dan teknologinya, dapat terjebak dan terpenjara oleh dunia buatanya sendiri dan karenanya menutup diri terhadap realitas sesungguhnya yang lebih luas. 

Karena itu, Heidegger mengusulkan suatu perubahan, yaitu memandang teknologi sebagai cara Being mewahyukan dirinya, Heidegger menyebutnya sebagai “Emframing” (Ge-stell, better the Framework). Ge-stell ini menampilkan serentak menyembunyikan Being. Maka manusia sebenarnya tidak boleh membiarkan dirinya terperangkap oleh dunia kontruksinya sendiri dan selalu siap mengubah dan keluar dari manakala realitas (Being) menuntutnya.  Oleh Karena itu dapat dikatakan bahwa esensi teknolgi adalah sebagai Ges-tall/Enframing; set to reveal/ world as bestand/ standing reserve.

Esensi teknologi yang terkait dengan eksisentesi manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, Heidegger mengusulkan pengertian benar (the true sence) dengan “the correct sence.”  Menurutnya, betul (corret) tetapi belum tentu benar (true), artinya bahwa apa yang betul hanyalah benar dalam arti tertentu saja, yakni benar dalam bagian tertentu saja sebagian dari keseluruhan atau benar dalam arti yang terbatas. Jadi “betul” belum berarti “benar”. Akan tetapi, “betul” pun tidak berarti “tidak benar”, “betul” berarti benar secara terbatas atau pun “tidak mencukupi” dan dapat dikatakan sebagai kebenaran yang particular.

Sehubungan dengan itu, Heidegger juga melihat bahwa teknologi, secara ontologis, mendahului sains.  Hal ini dapat dilihat dalam sejarah perkembangan teknologi awal dengan adanya penemuan berbagai alat penting dalam masa sebelum sains berkembang pesat, seperti alat pengukur waktu dan jarak. Sejak masa itu dianggap sebagai masa perkembangan teknologi dan eksperimen. Penemuan-penemuan tersebut justru bermanfaat bagi pengembangan sains berikutnya. Misalnya, penggunaan matematika, metode eksperimental dan observasi saintifik.

Dalam penyelidikan tersebut Heidegger menemukan bahwa pemahaman instrumental harus dilihat dalam konteks tujuan penciptaan teknologi (alat) tersebut, sehingga menimbulkan hubungan sebab-akibat (kausalitas). Pandangan Heidegger mengenai Kausalitas terinspirasi dari empat bentuk kausalitas dari Aristotelian yakni kausa materialis, kausa formalis, kausa finalis, dan kausa esensialis. 

Hubungan kausalitas ini menunjukkan relasi manusia dan teknologi yang bergantung pada struktur kausa tersebut. Sejak zaman itu, instrumen sudah hadir maka benar atau tidak benar, baik atau tidak baik bukan terletak pada keabsahan aksiologi (penilaian) tetapi pada alasan yang menyertai relasi. Tujuan dalam instrumentum tidak tunggal, terikat oleh hukum sebab-akibat, tujuan membutuhkan syarat alasan, alasan memerlukan kondisi-kondisi, inilah hukum sebab-akibat dari mengada-nya teknologi.

Oleh karena itu, hal tersebut dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan dunia atau lingkungan yang tidaklah bersifat konseptual, tetapi sebagai hubungan jasmaniah praksis yang tercermin dalam aktivitas keseharian. Contoh: Palu dalam konteks penggunaan-penggunaan khusus yang relasional, dimana palu itu menjadi suatu bagian dari bidang tugas, yang menunjuk pada paku, sol-sol sepatu, produksi artifak. Tetapi palu yang dipakai itu bukan suatu obyek semata, melainkan secara aktual kegunaannya menunjukkan corak pengetahuan praktis tertentu yang tidak bersifat konseptual, tetapi bersifat jasmaniah.

Akhirnya Heidegger mengatakan bahwa teknologi adalah penerangan (illuminating) yang disebutnya sebagai esensi teknologi. Esensi teknologi itu adalah aktivitas atau produk manusia. Dengan kata lain, teknologi adalah bentuk aktivitas manusia.  Teknologi bukan hanya sebagai alat tetapi sebuah jalan yang membuka sesuatu dari yang semula tidak tampak menjadi tampak atau membuka pikiraan atau kerangka yang memberi pemaknaan baru.

Tanggapan Kritis

Berdasarkan pemahaman Heidegger yang mengatakan bahwa esensi teknologi adalah aktivitas manusia maka saya dapat menyimpulkan bagi Heidegger, pandangan yang melihat alam sebagai sumber daya untuk manusia telah meracuni cara berpikir kita sebagai manusia. Karena pada akhirnya, kita hanya mampu menangkap satu ungkapan dari alam. Sementara ungkapan-ungkapan alam lainnya tak lagi bisa kita sadari.

Alam dan realitas sebagai keseluruhan adalah entitas yang kaya dan terus mengungkapkan dirinya pada manusia. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan modern tidak boleh memonopoli kebenarannya sendiri sebagai satu-satunya kebenaran. Alam dan realitas bukan hanya entitas yang bisa digunakan, dikalkulasikan, atau semata sesuatu yang terjadi akibat-hubungan sebab akibat. Alam dan realitas mengungkapkan dirinya pada manusia secara estetik, puitis, religius, filosofis. Menurut Heidegger, semua ini adalah ungkapan dari kebenaran itu sendiri.

Dengan kata lain, Heidegger sama sekali tidak menolak perkembangan teknologi. Yang ditentang Heidegger hayalah cara berpikir yang ada di balik teknologi modern, yang menyempitkan alam (Natur) semata sebagai sesuatu yang bisa dihitung dan diperas demi kepentingan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi modern harus ditempatkan hanya sebagai salah satu dari upaya kesadaran manusia untuk menangkap beragam ungkapan kebenaran dari realitas yang begitu kaya dan rumit.

Oleh Albertus Dino

DAFTAR PUSTAKA

Dreyfus, Hubert L. and Mark A. Wrathall. A Campanion to Heidegger. Blackwell Piblishing Ltd: 2005.

Sugiarto, Ign. Bambang. Dunia Teknologi Post Modern dan Filsafat Teknologi Heidegger: Suatu Penjajaran. Melintas. No.20 (28 April 1993): 1-15.

Eadhliah. Hakekat dan Makna Teknologi Bagi Keberadaan Manusia Dalam Perspektif Heidegger. Madani I (Mei 2006); 31-38.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel