Cak Nur Untuk Indonesia

Ilusitasi tentang pandangan Cak Nur untuk Indonesia
Quote Amor - Tema di atas memperlihatkan pengaruh Cak Nur (Nurcholish Madjid) yang sangat besar bagi perkembangan Islam dan kehidupan negara Indonesia. Beliau adalah seorang tokoh cendikiawan Islam yang terus-menerus mengambil posisi netral dalam pergulatan dan percaturan politik sejak akhir Orde Lama sampai Orde Reformasi. 

Gagasan dan pola pikirnya yang berlian tentang Islam, modernitas, dan ke-Indonesia-an menembus batas sikap diskriminatif dan mengintergrasikan pancasila sehingga Indonesia tetap berada dalam keutuhan sebagai negara yang bercorak multikultural. 

Dalam orasi mantan Rektor UIN Jakarta, Prof. Azyumardi Azra mengatakan bahwa Cak Nur adalah salah satu dari sedikit ”intelektual publik” (public intellectual) Indonesia kontemporer yang dari sudut pemikiran dan praksisnya sangat kompleks. Meskipun Beliau adala seorang tokoh muslim tetapi Beliau tidak terkungkung dalam batas-batas keagamaan.

Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra mengisahkan, “Cak Nur itu hidupnya sufistik, tidak menginginkan terjadi disintegrasi di Indonesia karena perbedaan agama dan etnik. Cak Nur juga sangat konsistensebagai kekuatan penengah antara negara dan masyarakat, antara berbagai golongan dan lapisan yang sering tersekat dan bergesekan.”  Hal ini memperlihatkan bahwa pikiran Cak Nur telah mencapai ”kedewasaan intelektual” dengan sikap terbuka dan mengharga keberagaman. 

Dalam penilaian Prof. Azyumardi Azra, Cak Nur telah menyumbangkan banyak gagasan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal tersebut dapat ditemukan pada perkembangan dan pertumbuhan masyarakat madani yang relatif kuat dan baik tatkala memasuki demokratisasi dengan kepaduan islam, modernitas, dan keindonesiaan.

Bagi Cak Nur ketiga entitas ini semestinya dapat dipadukan, tanpa misalnya mengorbankan aqidah dan prinsip-prinsip Islam lain. Dalam konteks itulah, Cak Nur menggagas tentang penting dan perlunya kontekstualisasi Islam dengan realitas lokal Indonesia. Dengan begitu pula Islam menjadi selalu relevan dengan Indonesia.

 Karena itu, Islam Nusantara atau Islam Indonesia adalah kontekstualisasi antara Islam, tradisi dan realitas zaman, dimana  pemikiran keislaman Cak Nur dan Gus Dur dengan pribumisasi Islamnya, sangat berpengaruh besar di dalamnya.

Salah satu pernyataan Cak Nur yang sangat terkenal dan kontrofersial adalah “Islam yes, partai Islam no”. pernyataan ini merupakan kritikan terhadap partai-partai Islam pada zaman Orde Baru. Menurut Prof. Azyumardi Azra, Penolakan Cak Nur pada partai Islam tidak lain karena keprihatinan intelektualnya terhadap perpecahan politik Islam pasca kemerdekaan yang menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan sosial politik umat Islam. 

Pada saat yang sama, masing-masing partai Islam tersebut mengklaim sebagai mewakili Islam, padahal tidak lebih daripada mewakili partai masing-masing, atau bahkan elit kepemimpinan partai Islam bersangkutan. Prinsip “Islam yes, partai Islam no” tidak berarti Cak Nur sekularisme politik tetapi Beliau hanya mengharapkan supaya umat Islam tidak terlarut dalam klaim partai-partai Islam dan sebaliknya bersatu di dalam Islam.

Namun satu hal yang sangat mengejutkan banyak orang ketika Cak Nur memutuskan untuk mendukung dan ikuti menjadi juru kampanye bagi PPP dalam Pemilu 1977. Menurut Prof. Azyumardi Azra, sikap tersebut mesti dilihat dalam perspektif komitmen Cak Nur kepada demokrasi. 

Cak Nur memegang semboyan “memompa ban kempes” sebagai dasar untuk memperjuangkan keseimbangan politik yang ketika itu didominasi oleh partai Golkar Orde Baru Paka Harto. Bersamaan dengan itu, beliau menyuarakan terus-menerus pentingnya demokrasi bagi negara Indonesia.

Kemudian dalam pidato Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin menyatakan bahwa ada empat fase yang diciptakan Cak Nur pada masanya yaitu; fase pertama, masuknya Cak Nur dalam komunitas bangsa yang tradisional. Beliau menyumbangkan gagasannya secara kritis terhadap paham sosialis dan komunis. Fase kedua, tampilnya Cak Nur sebagai Natcir Muda. Beliau mempunyai reputasi berskala internasional, mempunyai kontribusi terhadap kemerdekaan terhadap Afrika selatan, dan pemikir bangsa yang berpengaruh. Fase ketiga, Cak Nur mendorong modernisasi. 

Cak Nur berpikir menggunakan rasionalisasi bukan dengan gaya barat yang pada era tersebut budaya barat mulai tidak dapat dibendungkan akibat kehadiran teknologi yang masif. Menurut beliau, tindakan yang tepat ialah menjadi orang modern tapi juga religius karena Islam pembawa kebaikan bagi semua kalangan. Maka dari itu, beliau cenderung mengedepankan inklusifisme dan toleransi beragama dalam Islam dengan kondisi  modern. 

Fase keempat, Cak Nur turut berpengaruh dan menghantar Reformasi. Beliau merupakan salah satu tokoh yang meminta Suharto mudur dari jabatannya sebagai presiden dengan secara langsung menyuratkan kepadanya. Lukman Hakim Saifudin menambahkan bahwa ada empat sikap dari Cak Nur yang perlu diteladani, yaitu keterbukaan dan dialog, kesalehan sosial dengan memanusiakan manusia, dan keberagaman dalam kemajemukan yang wajib kita jaga.

Acara itu diselenggarakan oleh Universitas Paramadina & Nurcholish Madjid Society  terkait Haul ke-10 Almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan tema “Cak Nur untuk Indonesia” dan peluncuran buku karya Omi Komaria Madjid (berbicara bersama Nadia Madjid dan Michael Madjid) yang berjudul “Hidupku Bersama Cak Nur”, di gedung Soehanna Hall, The Energy Tower 2nd floor, SCBD Lot 11A, Jl. Jend Sudirman Kav. 52 – 53, Jakarta. Acara itu dihadiri Arifin Panigoro, Akbar Tanjung, Arifin Siregar, Yenny Wahid, Miftah Farid, Prof. Frans Magnis Suseno, Solichin dan para sahabat Cak Nur serta mahasiswa (Paramadina dan STF Driyarkara), media dan masyarakat.(A/D)

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel