Buddha Gautama

Buddha Gautama
Quote Amor - Buddhisme merupakan “agama atau aliran yang berkembang dari ajaran Sidharta Gautama. Dia dilahirkan pada 2506 tahun yang lalu (563 SM) di desa Lumbini, India Utara. Ayahnya bernama Suddhodana sebagai raja di suku Sakya, dan ibunya Maya. Ketika ia lahir, dia diberi nama Siddharta. Pada usia 16 tahun, ia menikah dengan seorang putri dari kerajaan tetangga dan medapatkan seorang putra. 

Pada suatu hari ketika Gautama keluar istana, dia mendapat penglihatan tentang seorang sakit, orang tua dan orang mati. Ketiga penglihatan itu mengusik ketenangan hatinya dan dia menjadi muak dengan kehidupan dan kenikmatan duniawi. Karena itu pada usia 30 tahun dia meninggalkan segalanya, warisan, harta, rumahnya dan pergi bertapa ke sebuah hutan untuk mencari jawaban atas keresahan hatinya.

Mula-mula, dia berdua berguru pada dua orang Brahman tetapi kedua orang tersebut tidak memberi ajaran yang memuaskan, ia pun mencoba memperaktekkan matiraga yang keras bersama lima orang temanya, dengan berpuasa dan matiraga. Namun setelah 6 tahun menjalaninya, dia menemukan bahwa jalan terebut tetap tidak memberi ketenangan batin baginya. 

Akhirnya pada suatu hari, ketika duduk bermeditasi di bawah sebuah pohon boddhi, ia mengalami “iluminasi” (penglihatan) yang memberi jawaban atas segala pertanyaannya selama ini. Dengan demikian namanya diganti menjadi Buddha (yang berarti yang tergugah, yang bijaksana) dan para pengikutnya menyebut dia sebagai Bhagavat (yang terberkati) atau Shakyamuni (orng suci dari Shakya). Dia sendiri menyebu dirinya sebagai Tathagata yang berarti “yang telah mencapai kebenaran menurut cara pendahulunya,” untuk membedakan diri dari sebelumnya ketika masih merupakan Bodhisattva, yakni “yang akan mencapai Buddha” pada akhir hidupnya.

Ketika dia telah mengalami pencerahan sebagai “jalan tengah,” Buddha Gautama bertemu kembali ke tempat kelahirannya dan bertemu dengan kelima orang pertapa temannya dahulu yang menjalankan matiraga. Kelima orang itu menjadi muridnya dan kepada mereka, sang Buddha mengingatkan bahwa ada dua nafsu yang sangat berbahaya, yaitu nafu indrawi yang mengejar kenikmatan jasmani dan nafsu untuk menundukkan diri dengan matiraga keras. Kemudian Buddha meninggal dan mengalami pari Nirwana pada usia 80 tahun (483 SM).
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel