Sains dan Petunjuk Adanya Tuhan

Kosmologi dan kisah penciptaan
Benda-benda Langit
Quote Amor - Dalam film the privileged planet ditampilkan berbagai gejala alam yang selalu mengarah pada suatu tujuan. Gejala-gejala itu mendorong para ilmuwan melakukan observasi dan penelitian.

Menurut Richard dan Gonzales berdasarkan berbagai bukti empiris, bumi merupakan tempat yang unik dan istimewa karena bumi menjadi satu-satunya tempat di alam semesta yang paling cocok untuk kehidupan yang memiliki kompleksitas dan memberikan kondisi yang terbaik untuk penemuan astronomi. The Privileged Planet mengeksplorasi korelasi menarik ini dan implikasinya pada pemahaman kita tentang asal-usul dan tujuan kosmos.

Di alam semesta ini terdapat banyak proses keterarahan. Proses-proses itu kelihatan teratur untuk menghasilkan suatu tujuan tertentu, misalnya terarah pada pembentukan sistem bintang dan planet, pada terjadinya kehidupan, pada evolusi jenis-jenis organisme yang semakin kompleks dan pada perkembangan masing-masing individu.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah segala keterarahan itu bisa terjadi secara kebetulan saja tanpa ada yang mengarah? Ataukah keterarahan itu tidak dapat dijelaskan kecuali kita menerima dan mengakui adanya suatu entitas (pribadi) yang sudah sebelumnya tahu tujuan dari proses-proses itu serta bisa mengarahkan seluruh realitas alam kepadanya?

Penjelajahan yang dilakukan para ilmuwan, terutama Richard dan Gonzales menjadi suatu bukti bahwa keistimewaan planet Bumi ini merupakan mysterium et fascinosum yang sulit dibuktikan secara rasional belaka.

Para ilmuwan menjelaskan gejala-gejala yang terjadi dengan menggunakan data-data penelitian tertentu tetapi masih meninggalkan satu persoalan yaitu penelitian-penelitian para ilmuwan itu bukan merupakan bukti yang dengan begitu saja menerima adanya seseorang dibalik terbentuknya Bumi.

Misalnya dengan program SETI (The search for extraterrestrial intelligence) yang mencari kecerdasan di luar angkasa, upaya yang dilakukan Apollo saat mendarat di bulan, atau dengan hasil penelitian teleskop oleh Hubble terhadap asas Copernikus dengan sebuah hipotesis yang mengatakan bahwa semesata itu terdiri dari miliaran galaksi bimasakti.

Bumi hanyalah salah satunya, dan dia memang istimewa dibandingkan dengan planet lainnya karena kompleksitasnya serta keteraturan sistem interkasi di dalamnya.

Melihat adanya keteraturan itu maka sangat rasional kalau kita katakan bahwa di balik semua itu tentu harus ada seseorang yang mengaturnya. Akan tetapi tidak berarti bahwa rasionalitas seperti itu sebagai bukti akan eksistensi Tuhan.

Keberadaan Tuhan sesungguhnya tidak dapat dibuktikan secara empirik berdasarkan metodologi sains, karena eksistensi Tuhan melampaui batas ruang dan waktu di mana sains hanya berkutat pada penyelidikan fenomena yang terjadi. Penjelajahan sains tidak dapat menjawab dan menemukan akan ada dan tidaknya eksistensi Tuhan secara kasat mata.

Metodologi sains memiliki fungsi yang berbeda dengan teologi. Tujuan sains hanya untuk mengetahui hubungan-hubungan yang memiliki pola teratur antara gejala-gejala pada alam, sedangkan upaya teologi adalah untuk memaknai realitas dalam hubungan relasi Tuhan sebagai sumber kehidupan dengan manusia.

Teologi memahami semua realitas itu sebagai gambaran atau bentuk kelihatan dari Tuhan dan gambaran itu hanya sebagai jalan untuk memahami misteri-Nya. Eksistensi-Nya tetap menjadi misteri tetapi dapat dipahami dan dialami dalam kehidupan.

Di samping itu, sains berusaha mencari sumber dari berbagai gelaja alam secara indrawi yang tampaknya bergerak secara beraturan. Hal itu dilakukan hanya sebagai jalan untuk memaknai kehidupan di dunia ini.

Namun pada akhirnya segala bentuk observasi akan sampai pada pertanyaan, kenapa semua realitas yang terjadi tampaknya mempunyai keterarahan pada suatu tujuan. Kita harus terima bahwa di balik segala proses keterarahan itu, ada entitas yang tertinggi yang mengarahkan semua itu secara beraturan kepada tujuan tertentu.

Penjelasan para ilmuwan seperti Gonzales kiranya membantu untuk merefleksikan mengenai entitas yang tertinggi itu sebagai perancang segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Teologi menyebut Yang Tertinggi itu sebagai Tuhan.

Dia adalah perancang yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu dalam menciptakan dan dengan proses yang teratur. Dalam kitab Yesaya, misalnya, Tuhan dibambarkan sebagai tukang Periuk (Yes 64:8). Ini bisa digunakan sebagai suatu tawaran jalan untuk memahami Tuhan, bahwa keteraturan semesta merupakan hasil ciptaan Tuhan yang melampaui keteratuan itu sendiri.

Oleh karena itu keyakinan pada Yang Teringgi sebagai perancang dan pengatur akan segala kompleksitas yang terjadi di Bumi akan menuntun manusia kepada sebuah pemaknaan akan kehidupan di dunia ini.(A/D)
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel