Pertikaian Amos dengan Amazia di Betel (Am 7:10-17)

Amos dan Amazia
Gambaran pertikaian Amos dan Amazia di Betel
Quote Amor - Amos sebagai orang sederhana yang dipanggil Tuhan untuk menjalankan tugas sebagai nabi agar menyampaikan nubuat kepada bangsa Israel. Kesederhanaan Amos dapat dikenal melalui pengakuan Amos sendiri bahwa dia adalah seorang gembala dan pemungut buah Ara (Am 7:14b). 

Dalam kitab Amos bab 7:10-17 menceritakan pertikaian Amazia dengan Amos. Pertikaian itu muncul dari pemberitaan penglihatan yang dialami Amos pada bab 7:1-9. Pemberitaan ini membuat Amazia menentang Amos yang menyebut dirinya sebagai orang yang diambil Tuhan untuk menyampaikan pesan profetis kepada umat Israel (bdk Am 7:15).

Baca juga 
Pertikaian antara keduanya akan menampilkan persoalan mendasar yang terjadi pada zamanya, yaitu Amazia mewakili para imam yang menggunakan agama sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik kemudian dilawan oleh Amos sebagai utusan Tuhan untuk memulihkan situasi itu.

Tetapi Amazia sebagai kepala imam tidak menerima pemberitaan Amos karena tidak sesuai dengan kepentingan politik. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas secara lebih mendalam mengenai pertikaian Amos dan Amazia.

Pemicu dari pertikaan Amos dan Amazia

Sebelum berbicara lebih jauh mengenai pertikaian Amos dan Amazia, perlulah diketahui sedikit situasi bangsa Israel pada saat itu (sekitar 760 dan 750 SM). Bangsa Israel pada saat itu berada dalam masa kejayaan yang dipimpin oleh Raja Yerobeam II. Situasi kejayaan itu tidak membawa kesejahteraan bagi semua orang maka Amos dipilih Tuhan tampil di hadapan publik sebagai pengeritik terhadap sistem politik yang hanya memperhatikan lapisan masyarakat atas, para pemimpin rakyat dan para imam. 

Dia mengecam sistem pemerintah yang dibuat oleh pemimpin Negara dan para imam. Mereka menciptakan kejayaan semu untuk kepentingan pemerintah semata, sehingga keadilan sosial hanyalah sebuah impian bagi masyarakat biasa, karena keadilan sosial itu hanya dinikmati oleh kalangan atas (pemerintahan dan para imam). Bagi kalangan atas, perinsipnya adalah segala sesuatu dipertimbangkan hanya untuk menjaga keamanan posisi sang raja, yang pada saat itu dipegang oleh Raja Yerobealm II.

Dengan demikian, Amos, atas kuasa Yahwe, menyampaikan pesan-pesan profetis di tempat perziarahan Betel dengan penuh percaya diri. Amos menyampaikan pesan Tuhan yang diperolehnya melalui penglihatan-penglihatannya kepada bangsa Israel. 

Tiga penglihatan Amos pada bab 7:1-9 bisa diperkirakan sebagai pemicu kemarahan Amazia kepadanya. Amos memberitakan bahwa Tuhan akan menghancurkan tempat-tempat kudus Israel dan Tuhan akan bangkit melawan keluarga Yerobeam dengan Pedang (Am 7:9). Ungkapan Amos ini membuat Amazia sebagai kepala imam merasa direndahkan oleh Amos, orang yang sederhana yang hari-harinya sebagai gembala domba. 

Amazia sebagai kepala imam yang dipilih oleh Negara, merasa terganggu atas pemberitahuan Amos yang dengan berani mengancam para imam dan pemerintahan Yerobeam. Amazia mungkin melihat tanda-tanda tidak baik dari pemberitaan Amos, khususnya dapat mengganggu stabilitas pemerinthan Yerobeam II maka Amazia dengan cepat bereaksi dan melaporkan tindakan Amos kepada sang raja.

Klimaks Pertikaian Amos dan Amazia

Dalam pengaduhan Amazia kepada Raja, melalui seorang pengantara (ayat 10), menunjukkan bahwa Amazia tidak sabar lagi dengan sikap Amos yang mengambil tugasnya sebagai kepala imam yang dipilih oleh Negara untuk bertanggungjawab atas tempat suci di Betel. Amos datang tanpa meminta izin kepadanya, berkotbah di Bait suci di Betel dan lebih para lagi Amos mengeritik para imam dan pemerintahan Yerobeam. 

Amos sudah tidak minta izin kepada Amazia sebagai kepala imam Bait Suci negara dan kemudian ditambah lagi, dia tidak sopan mengeritik orang yang menjaga Bait Suci itu. Tentu hal ini akan membuat Amazia menjadi marah kepada Amos. 

Namun, kenapa Amazia, sebagai kepala imam, yang mempunyai kekuasaan atas Bait Suci itu, tidak langsung saja melarang dan mengusir Amos, apalagi Amos hanyalah seorang pengembala domba tetapi malah Amzia melaporkannya kepada Raja Yerobeam.

Hal ini bisa saja terjadi karena Amazia menyaksikan perbuatan Amos sudah mendapat  banyak simpatik dari orang-orang dan didengarkan oleh mereka. Amazia tidak dapat membendungi lagi besarnya pengaruh Amos. Melihat hal itu, Amazia menjadi takut juga untuk melarang Amos berkotbah di Bait Suci di Betel sehingga dia mengaduh Amos kepada raja Yerobeam, sebagai provokator yang mengasut umat Isreal untuk melawan raja. 

Tuduhan semacam itu akan mudah dipercaya oleh raja. Apalagi yang menyampaikan itu berasal dari Amazia, kepala imam, orang pilihan pemerintah sendiri. Tuduhan itu ditegaskan dengan mengutip beberapa perkataan Amos yang punya hubunganya dengan masalah politik. “Amos telah mengatakan bahwa, Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan” (ayat 11).

Namun pada ayat 12 Amazia kayaknya tidak sabar lagi dengan Amos sehingga dia tidak menunggu jawaban dari Raja Yerobeam, dia dengan segera mengambil tindakan dengan mengusir Amos dari Betel atas tanggung jawabnya sendiri.

Kemungkinan besar bahwa Amazia menganggap Amos sebagai “salah seorang pelihat” atau seorang nabi palsu yang mencari “nafkahnya dengan bernubuat” (bdk 1 Sam 9 : 5-10) sehingga dapat dimengerti bahwa dia tidak mempunyai rasa hormat kepada Amos. 

Tetapi anggapan itu tetap dilematis karena tidak dikatakan oleh Amazia bahawa Amos menyampaikan suatu yang benar atau yang tidak benar. Amazia hanya mengatakan Amos sebagai pelihat. Anggapan ini bisa dikatakan sebagai klaim Amazia yang merasa tidak aman dengan kehadiran Amos sehingga ia mau melepaskan diri dari padanya dengan mengusirnya dari hadapannya. 

Amazia sebagai kepala imam tentu mengerti dengan kata-kata Amos tetapi dia tidak melihat kebenaran dari kata-kata Amos tetapi karena kepentingan politik, dia mengecam dan menolak Amos dengan mengatakan tempat suci di Betel adalah tempat kudus raja, suatu bait suci kerajaan (Am 7:13).

Dari argumen Amazia ini, kita dapat mengetahui bahwa di Israel pada saat itu, agama dijadikan sebagai sarana tujuan politik. Para imam menganggap kebijaksanaan atau merasa dirinya berkewajiban untuk menyesuaikan diri kepada keinginan pemerintah. Karena itu, cara berpikir Amazia juga nampak berbau politik sehingga ia hanya dapat bertindak atas dasar pertimbangan-pertimbangan politik. 

Dia menganggap pemberitaan Amos bertentangan dengan kepentingan Negara dan pemberitaan semacam itu tidak dapat diizinkan masuk dalam kehidupan bersama. Di sini terdapat perbedaan pandangan antara Amos dan Amazia. Amos berbicara atas nama Tuhan sedangkan Amazia lebih peduli pada urusan Negara.

Ketika Amos mendengarkan pernyataan Amazia yang mengusirnya dari bait suci di Betel, ia menjelaskan alasannya kenapa dia berbicara di depan orang Israel. Dia tidak punya maskud primodial bagi kepentingan pribadinya tetapi karena kehendak Tuhan yang menugaskan dia untuk menyampaikan firmann-Nya maka Amos melakukannya. 

Hal tersebut ditegaskan Amos dengan mengatakan bahwa, “Aku ini bukan nabi dan Aku ini bukan termasuk golongan nabi, melainkan Aku ini seorang peternak dan pemungut buah Ara Hutan” (Am 7:14). Jawaban Amos ini mau menegaskan bahwa dia bukanlah seperti nabi-nabi yang ada pada saat itu, nabi-nabi pembuat keajaiban, peramal, penasihat dan mereka ini hidup dari pemberian atau mendapat uang dari nasihat-nasihat yang mereka berikan kepada orang lain. Dia bukanlah orang yang mencari uang dari pekerjaan itu karena dia punya pekerjaan sendiri yaitu sebagai perternak dan sebagai petani yang berkerja di ladang.

Amos bukanlah orang yang mencari popularitas diri atau berambisi mengumpulkan uang dari pewartaannya. Dia hanyalah seorang yang sederhana mengikuti kehendak Yahwe untuk menyampaikan pesan-Nya kepada umat Isreal. 

Dengan kata lain, Amos mau menegaskan bahwa dirinya mempunyai penghasilan yang cukup dari pekerjaannya sehari-hari. Dia tidak menjadi nabi supaya ia mendapat uang yang banyak atau karena keinginannya sendiri supaya mendapat pujian dari banyak orang, melainkan karena kehendak Tuhan sendiri yang mengambil dia dari pekerjaannya untuk menyampaikan firman Tuhan kepada umat pilihan-Nya (bdk Am 7:15).

Amos sendiri sebenarnya tidak punya kemauan untuk menjadi nabi dan tidak mau disebut sebagai nabi tetapi karena ia didesak oleh kekuatan Yahwe untuk mewartakan firman-Nya kepada bangsa Israel maka dia melaksanakan tugas itu atas nama Tuhan. Amos selalu memulai kata-katanya dengan mengatakan, “Tuhan Berfirman kepadaku.” 
Di sini, Amos hanya berperan sebagai perantara untuk menyampaikan firman Tuhan tentang tanda penghakiman sebagai syarat berakhirnya Israel. Pada bagian ini tidak disampaikan lebih lanjut apakah Amazia mengerti dengan penjelasan Amos? 

Apakah dia sadar dengan kata-kata Amos atau apakah Amos juga menginggalkan bait suci itu dan pergi ke Yerusalem? Hemat saya, tidak ada informasi mengenai hal itu karena hanya dikatakan Amazia mengusir Amos dan tanggapan Amos untuk menjelaskan pernyataan Amazia yang mengusirnya.

Setelah Amos menjelaskan tentang dirinya dan alasannya menyampaikan pemberitaan itu di hadapan umat Israel, dia kemudian meminta Amazia untuk mendengarkan pesan Tuhan yang disampaikan kepadanya. “Maka sekarang dengarkan firman Tuhan!” (Am 7:16a). 

Amos menyampaikan firman Tuhan mengenai nasib Amazia sendiri. Istrinya akan bersundal di kota, mungkin untuk mencari uang dalam waktu kesusahan, anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan akan tewas oleh perang, ladang-ladangnya akan diambil oleh penduduk baru yang menempatinya, dan Amazia sendiri sebagai seorang imam akan mengalami nasib yang sangat buruk karena dia akan menjadi orang tawanan dan akan mati di tanah pembuangan (bdk Am 7:16-17). 

Setelah pemberitaan ini, kita tidak tahu lagi apakah hal itu akan terjadi betul pada Amazia dan keluarganya? Ataukah Amazia menjadi sadar dan bertobat dan mengubah hidupnya? Tetapi hal yang pasti adalah bangsa Israel akan pergi dari tanahnya sendiri sebagai orang pembuangan. Karena itu bisa dikatakan bahwa pemberitaan Amos akan terjadi pada kehidupan Amazia dan keluarganya.

Kesimpulan

Pertikaian Amos dengan Amazia merupakan suatu gambaran yang menampilkan persoalan mengenai gereja dan Negara. Amos dapat dianggap sebagai wakil dari gereja yang mengakui dan percaya kepada Tuhan. 

Keyakinan itu menentukan sikapnya terhadap segala sesuatu melalui penyerahan diri kepada Allah dan mengikuti bimbingan Roh Allah dalam kehidupan berimannya.

Amazia adalah pribadi yang mewakili agama yang menghayati keagamaannya berdasarkan kepentingan bangsa dan Negara, seperti bangsa Israel yang sudah terkontaminasi dengan kepentingan Negara dan mengabaikan dasar iman mereka, yaitu mengdengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan.

Atau dengan kata lain, Amazia merupakan perwakilan dari suatu gereja yang telah meleburkan dirinya dengan cita-cita politik sehingga hidup keagamaannya tidak lagi dikuasai oleh firman Tuhan melainkan oleh pertimbangan-pertimbangaan politik.(A/D)

Albertus Dino

Daftar Pustaka

St. Daramawijaya Pr. Warta Nabi Abad VIII. Jogjakarta: Kanisius, 1990.

Boland, B. J. Tafsir Amos. Bandung: Pinda Grafika Prop, 1966.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel