Perjanjian Allah dengan Abraham (Kej 15:1-21)

Panggilan Abraham
Abraham, Bapa segala Bangsa
Quote Amor - Abraham merupakan salah satu tokoh yang sangat penting dan berpengaruh dalam sejarah keselamatan bangsa Israel. Kehidupan Abraham menampilkan bagaimana Allah berkerja membuktikan Janji dan kesetiaan-Nya kepada orang yang berharap kepada-Nya. 

Allah memberkati Abraham dan memilihnya karena Abarham setia kepada Allah. Janji Allah kepada Abraham itu dihubungkan dengan keturunan dan tanah sebagai suatu perjanjian resmi yang dibuat atas inisiatif Allah sendiri.

Tetapi kisah Abraham sesungguhnya merupakan peristiwa-peristiwa lepas yang samar-samar urutnnya. Para editor menyusun kisah-kiah itu menjadi suatu kisah yang kronologis dan memperlihatkan kesetiaan Allah menepati janji-Nya.

Baca juga
Beberapa kisah perjanjian antara Allahdengan Abraham (Kej 12, 15, 17, 18) menunjukkan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya sendiri. Karena pembaruan janji itu mempunyai nilai yang sangat penting untuk memberi keyakinan bahwa janji itu akan terjadi. Namun, dalam tulisan ini akan membahas secara khusus Kitab Kejadian 15:1-21. 

Untuk melihat bagaimana kisah perjanjian ini dipahami dalam konteks karya keselamatan Allah. Lalu apa yang ingin dikatakan dalam perjanjian tersebut.

Konteks Historis

Kisah perjanjian pada Kej 15:1-21 ditulis oleh tradisi Yahwis (J) dan diambil dari kisah suku-suku seminomaden mengenai hubungan erat dan personal dengan Allah yang mereka percaya. Tradisi ini muncul dalam cerita-cerita rakyat di Timur Tengah mengenai Perjanjian antara raja dan rakyat, perjanjian dengan para raja tetangga. Karena itu perjanjian itu menuntut kesetiaan dan ketika mematahkan janji berarti pelanggaran terhadap Tuhan.

Pemikiran pokok dalam tradisi ini adalah bagaimana Yahwe berkarya dalam sejarah dan mengarahkan manusia kepada tujuan hidupnya. Kisah perjanjian itu diteruskan secara lisan turun-temurun sampai masa kerajaan Israel. Dapat dibayangkan bahwa penerusan kisah-kisah itu terjadi pada waktu mereka berkumpul di sekitar api unggun atau di tempat-tempat ibadah.

Perjanjian itu dikisahkan dalam bentuk penampakan Allah (theophania) kepada Abraham, suatu pengalaman yang menentukan hidup Abraham sendiri. Janji tanah yang diberikan itu (Kej 15:1-21), disampaikan dalam bentuk perjanjian yang dikukuhkan dengan sumpah. Hal ini merupakan suatu perkembangan dari Kej 12:7 dan 13:14-15, 17.  Awal kisah menunjukkan teologi janji kepada Abraham.

Ayat 1 menggambarkan Abraham sebagai tokoh profetis; “Datanglah Friman Tuhan kepada Abraham, demikian juga ayat 4. Tetapi aneh, ayat 17 menunjuk seluruh pengalaman di Mesir. Seluruh bagian Kej 15 melukiskan sikap Abraham yang baru menjadi kenyataan sepenuhnya di kemudian hari. Janji kepada Abraham pada ayat 5 dan 18 akan diulang lagi di gunug Sinai kepada Musa (bdk Kel 32:13). 

Oleh karena itu secara umum dapat dikatakan bahwa Kej 15 merupakan isyarat dan persiapan untuk perjanjian di Sinai. Firman Allah bukan hanya nubuat dalam arti ramalan-buntut melainkan suatu teknik refleksi teologi tradisi Yahwis (J) tentang seluruh penyelenggaraan Allah dalam sejarah bangsa terpilih.

Hal yang menunjukkan bahwa Kej 15 berasal dari tradisi Yahwis adalah  menyebut Yang Ilahi dengan Tuhan, Yahwe berbicara denan Abraham secara langsung dan mengikat perjanjian dengan Abraham. Namun di sisi lain, ada yang menyatakan bahwa besar kemungkinan Kej 15 ditulis pada akhir masa pembuangan, dalam konteks krisis iman akan janji-janji Tuhan kepada Abraham (bdk 15:5 dan Yes 40:26; 51:2).

Kritik Literer

Kej 15 termasuk salah satu yang paling penting dari seluruh tradisi tentang  Abraham. Secara garis besar, teks ini terdiri atas dua cerita yang berdiri sendiri tetapi harus ditafsirkan sebagai satu kesatuan yang sama-sama membicarakan mengenai janji waris. Kedua bagian itu adalah kekhawatiran Abraham dan jawaban Tuhan (Kej 15:1-6) dan keragu-raguan Abraham dan sumpah janji Tuhan (Kej 15:7-21).

Pembagian tersebut muncul dari tidak adanya kesinambungan kisah, misalnya nada kata-kata pada  ayat 7 bersifat pembukaan dan reaksi Abraham pada ayat 8 bertentangan dengan ayat 6. Apabila dilihat sebagai lanjutan maka ayat 8 melemahkan pernyataan ayat 6.

Pembagian tersebut juga dapat dilihat pada alur dan setting ceritanya, misalnya pada bagian pertama peristiwanya terjadi pada malam hari (5), hampir seluruhnya bersifat dialog (1-5), tidak ada unsur naratif dan firman Tuhan singkat dan pendek sedangkan pada bagian kedua, peristiwanya terjadi pada “siang hari” sebelum dan sesudah matahari terbenam (12,17),  dialognya hanya sedikit (7-8), menyusul perintah Tuhan dan berita tentang pelaksanaan perintah Tuhan (9-10), terdapat unsur naratif (10-12,17) dan firman Tuhan panjang.

Kekhawatiran Abraham dan Jawaban Tuhan (Kej 15:1-6)

Kejadian 15 dibuka dengan sebuah pernyataan  Tuhan  melalui suatu penglihatan. Ungkapan “jangan takut”merupakan suatu ungkapan peneguhan yang diberikan Allah kepada Abraham karena belum percaya sepenuhnya pada janji Allah (Kej 15:1). 

Mendengar kata-kata itu, Abraham langsung menyatakan kekhawatirannya bahwa bukan anak kandungnya yang akan mewarisi rumahnya melainkan hambanya karena sampai sekarang dia belum punya anak (2). Keluhan Abraham mempunyai arti yang sangat mendalam karena tidak mempunyai anak berarti tidak mempunyai masa depan.

Tuhan menjawab keluhan Abraham, pertama dalam firman dan kemudian dalam perbuatan yang dijelaskan oleh firman (4-5). Jawaban Tuhan ini juga dibuka dengan rumusan yang sama pada ayat pertama. Dengan tegas Allah meyakinkan Abraham bahwa yang akan menjadi ahli warisnya nanti adalah anak kandungnya sendiri. 

Hal tersebut dilakukan Allah dengan membawa Abraham keluar rumah dan memerintahnya untuk menghitung jumlah bintang-bintang yang bertebaran di langit. Allah menyatakan bahwa keturunnnya nanti akan seperti bintang-bintang itu yang jumlahnya tak terhitung.

Mendengar Firman itu, Abraham menjadi percaya. Kepercayaan itu merupakan sebuah janji yang secara manusiawi tidak mungkin terlaksana. Allah menganggap kepercayaan itu sebagai jasa (bdk Ul 24:13; Mzm 106:31) dan memperhitungkannya sebagai kebenaran.orang “benar” adalah orang yang karena lurus hari patuh berkenan pada Allah. 

Paulus mengutip ayat ini untuk membuktikan bahwa pembenaran tergantung pada kepercayaan melulu dan bukan pada perbuatan menurut hukum taurat. Akan tetapi kepercayaan Abraham itu mempengaruhi segala tingkah lakunya dan menjadi penjiwa segala perbuatannya. Oleh karena itu, Yakobus mengutip ayat ini untuk mengutuk kepercayaan “yang mati”, kepercayaan yang tidak diamalkan dengan perbuatan kepercayaan.[7]
Keragu-raguan Abraham dan sumpah janji Tuhan (Kej 15:7-21)

Allah kembali berfirman (7) dengan rumusan yang sama pada ayat pertama dan keempat. Allah menyatakan diri-Nya sebagai YHWHE, yang membawa Abraham keluar dari Ur-Kasdim untuk menyerahkan tanah Kanaan menjadi miliknya. Penegasan ini diberikan karena Abraham berada dalam keragu-raguan (8).

Abraham tidak memperoleh tanda-tanda bahwa ia akan memperoleh tanah itu maka dia menanyakan kepastian tentang perjanjian yang sempat disampaikan Allah kepadanya.  Tuhan menjawab keragu-raguan Abraham dengan memberikan perintah kepadanya untuk mempersiapkan hewan kurban. Namun permintaan itu sangat berbeda dan unik dengan tradisi kurban orang timur tengah. Pengarang rupanya ingin menunjukkan bahwa perjanjian yang diadakan Tuhan disini sangat khas sifatnya.

Kemudian, ayat 13-16 rupnya tambahan (yang tua sekali) pada cerita asli dari tradisi Yawista.[8] Karena di sini sangat kuat menonjolkan kepercayaan orang Timur-tengah yang sudah lama mereka dihayati dalam kehidupan mereka.  Pada ayat 17, “…lewat di antara potongan-potongan daging itu” merupakan suatu upacara  kuno untuk mengikat perjanjian (Yer 34:18).

Pihak-pihak yang bersangkutan melewati di tengah-tengah potongan-potongan daging berdarah sambil berseru  supaya ketika melanggar kesepakatan perjanjian itu maka akan tertimpa nasib yang sama dengan binatang-binatang yang dipersembahkan sebagai korban itu. suluh yang berapi (bdk semak duri yang menyala, Kel 3:2, tiang api, Kel 13:21, unung Sinai yang berasap, Kel 19:18) melambangkan berlalunya Tuhan. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa perjanjian itu sepihak dan secara resmi Tuhan mengikat diri serta janji itu diteguhkan dengan firman pengutuk (lewat di antara potongan-potongan dading itu.

Kesimpulan

Kej 15 merupakan bagian dari seluruh kisah Abraham yang memperlihatkan tindakan Allah sebagai pembuat perjanjian. Allah secara aktif datang kepada Abaham dan menyakinkan Abraham bahwa Dia akan membuktikan perjanjiannya tetapi dengan syarat Abraham harus percaya dan setia kepada-Nya.

Perjanjian itu dikisahkan dalam bentuk penampakan Allah (theophania) kepada Abraham, suatu pengalaman yang menentukan hidup Abraham sendiri. Janji tanah yang diberikan itu (Kej 15:1-21), disampaikan dalam bentuk perjanjian yang dikukuhkan dengan sumpah. 

Hal ini merupakan suatu perkembangan dari Kej 12:7 dan 13:14-15, 17. Berdasarkan sistematika tulisannya, Kej 15:1-21 ditulis oleh tradisi Yahwis (J)  dan diambil dari kisah suku-suku seminomaden mengenai hubungan erat dan personal dengan Allah yang mereka percaya. Tradisi ini muncul dalam cerita-cerita rakyat di Timur Tengah mengenai Perjanjian antara raja dan rakyat, perjanjian dengan para raja tetangga.

Jadi dapat dikatakan bahwa seluruh bagian Kej 15 melukiskan sikap Abraham yang baru menjadi kenyataan sepenuhnya di kemudian hari. Janji kepada Abraham pada ayat 5 dan 18 akan diulang lagi di gunug Sinai kepada Musa (bdk Kel 32:13). Allah tidak pernah mengingkari janji-janji-Nya. (A/D)

Albertus Dino

DAFTAR PUSTAKA

Hartono, F. Pentateukh atau Taurat Musa. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Pareura, Berthold, A. Abraham Imigran Tuhan dan Bapa Bangsa-Bangsa. Malang: Dioma, 2004.

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Departemen Agama Republik Indonesia, KITAB SCI KATOLIK; dengan pengantar dan catatan lengkap. Ende:Arnoldus, 2011.

Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel