Gereja sebagai Mysterion dan Sacramentum

Quote Amor - Konsili Vatikan II menampilkan pemahaman yang baru mengenai gereja. Hal tersebut ditegaskan dalam Lumen Gentium, di mana Konsili Vatikan II menunjukkan pemahaman mengenai gereja lebih menonjolkan pada misteri gereja, sebagai suatu misteri, sebagai tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kata “misteri” ini tidak bisa dilepaskan dari kata “sakramen”. Kedua kata ini bersama menunjukkan inti-pokok kehidupan Gereja.

Kata “misteri” berasal dari bahasa Yunani mysterion, dan sebetulnya sulit diterjemahkan, sebab dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta), kata itu dipakai sebagai terjemahan untuk dua kata yang berbeda, yakni kata Ibrani sod dan kata Aram raz. 

Pertama berarti ‘dewan penasihat Tuhan’ (Yer 3:18; lih, juga Ayb 15:8) yang mengungkapkan “keakraban Tuhan bagi yang takut kepada-Nya” (Mzm 25:14). Maka kata “misteri” tidak pertama-tama berarti sesuatu yang tersembunyi, melainkan suatu rahasia yang dibuka bagi sahabat karib. Sama halnya dengan kata Aram yaitu raz.

Kata ini arti pokoknya adalah “rencana kerja,” yang juga hanya diberitahukan kepada orang-orang kepercayaan (lih. Dan 2:22.28.47). Akhirnya ada kata mysterion sendiri, yang dalam bahasa Yunani profan menyatakan bahwa sesuatu “sulit ditangkap”. Maka dalam Kitab Suci kata itu dipakai untuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah sendiri (lih. Keb 2:22). 

Tetapi Tuhan “tidak akan menyembunyikan rahasia-rahasia itu bagimu” (Keb 6:22; lih, Sir 4:18). Inti-pokok kata “misteri” dalam Kitab Suci ialah rencana Allah yang diwahyukan kepada manusia. Tekanan tidak ada pada ketersembunyian, melainkan pada pewahyuan. Hanyalah perlu disadari bahwa Tuhan memberikan pewahyuan-Nya kepada orang terpilih, kepada sahabat karib.

Sebetulnya kata Yunani mysterion sama dengan kata Latin sacramentum. Dalam Kitab Suci kedua-duanya dipakai untuk rencana keselamatan Allah bagi umat manusia. Sebetulnya kedua kata itu mempunyai arti yang sama, hanya lain bahasanya. 

Tetapi dalam perkembangan teologi kata “misteri” dipakai terutama untuk menunjuk pada aspek ilahi (dan tersembunyi) dari rencana dan karya Allah, sedangkan kata “sakramen” lebih menunjuk pada aspek insani (dan tampak). Maka kedua kata itu, yang sebetulnya sama artinya, dalam praktisnya menonjolkan aspek-aspek yang lain. Gereja disebut “misteri” karena hidup ilahinya, yang masih tersembunyi dan hanya dimengerti dalam iman; tetapi juga disebut “sakramen”, karena misteri Allah itu justru menjadi tampak di dalam Gereja. 

Oleh karena itu misteri dan sakramen mempunyai hubungan yang sangat erat satu sama lain. Jika misteri tidak sedikit tampak (dan menjadi sakramen), maka tidak diketahui bahwa ada misteri; tetapi kalau sakramen sudah seluruhnya terlihat dengan kasat mata maka hal itu bukan tanda kenyataan ilahi (“misteri”) lagi. Oleh karena itu,  Konsili Vatikan II mengatakan “Gereja adalah – dalam Kristus – bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (LG 1).

Gereja itu misteri dan sekaligus sebagai sakramen. “Adapun serikat yang dilengkapi dengan jabatan hierarkis dan Tubuh mistik Kristus, kelompok yang tampak dan persekutuan rohani, Gereja di dunia dan Gereja yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi, janganlah dipandang sebagai dua hal; melainkan semua itu merupakan satu kenyataan yang kompleks, dan terwujudkan karena perpaduan unsur manusiawi dan ilahi” (LG 8). 

Di satu pihak Gereja adalah “kelompok yang tampak”, “dilengkapi dengan jabatan hierarkis”, karena hidup “di dunia”; ini semua disebut “unsur manusiawi” dan ditunjukkan dengan kata sakramen. Tetapi sekaligus Gereja itu bermakna ”ilahi”, karena merupakan “Tubuh mistik Kristus” dan adalah “persekutuan rohani”, “yang diperkaya dengan karunia-karunia surgawi”; itulah sebabnya disebut misteri. Tetapi misteri dan sakramen “janganlah dipandang sebagai dua hal”.

Misteri dan sakramen adalah dua aspek dari satu kenyataan, yang sekaligus ilahi dan insani, yang disebut “Gereja”. Gereja adalah “sakramen yang kelihatan, yang menandakan kesatuan yang menyelamatkan itu” (LG 9; lih. 48), “sakramen keselamatan bagi semua orang, yang menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah terhadap manusia” (GS 45). 

Gereja tidak hanya menunjuk kepada keselamatan Allah sebagai suatu kenyataan di luar dirinya. Karya Allah, oleh Roh, sudah terwujudkan di dalam Gereja. Dari pihak lain “Gereja baru akan mencapai kepenuhannya dalam kemuliaan di surga”. Namun “pembaruan, janji yang didambakan, telah mulai dalam Kristus, digerakkan dengan perutusan Roh Kudus, dan karena Roh itu berlangsung terus di dalam Gereja” (LG 48).
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel