Allah Sebagai Fondasi Keluarga (Mazmur 127)


1Jikalau bukan TUHAN               yang membangun rumah,
sia-sialah usaha orang                  yang membangunnya;
jikalau bukan TUHAN                 yang mengawal kota,
sia-sialah pengawal                               berjaga-jaga.
…………………………………………………………………………………………………..
2.Sia-sialah kamu                           bangun pagi-pagi
                                                    dan duduk-duduk sampai jauh malam,
                                                   dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah
    sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.


3Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN,
                    dan buah kandungan adalah suatu upah.
4Seperti anak-anak panah di tangan PAHLAWAN,   demikianlah anak-anak pada masa muda.
5Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu.
 ……………………………………………………………………………………………………
 Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

Struktur Komposisi

Berdasarkan pembacaan saya, mazmur 127 berbicara tentang kehidupan keluarga. Suatu keluarga akan menjadi baik dan mendapat banyak rahmat apabila keluarga tersbut memberikan diri kepada Allah sebagai sumber segala sesuatu. Ketika saya membaca secara teliti, saya menemukan dua hal penting yang dibicarakan dalam mazmur ini. Kedua hal tersebut adalah Rumah (1-2) dan Anak-anak (3-5). 

Oleh karena itu, saya membagi mazmur ini menjadi dua kotak. Kotak pertama berbicara tentang rumah dan kota yang memiliki fungsi yang sama (ayat 1-2) dan kotak kedua berbicara tentang ana-anak (ayat3-5). Pada ayat 1-2 menjelaskan tiga fungsi rumah (dan kota), yaitu sebagai tempat tinggal (1), sebagai tempat perlindungan (1), dan sebagai tempat makanan (2). Di kotak dua menunjukkan dan menjelaskan kehadiran anak di tengah-tengah keluarga. Anak sebagai pemberian Allah (ayat 3), anak digambarkan seperti anak panah. Anak panah yang keluar dari tabungnya dan melesat dari busur mencapai sasaran (ayat 4), dan anak menjadi sumber kebahagiaan orang tua (ayat 5).

Kedua kotak tersebut terikat erat dalam satu kesatuan yang dihubungkan pada pembicaraan mengenai keluarga. Dalam mazmur 127 menggambarkan secara jelas hal yang penting dalam kehidupan keluarga. Hal yang penting itu adalah rumah dan anak-anak. Namun untuk bisa memperoleh rumah dan anak-anak, sebuah keluarga harus bergantung pada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu. 

Karena itu ada beberapa indikator sebagai penghubung yang mengikat kedua kotak tersebut menjadi satu kesatuan. Yaitu Tuhan Allah sebagai pemberi rumah (ayat 1-2) dan anak-anak (ayat3-5), penggunaan kata “membangun” (ayat1) dan  “anak-anak” (ayat 3) menunjukkan bahwa membangun rumah tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun keluarga yang di dalamnya termasuk menciptakan rasa aman, menyediakan makanan yang cukup dan mendidik anak-anak, dan penggunaan kata “kota” (ayat 1) dan “pintu gerbang” (ayat 5).

Rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal. Rumah berarti keluarga. Frase membangun rumah tidak hanya berarti dalam pemahaman harafia, membangun gedung rumah seperti Samuel 17:13; 1 Raja-Raja 5:19; 1 Tawarikh 20:10, melainkan juga berarti membangun keluarga (Ulangan 25:9; 1 Tawarikh 17:10). Dalam kitab Amsal dikatakan bahwa untuk membangun keluarga membutuhkan hikmat (Amsal 24:3). Karena hikmat bersumber dan lahir dari takut akan Allah (Amsal 1:7). Takut akan Allah yang dimaksud adalah taat (melakukan) perintah dan hukum Allah.

Salomo memiliki hikmat yang luar biasa dan dikagumi banyak orang. Hikmat Salomo merupakan pemberian Allah (1 Raja 4:29-30). Salomo mengajarkan bahwa Allah merupakan sumber segala sesuatu yang diperlukan dalam hidup berkeluarga. Walaupun demikian cara hidup Salomo bertolak belakang dengan ajarannya. 

Dia tidak menghiraukan perintah Allah sehingga Allah memperingatkannya, “Tetapi jika kamu ini dan anak-anakmu berbalik dari pada-Ku dan tidak berpegang pada segala perintah dan ketetapan-Ku yang telah Kuberikan kepadamu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, maka Aku akan melenyapkan orang Israel dari atas tanah yang telah Kuberikan kepada mereka, dan rumah yang telah Kukuduskan bagi nama-Ku itu, akan Kubuang dari hadapan-Ku, maka Israel akan menjadi kiasan dan sindiran di antara segala bangsa” (1 Raja-raja 9:6-7).

Peringatan ini tidak dihiraukan oleh Salomo sehingga Salomo digambarkan sebagai orang yang “melakukan apa yang jahat di mata TUHAN” (1 Raja-raja 11:6). Allah murka pada Salomo. Allah menghukumnya. Firman Allah kepada Salomo: “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu” (1 Raja-raja 11:11). 

Dari sini dapat dilihat bahwa walaupun Raja Salomo mempunyai hikmat besar tetapi dia tidak melaksanakan perintah dan hukum Allah dalam hidup berkeluarga. Oleh karena itu, “membangun keluarga” pada ayat 1 berarti menyertakan Tuhan Allah dalam pembangunannya. Allah akan hadir dalam proses pembangunan keluarga melalui ketaatan seluruh anggota keluarga. Tuhan membangun rumah menunjuk kepada ketaatan melakukan perintah dan hukum Allah. Keluarga dibangun di atas fondasi perintah dan hukum Allah.

Di samping itu, “membangun rumah” pada ayat 1 memperlihatkan fungsi rumah yang memberi rasa aman bagi seluruh anggota keluarga. Dan juga Rasa aman sebuah kota dibangun dengan mengatur sistem pengawalan untuk berjaga-jaga terhadap serangan musuh. Pengawal yang kuat menciptakan rasa aman bagi warga kota. 

Tetapi pengawal saja tidak cukup. Pemazmur 127 menegaskan bahwa rasa aman tidak datang dari pengawal kota, melainkan pemberian Allah. Keluarga yang menggantungkan rasa aman kepada pengawal kota akan kecewa karena mereka ternyata tidak dapat diandalkan.

Demikian halnya dengan rasa aman yang dibangun keluarga. Pembangunan rasa aman keluarga tanpa pertolongan dan kehadiran Tuhan Allah akan berakhir dengan kesia-siaan. Rasa aman bukan semata-mata hasil usaha manusia. Rasa aman berasal dari Allah. Rasa aman adalah pemberian. Sebagai pemberian, rasa aman lahir dari persekutuan dengan Allah. Relasi dengan Allah menciptakan rasa aman tersebut. 

Inilah cara membangun rasa aman. Hidup dalam persekutuan dengan Allah setiap hari. Tidak hanya itu, makanan juga merupakan pemberian Allah. Makanan adalah kebutuhan dasar manusia untuk hidup. Tidak ada maknanya berlelah-lelah bekerja siang malam mencari makanan, tanpa kehadiran Allah. Artinya bahwa perkerjaan itu hanya akan memberi keletihan dan kecemasan apabila tanpa melibatkan Allah dalam setip pekerjaan kita.


Rasa kuatir muncul karena tidak menyadari bahwa Allah memelihara orang yang dikasihi-Nya. Saat orang yang dikasihi-Nya masih tidur (šënä´), Allah sudah memberinya rezeki dan nafkah yang dibutuhkan. Kata “sena”dapat diterjemahkans ebagai kemakmuran, sehingga “saat orang yang dikasih-Nya masih tidur” menjadi “Allah memberi kemakmuran kepada yang dicintai-Nya.”

Allah sudah memberinya rezeki dan nafkah yang dibutuhkan. Semua yang diperlukan, disediakan Allah. Ketika orang yang dikasihi-Nya bangun pagi hari dan bekerja hingga malam hari, berkat Tuhan telah tersedia baginya. Menarik untuk dicatat bahwa orang yang dikasihi-Nya tidur nyenyak setelah seharian mencari nafkah. 

Sering terjadi orang yang bekerja keras dari pagi hingga malam mengalami kesulitan untuk tidur. Pikirannya masih dikuasai pekerjaan. Kekuatiran terbawa saat tidur sehingga menyebabkannya susah untuk tidur.Tidak demikian halnya dengan orang yang dikasihi Allah. Usaha dan pekerjaannya dari pagi hingga malam hari diberkati Allah. 


Kehadiran dan pertolongan Allah nyata dalam usaha dan pekerjaan sehingga orang tersebut tidak merasa cemas dan kuatir, ia tenteram dan tenang. Malam hari ketika pulang ke rumah ia dapat tidur dengan nyenyak. Tidur nyenyak merupakan bukti kehadiran dan pertolongan Allah. Tidur nyenyak di malam hari memperlihatkan ketergantungan penuh pada Allah dalam usaha dan pekerjaan.

Namun, dalam mazmur tersebut tidak dikatakan secara jelas siapa manusia yang dikasihi Tuhan tetapi secara eksplisit dapat dikatakan bahwa orang yang dikasih Allah adalah mereka yang melakukan perintah dan hukum Allah dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya (Bdk. Yohanes 14:21). 

Dan kemudian kata “sia-sia” yang digunakan tiga kali pada ayat 1 dan 2 menunjuk pada usaha manusia yang dikerjakan tanpa kehadiran Allah di dalamnya. Usaha manusia tanpa penyertaan Allah, meski berhasil, akan berakhir tanpa makna dan tujuan. Hal yang sama juga, usaha manusia membangun keluarga, menciptakan rasa aman, dan mencari makanan akan sia-sia tanpa penyertaan Allah.

Pada ayat 3 sampai ayat 5 menjelaskan bahwa anak adalah pemberian Allah. Anak yang dilahirkan di tengah-tengah keluarga dinyatakan sebagai ‘milik pusaka Tuhan’. Kata milik pusaka dikaitkan dengan anak laki-laki yang memberi indikasi bahwa masyarakat Israel kuno memandang anak laki-laki lebih bernilai ketimbang anak perempuan. Kondisi demikian terutama disebabkan seringnya terjadi peperangan. 

Suasana perang terlihat melalui penggunaan kata anak panah (ayat 4), tabung panah, musuh (ayat 5). Oleh karena itu, perang membutuhkan laki-laki tangguh dan kuat untuk memenangkan pertempuran. Anak laki-laki yang banyak dalam suatu masyarakat menyebabkan musuh terus berusaha untuk menyerang.

Musuh yang menunggu di pintu gerbang kota akan membatalkan penyerangan ketika menyadari bahwa kota tersebut memiliki banyak laki-laki tangguh dan berani. Mereka nampak seperti anak panah yang siap menghujam musuh. 

Usaha dan kerja keras orang tua membesarkan anak-anak mereka tanpa sia-sia. Ada upah yang menanti mereka. Orang tua yang telah mempersiapkan anak-anaknya dengan baik  dilukiskan pada ayat 5. Anak-anak yang telah bertumbuh dan berkembang secara fisik, mental dan rohaninya akan menjadi rangguh dan kuat seperti sebuah anak panah. 


Anak-anak yang diasah menjadi anak panah yang tajam memberi posisi dan kedudukan kuat bagi orang tua dalam masyarakat Israel kuno. Anak-anak yang mengenai sasaran menjadi kebahagiaan orang tua.

Kesabaran dan keuletan orang tua membesarkan dan mendidik anak akhirnya membuahkan hasil yaitu kebahagiaan. Inilah upah orang tua. Anak-anak yang telah dibesarkan dan dididik akan menjadi pelindung bagi orang tua  pada masa tuanya. 

Saat musuh mengancam di pintu gerbang kota, orang tua yang memiliki banyak “anak panah” tentu disegani musuh. Musuh akan berpikir ulang menghadapi orang tua yang busurnya penuh dengan anak panah. 


Pintu gerbang kota tidak lagi menjadi tempat ancaman bagi mereka yang memiliki banyak anak panah. Pada masa tuanya, anak-anak akan memberi rasa aman bagi orang tuanya. 

Oleh Albertus Dino

DAFTAR PUSTAKA

Barus, Armand. “keputusan berhikmat,” Medis Kristen Samaritan edisi 1, 2007.

Dahood, Mitchell. Psalms III 101-150 : Introduction, Translation, and Notes. Anchor Bible; Garden City: Doubleday, 1970.
Previous article
Next article

Leave Comments

Post a Comment

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel